
Anjani merasakan pusing dan kepalanya terasa sangat berat. Ketika dia berusaha untuk bangun tapi tubuhnya tak berdaya,lemah seakan tak bertulang.
Namun indera perabanya masih berfungsi dan dia merasakan ada yang menyentuh tubuhnya. Dengan bola matanya yang sayup-sayup dia mencoba mencari tau siapa yang menyentuh tubuhnya.
Dan dia melihat wajah yang sangat di kenalnya itu telah berada di atas tubuhnya yang sudah terbaring lemah di atas kasur. Edward sudah berada dengan posisi ingin mencoba memasuki tubuhnya.
Anjani merasa ada yang ingin merobek tubuh bagian bawahnya,terasa perih dan sakit. Dia ingin berontak tapi tak berdaya sama sekali,dia ingin berteriak tapi suaranya tertahan dan yang keluar hanya hembusan nafasnya yang lemah. Air mata menetes di sudut matanya,dia hanya bisa pasrah dengan apa yang sedang terjadi. Tak ada kuasa untuk melawan. Hanya bisa menjerit dalam batin,dan ketika kepala itu mendongak ke atas,dia tau kalau permainan itu telah usai. Dia pun kembali tak sadarkan diri.
Keesokan harinya Anjani terbangun dengan tubuh yang hanya di tutupi selimut dia berusaha bangkit tapi tubuhnya terasa remuk dan sakit. Ketika dia melihat pahanya ada cairan dan bekas darah mengering disitu.
Dengan suara yang tak bisa keluar dia kembali berusaha menjerit,menangis sekuat-kuatnya. Tapi tetap saja suaranya tertahan,dan rongga dadanya terasa sakit sekali seakan di timpa oleh beban yang sangat berat.
"ibu.ibu,maafkan Anjani. Ibuuu.?" Anjani menjerit-jerit dalam hati dengan tangisan yang tak bisa mengeluarkan suara. Terasa sesak dan sangat menyakitkan.
Edward pun masuk ke kamar itu dan dia melihat Anjani yang masih menangis terisak-isak. "Sudah lah Anjani,kenapa kamu masih menangis? bukankah kamu juga menginginkan dan menikmatinya?" Edward tersenyum dingin lalu berkata tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Anjani hanya bisa menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Sudahlah,ayo siap-siap! hari ini kita kembali ke Jakarta." Edward meninggalkan Anjani begitu saja.
*****
Di dalam pesawat,Anjani hanya terdiam dan menatap keluar jendela dengan wajah sendu. Dia tak lagi menghiraukan lelaki di sampingnya itu. Hatinya begitu sakit,dan dia enggan untuk menatap sosok itu lagi.
Walaupun dulu dia sangat memuja sosok itu,tapi kini dia sangat membencinya,sangat-sangat membencinya.
__ADS_1
Sesampainya di Jakarta, ketika Anjani akan turun di depan gang kosannya, tangannya pun di tahan dan di tarik oleh Edward lalu dia berbisik di telinga Anjani.
"Berusahalah untuk biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa,aku akan memberikan apapun yang kamu mau,dan mungkin lain kali kita akan melakukannya saat kamu yang meminta." Edward lalu mencium pipi Anjani dan setelah itu membiarkan Anjani turun dari mobil. Mobil pun kembali melaju cepat meninggalkan Anjani yang terdiam terpaku.
Saat Anjani melangkah menuju pintu kamar kosannya,dia pun terkejut karena sudah ada yang menunggunya disana.
Ardi berdiri dan menatap Anjani dengan perasaan cemas dan ada rasa rindu yang mendalam dimatanya. Tapi Anjani langsung menghindari tatapan mata itu,dia sudah mengabaikan kata-kata Ardi. Dan sekarang ada perasaan menyesal memenuhi rongga hatinya. Tanpa terasa air mata pun menetes di sudut matanya.
Ardi merasakan ada yang tak beres,dia pun perlahan mendekati Anjani. Anjani pun langsung memeluk dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Ardi.
"Ardi maafkan aku? Ardi,maafkan aku yang sudah mengabaikan kata-kata mu? Sekarang aku sudah hancur,Ardi aku hancur.!" Anjani membenamkan kepalanya di dada Ardi. Ardi pun semakin erat memeluk sahabat sekaligus wanita yang sangat di cintainya itu. Dia pun hanya bisa menghela nafas berat dan menahan amarahnya sampai air mata pun ikut menetes di pipinya.
