Cinta Untuk Anjani

Cinta Untuk Anjani
Kebohongan yang terbongkar


__ADS_3

Hari-hari Anjani kini terasa lebih berwarna. Dia pun tidak merasakan kesedihan lagi, malahan sekarang bibirnya selalu tampak tersenyum. Sahabat-sahabatnya pun tetap tak tau apa yang telah di alami oleh Anjani. Karena semua itu masih tetap menjadi sebuah rahasia antara Anjani dan Ardi.


Ardi yang mengetahui hubungan Anjani dan Edward pun tak ingin semakin hancur. Dia pun mencoba untuk menjauh dari Anjani. Dan terkadang hanya menatap Anjani dari kejauhan di kala hatinya rindu akan sahabat dan cinta sejatinya itu.


*****


Waktu berlalu dengan sangat cepat,sekarang hari-hari Anjani hanya di penuhi dengan agenda kerja keluar kota bersama Edward,bercinta dengan Edward,dan selalu hanya tentang Edward.


Anjani pun sudah jarang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya,karena mereka kini memilih untuk bekerja di perusahaan lain. Entah kenapa mereka Ardi,Mila,dan Siska serentak keluar dari perusahaan yang di pimpin oleh Edward tersebut.


Tentu saja mereka juga telah mengajak Anjani, namun Anjani menolaknya karena dia lebih memilih untuk berada disisi Edward daripada sahabat-sahabatnya. Dan keputusan itulah yang akan di sesali nya suatu saat nanti.


******


Tak terasa hubungan antara Anjani dan Edward terus berlanjut. Apalagi akhirnya Anjani selalu menemani Edward untuk bertugas di luar kota. Dan tentunya ada sekretaris baru sebagai cadangan yang memback-up tugas-tugas Anjani di kantor selagi dia pergi bertugas di luar kota bersama Edward.


Semua tampak sempurna, sampai pada suatu titik. Semua akan terbongkar karena memang tidak akan ada yang sempurna didunia ini.


Saat Anjani dan Edward bercinta dan bercumbu seperti biasa mereka lakukan,kadang terbesit pertanyaan dalam hati Anjani. Seandainya dia hamil apa yang akan dilakukan Edward? apakah dia akan menikahi Anjani? atau malah meninggalkannya? Dan dia pun mencoba untuk menanyakan hal itu pada Edward saat mereka telah usai mengayuh sampan di samudera kenikmatan asmara.


"Honey,aku boleh nanya nggak?" Anjani bermanja-manja di dada Edward.


"Ya boleh dong sayang. Kamu mau tanya apa?" Edward memeluk Anjani dengan mesra.


"Hmm,Seandainya aku hamil,kamu mau kan bertanggung jawab?" Anjani melanjutkan pertanyaannya.


Spontan Edward terduduk,dan hampir saja Anjani terdorong jatuh dari kasur. "Apa? kamu hamil?" tanya Edward terkejut mendengar ucapan Anjani.


"Iih,apaan sih? sampai kaget begitu? aku kan cuma nanya lhoo sayaang? seandainya? ini masih seandainya lho?". ujar Anjani tertawa kecil melihat Edward sampai kaget begitu.


"Astaga sayaang,kamu benar-benar buat aku kaget tau nggak?" Edward merasa lega, karena itu hanya angan-angan Anjani saja,sebab dia memang tak pernah siap untuk memiliki seorang keturunan.


"Ya makanya jawab! seandainya aku hamil, kamu gimana?" Anjani kembali bersandar dan bermanja di dada bidang Edward.


" Ya nggak gimana-gimana sayang. Ya pasti senang lah." ujar Edward berbohong.


"Terus kamu mau kan nikahin aku?" Anjani pun masih penasaran.

__ADS_1


"Offcourse darling,ill be married you. Udah pasti aku bakal nikahin kamu." ucapnya lagi.


"Beneran sayang?" Anjani sangat bahagia mendengar ucapan Edward tersebut.


"Iya,beneran. Udah ah,jangan mikirin itu dulu. Mendingan kita bercinta lagi yuk? jangan serius-serius gitu ah!" ucap Edward bercanda lalu kembali menggerayangi tubuh Anjani. Diapun mencium dan mencumbunya lagi sampai mereka kembali merengkuh kenikmatan dunia bersama.


******


Tiga minggu setelah perjalanan keluar kota bersama Edward, Anjani kembali bekerja di kantor. Kini meja sekretaris ada dua,untuk Anjani dan anak baru sebagai cadangan Anjani. Namun Anjani tak pernah sejutek Cindy,walaupun anak baru yang bernama bunga itu selalu mencoba menggoda Edward secara terang-terangan bahkan dia pun menggoda Edward didepannya. Tapi Anjani tak perduli dan tetap percaya pada janji-janji dan kata-kata manis Edward padanya.


