
Pulang sekolah, Gilang melajukan motor ke arah yang bukan merupakan jalan menuju ke rumahnya. Bukan, dia bukan lupa jalan atau sedang tersesat. Cowok rambut belah tengah itu akan mampir dulu ke rumah Iman, sebab didera rasa penasaran usai menyimak Cinta yang bercerita tentang surat sewaktu jam istirahat di kantin tadi. Dia ingin memecahkan misteri, siapa penulis surat itu sebenarnya. Sengaja, Gilang tak memberitahu Iman terlebih dahulu mengenai kedatangannya, sebab Iman pasti menghindar. Siapa tahu di sana dia menemukan petunjuk.
“Assalamu alaikum,” ucap Gilang sesampainya di depan pintu rumah Iman sembari mengetuk pintunya.
“Waalaikum salam,” terdengar sebuah suara lembut dari dalam disertai langkah kaki yang semakin mendekati pintu.
“Tante, Imannya ada?” Gilang mencium punggung tangan Bu Lastri, kemudian celingukan ke dalam rumah. Khawatir kalau yang dicarinya sedang tidak ada di rumah.
“Eh, Gilang, ayo masuk. Iman ada di kamarnya. Kamu langsung aja ke sana, ya.”
“Iya, Tante, terima kasih.” Setelah Gilang melepas sepatunya, dia melangkah masuk ke dalam rumah menuju ke kamar Iman.
Mendengar suara pintu kamarnya dibuka, Iman menoleh ke arah sana dan heran mendapati Gilang sedang berdiri di ambang pintu. “Eh, elo, Lang. Kirain Bunda yang buka pintu.”
“Assalamu alaikum, Sobat. Ngapain elo mengurung diri terus di kamar? Lagi mengerami telur?” Gilang langsung duduk di atas kasur. Empuk dan nyaman juga nih, dipake tidur. Pantesan, Iman kesiangan melulu. Kasur model begini mah, bikin tidur kebablasan, gumam Gilang sembari kedua tangannya menepuk-nepuk kasur itu.
“Sembarangan, elo pikir gue ayam betina? Elo ngapain ke sini? Mau ngajak kerja kelompok? Perasaan tadi di sekolah, semua guru yang masuk nggak ngasih PR, deh.”
“Elo ada tamu malah diberondong pertanyaan. Gue nggak dikasih minum atau camilan, nih? Gue, ‘kan ke sini langsung berangkat dari sekolah. Hayati lelah, Bang.” Gilang mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir gerah.
“Lebay banget, sih, elo. Siapa suruh elo ke sini?”
“Oh, jadi gue nggak boleh mampir ke rumah elo? Ya, udah, gue balik.” Gilang beranjak dari kasur hendak ke luar kamar.
“Eh, eh, eh, sabar, Lang, sabar. Elo baperan ih, kayak cewek lagi PMS. Hihihi.” Iman tertawa puas melihat Gilang memasang wajah kesal.
“Ya wajar, lah, gue emosi, ini bawaan perut yang lagi dangdutan. Gue, tuh, udah baik, lho, silaturahmi ke rumah sahabat, barangkali saja elo saat ini lagi perlu teman curhat. Nggak berperikesahabatan elo. Sadis.” Gilang mengerucutkan bibirnya membuat tawa Iman semakin meledak. Gilang memandangnya dengan tatapan sebal. Kalau bukan karena membantu Cinta, dia udah cabut dari kamar ini.
“Iya, deh, iya, maaf. Elo mau ngemil apa? Paku atau beling?” tawar Iman membuat tampang Gilang semakin masam.
“Gue nggak nafsu makan begituan. Elo pikir gue kuda lumping apa!” hardik Gilang yang ditanggapi Iman dengan derai tawa.
“Nih, minuman sama camilannya, habiskan, ya.” Bu Lastri datang membawa nampan berisi dua gelas sirup dan beberapa camilan kecil di dalam stoples, membuat Gilang riang dan bahagia dunia akhirat.
“Nggak usah repot-repot, Bund. Gilang lagi puasa,” sahut Iman membuat Bundanya kebingungan.
“Lho, rajin amat? Ini, ‘kan hari Rabu, bukan Senin atau Kamis,” tanya Bu Lastri, heran.
“Gilang memang rajin banget, Bund. Dia puasa Senin-Kamis sama Selasa-Rabu juga,” jawab Iman yang membuat Gilang seperti kebakaran jenggot. “Ditambah juga hari Jumat-Sabtu, kecuali hari Minggu dan hari libur nasional.”
