
Sebelum memulai Penilaian Tengah Semester atau disingkat PTS pada hari Senin, semua murid tetap harus mengikuti upacara bendera terlebih dahulu, bahkan Pak Sasongko sudah siap melakukan inspeksi, memeriksa ketertiban dan kerapian para murid.
“Gilang, mana topinya?” Pak Sasongko memelotot ke arah Gilang yang masih menyembunyikan topinya di belakang saku celana seragamnya.
“Siap, Pak.” Gilang langsung memakai topinya, dan memandang lurus ke depan lapangan sekolah dengan sikap sempurna, padahal upacara belum dimulai dan pemimpin barisan belum memberi aba-aba apapun. Dia tak berani melirik ke arah Pak Sasongko yang sedang berdiri tepat di sampingnya. Nyali cowok berwajah kocak itu ciut, takut pagi cerahnya ini hancur berantakan oleh hukuman Pak Sasongko. Selain itu, dia juga merasa malu kalau kena hukuman dari guru BP itu. Malu sama siapa lagi kalau bukan sama pacar.
“Iman, rapikan baju seragammu, masukkan ke dalam, jangan sampai keluar-keluar begitu! Tampang kayak Oppa, tapi dandanan berantakan! Mana ada cewek yang naksir?” omel Pak Sasongko, kali ini berjalan mendekati Iman.
“Siap, Pak! Yang naksir saya ada, kok, Pak.” Iman mengedipkan sebelah matanya ke arah Cinta yang sedang memandangnya sembari memasang senyuman manis.
“Paling kamu bertepuk sebelah tangan, Man,” balas Pak Sasongko, tak yakin kalau ada cewek yang suka sama Iman.
“Bapak belum tahu, ya, kalau saya itu caludih alias cakep, lucu, deh ih.” Iman menanggapi, tak mau kalah dengan guru BP nya itu.
Pak Sasongko geleng-geleng kepala dan memutuskan untuk meninggalkan Iman. Kalau sampai dia meladeni, hingga azan Maghrib berkumandang dan dia berbuka puasa sunnah pun tak akan selesai. Guru BP berkumis tebal itu melanjutkan inspeksinya.
“Bagas, kenapa masih belum potong rambut? Udah panjang, nih, melebihi telinga!”
“Tukang cukurnya masih tutup, Pak. Masih bobo manja sama anak istrinya.”
“Kamu, Iqbaal alias Abdul Dilan, kenapa belum potong rambut juga?”
“Tukang cukur langganan saya kena gusur satpol PP, Pak. Saya nggak tahu, dia pindahnya ke mana. Mau ganti ke yang lain, takut gagal, nanti model rambut saya aneh.”
“Alasan, kamu, Iqbaal! Makanya kalau cukur rambut jangan di DPR!”
“Kok, di DPR, Pak? Memangnya mau rapat paripurna?” tanya Iqbaal tak mengerti sembari mengernyitkan dahi. Murid-murid yang lain pun terlihat mulai menguping.
“Di Bawah Pohon Rindang, alias di pinggir jalan, makanya tukang cukur langganan kamu kena gusur. Cukur lah di barber shop atau ke salon.”
“Berat, Pak, bayarnya bisa dua kali lipat dari uang saku saya.”
“Udah, jangan banyak alasan! Untuk murid-murid laki-laki yang masih belum dipotong juga rambutnya sampai besok, kalian tidak diperbolehkan mengikuti PTS, termasuk kamu Abdul Dilan,” ancam Pak Sasongko, jari telunjuknya menuding ke arah Iqbaal, membuat cowok itu bergidik sekaligus bangga mendengar nama julukan yang disematkan Pak Sasongko padanya.
Sementara murid-murid cewek memandang sebal padanya, sebab wajah Iqbaal, walaupun dilihat dari lubang sedotan pun, nggak ada mirip-miripnya sama tokoh di film Milea, Suara Dari Dilan itu. Mereka tak habis pikir, mungkin mamanya Iqbaal ngefans dengan pemeran film Dilan, hingga anaknya diberi nama demikian. Bahkan, cara menulisnya pun sama, pakai double huruf a. Namun, mereka sungguh sangat tak rela dengan kehaluan Pak Sasongko menjuluki Iqbaal dengan sebutan Abdul Dilan.
“Marina, kenapa rambut kamu masih panjang?”
“Lah, saya, ‘kan cewek, Pak."
Pak Sasongko nyengir, lantas meralat ucapannya, tak mau terlihat salah di mata murid-muridnya. “Iya, tapi, biar rapi dan nggak mengganggu pandangan mata saat menulis, terus kamu nggak kegerahan saat siang hari, kamu ikat rambutnya.”
“Siap, Pak.” Marina buru-buru mengambil ikat rambut dari saku rok seragamnya, lalu menguncir kuda rambut panjangnya.
“Abel, potong kukunya! Kamu mau saingan sama siapa memelihara kuku panjang? Memangnya bakalan masuk Guiness Book Of Records?”
“Maaf, Pak, Abel nggak sempat, soalnya lagi patah hati ditolak melulu sama Kak Ikhsan. Kalau Bapak sempat, potong hati Abel aja.”
