
Iman menyusuri koridor sekolah. Sepertinya, dia datang terlalu pagi, buktinya sekolah masih sepi. Ini merupakan kejadian yang sangat langka. Saking jarangnya, keajaiban dunia ke delapan ini bisa-bisa tercatat di MURI. Biasanya, rekor paling pagi datang ke sekolah versi Iman adalah lima menit sebelum gerbang ditutup.
Tanpa sengaja, saat Iman melewati perpustakaan, dia melihat Cinta sedang duduk di dalamnya. Iman yang punya rasa kepo tingkat tinggi, bergegas menghampiri cewek cantik itu. Apalagi, dia teringat surat yang ditulisnya atas nama Kak Ikhsan. Siapa tahu, Cinta mau menitipkan balasannya hari ini ke dia.
Dengan perasaan berdebar yang tak karuan, Iman memberanikan diri mendekat dan menemui sang pujaan. Cinta tampak sedang fokus menulis di bukunya. Mungkin, cewek cantik itu sedang menulis tentang kesalnya kehilangan diary merah jambu miliknya dan terpaksa harus menyalin lagi isinya di buku yang baru. Secara, menulis banyak itu, ‘kan bikin pegal dan tangan bisa kapalan kalau dilakukan secara terus-menerus. Iman jadi ingat, dia belum sempat mengembalikannya. Cowok itu berencana akan memberikan ke tangan pemiliknya lagi, sambil mengungkapkan sebuah kejujuran. Namun, entah mengapa, sampai saat ini dia belum berani mengutarakannya.
“Hai, Cinta, kamu lagi apa?” tanya Iman dengan suara yang sengaja dibuat kecil agar keadaan perpustakaan tidak gaduh. Iman lantas duduk di samping Cinta. Canggung, itulah kesan yang dirasakannya. Ini kali kedua dia duduk bersebelahan dengan Cinta. Namun, suasana di perpustakaan waktu itu tak sesepi saat ini. Iman yang super cuek dan ceplas-ceplos ini, bisa juga menjadi super grogi duduk di dekat seorang cewek, biasanya sih dia duduknya di samping Gilang atau di dekat sopir angkot kalau kebetulan motornya nggak jalan.
“Eh, Kak Iman.” Cinta menoleh. “Tumben datang pagi banget? Semalam mimpi apa?”
Pertanyaan ini lebih sulit dari menjawab kapan nikah, sebab semalam gue lupa, gue mimpi atau nggak, ya? gumam Iman.
“Eh, anu ....” Iman bingung dan malah menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
“Kakak ketombean? Udah coba pakai shampoo?” cerocos Cinta.
Dasar cewek! Selalu saja nyerocos sendiri, gerutu Iman. Untung saja kamu cantik dan aku suka. Iman tertawa kecil sembari menatap wajah gebetannya.
“Ketombe? Siapa takut? Kutu aja nggak tahan tinggal di kepalaku,” jawab Iman dibalas tawa Cinta yang menggetarkan perpustakaan. Untung saja, keadaan di situ masih sepi.
“Cinta, udah, dong ketawanya. Memangnya aku lagi stand up comedy?”
“Hahaha, Kakak itu ternyata seru dan lucu. Bisa bikin aku ketawa.”
Iman menggaruk lagi kepalanya, salah tingkah. Entah dia harus malu, atau harus bangga mendengar pujian dari pujaannya itu. “Memangnya aneh ya murid yang selalu kesiangan datang sepagi ini? Hmmm .... Sudah kuduga.” Iman memegangi dagunya.
“Enggak, kok!” jawab Cinta. “Nggak nyangka aja kalau Kak Iman bisa bangun pagi.”
“Aku tiap hari selalu bangun pagi, kok. Eh, kecuali hari Minggu.” Iman cengengesan. “Hanya, masuk sekolah pas menit-menit terakhir gerbang ditutup itu sangat menguji adrenalin. Lagian, kalau di sekolah nggak ada murid seperti aku, Pak Sasongko bisa-bisa nganggur. Kerjanya cuma bengong saja di ruang BP,” lanjutnya.
“Hahaha, dasar, Kakak jago ngeles!”
“Gini, Yang,” ujar Iman sok akrab yang membuat Cinta melebarkan pandangannya.
“What! Yang? Memangnya aku Eza Yayang? Atau kepalaku kelihatan peyang?”