“Nggak, kok, Tante, Iman mah bercanda.”
“Hush, kamu ya, Iman! Ya, udah, Bunda ke depan lagi, kalian lanjutkan ngobrolnya.” Setelah mengantarkan minuman dan camilan, Bunda kembali ke depan rumah, dan mulai menyirami bunga juga beberapa koleksi tanaman dalam pot kesayangannya.
“Elo sama sahabat sejati gitu amat.” Gilang menoyor Iman yang tak henti tertawa.
Dengan lahapnya, Gilang memakan satu persatu camilan yang disediakan sampai habis, kemudian meneguk segelas sirup hingga tandas. Setelahnya, Gilang pun kekenyangan dan hanya bisa berbaring lemas di atas kasur.
“Elo mau silaturahmi atau numpang makan doang, sih? Enak bener abis makan langsung tidur,” cibir Iman.
Gilang mencoba bangkit dari kasur dan perlahan mengubah posisinya menjadi duduk. Saat Gilang memandang ke arah meja belajar Iman, ada sebuah buku berwarna merah jambu tergeletak begitu saja di sana yang menarik perhatian dan kekepoannya.
“Ciee, sejak kapan elo punya buku harian? Mana warnanya girly banget, lagi. Pantesan, elo udah jarang curhat lagi sama gue. Ternyata elo menumpahkan segenap perasaan di buku ini.” Tangan Gilang terulur hendak mengambil buku itu, tetapi Iman dengan sigap mengambilnya.
“Bukan apa-apa. Ini buku notulen rapat kader PKK punya Bunda.”
__ADS_1
“Terus kenapa itu buku bisa nyasar ke kamar elo? Memang penting ya buat elo?”
Iman garuk-garuk kepala. Dia sangat tahu sifat sahabatnya yang satu ini. Kalau keponya lagi kumat, Gilang akan terus mencari tahu sampai tuntas. Sepertinya, usaha Iman untuk mengelak akan sia-sia.
“Iya, deh, iya. Ini buku hariannya Cinta yang gue temukan di Ranca Upas.”
“Kenapa elo baru cerita? Elo nggak percaya lagi sama gue?”
“Jangan ngomel dulu, mau dengar nggak kelanjutan ceritanya?”
Gilang mengangguk dan langsung memasang wajah serius. Kemudian, Iman melanjutkan ceritanya hingga tuntas dan terjawab sudah rasa penasaran Gilang.
“Sudah gue duga, penulis surat sebenarnya itu elo. Cinta tadi juga cerita ke gue pas jam istirahat. Dia pun meragukan kalau Kak Ikhsan yang menulisnya.” Gilang tersenyum penuh arti juga merasa senang, sebab hari ini dia sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan Cinta yang akan disampaikannya besok.
“Terus gue harus gimana, dong? Gue bingung, di surat balasannya, Cinta besok minta ketemuan sama Kak Ikhsan. Ini hal yang impossible untuk gue kabulkan, Lang.” Iman mengacak rambutnya frustrasi. Tak mungkin dia menghadirkan Kak Ikhsan besok untuk menemui Cinta, sebab kakaknya itu tak tahu menahu soal surat ini. Iman yakin, kakaknya pasti menolak meski pun tahu hal ini.
“Salah elo, sih, gegabah. Pakai cara seperti ini. Elo sendiri yang kesusahan, ‘kan? Makanya jangan main air kalau tak mau basah kuyup. “
“Perasaan bunyi pepatahnya bukan begitu, deh. Jangan main api kalau tak mau terbakar.” Iman menoyor kepala Gilang.
“Kan maksudnya hampir sama. Eh, kenapa sih, elo nggak jujur aja ke dia soal perasaan elo? Elo takut ditolak? Lagian, kalau elo nyatain, terus ditolak,delo nggak bakalan mati, ‘kan? Kecuali kalau elo patah hati dan berniat bunuh diri.”
“Astagfirullah, pikiran elo sempit amat. Perbandingan cowok sama cewek itu di dunia 1 berbanding 3, stok cewek itu lebih banyak dari cowok. Gue pasti kebagian jatah jodoh, kok. Lagian Selena Gomez, aja masih terus setia berkarya, Lang.”
“Terus, apa yang membuat elo sulit untuk berkata jujur? Elo udah yakin bakal ditolak, gitu?”
“Pasti gue ditolak, Lang. Dia kan sukanya sama Kak Ikhsan. Tujuan gue nulis surat ini, gue nggak bermaksud mengerjai Cinta, kok. Gue cuma ingin membuat dia bahagia. Itu aja.” Iman menghela napas berat. Mengapa jadi serumit ini ya? Dia pikir segalanya akan berjalan lancar.