Pagi itu Anjani kembali mencium aroma tubuh yang sangat di kenalnya. Ya,bos sekaligus kekasihnya itu datang melewatinya dan bunga. Tapi Edward bersikap sedikit aneh menurutnya, karena dia hanya menyapa bunga dan berwajah datar pada Anjani. Namum Anjani membiarkan saja sikap Edward tersebut,karena mungkin Edward sedang ada masalah dengan kliennya.


Keesokan harinya pun Edward dengan suara lembutnya kembali menyapa bunga. "Pagi bunga." ucapnya dengan tersenyum manis. "Pagi juga pak ganteng." bunga pun menjawab Edward dengan nada centilnya.


Sementara pada Anjani dia hanya sedikit melirik dengan wajah datar,seperti tidak terjadi apa-apa,lalu berlalu masuk ke dalam ruangannya.


Anjani hanya bisa terdiam dan memandang punggung Edward yang menjauh masuk kedalam ruangannya. Kenapa dia begitu datar? ada apa? Apa dia marah? Kenapa dia marah? dan kenapa dia hanya melirik dengan wajah datar seakan-akan aku bersalah padanya? hati Anjani pun bertanya-tanya dan dia pun mulai berontak,tapi Anjani tetap berpikiran positif, mungkin Edward sedang kelelahan.


Anjani mulai merasakan sesuatu yang janggal dengan sikap Edward. Sekarang Edward seakan-akan mencoba untuk menghindar darinya. Diluar jam kerja pun biasanya mereka selalu bersama,tapi akhir-akhir ini Edward selalu beralasan ada urusan yang tak perlu Anjani tau,dan terkadang alasannya dibuat-buat untuk tidak bertemu dengan Anjani.


******


Kebetulan Hari ini Bunga sedang libur kerja,jadi Anjani bisa dengan leluasa bicara pada Edward nanti. Dia pun menunggu kedatangan Edward dengan hati yang berdebar-debar.


Dan benar saja Edward datang tapi hanya melewati meja Anjani tanpa menyapanya,karena Bunga sedang tak masuk kantor hari ini. Tapi melihat sikap itu Anjani pun tak tinggal diam,dia pun langsung berdiri mendekat dan menarik tangan Edward. "Tunggu dulu!."


Edward pun terkejut dan langsung menoleh ke kanan dan kiri,takut ada orang yang melihat dan mendengar Anjani yang menarik tangannya dengan kasar dan suara yang sedikit keras.


"Apaan sih kamu?" Edward berkata sedikit berbisik karena takut ada yang mendengar mereka.


"Aku mau bicara." Anjani menjawab dengan muka masamnya.


"Ya sudah,Kita bicara di dalam saja." ujarnya melepas cengkraman tangan Anjani. Dan Anjani pun mengikuti langkah kakinya.


"Duduk!." Edward berkata pada Anjani.


"Nggak perlu,aku nggak akan lama kok." ucap Anjani ketus.

__ADS_1


" Ya sudah, bicaralah apa yang mau kamu bicarakan?" Edward menyilang kedua tangannya di dada dan sedikit bersandar di ujung meja.


"Ada apa dengan kamu? jujur akhir-akhir ini aku merasa aneh dengan sikap kamu. Seminggu sudah kita hampir tak ada komunikasi sama sekali. kamu selalu saja berkata sibuk seakan kamu sedang menghindari ku. Ada apa?" Anjani bertanya dengan lantang.


Edward hanya memasang wajah datar dan membuang pandangannya ke arah lain,dia pun tak mau menatap Anjani yang sedang berbicara padanya itu.


"Apa sih maunya kamu? aku berharap ada basa basi kamu apa kek gitu? Ini nggak,kamu datang lewat bahkan tanpa say hallo udah,kamu langsung masuk ke ruangan tanpa bicara apa-apa lagi. Sekarang aku tanya sama kamu,apa aku punya salah? Apa kamu marah? Seharusnya yang marah itu aku,,karena...karena...ah sudahlah." Anjani pun melempar tangannya.


"Aku tau aku hanya bawahan kamu,tak pantas untuk berharap banyak. Mungkin memang aku yang bodoh larut dalam suasana dan segampang itu memaafkan dan menerima orang seperti kamu. Dan mungkin aku sama seperti Cindy di tiduri tapi bukan siapa-siapa bagi kamu." Anjani benar-benar kecewa pada Edward.


Edward hanya diam dan dia hanya memandang Anjani dengan tatapan yang datar dan sedikit remeh,dia pun tersenyum sinis lalu berkata, "Kenapa? Kamu marah? Bukankah kamu sendiri yang bilang kalo kamu menikmati nya? Trus maunya kamu apa? Memaksa ku untuk menikahi kamu seperti Cindy? Jangan mimpi! kalian bisa mendapatkan tubuh ku,aku akan memuaskan dan memberikan apapun yang kalian mau,tapi tidak untuk menikahi,kalau pun kamu merasa aku harus bertanggung jawab karena sudah menggambil keperawanan mu waktu itu, sekarang katakan berapa yang kamu minta untuk harga perawan mu itu?" Dia bicara dengan lantang dan menatap Anjani dengan tajam.


