Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
Not A Big Deal


__ADS_3

Iman mengaduk-aduk nasi goreng yang di atas piring. Tak lama kemudian, dia mulai menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Iman mengunyahnya dengan tak berselera. Ikhsan yang juga tengah menyantap sarapannya, sedari tadi terus mengamati wajah sang adik. Dia menangkap, adiknya itu seperti tengah memikirkan sesuatu, raga berada di rumah, tetapi pikirannya entah ke mana. Walau melihat sekilas saja, bisa terlihat dari raut wajah Iman yang tatapannya kosong, memandang lurus ke arah tembok rumah bercat putih itu.


Sesekali, terdengar juga helaan napas darinya. Untung saja, Bu Lastri sedang menghadiri rapat PKK untuk persiapan kajian besok sore sehabis Ashar. Kalau saja Bunda sekarang ada di antara mereka, wanita itu akan terus melontarkan pertanyaan pada Iman, hal yang menyebabkan wajah putra bungsunya itu murung pagi ini.


“Elo, kenapa, Man? Berantem sama pacar elo?” Setelah sekian lama hanya diam mengamati, Ikhsan akhirnya tak kuasa lagi menahan kekepoannya yang sudah sangat mendesak.


“Kak, gue sama Cinta udah nggak ada apa-apa, kok. Hanya, kemarin dia salah paham lagi.”


Ikhsan mengernyitkan dahi. “Katanya elo udah nggak berhubungan, kok bisa terjadi salah paham?”


“Justru itu, Kak. Gue juga heran. Walau kita nggak pacaran, dia itu ngambek tiap lihat gue ngobrol sama Chilla.” Iman mengacak-acak rambutnya frustrasi.


Ikhsan menyuapkan nasi goreng terakhirnya ke dalam mulut, kemudian menaruh sendok makannya di atas piring yang sudah kosong. Cowok tampan itu lalu meneguk air putih hingga tandas. Dia tampak berpikir sejenak, sembari menatap wajah adiknya.


“Chilla yang naksir gue itu?”


“Iya, Kak.”


“Hampir tiap hari dia chat gue, tapi nggak pernah gue bales.” Ikhsan beranjak dari tempat duduknya, sembari membawa piring dan gelas kotor bekas sarapannya ke wastafel. Setelah itu, dia kembali duduk di tempatnya semula. “Makanya, Man. Biar elo nggak ribet dengan urusan perasaan, udah saatnya mulai detik ini elo jaga jarak dengan lawan jenis. Gue jamin, hidup elo bakal lebih nyaman. Elo bisa lebih tenang memperbaiki diri ke arah yang lebih baik, agar elo kelak punya jodoh yang baik juga.”


Iman manggut-manggut, lantas berusaha menghabiskan sarapannya. Jam istirahat nanti, dia harus bicara dengan Cinta, supaya plong hal yang mengganjal di hatinya dan juga di hati Cinta. Dalam hati, Iman bertekad, hari ini dia harus bisa membuat Cinta kembali mau menerima dan memakai cincin dan kalung pemberiannya.


“Yuk, berangkat bareng. Kita ngobrolnya sambil jalan.” Ikhsan melirik jam sporty digital yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


Iman mengangguk, sembari menatap wajah kakaknya seraya tersenyum tipis. Dalam hati, dia merasa sangat bersyukur mempunyai seorang kakak seperti Ikhsan yang bisa diajak berdiskusi sambil memberikan solusi.


***


“Putri cantiknya Papa kenapa, sih? Papa perhatikan dari tadi wajah cantik ini tak menampakkan senyuman? Padahal di luar cerah, lho,” ujar Pak Baratha sembari melirik sekilas ke arah Cinta yang duduk di sampingnya. Kemudian, kepala SMAN 6 kembali memandang lurus ke jalanan, fokus menyetir mobilnya.


“Nggak ada apa-apa, kok, Pa,” jawab Cinta pelan dan lemah.