“Elo sebagai cowok, gentle, dong. Elo harus berani berkata jujur. Lagian perasaan elo itu nggak salah, kok. Allah itu Maha Membolak-balik hati, Man. Sekarang Cinta belum suka sama elo, tapi bisa aja nantinya dia punya rasa sayang ke elo.”
“Saran gue, besok elo balikin itu buku ke Cinta sekaligus elo bilang jujur tentang semuanya. Masalah elo diterima atau nggak, itu urusan nanti. Yang penting di mata Cinta elo itu pemberani, sebab mau berkata yang sebenarnya.”
Iman mengangguk-anggukan kepala, seperti sedang mendengarkan musik ajeb-ajeb di diskotik. “Iya, deh. Besok gue coba eksekusi saran elo.”
“Sip, cakep.” Sebelah tangan Gilang menepuk-nepuk pundak Iman, sementara tangan yang satunya mengacungkan jempol. “Gue balik dulu, ya. Udah mendung, nih.”
“Halah, kena air hujan aja takut. Gue curiga elo itu orangnya malas mandi hahaha.”
“Sembarangan, masa elo nggak nyium nih wangi sabun mandi ekslusif gue? Saking ekslusifnya, aroma ini sabun tahan lama sampai seminggu,” ujar Gilang sembari menaikturunkan alisnya lantas mencondongkan badan ke arah Iman.
“Apaan, bau asem keringat aja, elo bangga.” Iman menutup hidungnya lalu memukul lengan Gilang.
“Udah, ah, bercanda melulu. Kalau diteruskan, sampai Maghrib pun nggak akan tamat. Gue cabut ya, semangat dan sukses buat besok, Man. Jangan menyerah!” Gilang mengepalkan tangannya seraya memberi motivasi pada sang sahabat. Lantas, dia mengambil tasnya dan keluar dari kamar Iman.
“Tante, saya pulang dulu,” pamit Gilang pada Bu Lastri yang sedang memasak di dapur.
“Kok, udah pulang, sih? Ini, Tante lagi masak buat makan siang kalian,” tanya Bu Lastri.
“Hehehe, dibungkus, boleh deh, Tante, sedikit aja.” Gilang mesem-mesem menahan malu.
“Itu perut apa karet, sih? Tadi camilannya dihabiskan sendiri, sekarang udah minta makan lagi. Besok gue bawa tagihannya ke sekolah ya.”
“Hush, Iman! Boleh, boleh, tunggu sebentar ya, hampir matang, kok.”
Hati Gilang bersorak riang mendengar ucapan Bu Lastri. Aroma ayam kecap yang tengah dimasak memang menggugah selera, membuat perut Gilang yang sudah terisi camilan tadi, mendadak keroncongan lagi.
__ADS_1
***
Pagi ini, Iman berjalan sepanjang koridor sekolah dengan perasaan tak menentu. Dia memang sudah bertekad akan mengatakan semua pada Cinta. Namun, di hatinya masih terselip keraguan. Iman khawatir, karena kejujurannya ini, sikap Cinta akan berubah, entah semakin dekat, entah malah menjauh.
Di depan masjid, saat ia melihat Cinta memakai sepatu sehabis salat Dhuha, Iman memberanikan diri menghampiri sang pujaan. Iman melangkah perlahan karena ragu mulai menyerangnya. Di benaknya terlintas rasa tak rela kalau Cinta tahu perasaan Iman yang sesungguhnya, cewek gebetannya itu akan menjauh. Dadanya berdebar tak karuan, peluh membasahi dahinya, kedua telapak tangan dingin. Setelah agak mendekat, Iman mulai bicara pada Cinta.
“Hai, Cinta. Boleh, aku bicara sebentar?”
“Eh, Kak Iman.” Cinta mendongak. “Bicara apa, Kak? Kok wajahnya tegang begitu?”
“Duduk sebelah sana, yuk,” ajak Iman. Kemudian, keduanya duduk di teras mesjid.
“Cinta, sebelumnya aku mau mohon maaf, nih.” Iman memainkan jemarinya. Telapak tangan Iman terasa membeku. Debaran di dadanya kian kentara, saking tegangnya, Iman tak mampu menatap lawan bicaranya.
“Idih, Kakak, kayak suasana Idul Fitri aja, pakai minta maaf.” Cinta melontarkan candaan untuk mencairkan ketegangan yang tergambar jelas di wajah Iman. Namun, sia-sia, tampang Iman tetap tak berubah.
