Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
A Crying Girl on MOPDB


__ADS_3

Sebuah spanduk besar bertuliskan “Selamat Datang Peserta Didik Baru” terbentang di depan aula SMAN 6. Sound system telah terpasang. Begitu pun meja dan kursi untuk pemateri sudah berjajar rapi di bagian depan aula. Para panitia---terdiri dari murid kelas XI dan XII yang tergabung dalam OSIS, sudah memenuhi ruangan itu sejak pukul 06.00. Mereka mengecek kembali persiapan untuk seluruh rangkaian kegiatan di hari pertama MOPDB ini.


Beberapa murid baru mulai berdatangan. Mereka mengenakan seragam rapi, tanpa memakai kostum lucu-lucuan, gaya urakan, mau pun atribut-atribut yang aneh. Pihak sekolah sengaja memberlakukan hal ini, agar murid baru nantinya terbiasa dengan kerapian berpakaian, disiplin, dan juga sopan santun.


Pukul 07.00, dimulailah upacara apel pembukaan MOPDB yang diikuti oleh seluruh guru, para murid yang menjadi panitia, serta semua murid kelas X. Pak Baratha Yudha---pria paruh baya bertampang Asia, selaku kepala SMAN 6, maju ke depan mimbar. Tangan kanannya menggenggam sebuah mic wireless. Setelah berkali-kali mengetukkan jari di atas mic, barulah beliau bersuara.


“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Semua yang hadir bersamaan menjawab salam kepala sekolah yang jarang tersenyum itu. Setelah itu, Pak Baratha melanjutkan pidatonya. “Puji syukur adalah milik Allah, Tuhan semesta alam. Pada kesempatan ini, kita dapat berkumpul di lapangan sekolah ini untuk melaksanakan pembukaan Masa Orientasi Peserta Didik Baru atau MOPDB.


Pertama-tama, Bapak ucapkan terima kasih kepada panitia PPDB sekaligus merangkap tugas sebagai panitia MOPDB, karena Bapak Ibu sekalian telah menunjukkan dedikasi yang besar kepada sekolah ini dengan bekerja ikhlas demi menyukseskan terselenggaranya kegiatan ini. Tak lupa juga Bapak ucapkan selamat datang kepada siswa baru yang sudah menitipkan diri untuk kami didik dan kami bimbing di sekolah ini. Semoga kelak kalian menjadi anak-anak yang cerdas, berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Di mulai dari hari ini hingga dua hari ke depan, kamu sekalian akan mengikuti kegiatan MOPDB sebagai langkah awal untuk kalian bisa mengenali lingkungan sekolah baru kalian ini, sehingga mudah-mudahan bisa betah dan nyaman belajar di sini.


Terakhir yang ingin Bapak sampaikan. Bapak titipkan para siswa baru ini agar dididik dengan sebaik mungkin karena mereka adalah generasi penerus kita di masa yang akan datang. Bapak percayakan segala sesuatunya kepada panitia MOPDB untuk menjalankan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya sehingga mereka betah dan meninggalkan kesan yang baik di sekolah ini. Jalankan amanat menteri pendidikan dengan penuh tanggung jawab dan kesungguhan. Mudah-mudahan yang kita kerjakan ini menjadi kegiatan yang bermakna dan bermanfaat bagi semua warga sekolah.


Hanya itu yang dapat Bapak sampaikan. Dengan mengucap Basmallah, kegiatan MOPDB tahun pelajaran 2019/2020 Bapak nyatakan dibuka. Terima kasih atas perhatiannya.


Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”


Bersamaan dengan berakhirnya pidato Pak Baratha, lapangan sekolah riuh oleh tepuk tangan dari seluruh peserta upacara diiringi dengan pelepasan ratusan balon ke udara. Setelah upacara pembukaan selesai, para murid baru masuk ke aula dengan bimbingan senior-senior mereka. Di dalam aula, mereka menyimak materi tentang pendidikan berkarakter dan sekolah ramah anak yang disampaikan oleh beberapa dewan guru. Agar para murid baru ini tidak jenuh, senior mereka memberikan selingan berupa games atau sekedar sharing pengalaman.


