Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
Mom's Request


__ADS_3

Senja perlahan mulai menghias langit biru yang berubah menjadi kemerah-merahan. Angin sore bertiup lembut terasa dingin menggelitik, menerpa dedaunan dan bunga-bunga milik Bu Lastri di halaman rumah, seolah sedang bergoyang dan menari ke sana-ke mari bagaikan penari yang melenggak-lenggok dengan gerakan yang gemulai. Sayup-sayup, terdengar suara azan Ashar berkumandang dari mesjid komplek. Iman masih berada di kamar Ikhsan. Bahkan, mereka melakukan salat Ashar berjamaah di dalam kamar itu. Tak lama, kemudian, keduanya kembali membisu, larut dalam sejumlah tanya yang semakin berkecamuk dalam benak mereka.


“Kak, sepertinya Pak Baratha udah pulang, deh,” ucap Iman memecah kesunyian.


“Kayaknya, sih, iya. Di luar sepi, nggak ada suara ketawa-ketiwi lagi. Yuk, temui Bunda. Kepala gue rasanya mau pecah menyimpan banyak pertanyaan.” Ikhsan bangkit dari atas kasur sembari memijit-mijit pelipisnya. Lalu, Ikhsan membuka pintu dan berjalan ke luar kamar.


Iman mengangguk, kemudian mengekori sang kakak ke luar kamar. Setelah berada tepat di depan pintu kamar Bunda, mereka malah saling sikut. Tak satu pun yang berani duluan mengetuk pintu yang tertutup rapat itu.


“Kak, elo aja yang mengetuk pintunya.”


“Mendingan elo aja,” balas Ikhsan.


“Sebagai anak pertama, harusnya elo yang punya inisiatif, Kak.”


“Justru, sebagai anak bungsu yang manja dan dekat sama Bunda, harusnya elo, Man yang ketuk pintu.”


Kasak-kusuk di depan kamar Bu Lastri pun berakhir dan berganti dengan ekspresi kaget yang ditunjukkan oleh Ikhsan dan Iman. Keduanya tak menyangka kalau sang Bunda akan membuka pintu secara tiba-tiba. Bu Lastri memandang wajah Ikhsan dan Iman bergantian dengan tatapan heran.


“Lho, Iman, Ikhsan. Ngapain kalian berdiri di depan pintu kamar Bunda? Kompak lagi, pasang muka bingung.”


Bukannya menjawab pertanyaan Bunda, Ikhsan dan Iman malah saling sikut. Mereka menunduk memandang ke arah lantai rumah, tak berani menatap balik sang Bunda.


“Kalian ini, kenapa, sih? Malah main sikut-sikutan?” Bunda memandang mereka dengan tatapan menyelidik.


“Bund, sebelumnya kita mau minta maaf. Bukannya mau kepo atau mencampuri urusan pribadi dan perasaan Bunda, tapi banyak pertanyaan yang mengganjal di benak kita,” ujar Ikhsan mencoba memberanikan diri mengungkapkan ganjalan di hati.


“Iya, Bund. Kita mau tanya tentang Pak ....” Iman tak melanjutkan bicaranya, karena keburu sikut Ikhsan mendarat cantik di perutnya. “Apaan, sih, Kak?” Iman memelotot ke arah sang Kakak, tak lama kemudian, dia tampak meringis kesakitan.


“Maaf, gue sengaja,” canda Ikhsan sembari tersenyum kecil.


“Kalian mau tanya tentang Yudha?” tanya Bunda, sontak membuat Ikhsan dan Iman kompak menganggukkan kepala. “Baiklah, Bunda akan cerita, biar tampang kalian nggak kayak orang kesasar lupa jalan pulang.”


Ikhsan dan Iman tampak berseri. Lantas keduanya memasang wajah serius, bersiap untuk menyimak.


“Tapi ..., ceritanya nanti ya. Habis salat maghrib,” ujar Bunda sambil berjalan menuju ke kamar mandi hendak mengambil wudhu.


Ikhsan dan Iman pun bergegas mengantre di depan pintu kamar mandi Setelah mereka bergantian mengambil wudhu, ketiganya lalu melaksanakan salat Maghrib berjamaah, dengan Ikhsan sebagai imamnya. Mereka bertiga tampak khusyuk, terutama saat memanjatkan doa untuk almarhum Pak Fatih, ayah Ikhsan dan Iman.


