
"Kamu belum mau pulang? kalau mau nanti biar saya antar ya?" ujar Aditya pada Siska yang duduk didepannya.
"Nanti aja kak. Saya masih mau menjaga Anjani dan Mila kasian mereka." ujar Siska sambil terus menyeruput minumannya dengan menggunakan sedotan kecil.
Aditya hanya bisa tersenyum walau ada rasa sedikit kecewa karena dia berharap gadis manis didepannya itu mau untuk diantar olehnya. Tapi dia juga paham karena Siska masih ingin menjaga sahabat-sahabatnya. Aditya terus saja memandangi wajah manis Siska. Siska yang merasa canggung karena ditatap oleh Aditya berusaha menghindar dari tatapan pria tampan itu.
"Ma..maaf kak,saya ke kamar kecil dulu ya?." ujar Siska yang langsung berdiri dan berjalan kearah toilet. Hatinya deg-degan karena polisi ganteng itu terus saja menatap wajahnya. Siska yang memang sedikit tomboi itu belum pernah menjalin hubungan dengan laki-laki manapun, jadi ketika dia ditatap begitu hatinya pun merasa aneh dan canggung.
Saat Siska berjalan menuju toilet di cafe itu,ekor matanya menangkap sebuah bayangan orang yang seakan sedang mengikutinya. Cepat-cepat Siska pun masuk kedalam toilet dan bertanya-tanya dalam hati apakah orang itu mengikutinya atau hanya perasaannya saja.
Setelah selesai dia pun pelan-pelan keluar dari toilet memperhatikan sekelilingnya, siapa tau ada orang yang seakan mengikutinya tadi. Siska menatap kesana-kemari tapi tak mendapati siapapun disitu. Akhirnya Siska pun berjalan keluar dari toilet wanita tersebut. Saat Siska berjalan pergi dari tempat itu,tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang yang langsung menariknya masuk kedalam toilet laki-laki yang ada di seberang toilet wanita tempat Siska tadi. Siska pun kaget dan ingin menjerit tapi mulutnya dibekap dari belakang. Saat tubuhnya berbalik,Siska pun langsung mengambil ancang-ancang dan menendang orang itu tepat di ***********. Orang itupun mengaduh dan terjatuh kesakitan. Saat Siska ingin kembali menendangnya pria itu pun membuka maskernya. "Stop..Siska,,tolong,ini gua.. Ardi." ucap laki-laki tersebut yang ternyata adalah Ardi sahabatnya.
Siska yang mendengar suara Ardi langsung kaget dan mendekati laki-laki tersebut. Dengan rasa penasaran dan bingung Siska pun membalikkan tubuh Ardi yang jatuh karena tendangannya tasi. smSaat berbalik terlihat wajah Ardi yang meringis kesakitan,Siska pun malah berteriak kegirangan. "hyaaa,,,ardii.?" Siska pun melompat-lompat kegirangan lalu berusaha memeluk Ardi yang telah berdiri didepannya. "Sssst,, jangan berisik!." ujar Ardi menutup mulut Siska. Siska pun menuruti kata-kata Ardi tapi dia tetap saja memeluk sahabatnya itu karena dia bahagia masih bisa melihat Ardi lagi.
"Gua kira gua nggak bakal ketemu lu lagi Di?" ujar Siska dengan mata berkaca-kaca karena air matanya hampir saja jatuh menetes.
Ardi membelai rambut sahabatnya tersebut. "Gua nggak apa-apa Sis. Yang gua kuatirkan justru kalian yang disini. Gimana Anjani dan Mila Sis? apa mereka baik-baik saja?" Ardi melepas pelukannya dari sahabatnya itu.
"Mereka baik-baik aja Di. Mila juga udah sadar dan nanyain lu mulu. Lu kemana aja Di? gua kuatir banget sama lu." ujar Siska yang tak tahan untuk menahan tangisnya.
"Panjang ceritanya Sis. Sekarang gua nggak bisa lama-lama disini. Gua tunggu lu di kosan gua aja ya? Pokoknya lu jangan bilang siapa-siapa kalau gua ada disini. Lu juga musti hati-hati. oke?" ujar Ardi lalu memeluk Siska yang masih saja menangis karena terharu bisa bertemu dengan sahabatnya Ardi.
Siska pun mengangguk dan melepaskan pelukannya,dan mereka pun keluar dari toilet untuk kembali kemeja mereka masing-masing.
"Kamu kenapa? kamu menangis? kok lama banget tadi ke toiletnya? ada apa?" ujar Aditya pada Siska yang duduk didepannya dalam keadaan masih menangis menutup mulutnya dengan tangannya.
