
"Saudara Ardi?!" perawat memanggil nama Ardi yang sedang terduduk di ruang tunggu. "Ya mbak? Saya Ardi." Ardi berlari kecil ke meja perawat tersebut. "Mas Ardi sedang di tunggu di ruang Dokter Anwar, mari ikut saya?" perawat memberitahukan bahwa Dokter Anwar menunggunya, Dokter Anwar adalah Dokter yang mengepalai operasi Anjani tadi malam.
" Baik mbak." Ardi mengangguk dan mengikuti perawat itu ke arah ruangan Dokter Anwar. Setelah mengetuk pintu dan di persilahkan masuk,Ardi pun duduk di depan Dokter Anwar.
"Begini saudara Ardi,saya memanggil Anda untuk memberi tahu keadaan Anjani saat ini." Dokter pun membuka pembicaraan. "Baik Pak, silahkan?." Ardi menunggu Jawaban dokter dengan sedikit gelisah.
"Ada dua hal yang ingin saya beritahukan,semoga ini bisa menjadi kabar baik untuk kita semua terutama keluarga Anjani. Yang pertama seperti yang sudah saudara ketahui,Anjani sedang dalam keadaan koma,ada syaraf otak yang rusak mengakibatkan respon pada otak tidak berfungsi. Sehingga Anjani tidak sadarkan diri sampai saat ini. Tapi walaupun begitu,tubuhnya dan organnya yang lain masih berfungsi dengan baik jadi kita berharap Anjani bisa segera sadar dari koma nya. Yang kedua,ini masalah kandungan Anjani. Seperti yang saya katakan tadi karena tubuh dan organ yang lain masih berfungsi dengan baik,jadi kandungan Anjani masih bisa di selamatkan,tapi kita masih bergantung pada infus dan peralatan medis untuk membantu Anjani dan calon bayinya agar tidak kekurangan nutrisi." Dokter Anwar memberi penjelasan pada Ardi secara panjang lebar.
"Kandungan Anjani selamat Dokter?" Ardi tampak gembira mendengarnya. Dokter pun tersenyum pada Ardi. "Syukurlah Ya Tuhan,semoga Anjani juga bisa segera sadar ya Dok?" Ardi langsung menyalami Dokter dengan kabar yang membuat hatinya sedikit lega. "Terimakasih Dokter,terimakasih." Dokter pun tersenyum dan mengangguk pada Ardi.
*******
Di rumah mewahnya Edward sedang menunggu kabar dari Handoko.
"Bagaimana Anjani? sudah kamu bereskan dia?" Edward bertanya pada Handoko dan menatapnya dengan matanya yang tajam.
"Saya sudah mendapatkan orang yang bisa menyelesaikan tugas ini tuan,tapi harus menunggu Anjani dipindahkan keruangan inapnya dulu. Karena di ruang IGD banyak Dokter dan perawat yang mengawasinya tuan. Tuan sabar dulu ya? saya pasti akan membereskan Anjani." Handoko berkata sambil membungkuk pada bosnya.
"Aaah,,lama betul. Hanya menghilangkan satu orang aja susah betul kamu. Bayar siapa pun yang bisa menyelesaikan masalah ini. Saya kasih waktu satu Minggu. Kalau dalam waktu itu kamu tidak bisa juga,awas kamu." Edward berkata sedikit mengancam sambil berlalu meninggalkan Handoko yang masih membungkuk.
__ADS_1
*****
Ardi duduk di samping pembaringan Anjani yang sudah dipindahkan keruangan inap. Tampak wajah Anjani yang tetap cantik walau terlihat sedikit pucat. Ardi menggenggam erat tangan Anjani dengan penuh cinta.
"Sayang,,bila kamu mendengar suara ku, dengarlah bahwa kami disini menunggu mu. Bangunlah sayang..bangunlah demi anak kamu, demi keluarga kamu,,demi aku dan sahabat-sahabat kamu Mila dan Siska,,Please...bangunlah Anjani ku?." Ardi mengusap dan mencium tangan Anjani di genggamannya. Begitu besar rasa cintanya pada Anjani. walaupun dia tau perasaan itu hanya miliknya sendiri,, karena Anjani lebih memilih untuk mencintai Edward.
*****
Siska,Mila, dan Ardi tetap setia menemani Anjani yang masih koma. Tiga hari setelah operasi tubuh Anjani semakin membaik,tapi tetap saja Anjani belum bangun dari tidurnya.
"Di,,lu nggak cape? nggak mau pulang dulu?" Mila duduk di samping Ardi saat menunggui Anjani di ruang inapnya. Ardi menggeleng. "Enggak la,,gua nggak apa-apa. Lu kalo mau pulang nggak apa-apa lu pulang aja." Ardi menoleh ke arah Mila. Mila sedikit canggung dengan tatapan Ardi. Entah kenapa hatinya jadi bergejolak hanya ditatap begitu oleh Ardi. Entah kenapa perasaannya kini berubah pada Ardi. Ada rasa yang belum pernah dirasakannya selama ini,perasaan sayang pada sahabat tapi ada perasaan yang lain yang mengikuti rasa itu. Entah itu apa? Mila pun masih belum paham apakah dia kini menyukai Ardi atau itu hanya sekedar perasaan kagumnya semata.
Setelah Ardi dan Siska pergi,Mila pun masuk ke dalam kamar mandi sekaligus toilet yang ada didalam ruangan itu karena dia sudah dari tadi menahan rasa ingin buang air kecil. Baru saja dia mau menutup pintu toilet,Mila seperti mendengar ada yang membuka pintu kamar Anjani. Sontak dia pun langsung mengurungkan niatnya dan langsung keluar kamar mandi memastikan siapa yang masuk.
