
"Man bangun, Man. Udah siang,” ucap Bu Lastri sambil menggoyang-goyangkan badan Iman berkali-kali.
“Hmmm ....” Kembali Iman menarik selimutnya. Kedua matanya masih terpejam.
“Man, bangun. Hari ini pertama masuk sekolah, 'kan? Nanti di jalannya macet, lho.”
“Bentar lagi, Bund. Dingin.” Iman masih bergeming, tetap pada posisi semula.
Bu Lastri menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan tingkah putra semata bungsunya itu. “Man, lihat, Selena Gomez lewat!”
“Mana, Bund? Mana?” Iman langsung membuka matanya ketika mendengar nama artis favoritnya disebut. Sementara itu sang Bunda tertawa puas.
“Bunda mah, ngerjain deh.”
“Iman ... Iman, lagian mana mungkin artis terkenal datang ke sini. Tuh lihat jam berapa sekarang? Memangnya kamu nggak ke sekolah?”
Iman mengucek matanya. Ia melirik jam meja bergambar klub sepakbola kesayangannya --- Manchester United di samping tempat tidur. “Astagfirullah, setengah tujuh. Bunda kenapa nggak bangunin dari tadi sih?” Buru-buru Iman meloncat dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamar mandi. Dia nggak mau dijemur di tengah lapangan sekolah gara-gara kesiangan. Malu dilihat murid-murid baru. Siapa tahu, salah satu di antara murid-murid cewek di sekolahnya bakal jadi calon gebetan dia.
Sang Bunda menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan tingkah putra keduanya itu. Bertolak-belakang dengan Ikhsan, sang kakak yang sedari tadi sudah berangkat ke sekolah duluan.
Setelah mandi koboi alias mandi kilat -- hanya cuci muka dan sikat gigi saja -- ia pun mengenakan seragam, lengkap dengan atribut dan sepatu, juga jaket kulit hitam kebanggaannya. Sementara itu, sang Bunda tengah menyantap sarapannya di meja makan.
“Man, nggak sarapan dulu?”
“Nanti aja Bund, di sekolah. Udah injury time, nih. Assalamualaikum.” Iman mencium takzim punggung tangan Bunda terkasihnya.
“Waalaikumsalam, hati-hati, Man. Jangan ngebut.”
Iman mengangguk dan buru-buru menuju garasi.
__ADS_1
“Duh, ini motor? Nggak peka banget, sih? Kenapa malah nggak nyala? Nggak tahu apa tuannya lagi galau gini?” Berkali-kali Iman menstater N-Max kesayangannya. Tetapi nihil, jangankan menyala, motor itu bersuara pun tak sanggup. Iman melirik jam tangannya, sudah pukul 06:35. Karena motornya tak juga menyala, ia pun memutuskan untuk naik angkot.
***
Iman berlari secepat kilat ala The Flash meninggalkan rumah. Sesampainya di ujung gang, Iman memberhentikan sebuah angkot berwarna kuning jurusan Cibaduyut Karangsetra. Tak ada penumpang lain, hanya Iman dan sang sopir yang berada di dalam angkot itu.
“Mang turun di SMAN 6 ya, GPL.”
“Apaan, Jang GPL, tèh?” tanya sopir angkot heran.
“Nggak pake lama. Soalnya saya buru-buru nih, takut telat.”
“Sakedap nya, ngetem dulu, biar angkotnya nggak sepi. Persis seperti hati seorang jomlo, sunyi.”
Dasar si Mamang ini, tahu aja kalau gue jomlo. Emang terlihat jelas ya dari tampang gue? Padahal gue kan keren. Iman meratapi nasibnya dalam hati. “Mang, kalau ngetem saya bakalan kesiangan atuh. Gini aja deh, saya bayar berapa pun, hitung-hitung saya sewa ini angkot sampai ke sekolah. Abis itu Mamang bebas mau ngetem sampai ke ujung dunia dan berapa lama juga. Asal Memang bahagia.”
Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya sopir angkot itu menyetujui permintaan Iman. Lumayan pagi-pagi begini udah ada yang nyarter angkotnya. Angkot kuning dengan strip hijau di bagian bawahnya itu pun melaju kencang, tapi tetap berusaha tak melanggar peraturan lalu-lintas.
Namun, Alhamdulillah, walau pun lima puluh ribu melayang, tepat pukul 06:50 ia tiba di sekolah. Lega. Artinya dia terbebas dari hukuman, sebab tak kesiangan. Saat hendak melangkahkan kaki ke dalam kelas, suara bel terdengar nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Imam terpaksa menaruh tasnya di lantai luar ruang guru.
Semua murid sudah berkumpul di lapangan. Para petugas upacara tampak sedang mempersiapkan segala sesuatunya. Para pemimpin barisan pun sedang mengatur barisan masing-masing agar rapi.
Pukul 07:00 berlangsunglah upacara bendera, sekaligus penyampaian informasi mengenai MOPDB alias Masa Orientasi Peserta Didik Baru oleh Pak Baratha, kepala SMAN 6 ini. Kegiatan MOPDB ini akan berlangsung selama tiga hari. Seluruh murid dari kelas X hingga XII dikumpulkan di lapangan sekolah. Di depan mereka sudah tampak kepala sekolah, guru-guru beserta para staf. Mereka kompak mengenakan seragam dinas harian berwarna khaki.
Sebelum barisan murid-murid ini dibubarkan, kini giliran yang melanggar peraturan dipanggil ke depan oleh Pak Sasongko, guru BP di sekolah ini. Lumayan banyak juga murid yang disuruh ke depan lapangan. Ada beberapa yang kesiangan, ada pula yang berhubungan dengan penampilan, seperti atribut sekolah yang tidak lengkap, atau para murid laki-laki yang rambutnya sudah terlalu panjang.