"Tadi saya kepeleset kak,kakinya sakit banget. Hu..hu.." ujar Siska yang tomboi tapi cengeng berbohong pada Aditya.
"Haah,,kamu terpeleset? terus kakinya gimana?" Aditya pun kaget dan langsung berdiri dan berjongkok di dekat kaki Siska. Dia pun langsung menarik kaki Siska untuk memeriksa keadaannya.
Siska pun tampak kaget langsung saja menarik kakinya menghindar dari Aditya. "Eeeh..,enggak apa-apa kok kak. Beneran nggak sakit lagi kok." ujar Siska malu karena tiba-tiba Aditya ingin menyentuh kakinya. Orang-orang di cafe pun tersenyum-senyum melihat ke arah mereka berdua. Tak terkecuali Ardi dan Naya yang juga ikut memperhatikan mereka.
"Waaah,, mereka romantis sekali ya?" ujar Naya pada Ardi.
__ADS_1
"Hhmm,,memangnya aku kurang romantis ya?" ujar Ardi mencubit hidung Naya.
"Iish,,apaan sih? nggak mau kalah banget?." ujar Naya tertawa dengan mimik wajah manyunnya yang lucu.
*******
"La,,gua pulang dulu ya? besok pagi-pagi gua kesini lagi. Dan gua bakal kasih surprise buat lu." ujar Siska pada Mila yang masih terbaring. Siska terlihat sangat bersemangat dan bahagia sekali karena Ardi sahabatnya sudah kembali,tapi Siska ingat pada pesan Ardi untuk tetap merahasiakan kedatangannya.
"Iiih,,apaan sih lu? pake surprise-surprise segala? bahagia banget roman?" ujar Mila bingung melihat sahabatnya itu.
"Hehehe,,iya dong? besok juga lu tau." ujar Siska lalu mencium kening Mila. "Daaah? selamat bobo ya?" ujar Siska lagi lalu menghilang dari balik pintu.
Mila hanya tersenyum melihat sahabatnya itu dan dia pun sedikit bingung tentang surprise yang di katakan Siska tadi. "Selamat bobo? aaah,,Siska lu nggak tau kalo gua nggak bisa tidur?." ujar Mila pada dirinya sendiri.
Mila masih saja belum bisa tertidur pulas karena masih trauma bila mengingat kejadian pada waktu itu. Hatinya masih saja merasa was-was dan tak bisa memejamkan matanya. Walaupun Aditya berjanji untuk menjaga mereka dan menempatkan beberapa anggotanya diluar pintu kamar,tapi tak bisa menghilangkan rasa kuatir di hati Mila. Sekuat tenaga Mila pun berusaha untuk memejamkan matanya.
*******
"Duduk sis!." ujar Ardi menarik tangan Siska. Siska pun menurut dan duduk di karpet kamar Ardi. Naya pun turun dari kasur dan berjalan untuk membuatkan minuman untuk mereka bertiga.
Siska yang penasaran langsung memberi kode pada Ardi tentang Naya. Melihat tingkah sahabatnya Ardi hanya tersenyum. "Nay,,sini duduk?." ujar Ardi pada Naya.
"Iya,, sebentar kak!." ujar Naya yang sedang menuang minuman. Lalu dia pun membawakannya dan duduk di samping Ardi. Naya pun tersenyum pada Siska yang masih tampak bingung tersebut.
"Sis,,kenalin ini Naya calon bini gua?." ujar Ardi yang disambut cubitan Naya di pinggangnya. Ardi tertawa kecil terkena cubitan Naya. Naya dan Siska pun berjabatan tangan. "Naya." ujar Naya menjabat tangan Siska. "Saya Siska sahabat Ardi." ujar Siska pula. "Iya teh,,saya sudah tau. Kak Ardi sering cerita tentang teteh." ujar Naya tersenyum. Siska masih tampak bingung tapi dia tetap membalas senyuman pada Naya.
"Lu pasti bingung kan? jadi gua bakal ceritain semuanya sama lu." ujar Ardi pada Siska dan mulai menceritakan kejadian demi kejadian yang di alami nya. Dari mulai dia tau Anjani hamil dan tau siapa yang menghamili Anjani sampai dia datang mencari Edward,dipukuli,dibuang sampai diselamatkan oleh Naya. Semua diceritakan Ardi tanpa ada yang dirahasiakannya lagi. Siska yang mendengar cerita Ardi pun tampak sedih karena tak menyangka sahabat-sahabatnya akan mengalami hal seperti ini.
"Dan sekarang anak buah Edward masih mencari gua,,sampai kami harus lari dan meninggalkan Bapak dan teh Mia disana." ujar Ardi yang langsung menggenggam tangan Naya yang mulai menangis sedih teringat pada ayah dan kakaknya tersebut. Siska yang melihat Naya menangis pun langsung bangkit dan memeluk Naya. "Terimakasih ya Nay? kamu sudah menyelamatkan Ardi. Dan kita janji bakal menjaga kamu disini." ujar Siska yang dibalas pelukan erat dari Naya.