“Alhamdulillah, kegiatan MOPDB hari pertama ini berjalan lancar. Anak-anak baru itu juga kelihatan antusias mengikuti seluruh rangkaian acara dari awal sampai akhir.” Ikhsan, sang ketua panitia menyeka peluh di dahi. Walau tampak lelah, tetapi wajah cowok berkulit putih berhidung mancung itu tak mampu menyembunyikan rasa puasnya.


“Iya, San, alhamdulillah. Semoga semuanya berjalan sesuai rencana hingga hari terakhir nanti.” Dinar, sang sekretaris, menyodorkan sebotol air mineral pada Ikhsan yang langsung disambut gembira oleh cowok tampan itu. Sedari tadi ia memang haus. Rasa segar seketika menggelitik tenggorokannya yang kering usai menenggak minuman itu. Bibir merahnya tanda tak pernah menyentuh rokok itu seraya berucap hamdallah.

__ADS_1


“Pilih kasih nih Bu sekre. Minumannya cuma buat Pak ketu. Kan kita juga haus ya, gaes.” Candaan yang dilontarkan Firman, murid kelas XI bertubuh gempal itu sontak membuat panitia yang lain kompak menganggukkan kepala dan berhasil mengundang tawa mereka. “Nasib, yang wajahnya ganteng emang gitu, tuh. Ibarat gula selalu dikerubuti banyak semut.” Cowok berpipi chubby itu bangkit dari duduknya lantas melangkah menuju kantin. Sang ketua kelas tetap tenang menanggapi celotehan itu.


Sementara itu, semburat merah jambu menghiasi pipi Dinar, tetapi tak disadari oleh Ikhsan. “San, adek loe nggak ikut jadi panitia?” tanya gadis itu sambil berusaha meredakan debaran di dada.


“Lebih baik sih nggak usah.”


“Lho, kenapa? Padahal kesempatan tuh buat dapat gebetan. Walau mungkin murid-murid baru itu bakal lebih naksir elo, kakaknya dari pada adiknya.” Ali, murid kelas XI bertubuh kurus dan berkacamata minus ikut menimpali.


“Justru itu gue melarang dia ikutan. Dia belum mampu menjaga pandangan dan hatinya,” ujar Ikhsan menanggapi dengan kalem. “Gue pulang duluan ya. Thanks for today. Jaga kesehatan, kita masih harus fighting lagi dua hari ke depan. See you tomorrow.” Ikhsan menyalami semua panitia cowok, sementara kepada panitia cewek, dia menangkupkan kedua tangan sembari tersenyum manis. “Assalamu alaikum.” Semua yang hadir di ruang panitia itu kompak menjawab salam sang ketua.


Sepasang mata Dinar tak lepas menatap sang ketua panitia hingga sosok itu menghilang dari pandangan. Ikhsan, kepada perempuan seperti apa kau melabuhkan hatimu? Andai itu aku ..., batinnya lirih seraya menghela napas berat.


***


“Nah, yang kebut-kebutan itu pasti loe, ‘kan?” Ada juga beberapa murid yang menunjuk-nunjuk teman barunya sembari tertawa puas.


Tak terasa, waktu beranjak dengan cepat, hari kedua MOPDB pun dilalui dengan lancar dan tertib layaknya hari pertama.


Hari ketiga MOPDB tidak seperti hari pertama dan kedua yang dilaksanakan di aula. Kali ini kegiatan berpusat di lapangan SMAN 6. Agenda kegiatan di hari terakhir ini adalah penampilan dari beberapa ekstrakurikuler, seperti dari Pramuka, Tae 06 (Taekwondo), beberapa ekskul olahraga: basket, futsal, badminton, voli, dan softball, Karya Ilmiah Remaja (KIR), Kerohanian: Dinamika Remaja Islam (DRI) dan Hikmatul Iman (HI), TERASE (Teater SMAN Enam), Majalah dinding (Wahana), Multimedia, Vokal Grup (VG), Angklung SMAN 6, Japanese Club (Rokugo), dan Palang Merah Remaja (PMR).


