Cinta Untuk Anjani

Cinta Untuk Anjani
Menghilang


__ADS_3

Ardi menatap Anjani yang tertidur dengan rasa iba. Dia berharap Anjani bisa segera pulih. Kenapa wanita yang pernah sangat dicintainya itu selalu mengalami hal-hal yang tidak baik dalam hidupnya. Hanya karena dia mencintai orang yang salah. Andai Anjani membalas cinta Ardi mungkin ceritanya akan berbeda. Ardi dan Anjani pasti sudah bahagia dengan kehadiran sikecil yang andai itu adalah benihnya bukan benih Edward. Ardi hanya bisa menghayal dan berandai-andai,tapi semua pemikirannya berbanding terbalik dengan kenyataan.


Andini memasuki ruangan Anjani dan melihat Ardi yang melamun menatap Anjani. Andini merasakan tatapan cinta dari seorang Ardi untuk Anjani. Dia pun mendekati Ardi lalu mengusap pundak Ardi yang langsung terkejut karena kehadiran Andini disampingnya.


"Sabar ya Di? mudah-mudahan Anjani bisa segera pulih." ujar Andini pada Ardi dengan tatapan iba.


"Eeh,,lu udah disini Din? Sorry,gua nggak tau kalo lu masuk." ujar Ardi.


"Iya, nggak apa-apa. Lu udah makan belum? yuk temenin gua makan? sekalian gua mau ngomong sama lu." ujar Andini. Ardi pun mengangguk lalu mereka pun berjalan keluar meninggalkan Anjani yang masih tertidur lelap karena obat bius yang masih bekerja ditubuhnya.


"Lu mau bicara apa Din?" ujar Ardi pada Andini setelah mereka duduk di cafe menunggu pesanan makanannya datang.


"Ini masalah Anjani. Lu tau kan kita udah hampir dua bulan disini? dan hasil pemeriksaan Anjani semuanya bagus kecuali ada sedikit gangguan pada memori otaknya. Tadi gua udah ngomong sama temen gua sesama dokter dan ada juga yang psikiater, mereka menyarankan mending Anjani kita bawa ke Indonesia lagi di. Karena tubuhnya Anjani sehat, jadi dia akan cepat pulih bila berada ditempat yang dia kenal untuk memacu ingatannya kembali. Gimana menurut lu?" Andini berkata pada Ardi yang mendengarkannya dengan serius.


"Gua juga merasa sebaiknya gitu Din. Karena Aditya juga bilang kalo Edward juga lagi disini. Gua cuma nggak mau aja dia tau Anjani disini dan berusaha menyakiti Anjani lagi. Udah cukup rasa sakit Anjani selama ini Din,gua nggak tega." ujar Ardi setuju.


"Ya udah,kalo lu juga berpikiran sama nanti gua selesaikan semua administrasi Anjani dan tiket kita untuk balik ke Jakarta." sahut Andini. Ardi pun mengangguk menyetujui ucapan Andini.


*****


Aditya menerima panggilan telepon dari adik kembarnya Andini yang memberitahukan tentang rencana kepulangan mereka.


"Kalian mau balik ke Jakarta? oke,oke,gua bakal bilang sama anak-anak." ujar Aditya senang.


Siska yang mendengar Aditya yang sedang menelpon pun tampak menunggu penjelasan Aditya. Setelah Aditya menutup panggilan Siska pun langsung menyerbunya dengan pertanyaan. "Sayang,Apa mereka mau pulang? Anjani udah sembuh?" ujar Siska tak sabar.


"Iya sayang, Andini bilang mereka besok pulang." ujar Aditya tersenyum pada Siska.


"Yeeey,, mereka pulang.! Duuh,kangennya." Siska berbinar-binar mendengar ucapan Aditya. Dia sudah sangat merindukan sahabat-sahabatnya itu.


Naya yang mendengar teriakkan kegirangan dari Siska pun muncul dan terlihat bingung dengan sikap Siska. "Teh Siska kenapa? keliatannya seneng banget?" ujarnya bertanya pada Siska.


"Iya dong nay, gimana nggak seneng besok Andini,Anjani sama Ardi pulang kesini. Memangnya Ardi belum bilang ke kamu ya? Cieee,yang mau ketemu sama pacarnya?" ujar Siska menggoda Naya.