"Terus kenapa lu nggak nelpon gua?" ujar Siska protes pada Ardi setelah Naya mulai sedikit tenang.
"Ponsel gua di hancurin sama Edward. Untungnya gua masih nyimpen memori card gua. Karena di memori card itu gua ada nyimpen rekaman percakapan gua sama Edward tentang Anjani dan Cindy. Dan itu bisa sebagai bukti penting untuk menghancurkan Edward." ujar Ardi pada Siska yang tampak antusias mendengarkan sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Btw,cowok yang tadi di cafe itu siapa? sok romantis banget lu berdua?" ujar Ardi cengengesan. Naya pun tertawa sambil memukul bahu Ardi. Siska pun jadi bersemu merah karena malu.
"Apaan sih lu? biasa aja kale. Itu kak Adit alias Briptu Aditya, polisi yang ngebantu nyelidikin kasus Anjani." ujar Siska memajukan mulutnya pada Ardi.
"Oooh,,jadi tu polisi naksir ya sama lu?" ujar Ardi lagi menggoda Siska.
"Iiiih,, nggak mungkinlah. Dia kan polisi? ganteng begitu lagi,masa mau sama gua yang slengean begini? **** aja dia mah kalo mau sama gua?" ujar Siska tertawa merendah padahal dalam hati dia juga merasakan kalau Aditya selalu memperhatikannya. Tapi Siska belum mau mengambil kesimpulan bahwa Aditya menyukainya.
"Yeee,, normal kale dia? Cewek cakep kayak lu nggak ada yang naksir justru aneh! gua aja juga dulu sempet naksir sama lu,cuma gua takut kena tendangan lu. Lu kalo udah main fisik tulang-tulang gua bisa remuk. Hahaaa." ujar Ardi tertawa terbahak-bahak sambil bercanda.
"Bacot lu..bacot..!" ujar Siska yang menendang-nendangkan kakinya pada Ardi. Mereka pun tertawa bersama. Sejenak masalah berat itu hilang. Siska pun tak merasakan takut lagi,karena kini dia tak sendiri lagi, ada Ardi dan Naya,juga Aditya disampingnya.
"Btw,kak Adit udah berusaha nyariin lu dirumah Edward,tapi lu nya nggak ada? jadinya gua makin kuatir." ujar Siska yang mulai serius.
"Apa Aditya bisa di percaya? karena setau gua banyak polisi yang bekerjasama sama si Edward itu,gua takut kalo lu hanya di manfaatin doang sama dia." tanya Ardi lagi.
"Selama yang gua lihat,kak Adit bisa di percaya kok. Bahkan kak Adit bilang sama gua kalo Edward berpikir bahwa Anjani udah meninggal. Jadi mungkin Edward nggak bakalan nyakitin Anjani lagi untuk saat ini." ujar Siska.
"Ya udah,kalo gitu besok kita bareng kerumah sakit. Dan gua bakal bicara sama Adit." ujar Ardi.
*******
"Praang,,gubrak,,plak..plak.!" Dirumah mewahnya Edward tampak dalam keadaan mabuk dan menghancurkan barang-barang dirumahnya. Para penjaganya pun tak luput dari kemarahannya. Edward memukuli dan menampar wajah mereka. "Gobloook! kenapa kalian semua nggak becus? kerja kalian apa sih?" ujar Edward sempoyongan karena pengaruh alkohol.
Handoko tampak berusaha untuk menjaga keseimbangan bosnya itu. Tapi dia pun tak lepas dari kemarahan Edward. "Jangan sentuh gua!." ujar Edward menendang Handoko hingga terjatuh. "kamu,,kamu,,kamu,,! nggak becus!." ujar Edward menunjuk-nunjuk wajah anak buahnya.
Handoko pun kembali berdiri dan memohon maaf kepada bosnya tersebut. " Maafkan anggota saya tuan? saya janji akan membereskan semuanya." ujar Handoko.
"Janji? janji apa? hah? janji apa? sudah berapa kali kamu berjanji? tapi tetap saja kamu nggak becus!" ujar Edward menempeleng kepala Handoko.
"Ardi,,mana Ardi? kenapa kalian biarkan dia hidup? kenapa tidak kalian habisi saja dia? polisi itu,,siapa dia? kenapa kalian tidak cari tau?" Edward berkata-kata dengan nada tinggi pada anak buahnya. Dia benar-benar murka karena anak buahnya pulang dengan tangan kosong.
******
__ADS_1