Anjani sampai bergidik menatap mata Edward yang seakan memperlihatkan siapa dia sebenarnya. Ya Tuhan,aku tak menyangka wajah tampannya bisa berubah seseram ini. Batin Anjani.


Anjani benar-benar merasa terhina dengan ucapan Edward. "Apa kamu bilang? kamu bertanya berapa harga diri ku? Menikmati? Ya,aku memang menikmati hubungan kita selama ini. Tapi sekarang aku menyesal,tadinya aku tak menyesal dengan semua yang telah terjadi tapi melihat sikap mu saat ini dan bertanya berapa harga diri ku,sungguh aku sangat menyesal,sumpah demi Tuhan aku menyesal telah hanyut dalam pelukan manusia iblis seperti kamu. Aku tidak minta apa-apa,apalagi berharap untuk kamu nikahi seperti ucapan tanggung jawab yang kamu ucapkan waktu itu? Mungkin bagi mu tanggung jawab hanyalah seonggok materi karena kamu berkuasa untuk itu. Tapi tidak,kamu salah,aku tak butuh apa-apa dari kamu. Cukup tau,inilah wujud asli mu yang sebenarnya." Anjani berkata dengan nada benar-benar marah.


Setelah itu Anjani pun berlari keluar dari ruangan Edward,mengambil tasnya dan pergi keluar dari kantor yang sudah seperti neraka baginya itu.


Anjani berlari dan tak sanggup membendung air mata nya,dia pun pulang dan langsung membanting tubuhnya di atas kasur di dalam kamar kosnya. Air matanya tumpah dan membasahi bantalnya,Anjani menangis sejadi-jadinya menumpahkan semua rasa kesedihannya.


******


Berhari-hari Anjani mengurung diri didalam kamar kosnya. Handphonenya terus saja bergetar,panggilan dari kantor dan juga dari sahabat-sahabatnya. Semua diacuhkannya. Anjani merasa dunianya benar-benar telah hancur. Tak ada lagi semangat dalam hidupnya. Senyuman yang selalu menghiasi bibirnya pun kini hilang tak berbekas.


Para sahabat Anjani mulai merasa cemas. Karena Anjani tak pernah bersikap sedingin ini pada mereka. Walaupun mereka telah jarang berkumpul,tapi tetap saja mereka masih saling berkabar walaupun hanya sebatas panggilan dari telepon. Tapi kali ini panggilan mereka semua diabaikan oleh Anjani.


Kini Ardi,Mila,dan Siska pun benar-benar merasakan ada yang tak beres dengan sikap Anjani,dan mereka pun sepakat untuk langsung mencari tau kondisi Anjani dengan mendatangi kamar kosan Anjani.


Sesampainya mereka di depan kamar Anjani, mereka pun mulai mengetuk pintu kamar Anjani,tapi tak ada jawaban dari dalam. "Tok...tok..tok,Anjani?lu di dalam kan? tolong buka pintunya Anjani?" Mila mengetuk dan memanggil Anjani dengan perasaan cemas. Tapi tetap saja tak ada sahutan dari dalam kamar. Sampai ibu kos Anjani pun ikut memohon untuk membukakan pintu dan bicara. Tapi semuanya tak dipedulikan oleh Anjani.


Anjani tetap terdiam hatinya terasa sakit. Kini dia sangat membenci dirinya karena semua ini terjadi karena kebodohannya sendiri. Dia pun merasa putus asa,dan pasrah pada hidupnya. Kini tubuhnya melemah,matanya pun mulai berkunang-kunang dan semuanya menjadi gelap,dia terbaring dan tak bergerak.


******


Di luar kamar Anjani,semua orang terlihat sangat kuatir. Semua sahabatnya Siska,Mila,dan juga Ardi. Berkali-kali mereka mengetuk dan memanggil namanya, namun karena tetap tak ada jawaban dari dalam, Ardi pun meminta ibu kos untuk membuka paksa dengan menggunakan kunci cadangan. Karena dia benar-benar sangat kuatir dengan keadaan Anjani saat ini. Lalu pintupun di buka paksa dengan kunci cadangan tapi tetap tak bisa karena masih ada anak kunci yang menggantung dari dalam. Akhirnya pintupun di congkel dan di dobrak. "Guuuuubraak,,,guuuubraaak" berkali-kali Ardi menerjang pintu kamar itu dan akhirnya pintu pun terbuka. Begitu pintu terbuka semua langsung menjerit melihat tubuh kaku Anjani yang telah tergeletak di lantai.


******

__ADS_1


__ADS_2