__ADS_1


Wajah Naya pun memerah menahan malu,dia pun tersipu mendengar ucapan Siska. "Iih,teh Siska apaan sih?" Ucapnya sambil tertunduk.


Siska pun melirik kearah Aditya agar melihat wajah Naya yang memerah. Mereka pun tertawa bersama sambil terus menggodanya, Naya yang di goda pun langsung berpura-pura mendengar sikecil menangis.


"Eh,sikecil nangis. Saya ke dalam dulu ya teh?" ujarnya sambil menunduk dan pergi berlalu meninggalkan Siska dan Aditya yang masih tertawa menggodanya itu.


******


Handoko duduk di atas lounger dipinggir kolam renang,tampak dia sedang berpikir bagaimana mungkin Anjani bisa sadar dari komanya? Kenapa wanita itu sangat sulit untuk disingkirkan? Apa kekuatan yang dimiliki wanita itu sampai berkali-kali lepas dari maut?. Dan menurut informasi dari anak buahnya, mereka mengatakan bahwa Anjani sedang berada di Singapura juga,tepat di tempat keberadaannya dan Edward saat ini.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus membunuh Anjani lagi? Bagaimana kalau tuan Edward tau?" Handoko tampak uring-uringan dan berbicara pada dirinya sendiri. Kalau sampai Edward tau bisa-bisa dia yang akan dibunuh oleh bosnya itu. Karena Edward berpikir kalau dia telah berhasil menyingkirkan Anjani.


Edward tampak sedang menikmati air di kolam renang yang berada di puncak gedung tempat mereka menginap tersebut. Perempuan-perempuan cantik pun berada di dalam dekapannya, terdengar cekikikan tawa mereka saat Edward membisikkan sesuatu di telinga mereka.


Sesekali Edward menoleh kearah Handoko yang dibalas senyuman oleh tangan kanannya tersebut. Dia tidak tahu kalau orang kepercayaannya tersebut sedang menyembunyikan sesuatu dari nya. Dia pun melanjutkan kesenangannya bersama perempuan-perempuan bayarannya tersebut.


******


Andini tampak sedang menyelesaikan administrasi rumah sakit agar dia,Anjani dan Ardi bisa kembali ke Jakarta. Setelah itu Andini pun kembali keruangan Anjani untuk memberitahukan agar Anjani dan Ardi agar bersiap-siap.


"Udah,,kamu duduk manis aja ya tuan putri?" ujar Ardi menarik tangan Anjani agar duduk di sofa. "Apa nggak ada yang bisa aku bantu?" ujar Anjani.


"Dengan duduk diam disitu kamu udah bantuin kok." ujar Ardi tersenyum.


"Iya,aku bantu dengan doa kan maksud kamu?" ujar Anjani tersenyum membalas ucapan Ardi.


Ardi pun tertawa kecil mendengar ucapan Anjani,dia tidak menyangka Anjani akan bercanda dengannya. Setelah selesai menyusun barang-barangnya Ardi pun duduk di samping Anjani. Dia pun lalu menggenggam tangan Anjani. "Aku bahagia banget bisa lihat kamu tersenyum begini." ujar Ardi membelai rambut Anjani dengan lembut.


Anjani pun tersenyum lalu dengan cepat mengecup pipi Ardi. "Makasih ya di? kamu udah jagain aku dan anak ku selama ini. Aku nggak tau gimana bisa ngebalas kebaikan kamu." ujar Anjani tersenyum namun tampak serius itu.


Ardi pun tampak terkejut karena Anjani tiba-tiba mengecup pipinya. Wajahnya pun merona menahan malu. "Ka..kamu ngomong apaan sih? Ah, jangan bicara gitu ah. Ngapain pake ucapin terimakasih segala? Toh itu juga udah jadi kewajiban ku sebagai sahabat kamu. Jadi kamu nggak usah sungkan begitu ya?" ujar Ardi tersenyum masih dengan rona diwajahnya karena menahan malu.


"Tok..tok..tok." Pintu di ketuk lalu dibuka dari luar. Tampak Andini telah berada di sana. "Udah siap semua? kita berangkat sekarang yuk?" ujarnya pada Ardi dan Anjani.

__ADS_1


"Oh,iya,,maaf, kalian duluan aja ya? tunggu aku di bawah? aku kebelet mau ke kamar kecil dulu." ujar Anjani memegang perutnya.


"Kamu nggak apa-apa?." ujar Ardi yang kuatir melihat Anjani yang tampak menahan sakit diperutnya.