Pak Baratha kembali melirik putrinya seraya tersenyum kecil. Dia tahu betul, hal yang bisa membuat kacau hati dan juga pikiran putri semata wayangnya itu. “Iman, ya? Kalian kenapa lagi?”


“Kak Iman kayaknya udah punya pacar baru.”


Dahi Pak Baratha berkerut. “Kamu tahu dari mana? Hanya sekedar berprasangka atau dia mengakuinya langsung?”


“Kemarin, Cinta lihat dia ngobrol akrab berdua di kantin sama murid pindahan dari Jakarta.” Wajah Cinta semakin muram saat bayangan Iman yang sedang berbincang dan tertawa-tawa dengan Chilla kembali muncul. Dia memandang sendu ke depan, tak sedikit pun memalingkan wajah ke arah papanya.


“Kamu pasti nggak memberi kesempatan Iman untuk menjelaskan, ya? Karena dibakar api cemburu buta, jadinya kamu hanya mengambil kesimpulan sendiri.”


Cinta mengerucutkan bibirnya ketika melihat Pak Baratha tergelak. Hatinya semakin dongkol, sebab sang papa seolah tak memihak kepada dia dan malah menyalahkan Cinta.


“Papa nggak menyalahkan kamu, Cinta.”

__ADS_1


Cinta melirik ke arah papanya. Dia tercengang, karena sang Papa ternyata bisa membaca apa yang baru saja terlintas di pikirannya.


“Dari pada pikiranmu tersiksa begini, sebaiknya kalian berbicara dari hati ke hati. Jangan hanya mengikuti emosi sesaat. Papa yakin, Iman lelaki yang memegang teguh komitmennya. Kalian itu saat ini sedang sama-sama berusaha menjalani kehidupan remaja yang lebih islami ya?”


Pak Baratha diam sejenak menunggu reaksi Cinta. Saat terlihat putrinya mengangguk, pria paruh baya itu tersenyum tipis, lantas melanjutkan bicaranya.


“Papa senang, lega, sekaligus bangga mendengar kalian memilih jalan seperti ini. Sekarang, tinggal berusaha belajar mengelola emosi dan perasaan. Saran Papa, hari ini kalian bertemu dengan kepala dingin dan bicara baik-baik. Kalau menuruti emosi dan juga gengsi, nanti nyesel, lho. Ingat, kesempatan itu hanya datang sekali.” Pak Baratha menjawil pipi Cinta. Putrinya kini sudah terlihat melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil.


Tiba di sekolah, Pak Baratha memarkir mobilnya di pelataran parkir, tempat biasanya kepala sekolah itu menyimpan mobilnya. Cinta turun duluan dari mobil. Senyumnya mengembang, saat melihat Iman berjalan menuju ke koridor sekolah. Dalam hati, cewek cantik itu bertekad, jam istirahat nanti, dia harus bertemu Iman, untuk menuntaskan gejolak yang tengah berkecamuk dalam batinnya.


***


Iman melangkahkan kaki menuju taman belakang sekolah. Iman memang janjian dengan Cinta untuk bertemu di sini melalui chat whatsaap. Setibanya di sana, bangku taman tampak masih kosong. Rupanya, Cinta memang belum datang. Iman duduk di salah satu bangku di taman itu sambil memainkan ponselnya, hingga dia tak menyadari, kalau cewek yang ditunggu, sudah duduk di sebelahnya.


“Kak Iman,” sapa Cinta dengan nada lembut seraya menyunggingkan senyuman manisnya.


Iman terlonjak. Hampir saja ponsel di tangannya itu terjatuh. Namun, beruntung, dia buru-buru menyadarinya. Iman memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celana seragamnya.


“Cinta, kakak minta maaf karena nggak menjaga perasaan kamu. Walau kita memang sudah tak berstatus pacaran, tapi, nggak seharusnya kakak bebas bergaul seenaknya.”


“Cinta yang harusnya minta maaf, Kak. Nggak sepatutnya Cinta marah sama kakak. Maafkan sikap Cinta yang nyebelin kemarin, ya.”