“Cinta, ini aku kembalikan buku harian kamu. Dan ..., dan, maaf.” Iman menelan salivanya. Sebelum melanjutkan bicara, dia memandang sekilas ke wajah cantik Cinta.
Cinta membulatkan mata dan tampak tersentak melihat diary merah jambu yang sudah lama dicarinya, dan ternyata selama ini ada di tangan Iman. “Kakak menemukannya di mana? Kenapa nggak langsung dikembalikan?”
Iman menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia bingung mencari alasan yang masuk akal untuk dikemukakan. “Justru itu, pas mau mengembalikan, aku lupa menaruhnya di mana. Sampai setiap penjuru rumah dibongkar, baru, deh ketemu hari ini.”
“Kakak membaca isinya?” tanya Cinta sembari memandang Iman dengan tatapan menyelidik.
Iman menjawabnya dengan sebuah anggukan. “Maaf, Cinta, aku sudah lancang,” ujar Iman pelan, seolah berbicara pada diri sendiri. Iman menatap lurus ke lantai, terdengar helaan napas dari cewek yang duduk di sampingnya itu.
“Jadi, Kakak sudah tahu kalau aku ....” Cinta tak mampu melanjutkan ucapannya. Mulai terdengar suara isakan dari putri kepsek itu membuat Iman dirundung rasa bersalah.
“Cinta, maaf. Jangan nangis, nanti aku beliin permen yang banyak, deh,” canda Iman berharap cewek pujaannya terhibur. Namun, Cinta malah semakin terisak, membuat Iman kebingungan. Duh, kalau Pak Baratha melihat ini, bisa-bisa gue diskors.
“Cinta, maaf. Sebenarnya aku yang menulis surat itu. Bukan maksud aku iseng, tapi aku berharap dengan menerima surat atas nama Kak Ikhsan, kamu bisa selalu tersenyum setiap hari, cerah ceria bagaikan matahari yang bersinar sepanjang hari.”
Iman berhenti sejenak sembari menarik napas. Dia menunggu reaksi dari Cinta. Namun, cewek itu diam seribu bahasa. Hanya sesekali terdengar suara isak tangisnya.
“Cinta, aku, sebenarnya suka sama kamu. Sampai sekarang pun, perasaan itu masih tetap ada, malahan terus bertumbuh setiap harinya. Isi surat itu, kurang lebih menggambarkan perasaan aku yang sebenarnya."
Mendengar hal itu, Cinta berkali-kali menghela napas. Netranya semakin berkaca-kaca. Iman menggaruk kepalanya, perasaan cowok itu benar-benar tak menentu, melihat cewek yang dia sayang menangis. Dan itu karena dia. Cowok itu kesal pada dirinya sendiri dan merasa sangat menyesal telah membuat rencana ini. Tadinya, Iman berharap, Cinta akan bahagia dengan rencananya itu. Cinta mengambil buku hariannya dari tangan Iman, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Iman yang berkubang dalam rasa bersalahnya.
“Man, kejar, dong, jangan diam aja!”
“Astagfirullah, Lang. Elo seperti jelangkung saja, datang tak diundang, tahu-tahu udah nongol aja. Biar aja, deh, Lang.”
“Masa, elo menyerah begitu saja, sih? Elo payah. Cewek itu paling suka kalau dikejar. Dia merasa sangat berharga karena sedang diperjuangkan.”
“Percuma, Lang, kalau gue temui dia sekarang. Nanti, deh, kalau Cinta udah tenang, pikirannya udah adem. Saat ini, dia lagi syok mendengar pernyataan cinta dari gue, untung saja dia nggak pingsan.”
“Sip, cakep. Sebagai sahabat, gue bangga sama elo.” Gilang menepuk-nepuk pundak sang sahabat. Keduanya terlihat saling berpelukan.
“Hei, kalian! Malah pelukan seperti Teletubbies di situ! Cepat masuk ke kelas, pelajaran sudah dimulai! Kalian berniat membolos?” teriak Pak Sasongko dari ruang BP.
“Buset, matanya jeli juga, ya, Man? Bisa lihat kita di sini dari ruangannya.” Gilang berbicara setengah berbisik, takut terdengar oleh Pak Sasongko.
“Bapak mau ikutan? Sini, Pak!” teriak Iman.
“Kalian mau Bapak hukum keliling lapangan sampai pulang?”
__ADS_1
Suara ancaman Pak Sasongko yang lebih membahana dari teguran pertama guru BP itu, sukses membuat dua sahabat sejati itu lari tunggang-langgang menuju ke kelas XI.