"Iya,aku nggak apa-apa. Mungkin gara-gara kebanyakan makan buah jadinya begini. Makanya kalian tunggu dibawah aja ya? Aku kan malu kalau kalian nungguin aku disini." ujar Anjani lagi.


"Ya udah,kalo gitu kita tunggu dibawah ya? nggak pake lama." Ujar Andini pada Anjani. Anjani pun tersenyum lalu mengangguk.


Ardi dan Andini pun tersenyum lalu mengiyakan permintaan Anjani. Mereka pun lalu meninggalkan Anjani yang masuk ke kamar kecil didalam ruangan nya tersebut.


*****


Ardi dan Andini pun duduk di lobby rumah sakit tersebut menunggu Anjani yang masih berada di kamarnya.


"Anjani kok lama banget ya Di? apa dia baik-baik aja?" ujar Andini sedikit kuatir pada Anjani. Ardi pun tampak mencari -cari sosok Anjani. Tapi Anjani belum datang juga.


"Iya,ya Din. Kenapa Anjani lama banget di kamar mandi? Apa jangan-jangan Anjani sakit kepala lalu jatuh lagi." ujar Ardi lalu berdiri karena panik. Dia pun menatap Andini lalu berlari menuju ke ruangan Anjani meninggalkan Andini yang juga terlihat panik.


Ardi pun langsung membuka pintu kamar Anjani. Tapi kamar itu kosong. Ardi pun membuka pintu kamar mandi tapi tidak ada siapa-siapa disana. Ardi pun tampak semakin panik karena kuatir terjadi apa-apa pada Anjani.


"Anjani..Anjani.?." Ardi pun memanggil-manggil nama Anjani tapi tidak ada yang menyahut. Seorang perawat yang mendengar suara Ardi pun lalu mendekat. "Sorry sir, you have a letter from your friend in this room before.(Maaf pak,anda dapat surat dari teman anda yang di kamar ini sebelumnya." ujar perawat itu memberikan sepucuk surat pada Ardi.


"What it is? where is my friend? do you know where she is going?(apa ini? dimana teman saya? apa anda tau kemana dia pergi?)" Ardi tampak kebingungan menerima surat tersebut. "No,im so sorry sir. I don't know where she is going. She just give me this letter for you. She said youll be comeback here.(Tidak,maaf pak,saya tidak tahu kemana dia pergi. Dia hanya memberikan surat ini untuk diberikan pada anda,dia berkata anda akan kembali kesini." Perawat itu pun menggeleng pada Ardi.


"Okey,thank you.(Baiklah, terimakasih.)" Ardi pun menerima surat itu. Setelah perawat itu pergi Ardi pun lalu membuka surat yang dititipkan Anjani untuknya.


"Dear Ardi tersayang,


Maaf aku hanya bisa merepotkan kamu selama ini. Andai aku bisa membalas semua kebaikan kamu. Namun aku belum bisa membalas kebaikan kamu saat ini. Dan aku juga minta maaf untuk tidak memberitahu kamu bahwa ingatanku telah pulih. Aku sudah ingat semuanya. Tentang kamu,Siska, Mila,dan Edward. Untuk terakhir kalinya aku mohon bantuan kamu, tolong jaga anak ku, berikan nama ku untuknya. Dan tolong temui ibu dan adik-adik ku di kampung. Tolong jelaskan pada mereka tentang Anjani anak ku. Dan bila mereka bertanya dimana aku, bilang pada mereka anak ku adalah aku. Tolong rawat Anjani kecil ku dengan cinta.


TTD. Anjani.


Tangan Ardi tampak bergetar,dia tak kuasa menahan tangis. Anjani telah sadar tapi kenapa dia pergi? kemana dia pergi? Ardi pun langsung berlari mencari-cari dimana Anjani. Ardi lalu menelpon Andini dan mengatakan kalau Anjani menghilang.

__ADS_1


"Apa? Anjani menghilang? Okey,,okey kamu tenang dulu aku akan konfirmasi dan mengecek cctv dan mencari tahu kemana Anjani pergi." Andini pun tampak panik lalu langsung berlari menuju ruang pengawas cctv rumah sakit tersebut. Dia pun menceritakan kalau Anjani menghilang. Mereka pun bersama-sama mencari Anjani. Namun Anjani tidak terlihat. "Dimana Anjani?" Andini pun panik.


******


__ADS_2