*****
Anjani dan Ardi terduduk diam di sudut kamar. Kepala Anjani bersandar di pundak Ardi. Tatapan mata mereka kosong,diam dan hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Apa? kamu bilang apa?" Anjani bertanya seakan tak percaya dengan pendengarannya.
"Aku akan membunuhnya! aku akan membunuhnya.!" Ardi berkata sambil berteriak karena emosi dan amarahnya yang sudah memuncak.
Anjani langsung menutup mulut Ardi dengan kedua tangannya. "Ardi,aku mohon. Tolong jangan lakukan itu? aku mohon Ardi." Anjani berkata sambil menangis.
"Aku nggak mau kamu jadi ikut terlibat,ini masalah ku,tolong mengertilah." Anjani lalu memeluk Ardi.
Ada perasaan bersalah karena dia telah mengabaikan kata-kata Ardi tentang Edward tempo hari. Ardi menahannya untuk tidak pergi,tapi Anjani merasa dia hanya pergi untuk bekerja. Dan sekarang dia pun menyesali keputusannya waktu itu.
__ADS_1
Andai dia mendengarkan kata-kata Ardi,Andai bukan dia yang pergi, Andai saja. Anjani hanya bisa menjerit dalam batin dan merasa kasian melihat Ardi yang tulus mencintainya namun kini terlihat begitu hancur.
"Kriing,kriing." tiba-tiba ponsel Anjani berbunyi. Ada panggilan dari Mila. Anjani langsung terduduk dan melepaskan pelukannya pada Ardi.
"Di? tolong rahasia kan ini dari Mila dan Siska ya? aku nggak mau mereka tau bahwa aku sudah kotor. Aku mohon Di?" Anjani memohon pada Ardi sebelum dia menjawab panggilan dari Mila.
Ardi memegang pipi Anjani dengan sedih. "Yaah,baiklah. Cukup hanya kita yang tau." Ardi pun menatap Anjani dengan mata berkaca-kaca. Walaupun hatinya sangat sakit namun Ardi tak ingin Anjani terluka. Sebisa mungkin dia akan melakukan apapun yang Anjani minta.
*****
Anjani pun berusaha untuk terdengar ceria saat menjawab panggilan dari Mila "Hay girl? apa kabar?" Anjani berpura-pura seakan tak ada terjadi masalah apapun padanya.
"Hay sayang ku? lu dimana sih? sibuk banget roman? lu hari ini pulang kan?" Mila memberondong Anjani dengan pertanyaan. Dia sudah sangat rindu pada sahabatnya yang paling cantik di antara mereka ini.
"Hehehe,iya sayang,gua udah balik kok. Dan ini gua juga udah di kamar kosan." sahut Anjani sambil melirik kearah Ardi yang masih terduduk lesu menatapnya.
"Yeeey,bawa oleh-oleh dong? hahaha,ya udah ntar pulang kerja kita kesana deh?!" ucap Mila dengan bahagia.
"Iya,tenang aja. Udah gua siapin oleh-oleh buat lu pada. Sampai ketemu ntar sore ya?" Anjani pun menjawab dengan nada yang sama cerianya,menutupi perasaannya yang hancur dan sedih. Dan sekarang hanya dia dan Ardi yang tau tentang masalah yang menimpanya itu.
Anjani pun meminta pada Ardi untuk pulang lebih dulu,agar dia bisa berbenah karena sahabatnya yang lain akan datang nanti sore. Tapi Ardi enggan untuk beranjak. Dia lalu menarik tubuh Anjani sehingga Anjani berada dekat di depannya.
Ardi memegang kedua pipi Anjani di hadapannya. mengusapnya dengan sayang. Tangannya bergetar,matanya berkaca-kaca merasakan rasa sakit yang amat sangat karena wanita yang di cintainya telah di nodai oleh orang lain.
Ardi menatap mata Anjani dengan sendu dan mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajah Anjani, lalu dia pun mencium bibir Anjani dengan lembut.
__ADS_1
Anjani memejamkan matanya,membiarkan Ardi mencium bibirnya. Ardi mencium Anjani dengan tangan bergetar,menciumnya dengan sangat dalam. Ciuman rasa sayang bercampur dengan kekecewaan. Matanya terpejam kuat,lalu mengalirkan bulir-bulir air mata tanpa suara. Setelah itu Ardi melepaskan Anjani, dia pun berdiri dan berlari keluar dari kamar Anjani,meninggalkan Anjani yang masih terduduk membisu menyesali apa yang telah terjadi.
******