“Bukan dua-duanya. Tapi kamu itu ibarat layang-layang yang selalu menarik ulur hatiku.”
Semburat merah jambu menghiasi pipi Cinta yang putih mulus. Dadanya seketika berdebar. “Dasar, Kakak, gombal. Pagi-pagi udah ngebucin aja!” hardik Cinta sembari berusaha meredakan debaran di dada. Dia tak mau terlihat salah tingkah di mata Iman.
“Aku nggak lagi ngebucin, tapi tadi sarapan nasi goreng kebanyakan micin. Eh, iya, boleh minta nomor hp nya nggak? Siapa tahu nanti aku perlu, buat nanya-nanya sesuatu. Tentang pelajaran, misalnya,” pinta Iman dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
“Modus! Masa anak kelas XI nanya pelajaran ke adik kelas? Harusnya aku yang nanya-nanya.”
Bener juga ucapan cewek ini, gue salah, dong, pakai alasan itu, batin Iman menyesali alasan tak masuk akal yang diutarakannya. Namun, bukan Iman namanya kalau tak jago ngeles.
__ADS_1
“Eh, jangan salah. Nanti di soal-soal UN, ‘kan pelajaran kelas X keluar lagi, jadi harus dipelajari ulang.”
“Maaf, nomor hp aku nggak dijual, Kak,” canda Cinta sembari membuang muka, sok jual mahal.
“Idih, siapa juga yang mau beli? Aku udah punya nomor hp yang operatornya sopan banget.” Melihat Cinta mengerutkan kening, Iman melanjutkan ucapan unfaedahnya. “Soalnya nih, setiap dipakai bertelepon, dia selalu bilang maaf.”
“Ahahaha, itu sih nggak ada pulsanya."
“Nah, daripada hp aku nganggur dan biar selalu terisi pulsa juga kuota, minta, dong nomor hp nya.” Iman menengadahkan tangan pada Cinta bak seorang anak yang minta uang jajan ke ibunya.
“Nggak, ah. Nanti disalahgunakan buat nomor jaminan pinjaman online.”
“Oh, ya, udah, kalau nggak boleh. Nggak masalah.” Iman pun sok jual mahal dan bangkit dari tempat duduknya.
“Ya, udah,” sahut Cinta pura-pura tidak peduli.
Iman berjalan menuju pintu keluar perpustakaan. Cinta menatap punggung cowok itu yang berjalan semakin jauh. “Selain jahil, ternyata Kak Iman keras kepala juga,” gerutu Cinta. Padahal, dia berharap Iman akan terus memohon. “Oh, iya, ada yang lupa.” Cinta menepuk dahinya dan bergegas keluar dari perpustakaan hendak mencari keberadaan Iman.
“Kak Iman, tunggu!” Cinta setengah berlari mengejar Iman yang hendak berbelok menuju ke kelasnya.
“Kenapa, Cinta? Kamu berubah pikiran? Mana nomor hp nya?” Iman tamoak bahagia melihat Cinta mengejarnya. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celana seragamnya, bersiap mengetikkan nomor yang akan disebutkan.
“Ih, jangan ge-er, Kak. Aku ngejar Kakak buat ngasih ini.” Cinta mengulurkan sebuah amplop berwarna biru laut. “Titip buat Kak Ikhsan. Makasih ya,” ujar Cinta dengan napas yang masih tersengal.
Iman tersenyum kecil melihat amplop yang kini berpindah ke tangannya. Sudah ia duga, Cinta pasti akan membalas suratnya. “Ongkirnya mana?”
“Kalau begitu, sebagai imbalannya aku minta nomor hp kamu.”
Cinta tampak berpikir. Dia merasa ragu memberikan nomornya pada Iman, karena di kelasnya pun, dia hanya memberikan nomor kontak pada murid-murid cewek. Namun, hampir setiap hari, ada saja nomor asing dari cowok di sekolahnya yang masuk, ingin mengenal Cinta lebih dekat. Entah sudah berapa banyak daftar nomor-nomor tak dikenal yang sudah diblokirnya dari akun Whatsapp Cinta.
“Ya, udah, kalau nggak mau. Kamu serahkan saja sendiri ke orangnya langsung.” Iman mengangsurkan lagi amplop itu kepada Cinta.