“Kamu percaya, ‘kan kalau kakak nggak pacaran sama Chilla? Kakak nggak akan pernah bisa move on dari kamu, Cinta.”


Iman tersenyum senang, saat netranya menangkap sebuah anggukan dari Cinta sebagai jawaban dari pertanyaannya barusan. Cowok itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sana. Iman lantas membuka tutupnya.


Cinta perlahan mengambil cincin dan kalung itu dari dalam kotak, kemudian memakainya. Bibir Iman melengkung membentuk sebuah senyuman seraya dalam hatinya mengucap syukur. Perasaan Iman benar-benar lega, karena selesai sudah hal yang mengganjal dan menjadi masalah di antara dirinya juga Cinta.


“Di sini rupanya elo berdua.” Tiba-tiba saja Gilang menghampiri mereka dengan napas yang terengah-engah.


“Ngapain elo nyariin kita? Kehadiran elo merusak momen romantis gue sama Cinta aja.”


“Maaf, maaf, gue nggak bermaksud mengganggu. Tapi ini situasinya urgent.”


“Urgent gimana?” Iman dan Cinta kompak melontarkan pertanyaan sambil mengerutkan kening mereka.


“Elo berdua kompak banget, kayak kembar aja. Udahan dulu, dong, syuting film romantisnya. Bikin gue iri aja.” Gilang duduk di bangku taman di hadapan Iman dan Cinta sambil mengatur napasnya. Kemudian, cowok bertampang kocak itu kembali buka suara. “Kalau elo berdua mau menuntaskan masalah, sebaiknya ikut gue.”


Iman dan Cinta semakin heran dengan kalimat yang diucapkan Gilang. Namun, karena penasaran, mereka akhirnya mengikuti ke mana Gilang melangkahkan kakinya.


“Lang, elo ngapain ngajak ke kelas XI?” Iman menoyor Gilang. Bibir cowok itu cemberut, kesal dengan tingkah nggak penting dari sahabatnya itu.


“Ssstt, mendingan elo berdua intip, deh,” perintah Gilang setengah berbisik pada Iman juga Cinta.


Lagi-lagi Iman dan Cinta bagai kerbau dicocok hidung, menuruti saja suruhan Gilang. Betapa tercengangnya mereka berdua, menyaksikan di dalam kelas XI, tampak Bagas dan Chilla tengah berbincang serius. Karena di dalam ruang kelas itu, tak ada murid lain selain Bagas dan Chilla, percakapan mereka bisa terdengar jelas oleh Iman, Cinta, juga Gilang yang sedang mengintip di balik pintu.

__ADS_1


Untuk beberapa lama, mereka bertiga masih fokus menyimak hal yang sedang dibicarakan oleh Bagas dan Chilla. Iman terlihat geram mendengar langsung dengan jelas, bahwa Bagas dan Cinta berencana untuk membuat hubungannya dengan Cinta menjadi renggang.


Iman mengatupkan bibir, rahangnya tampak mengeras, berusaha menahan emosi. Kedua tangannya terkepal. Dia sungguh sangat kecewa, terutama pada Chilla yang sudah menyalahgunakan dan memanfaatkan kepercayaan yang Iman berikan pada murid baru itu. Iman sudah tak kuasa lagi menahan amarahnya. Saat Cinta dan Gilang berusaha mencegah, Iman sudah melesat masuk ke dalam kelas. Cinta dan Gilang saling pandang, lantas mengekori Iman, masuk ke kelas XI. Bagas dan Chilla terkejut melihat tiga orang yang kini sedang berdiri di depan mereka.


“I .... Iman, maaf. Denger penjelasan gue dulu.” Chilla tercekat dan terlihat ketakutan melihat wajah Iman yang terlihat sedang marah. Sementara Bagas tampak berdiri kaku, diam tak bersuara. Dia menelan saliva. Lidahnya kelu untuk bersuara. Percuma saja berusaha membela diri, sebab posisinya kini ibarat maling yang tertangkap basah. Bagas yakin, ketiga orang ini sudah mendengar semuanya.