Pak Sasongko pun memilih berlalu dari barisan para murid, menuju ke depan lapangan, berbaur dengan para guru dan staf sekolah lainnya. Semakin hari, tingkah para muridnya itu makin ajaib saja, apa mereka kebanyakan makan micin ya?
Tepat pukul 07.00, dimulailah upacara bendera. Semua murid SMAN 6 mengikutinya dengan khidmat. Iman melirik ke arah Gilang yang mulutnya sedari tadi komat-kamit tak jelas.
__ADS_1
“Elo ngapain, Lang?” tanya Iman pelan, penasaran dengan tingkah aneh sahabatnya.
“Gue lagi merapalkan doa, Man,” jawab Gilang sok serius dengan kedua mata dipejamkan.
“Doa apaan?” Iman mengernyitkan dahinya, bingung dengan ucapan sang sahabat.
“Doa dari Emak gue, Man. Katanya, kalau membaca doa ini sebelum PTS dimulai, ketika kita menghadapi soal-soal, kunci jawaban punya guru-guru bisa kelihatan, lho.”
“Dih, ngaco, elo. Paling kalau dikasih soal pilihan ganda, elo jawabnya pakai menghitung kancing.”
“Ya, udah kalau nggak percaya. Tapi, elo mau tahu nggak, doanya apa?”
“Nggak, elo mah baca doa mau tidur sama mau makan aja masih suka kebalik.”
Duo sahabat itu langsung bungkam ketika menyadari tatapan tajam Pak Sasongko di depan lapangan mengarah kepada mereka.
***
Usai upacara bendera, semua murid masuk ke kelas masing-masing untuk mengikuti Penilaian Tengah Semester. PTS hari pertama dibuka dengan pelajaran bahasa Indonesia dan Matematika. Suasana sekolah tampak lengang, karena para murid sedang khusyuk mengerjakan soal. Pukul 11.30, terdengar suara bel dibunyikan dengan panjang, pertanda PTS usai. Para murid SMAN 6 keluar dari kelas dengan penampilan yang berantakan. Rambut yang acak-acakan dan banyak yang memasang tampang kuyu, berjalan dengan langkah gontai dan lemas tak bertenaga seolah pagi harinya belum bertemu dengan sarapan. Padahal, ini baru PTS hari pertama.
“Soalnya susah banget ya? Sampai-sampai doa dari Emak gue nggak mempan,” cibir Gilang merasakan kepalanya masih panas akibat berhadapan dengan soal Matematika beberapa menit yang lalu.
“Iya, Lang, memang susah. Bu Lita pelit ya, nggak bagi-bagi kunci jawabannya.” Iman mengacak-agak rambutnya frustrasi. Dia pun merasakan kepalanya masih pusing tujuh keliling, mengerjakan soal-soal PTS dari Bu Lita yang sama sekali Iman tidak mengingat rumus dan cara mengerjakannya.
“Kalau gue, sih, lebih milih disuruh praktek olahraga daripada mengerjakan soal, Man,” ucap Gilang sembari menenggak air mineral dalam botol yang sedari tadi ada dalam genggamannya.
“Kalau gue, sih, mending disuruh buat puisi satu buku sama Bu Nadia. Gue pasti bisa menyelesaikannya dengan cepat. Eh, bagi dong, haus gue.” Iman merebut botol di tangan Gilang.
“Ya elah, sama teman sendiri pelit amat, cuma air putih doang. Di kamar mandi juga banyak stok air begituan, mah.”
“Bukan begitu, Man, maaf. Ini air doa, khusus dari Emak gue, biar lancar mengerjakan soal PTS nya.”
“Hahaha, elo, Lang. Masih aja percaya sama yang begituan. Buktinya tadi elo nggak bisa ngerjain soal.”
Gilang garuk-garuk kepala sembari senyum-senyum menahan malu. “Iya, juga, ya. Nggak mempan. Eh, gue minta, dong rahasianya ke Kak Ikhsan. Dia makan apaan, sih, otaknya bisa sampai cemerlang begitu?”
“Rahasianya sih, gampang. Elo bakar buku-buku pelajarannya sampai jadi abu. Nah, abunya itu elo campurkan ke kopi hitam, terus diminum, deh."
“Harus kopi hitam ya? Nggak boleh susu, gitu?” Gilang mengernyit, merasa aneh dengan resep pintar yang diberikan Iman. Kok rasanya absurd, ya?
“Nggak boleh diganti, memang ritual pintar ala-ala kakak gue begitu.”
“Gue, ‘kan nggak doyan kopi hitam, boleh, ya, diganti?" ujar Gilang dengan wajah memelas.
“Terserah, elo. Tapi hasilnya nggak akan maksimal.” Iman tampak geli dan berusaha menahan tawa melihat Gilang manggut-manggut dan wajahnya sangat serius. Sepertinya, Gilang akan mencoba saran aneh dari dia. Setelah tiba di bangku taman sekolah, barulah percakapan tak masuk akal mereka berhenti, kembali keduanya menampakkan sisi kejaiman, sebab sudah ada dua bidadari yang setia menanti mereka di sana.