Cinta tampak berpikir sejenak. Dia teringat pesan tambahan yang Kak Ikhsan tulis di akhir suratnya. Cinta harus menitipkan balasannya pada Kak Iman. Lagi pula, dia juga merasa gengsi dan malu kalau harus menyerahkannya langsung pada Kak Ikhsan. Tak ada pilihan lain, Cinta harus setuju memberikan nomor hp nya sebagai imbalan.
“Iya, deh, iya.” Cinta terlihat menulis sesuatu di buku, kemudian menyobeknya dalam ukuran kecil dan menyerahkan secarik kertas sobekan itu kepada Iman. Melihat hal itu, Iman tersenyum penuh kemenangan. Dia menerima kertas itu dengan rasa bahagia yang membuncah, bagaikan mendapat durian runtuh.
“Makasih, ya, Snow White. Nomor ini akan menjadi koleksi terindah di hp ku.”
Cinta tampak termenung mendengar Kak Iman menyebutnya demikian. Kok, Kak Iman tahu sebutan Kak Ikhsan di suratnya? Jangan-jangan penulis surat itu ....
Iman yang menyadari tatapan menyelidik dari cewek di hadapannya, buru-buru mengalihkan pembicaraan, agar cewek itu tak curiga. Bodohnya, dia malah keceplosan tadi. “Heh, malah bengong. Itu, tadi aku lagi latihan drama untuk tugas praktek bahasa Indonesia. Ceritanya seputar putri-putri kerajaan begitu.”
“Oh, gitu, Kak, sukses buat dramanya Ya, udah. Salam buat Kak Ikhsan ya.”
“Sip, beres.” Iman mengacungkan jempolnya lantas bergegas melangkah menuju ke kelasnya, karena bel tanda masuk telah terdengar dengan nyaring.
__ADS_1
***
Di kantin, tampak Cinta, Naya, dan juga Gilang sedang bercakap-cakap. Sesekali, mereka menyuapkan potongan batagor ke dalam mulut masing-masing. Suasana kantin saat ini sedang penuh. Suara para murid yang berkumpul dan saling meneriakkan pesanan masing-masing, mengalahkan teriakan suporter perlombaan dan penonton di panggung Agustusan.
“Kak Gilang, Cinta mau tanya sesuatu, nih!” ujar Cinta setengah berteriak agar suaranya tak tenggelam oleh keramaian di kantin.
“Mau nanya apa aja boleh, asal jangan tentang pelajaran. Soalnya udah lupa lagi sama materi-materi di kelas X.”
“Hush, sembarangan. Cinta itu paling pandai di kelas. Soal pelajaran mah, bukan masalah buat dia.” Naya memukul tangan Gilang.
“Iya, iya, bercanda. Mau tanya tentang apa, sih? Tentang Kak Ikhsan? Maaf, nggak terlalu kenal. Takut salah jawab, nanti dikira menyebarkan hoax.”
“Ih, Kakak, serius. Bercanda melulu.” Naya memelotot ke arah Gilang sembari mencubit lengannya membuat cowok bertampang kocak itu meringis kesakitan.
“Aduh, aduh, iya, iya, ampun, Nay.” Setelah Naya melepaskan cubitan, Gilang mengelus-elus lengannya. Sadis banget nih cewek. Untung saja dia pacar gue, kalau bukan, udah gue balas cubitannya. “Mau nanya soal Iman? Boleh banget, gue pasti bisa jawab semua dan lulus ujian, hehehe.” Gilang berharap, pertanyaan Cinta seputar Iman, sahabatnya. Ini akan dia jadikan ajang promosi agar putri kepsek itu tertarik pada Iman, sekaligus mengorek keterangan, mengenai perasaan Cinta terhadap Iman.
“Soal ini, Kak.” Cinta memberikan sebuah surat pada Gilang dan Naya. Sejurus kemudian, dua sejoli itu, terlihat serius membacanya.
Setelah Gilang selesai membacanya, dia masih belum bisa menebak, tentang hal yang akan ditanyakan Cinta. Tampangnya terlihat seperti orang yang kebingungan. “Cinta, to the point aja, jadi sebenarnya yang mau elo tanyakan ke gue apa?” Tak lama, Gilang tampak menunduk malu, sebab pertanyaannya tadi membuat Cinta dan Naya kompak menertawakan dia.