“Iman, sini ke depan!” Suara Pak Sasongko mengagetkan Iman yang tengah melayangkan pandangannya ke arah langit. Dia sedang mengamati sebuah layangan yang terbang dengan anggunnya, terombang-ambing embusan angin pagi.
"Iman! Malah bengong. Belum korek kuping ya sampai perintah Bapak nggak kamu gubris?" Suara membahana Pak Sasongko kembali menyentaknya. Iman melangkah gontai menuruti kehendak guru BP itu. Perutnya mulai keroncongan, sebab tak sempat sarapan. Setibanya di depan, kedua netranya terpaku pada salah satu murid kelas X yang berbaris paling depan. Cantik juga, nih cewek. Calon kandidat gebetan gue nih. Begitu kira-kira suara hatinya.
__ADS_1
Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa ia ikut dipanggil ke depan? Padahal Iman tidak merasa melanggar. Satu-persatu murid yang melanggar diinterogasi oleh Pak Sasongko. Kini giliran Iman. Ia pasrah dengan nasibnya di tangan guru killer yang kini sedang memandangnya tajam.
“Iman, kamu itu udah kelas XI. Seharusnya kasih contoh yang baik pada adik-adik kelasmu yang baru masuk itu.” Pak Sasongko menunjuk ke barisan murid-murid kelas X.
Iman menggaruk-garuk kepalanya, sambil sesekali melirik cewek gebetannya. Sekilas, netra keduanya beradu. Ada desir aneh merambat di hati Iman. Cewek itu tersenyum kecil sembari memandang ke arah Iman yang seperti tersangka sedang diinterogasi polisi. Ia menunduk menahan malu, masih mengingat-ingat kesalahan yang dia perbuat hari ini. Nihil. Ia tak juga mendapat jawabannya.
“Kenapa garuk-garuk kepala? Rambutmu ketombean ya? Pakai shampoo anti ketombe sekalian sama anti kutu juga biar kulit kepalanya bersih. Man, kamu tahu betul, 'kan peraturan sekolah ini?”
“Tahu, Pak.” Kini ia menggaruk hidungnya.
“Kenapa pula hidungmu, Man? Banyak komedonya? Tinggal beli nanti pembersih komedo.”
Duh serba salah, batin Iman. Ia masih berpikir keras mengenai pelanggaran apa yang telah ia lakukan sehingga membuat namanya ikut dipanggil.
“Untuk semuanya yang hari ini terpanggil, aturan itu dibuat bukan untuk dilanggar. Nah kamu, Iman masih belum sadar kenapa dipanggil ke depan?”
Iman menggeleng. “Terlalu." Guru BP berkumis tebal itu menirukan suara si raja dangdut hingga membuat murid-murid tertawa. "Coba kamu lihat ke bawah,” lanjutnya.
Ketika Iman melihat ke arah sepatunya, ia mendapat jawabannya. Ternyata, dia salah mengambil sepatu di rak. Sepatu yang Iman kenakan sekarang adalah sepatu untuk jjs atau sekedar nge-mall bareng gengnya.
“Jelas, 'kan sekarang? Sejak kapan kamu hobi pakai sepatu corak papan catur begini? Aturan di sini jelas, 'kan? Semua murid SMAN 6 hanya boleh memakai sepatu Converse berwarna hitam. Jadi, dilarang pakai sepatu warna lain selain warna hitam, apalagi warna pelangi, memangnya mau saingan sama rainbow cake?" Pak Sasongko mengelus kumis tebalnya. “Nah, untuk murid-murid yang hari ini jadi artis dadakan, Bapak pagi ini akan berbaik hati memberi kalian reward." Pak Sasongko senyum-senyum sendiri sembari melihat satu-persatu murid yang melanggar itu. Mereka kompak menatap ke arah lantai lapangan dengan perasaan tak menentu.
"Hadiah apakah itu? Silahkan siap-siap membersihkan wc. Keren, ‘kan hadiah dari Bapak di pagi yang cerah ini?” Kembali guru BP berkumis tebal itu memandang ke arah para pelanggar. “Dan untuk yang lainnya balik kanan, bubar jalan, masuk ke kelas masing-masing.”
Barisan para murid itu membubarkan diri, bersamaan dengan berakhirnya sidak dari Pak Sasongko.
Sial banget Iman hari ini, niat berangkat terburu-buru karena tak mau kesiangan, eh malah kena hukuman juga gara-gara salah pakai sepatu. Semoga calon gebetannya nggak ilfill dengan Iman atas kejadian yang menimpanya hari ini dan nggak menganggap Iman cowok badung di sekolah. Kembali Iman melirik cewek yang sudah berbalik melangkah menuju ke kelas. Walaupun hanya melihat punggungnya saja, desir aneh itu muncul lagi di dadanya.
“Heh, malah bengong! Buruan bersihin wc, keburu jadi ikan asin loe kelamaan berjemur di sini.” Iman nyengir, menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil sesekali melirik ke arah cewek itu. Berharap sosok itu akan membalikkan badan dan mempersembahkan sebuah senyuman manis untuknya.
__ADS_1
Pandangan Gilang berpaling ke arah Iman memusatkan perhatiannya. “Ciee. Dasar elo, Man, jeli banget kalau lihat yang bening-bening.”
“Udah ah. Nih, bawain tas gue ke kelas, Lang.” Iman melempar tas gendong Fila-nya ke arah Gilang yang langsung sigap menangkapnya. Aneh, walau pun cewek itu kini sudah tak tampak, tetapi Iman masih belum mampu meredakan debaran di dadanya yang kian bertalu-talu.