Di sana, tampak Cinta memasang wajah muram, sembari berkali-kali memukul-mukul kepala dengan kedua tangannya. Iman dengan sigap menghalangi kepala Cinta dengan kedua tangannya, hingga pukulan-pukulan Cinta mengenai tangan Iman.
“Kenapa, Sayang? Jangan menyakiti dirimu seperti itu. Kalau lagi kesal dan butuh pelampiasan, pukul aja aku keras-keras, ikhlas, kok, anggap aja aku ini samsak.”
Uhuk, uhuk.
__ADS_1
Gilang dan Naya spontan terbatuk-batuk melihat tingkah dua sejoli itu.
“Cie, Dilan Milea-nya SMAN 6, so sweet, uhuuy!” goda Gilang membuat wajah Iman dan Cinta seketika bersemu merah.
“Hayu, Kak Gilang, pulang duluan, daripada jadi kambing congek di sini,” ajak Naya beranjak dari tempat duduknya sambil menarik tangan Gilang.
“Sepertinya habis lulus SMA, mereka langsung ke KUA, deh, Nay.” Gilang kembali melontarkan candaan, belum puas menggoda dua sejoli itu.
“Iya, Kak Gilang, kabarnya, sih mereka sudah direstui. Sepertinya ada bau-bau pelaminan, begitu."
“Jalannya makin mulus, dong, Man. Seperti berkendara di jalan tol, bebas hambatan.” Gilang mendekati Iman dan mengacungkan dua jempolnya.
“Udah, buruan, sana pulang, keburu hujan!” usir Iman tak tahan lagi dengan candaan-candaan lain, yang pastinya akan meluncur dari mulut Gilang, sebelum dia merasa puas.
“Hujan dari Hongkong, cuaca panas begini.”
“Udah, Kak Gilang, yuk pulang. Kayak nggak tahu aja, mereka lebih ekspresif kalau berduaan. Duluan ya, Kak Iman, Cinta.” Naya berpamitan sambil melambaikan tangan ke arah dua sejoli itu. Dia menarik lengan Gilang yang kelihatan masih ingin mencerocos.
“Jangan sampai kebablasan pacaran, Man. Ingat belajar buat PTS besok, biar gue bisa nyontek!” teriak Gilang, membuat Cinta dan Iman serempak geleng-geleng kepala.
“Kenapa, Cinta, bete begitu?” tanya Iman melihat wajah Cinta yang masih saja tertekuk.
“Otak Cinta berasa panas, Kak ngerjain soal matematika tadi. Cinta nyesel, mengerjakannya nggak teliti. Jadi, ada beberapa soal yang salah hitung, deh. Udah pasti jawabannya salah!” curhat Cinta sembari mengerucutkan bibirnya.
“Udah, yang, sabar, Cinta. Ini, ‘kan baru PTS, Penilaian Tidak Serius. Masih ada kesempatan buat memperbaikinya di PAS alias Penilaian Agak Serius dan Penilaian Akhir Tahun.”
“Ya, tetap saja, Cinta nyesel kalau ada soal yang salah jawab.”
“Ya, udah, mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur ayam lezat, tinggal pakai kecap, sambal, di atasnya taburin kacang, suiran ayam, sama kerupuk, terus diaduk, deh. Langsung dimakan, nikmat,” canda Iman berharap kekasihnya ini terhibur.
“Ih, Kakak, Cinta, ‘kan jadi lapar!” Cinta memukul pelan lengan Iman.
“Ya, udah, kita cari makan dulu, yuk.”
“Tapi, Cinta, masih kepikiran soal yang tadi.”
“Udah, nggak usah dipikirin. Masa kamu mau datang ke Bu Lita, terus bilang, Bu, maaf, saya pinjam dulu lembar jawaban punya saya, lupa dikasih nama.”
“Wah, ide bagus, tuh, Kak Iman.” Mata Cinta berbinar bahagia mendengar saran dari Iman. Sambil menyelam minum air, sambil nulis nama, terus benerin deh soal-soal yang jawabannya salah.
“Memangnya benar, kamu lupa membubuhkan nama?”
Cinta tampak termenung, berusaha mengingat-ingat “Kayaknya nggak, deh, Kak."
“Ya, udah, nggak usah menyesal lagi, berarti cara begitu nggak bisa ditempuh. Lain kali, lebih teliti mengerjakannya. Jangan ngebayangin wajah Kakak kalau mau mengerjakan soal dengan serius dan benar.”
“Ih, Kakak, kepedean. Iya, deh, besok-besok Cinta mau lebih hati-hati lagi ngerjain soalnya. Yuk, Kak, makan, perut Cinta udah dangdutan “
“Yuk, cacing di perut Kakak juga udah protes, dari tadi nyanyi lagu cadas melulu.”
Tawa Cinta meledak mendengar gurauan dari Iman. Mereka lantas beranjak dari bangku taman sekolah, berjalan menyusuri lapangan, menuju parkiran. Tak berapa lama, keduanya sudah meluncur bersama N Max kesayangan Iman, membelah jalan Pajajaran mencari tempat untuk membebaskan rasa lapar.
__ADS_1