Setelah seluruh penampilan dari ekstrakurikuler yang menarik minat dan antusiasme para murid baru usai, maka kegiatan ini ditutup dengan berbagai lomba yang diprogramkan OSIS, yaitu lomba yel-yel terheboh, lomba kelompok terkompak, lomba membuat surat cinta terbaik untuk kakak pembimbing pilihan, dan lomba mengumpulkan tanda tangan kakak pembimbing terbanyak. Meski pun cuaca sedang terik, tetapi tak menyurutkan semangat murid-murid baru ini. Mereka yang sudah terbagi ke dalam kelompok masih kelihatan ceria mengikuti rangkaian kegiatan terakhir ini dan berusaha keras mempersiapkan lomba agar mereka bisa tampil menjadi yang terbaik dan tentu saja jadi pemenangnya.

__ADS_1


Di sudut kanan lapangan, tepatnya di depan kamar mandi murid perempuan, terdengar suara keributan. Hal ini mengundang perhatian para peserta dan panitia MOPDB. Tampak di sana Bagas, salah satu panitia yang terkenal agak tegas itu sedang membentak-bentak seseorang.


“Yang lain tenang, ya. Silahkan lanjutkan lombanya.” Ikhsan berusaha menenangkan para murid baru yang kasak-kusuk sehingga fokus mereka mulai terpecah. “Dinar, titip dulu ya, gue ke sana dulu,” lanjutnya yang dibalas dengan anggukan dan perasaan yang membuncah bahagia dari sang gadis.


“Bagas, ada apa ini?” tanya Ikhsan sembari menatap iba cewek berjilbab putih dan cantik itu. Sempat cowok itu membaca tulisan yang tertera di name tag cewek itu. Cinta Lintang Larasati. Wajah cantiknya pucat pasi, bulir bening menggenangi pipi. Hidung mancungnya tampak memerah.


“Ini, San. Yang lain ikut lomba. Dia malah santai nongkrong di wc. Suruh ngumpulin tanda tangan bukunya masih kosong. Ini pelanggaran MOPDB kan namanya? Mau sembunyi loe? Kesel gue!” Kedua netra Bagas memelotot menahan amarah.


“Kamu juga merokok di kantin. Bukannya itu pelanggaran juga? Kakak kelas macam apa kamu? Ngasih contoh nggak bener!” ujar cewek itu di sela-sela isak tangisnya.


“Elo! Baru kelas X aja udah songong! Berani loe sama gue!” Tangan Bagas terkepal bersiap melayangkan pukulan ke arah cewek itu. Namun, Ikhsan menangkisnya.


“Cukup, Gas. Gue nggak suka loe melakukan kekerasan. Pukul gue kalau elo punya nyali, jangan cuma berani sama yang lemah!” Ikhsan menggenggam tangan Bagas yang langsung ditepis kasar, hingga genggaman itu terlepas. Netra cewek itu memandang Ikhsan dengan takjub. Sekilas, keduanya beradu pandang, memunculkan desir aneh di dada sang cewek.


“Kok elo membela cewek cengeng ini sih? Bukannya terima kasih sama gue, udah menemukan pelanggar licik macam dia!” Bagas tersulut emosi dan menarik kasar kerah baju Ikhsan. Cowok tampan itu tetap tenang menghadapi Bagas yang napasnya sudah ngos-ngosan karena marah.


Tiba-tiba tubuh cewek itu ambruk di hadapan kedua cowok yang sedang bersitegang itu. Sontak, Bagas melepaskan kerah baju Ikhsan.


“Nah, sekarang elo ngerti, ‘kan alasannya kenapa? Dia lagi sakit, bukan maksud mangkir dari kegiatan!”


Bagas menatap cewek itu dengan pandangan khawatir. Rasa bersalah merasuki pikirannya. Dia menyesal, sebab dari tadi lebih mengedepankan emosinya tanpa menanggapi penjelasan cewek itu mengapa berada di wc bukannya ikut kegiatan.

__ADS_1


“Gas, bantuin gue !” seru Ikhsan membuyarkan Bagas dari lamunannya. Berdua mereka membawa cewek itu ke ruangan UKS untuk mendapatkan perawatan.


__ADS_2