Tak terasa, waktu beranjak dengan cepat. Senja perlahan berganti menjadi malam. Langit remang-remang dan kemudian berubah menjadi gelap. Malam hadir memberikan kegelapan yang sunyi, menyelimuti semesta. Setelah menunaikan salat Isya berjamaah, Bu Lastri, Ikhsan, dan juga Iman tampak duduk di meja makan. Mereka makan malam bersama dengan menu mie instan, karena sang Bunda tak sempat masak.


“Maaf, lho, menu makan malam kita hanya mie goreng. Akhir-akhir ini, Bunda lagi kena virus.”


“Virus cinta ya, Bund?”


Bu Lastri tersedak mendengar pertanyaan dari Iman. Ikhsan yang belum buka suara, menyodorkan segelas air putih pada Bunda. Bu Lastri meneguknya sedikit, lantas menaruh gelasnya di atas meja makan.

__ADS_1


“Kamu, ini, Man. Cinta, kok di bawa-bawa. Dia nggak berdosa, kasihan kalau dighibahin. Kalau pacar kamu saat ini sedang makan, dia bisa kesedak, lho.”


Kini giliran Iman yang batuk-batuk mendengar ucapan sang Bunda, membuat Ikhsan dan Bunda tertawa menyaksikan Imam yang terlihat salah tingkah, karena nama pacarnya disebut oleh Bu Lastri.


“Langsung ke topik utama, deh, Bund.” Iman mengalihkan pembicaraan. Dia tak mau kalau obrolan mereka terlalu menjurus dan malah melebar membahas hubungan dirinya dan Cinta. Iman lantas membereskan piring dan gelas kotor bekas makan mereka dan menaruhnya di wastafel.


“Cie, ada yang salting, nih, Bund. Takut hubungannya kita kepoin,” goda Ikhsan membuat pipi Iman merah padam. Tawa Bunda dan Ikhsan meledak seketika melihat kegugupan yang ditunjukkan Iman, hingga membuat Iman tak berkutik dan tak mampu membalas candaan yang dilontarkan sang kakak. Iman memilih diam dan duduk manis sembari memainkan jemarinya. Padahal, jantungnya berdebar hebat.


“Kalian pasti heran ya, sudah tiga hari ini melihat Yudha bertamu ke sini?” tanya Bunda sambil memandang wajah kedua putranya secara bergantian.


“Iya, Bund. Memangnya ngapain Pak Baratha ke sini? Mau home visit? Setahu Iman, program itu dilaksanakan oleh wali kelas,” ujar Iman yang langsung diamini oleh Ikhsan.


Bu Lastri menghela napas, lalu kembali memandang wajah kedua putranya. Ikhsan dan Iman semakin didera rasa penasaran. Mereka yakin, pasti ada sesuatu hal penting yang sudah menjadi topik pembicaraan di antara Pak Baratha dan Bunda mereka.


“Ya, biasa lah, sebagai teman lama, kita ngobrol ngalor-ngidul. Bernostalgia tentang masa-masa SMA kita dulu.” Netra Bu Lastri menerawang, memandangi langit-langit rumah. Sesekali, bibir wanita itu mengulum senyuman. Ikhsan dan Iman saling pandang, mencoba menebak ekspresi yang ditunjukkan sang Bunda.


“Kak, apa mungkin Bunda jatuh cinta lagi sama Pak Baratha?” Iman berbisik di telinga Ikhsan yang duduk di sampingnya.


“Elo aja yang jawab. Elo, ‘kan punya pacar. Elo pasti tahu ciri-ciri orang yang lagi jatuh cinta,” jawab Ikhsan, membuat Iman melebarkan pandangannya ke arah sang Kakak.


“Lho, kok malah bisik-bisik?” Bu Lastri memandang heran Ikhsan dan Iman yang terlihat sibuk kasak-kusuk berdua.


“Bund, kalau boleh tahu, pertemuan Bunda selama tiga hari itu, membicarakan apa saja?” tanya Ikhsan penasaran.