“Begini, Kak. Di surat tertulis kalau nama pengirimnya itu Kak Ikhsan. Tapi, aku masih belum yakin kalau Kak Ikhsan yang menulisnya.”
“Gue juga nggak yakin. Soalnya setahu gue Kak Ikhsan itu anti pacaran.” Sekali lagi Gilang membaca surat itu. Wajahnya lebih serius dari biasanya.
Naya yang melihat Cinta berubah muram, berusaha menghiburnya. “Tapi, walau Kak Ikhsan anti pacaran, dia tetap, ‘kan cowok normal. Bisa jadi, diam-diam dia menaruh hati sama kamu, Cinta." Naya mengelus-elus lembut punggung Cinta, berharap wajah sedihnya berubah cerah.
“Masalahnya, Nay, kalau memang Kak Ikhsan suka sama aku, kenapa dia cuek, dingin? Kalau kebetulan berpapasan, dia berlagak seolah nggak kenal sama aku. Setidaknya, ada lah pergerakan dari dia untuk memperlihatkan kalau dia suka sama aku.”
“Terus, elo curiganya Iman yang menulis ini? Kalau tebakan gue, sih, sosok yang menulis surat ini, tidak lain dan tidak bukan, adalah sahabat gue, Iman. Sebab, gue tahu, dia udah suka sama elo sejak melihat elo di lapangan pas awal masuk sekolah,” terang Gilang yang membuat Cinta tersentak.
“Masa iya? Kak Iman suka sama aku?”
“Iya, dan elo yang udah terlanjur jatuh hati sama Kak Ikhsan, nggak mampu menangkap sinyal-sinyal yang berusaha Iman tunjukkan. Tapi, gue juga masih ragu, sih, soalnya ini tulisan rapi banget. Kalau elo lihat buku catatan Iman, tulisannya berantakan, hampir nggak kebaca,” ujar Gilang yang disambut gelak tawa dari Cinta dan Naya.
“Cinta, Kak Iman memang suka sama kamu. Aku sebenarnya sudah tahu hal ini. Hanya sebagai sahabat, aku nggak mau ikut campur kalau urusan hati. Itu, ‘kan hak pribadi masing-masing,” ujar Naya sembari menggenggam jemari Cinta. Sahabatnya itu terlihat sudah mulai terisak.
“Lalu, kenapa, Kak Iman nggak bilang jujur kalau dia suka? Kenapa malah mengirim surat atas nama kakaknya?”
“Nah, kalau soal itu gue nggak tahu, tapi gue janji bakal menanyakan alasannya. Hanya, sebelumnya gue mau tanya dulu, Cinta, perasaan elo ke Iman itu seperti apa?”
“Jujur, aku merasa nyaman berada di dekat Kak Iman. Dia bisa membuat aku tertawa dan selalu terhibur dengan kata-katanya, walau itu unfaedah. Tapi, aku suka bicara berlama-lama sama dia.” Cinta menyeka air mata. Bibirnya mulai melengkung membentuk sebuah senyuman. Naya dan Gilang saling pandang, mereka merasa lega, Cinta sudah mulai terlihat sedikit ceria.
“Perasaan elo sendiri ke Kak Ikhsan gimana, kalau ternyata memang Iman penulis suratnya?”
“Perasaan aku ke Kak Ikhsan mungkin hanya sebatas kagum. Kalau ke Kak Iman, lihat perkembangannya nanti, deh.” Pipi Cinta bersemu merah, dadanya pun berdebar tak karuan. Dia merasa malu sudah berterus-terang tentang perasaan yang dipendam dan disimpannya sendiri selama ini ke Kak Iman. Malahan, dia sering menyangkal, jika rasa itu mulai hadir.
__ADS_1
“Oke, gue belum bisa memastikan apakah surat ini benar-benar Iman yang membuat, sebelum orangnya mengakui sendiri, soalnya tulisan Iman nggak sebagus ini. Gue takut disebut tukang fitnah, hehehe. Tunggu berita selanjutnya setelah pesan-pesan yang mau lewat ini.”
Suara nyaring bel tanda waktu istirahat usai terdengar ke seluruh penjuru sekolah, bersamaan dengan meledaknya tawa dari dua sahabat berwajah cantik itu. Suasana kantin berangsur-angsur mulai sepi. Para murid telah masuk ke kelas masing-masing, bersiap menerima pelajaran selanjutnya yang akan disampaikan guru.