Begitu pintu kamar mandi terbuka dan melangkah keluar tiba-tiba Mila pun merasakan ada tangan yang membekapnya dari belakang,terasa dingin di lehernya karena sebilah pisau telah menempel erat disana. Mila kaget dan ingin menjerit,tapi suaranya tak dapat keluar karena mulutnya di bekap dan Mila pun merasa sangat ketakutan tubuhnya pun gemetar mendengar ancaman orang tersebut.
"Diam kalau kau tak ingin mati!." orang yang membekapnya berbisik di telinga Mila. Mila pun hanya bisa menangis dan tak bisa berbuat apa-apa. Mila pun melihat ada orang lain di depannya dengan pakaian hitam bertopi dan wajahnya tertutup masker. Dan orang itu berusaha untuk mencelakai Anjani. Orang itupun menarik tangan Mila untuk melakukannya. Mila meronta berusaha untuk berontak tapi karena pisau yang melekat dilehernya dan mulutnya di bekap dia hanya bisa pasrah tangannya di gunakan untuk mencopot semua alat-alat medis di tubuh Anjani.
Mila tak sanggup mendapat perlakuan seperti itu sampai akhirnya dia buang air kecil di celananya,dia menangis ketakutan,memohon walaupun suaranya tak terdengar. Dia hanya bisa pasrah dan berdoa semoga Ardi dan Siska segera kembali. "Brengsek..pake kencing lagi ni cewek." orang yang membekap Mila langsung melepaskan tangannya dan tanpa sengaja pisau yang menempel pun menggores leher Mila hingga mengeluarkan darah. Mila merasakan ada sesuatu mengalir dari lehernya,saat dia melihatnya, dia pun tak sanggup karena itu darahnya sendiri,Mila pun jatuh pingsan dengan darah mengalir dari lehernya.
__ADS_1
"Ah,,awas jangan sampai ada jejak kita disini." temannya memberikan peringatan. Setelah memastikan kondisi Anjani dengan melihat monitor alat pengukur jantung yang hanya memperlihatkan satu garis mendatar dengan nada panjang. Mereka berdua pun segera meninggalkan Anjani dan Mila yang telah terkapar di lantai.
*****
Siska dan Ardi melangkah masuk dengan sedikit bercanda. "Lu bau banget sih Di? udah berapa hari lu nggak mandi?" Siska berkata menutup hidungnya sambil memukul badan Ardi. "Aah,,masa bau sih? baru juga dua hari gua nggak mandi." Ardi berkata menimpali ucapan Siska. "Hahaa,,baru dua hari ya? parah lu." Siska tertawa keras mendengar ucapan Ardi.
Mereka pun tertawa bersama sambil berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Saat mereka bicara sambil bercanda. seseorang menyenggol bahu Ardi. Ardi menoleh dan sekilas dia melihat mata orang yang memakai baju hitam dengan bertopi dan memakai masker itu. Reflek Ardi menahan bahu orang itu untuk tidak pergi. Orang itu pun terhenti. Saat Ardi mau melihat wajah orang itu tiba-tiba dia mendengar jeritan. "Tolong..tolong..ada yang jatuh lehernya berdarah,,pasiennya juga..pasiennya..tolong!?" seorang wanita menjerit-jerit dan sontak Ardi melihat kearah wanita itu. Tanpa di sadari nya,laki-laki yang di tahannya tadi sudah pergi dan menghilang dari pandangannya.
"Di,,ayo Di? lu kenapa? lu kenal sama orang itu?" Siska bertanya melihat Ardi yang sedang mencari-cari sosok tadi. "Nggak..bukan siapa-siapa,gua cuma merasa pernah melihat mata itu,tapi di mana ya? ah,,udahlah yuk kita masuk? takutnya Mila kelamaan nungguin?." Ardi menggeleng dan berjalan masuk menuju ruangan Anjani.
Sesampainya dikamar Anjani,Ardi melihat sudah ramai Dokter dan perawat. Terlihat alat pacu jantung Anjani sedang bersuara panjang,dan Mila pun terlihat terkulai di sofa dengan lehernya yang berdarah. Ardi dan Siska sontak kaget melihat kedua sahabatnya dalam kondisi yang mengenaskan.
"Dokter,,Anjani kenapa Dokter?" Ardi berlari mendekat kearah Anjani dan dia panik saat melihat monitor di alat pengukur jantung menunjukkan garis mendatar. hanya satu garis mendatar. "Mas dan mbaknya keluar dulu ya? kami sedang berusaha menyelamatkan mereka." seorang perawat berusaha untuk membawa mereka keluar dari kamar Anjani. Tapi Ardi dan Siska tak menghiraukan, mereka tetap ingin disitu melihat sahabat-sahabatnya.
Dokter sedang berusaha untuk memacu jantung Anjani dengan alat Defribrilator tersebut,sedangkan Mila ditangani Dokter lainnya yang berusaha untuk menghentikan darah di lehernya.
"Milaaaa...Milaa lu kenapa,,Mila?" Siska menjerit dan mendekati sahabatnya yang bersimbah darah. Seorang perawat pun menghalanginya untuk mendekat.
Ardi pun mendekati Siska,menarik bahunya,Siska pun berbalik dan langsung memeluk Ardi dengan erat karena dia sangat ketakutan. "Di..ada apa ini? kenapa Anjani dan Mila? kenapa Di? siapa yang tega ngelakuin semua ini ke mereka,siapa Di?" Siska tak sanggup lagi menahan tangisnya,dia pun menjerit dan menangis sejadi-jadinya di pelukan Ardi.
__ADS_1
*****