“Iya, Bund, penasaran. Menurut cerita Bunda waktu itu, Pak Baratha, ‘kan mantan pacar Bunda. Masa iya, pas jumpa lagi, nggak ada percikan-percikan rasa yang dulu pernah ada?” Iman menimpali dengan nada yang sama penasaran dengan sang kakak.


“Ya, dari gelagat yang Bunda lihat, sih, Yudha kayaknya lagi pedekate. Maaf, bukannya Bunda kepedean atau sok cantik, tapi memang terlihat dari gerak-geriknya.”


Mendengar ucapan Bu Lastri, Ikhsan dan Iman saling berebutan mengeluarkan pendapat mereka.


“Tuh, ‘kan, Bund. Sudah Ikhsan duga. Kedatangan Pak Baratha ke sini itu, punya maksud lain sama Bunda.”


“Ada udang di balik bakwan Bund, kalau dimakan sama nasi putih yang uapnya masih mengepul, tuh, rasanya enak banget,” canda Iman menirukan pembawa acara tv di program kuliner saat mencicipi suatu jenis makanan.


“Iya, tadi sore Yudha melamar Bunda.”


Ikhsan dan Iman tersentak, lalu kompak membelalakkan mata. Keduanya kembali membuat kegaduhan dengan saling berlomba mengeluarkan suara.


“Bunda jawab apa?” tanya Ikhsan.


“Tolak aja langsung, Bund. Bilang aja, Bunda itu single mom yang punya dua anak laki-laki yang kelakuannya naudzubillah agak-agak aneh. Berat, Pak Baratha nggak akan kuat,” timpal Iman.


“Elo, kali, yang aneh. Gue mah nggak ikutan,” sanggah Ikhsan sembari menoyor Iman.


“Just gimmick, Kak. Biar nyali Pak Baratha ciut.”

__ADS_1


“Terus, Bunda jawab apa?” Didera rasa penasaran, Ikhsan sekali lagi bertanya.


“Bunda jawab, ya ....” Bunda sengaja menggantung kalimatnya, lantas tersenyum kecil sambil menatap wajah dua putra kesayangannya.


Iman dan Ikhsan terperanjat. Mereka tak menyangka Bunda begitu mudahnya menerima lamaran Pak Baratha.


“Bunda terima lamarannya? Kenapa nggak membicarakannya dulu sama Ikhsan dan Iman? Kita, 'kan bisa memberi pendapat, Bund, sebagai bahan pertimbangan buat Bunda mengambil keputusan.” Ikhsan mendecak. Dia merasa kecewa dengan keputusan yang sudah Bunda ambil.


“Ya, Bund. Pak Baratha itu nggak cocok sama Bunda.”


Bu Lastri dan Ikhsan memandang ke arah Iman dengan dahi berkerut. “Kamu lihat dari segi apa, sampai bilang nggak cocok?” tanya Bu Lastri heran.


"Iya, kamu lihat dari sisi sebelah mana?" Ikhsan menambahkan.


“Lihat dari segilima dan segitiga sama sisi," jawab Iman sekenanya, membuat Ikhsan dan Bunda kompak berdecak kesal. "Bercanda atuh, ralat, ya," lanjutnya sambil tertawa melihat tampang kesal Ikhsan dan Bunda. "Bunda orangnya ramah, lembut. Kalau Pak Baratha itu kebalikan dari Bunda. Dia jutek, Bund. Tegas juga.”


“Wajar, Man, kalau tegas. Dia kan pimpinan, kepala di sekolah kalian,” ujar Bunda yang ditangkap oleh kedua anaknya sebagai pembelaan terhadap Pak Baratha.


“Tapi, ‘kan, dulu Pak Baratha itu bukan pacar yang baik buat Bunda. Buktinya, dia nggak mau bertemu sama orang tua Bunda,” cecar Iman.


“Betul itu, Bund. Masa Bunda mau menggantikan almarhum Ayah dengan pria seperti itu. Nggak sebanding Bund,” timpal Ikhsan, mendukung ucapan Iman. “Ikhsan masih belum ikhlas, Bund, posisi almarhum Ayah digantikan oleh pria lain.” Ikhsan memandang wajah sang Bunda dengan tatapan sendu seraya memohon agar Bundanya mempertimbangkan kembali keputusannya.