“Cukup, Chill. Gue udah mendengar semuanya. Gue bener-bener kecewa sama elo. Nggak nyangka elo punya pikiran picik seperti ini.”


“Maafkan gue, Man. Gue begini, semua karena pengaruh dia!” Telunjuk Chilla menuding ke wajah Bagas.


“Kenapa juga elo setuju? Nggak berusaha mencegah gue. Jadi, kesalahan ini bukan sepenuhnya punya gue. Elo juga salah! Enak aja elo mau cuci tangan!” Bagas melebarkan pandangannya ke arah Chilla sembari menuding ke arah Chilla. Kedua murid itu tampak bersitegang.


“Stop saling menyalahkan!” seru Iman membuat Bagas dan Chilla terdiam. “Kalau elo berdua berniat memisahkan gue dan Cinta, lebih baik kubur dalam-dalam rencana kalian.” Iman meraih jemari Cinta, lantas menggenggamnya. “Elo berdua lihat baik-baik. Cincin gue dan Cinta sama. Artinya, kita berdua punya komitmen yang kuat. Kalian itu, ibarat debu yang menempel di kaca jendela, yang dibersihkan pakai lap basah, langsung hilang. Nggak ada artinya buat kita. Iya, ‘kan Cinta?”


Melihat Cinta mengangguk, Iman lantas mengecup lembut jemari Cinta yang berada di genggamannya.


“Elo berdua nggak up to date, sih. Sesudah Iman lulus dari sini, mereka langsung nikah,” canda Gilang membuat Bagas dan Chilla kompak membelalakkan mata.


Bagas memandang tajam ke arah Iman dan Cinta, lalu berjalan ke luar kelas, sembari melampiaskan amarahnya dengan sengaja menubruk badan Iman. Sementara Chilla, juga berlari ke luar kelas dengan berlinang air mata. Cewek itu menyadari kesalahannya, sudah terlibat dalam rencana yang dibuat Bagas. Dia sungguh sangat menyesal, menyadari kalau ke depannya, Iman pasti akan menjaga jarak darinya. Semua tak akan lagi sama.


“Elo berdua jadian aja, cocok, kok!” teriak Gilang dari dalam ruangan kelas XI melihat Bagas dan Chilla meninggalkan kelas.


“Ehem, bukan muhrim, woy! Itu tangan dilepas aja, daei pada kena api neraka.” Kali ini ucapan Gilang ditujukan pada Iman dan Cinta.


Iman dan Cinta tersipu malu, lalu refleks saling melepaskan genggaman tangan mereka.


“Maaf, Cinta. Kakak lakukan ini buat menjaga kamu dari gangguan Bagas.”


“Iya, Kak. Cinta yakin, mereka nggak bakal ganggu kita lagi. Kak, Cinta balik ke kelas, ya.”


“Iya, Cinta. Jangan lupa, pulang sekolah ada kajian.”


Cinta mengangguk, lalu melangkahkan kaki menuju ke kelas X, diiringi tatapan Iman yang terus tertuju pada Cinta.


“Ehem, zina mata, woy.” Gilang mengusap wajah Iman dengan sebelah tangannya.


“Bilang aja elo sirik,” cibir Iman.


“Makanya, Man, ikut kajian itu dihayati, jangan malah tidur.”


“Sembarangan elo, Lang. Fitnah itu lebih kejam dari pada fitness.”


“Gue nggak asal nuduh, Man. Gue punya bukti. Ada rekaman video elo yang lagi tidur pas kajian sambil mendengkur dan ngences pula, hahaha.”


"Dasar, elo! Niat banget mencari ketidaksempurnaan gue!"

__ADS_1


Iman menoyor kepala Gilang. Untuk beberapa saat, duo sahabat itu saling ledek. Hingga, suara bel, tanda istirahat usai, berhasil membuat aksi saling ejek mereka berhenti.


TAMAT


__ADS_2