“Iya, Bund. Iman juga sama dengan Kak Ikhsan. Maaf, ya, Bund, bukannya kita menghalang-halangi kebahagiaan Bunda. Kita juga ikut senang kalau Bunda bahagia. Tapi, kalau Bunda sama Pak Baratha, nasib hubungan Iman sama Cinta gimana?”


Pecahlah tawa Bu Lastri yang sejak tadi berusaha ditahannya. Hal ini membuat kedua anaknya bingung.


“Denger dulu, Man, San. Bunda, 'kan belum selesai menjawab. Bunda to the point aja bilang, ya, nggak bisa."


“Hore!” Iman dan Ikhsan serempak berteriak. Mereka melonjak girang, lalu memeluk wanita terkasih mereka.


“Nggak ada yang bisa menggantikan almarhum Ayah di hati Bunda,” ucap Bu Lastri membuat kedua putra kebanggaannya trenyuh sekaligus terharu.


“Man, Bunda sarankan, lebih baik kamu jangan dulu pacaran, deh. Bunda yakin, kalau ayah masih hidup, beliau juga akan mengatakan hal yang sama dengan Bunda."


“Nah, Man, gue setuju sama usul dari Bunda. Saatnya elo hijrah dan masuk ekskul DRI. Dari pada pacaran, lebih baik melakukan banyak hal yang bermanfaat. Mumpung elo masih muda.”


“Iya, Man. Kalau Cinta memang jodoh kamu, dia juga nggak akan ke mana-mana. Kamu sayang, ‘kan sama Cinta?” tanya Bunda sambil menatap lekat wajah Iman.


Iman mengangguk, lantas menelan saliva. Lidahnya masih terasa kelu untuk berkata-kata. Permintaan sang Bunda yang terlalu tiba-tiba ini, membuatnya limbung.


“Kalau kamu sayang, sebaiknya kamu jangan menjerat Cinta kelak masuk api neraka dengan hubungan yang bernama pacaran ini. Ingat, Man, Allah nggak suka dengan hamba-Nya yang mendekati zina. Pikirkan baik-baik ya, Man. Ini juga untuk kebaikan kamu sama Cinta juga, kok.” Bu Lastri mengelus-elus lembut punggung Iman. “Bunda juga sayang sama Cinta, tapi sayang, saat ini belum bisa Bunda pinang untuk jadi istrimu. Perjalanan kalian masih panjang, lebih baik kejar cita-cita dulu,” lanjut Bunda. Bu Lastri kemudian beranjak dari tempat duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamar.


“Biar elo nggak galau, Man. Elo pertimbangkan ajakan gue. Percaya, deh, hati elo bakal adem kalau elo dekat sama Allah daripada sama yang belum muhrim.” Ikhsan menepuk-nepuk pundak sang adik lantas menyeret langkahnya ke kamar, meninggalkan Iman di ruang tengah dengan perasaan yang campur aduk.


Iman menghela napas berat. Bayang wajah Cinta yang tersenyum manis berkelebatan, membuat dia semakin galau. Apa yang harus dia katakan pada Cinta untuk mengakhiri hubungan ini? Padahal dia yang memulainya, dan apakah Cinta akan menerima diputuskan begitu saja secara sepihak? Iman tak akan sanggup membuat hati cewek yang dia sayangi terluka. Namun, nasihat sang Bunda berdengung di telinganya dengan kuat, diiringi bayangan kenangan demi kenangan indah yang telah dilaluinya bersama Cinta, berkelebatan bagaikan sketsa film dokumenter yang tengah berputar. Sanggupkah Iman mengatakan putus?

__ADS_1


Iman menghela napas panjang. Dia melangkah gontai ke dalam kamar, lalu menutup rapat pintunya. Setelah dirasa keadaan rumah sepi, dia mengeluarkan kotak rokok yang disembunyikan di balik lemari bajunya, yang tak pernah bisa diketahui oleh Bunda juga Ikhsan. Iman mengeluarkan sebatang rokok dari kotak itu, lalu menyulutnya, dan mulai mengisapnya. Hal yang selalu dia lakukan secara diam-diam apabila pikirannya tengah diliputi rasa gundah.


__ADS_2