
Iman duduk termenung di meja belajarnya, ditemani malam sunyi dan suara jangkrik yang bersahutan, menambah syahdu suasana. Segelas teh manis hangat dan pisang goreng buatan Bunda ikut melengkapi kesendiriannya. Bayang wajah Cinta berkelebatan, membuat Iman seketika senyum-senyum sendiri. Sudah seminggu lamanya cowok itu dekat dengan cewek pujaan. Hal ini membuat hari-hari yang dijalaninya terasa lebih menyenangkan. Sejumlah perhatian yang Iman tunjukkan, tak lagi membuat cewek itu risih.
Waktu awal-awal kenal, keberadaan Iman seolah tak dianggap oleh putri kepsek itu. Namun, sekarang, Cinta terlihat lebih terbuka, kelihatan nyaman berada di dekat Iman, dan mau diajak berbincang. Entah mengapa, kebersamaan mereka akhir-akhir ini membuat Iman yakin kalau perasaan Cinta satu frekuensi dengannya. Namun, entah hanya perasaan saja, beberapa kali Iman menangkap ada sedikit gurat kesedihan di kedua netra Cinta. Iman tak mampu menerjemahkan apa penyebabnya. Cowok itu menebak, mungkin sikap overprotective Pak Baratha yang menyebabkan cewek itu demikian. Dia bertekad, besok akan mengutarakan perasaannya pada cewek yang sudah ditaksirnya sejak awal masuk sekolah.
Netra Iman tiba-tiba tertumbuk pada buku harian merah jambu milik Cinta. Didera rasa penasaran, cowok itu meraih buku itu dari atas meja belajarnya.
“Cinta, mohon maaf ya, aku lancang membuka curhatan kamu.” Iman mengelus nama yang tertera di sampul depan buku itu sembari tersenyum kecil. “Iya, nggak apa-apa, Man. Sok aja,” lanjutnya menirukan suara perempuan, seolah Cinta yang menjawabnya. Perlahan-lahan, jemari Iman mulai membuka lembar demi lembar buku harian itu.
*Third Day MOPDB
Dear Diary, hari ini sebenarnya aku merasa nggak enak badan. Tapi, dipaksakan berangkat ke sekolah, sebab ini hari terakhir MOPDB. Sayang kalau harus izin, kata Papa, kalau ikut kegiatan dari awal harus tuntas sampai akhir. Walau kepala ini rasanya cenat-cenut, kupaksakan juga melangkahkan kaki ke sekolah.
Sialnya, hari ini kegiatan berpusat di lapangan sekolah. Padahal berharap sih di aula, biar aku nggak kepanasan. Pas sesi games, keringat dingin mulai bercucuran, kepalaku semakin pusing tak karuan. Perutku tiba-tiba mual, ingin muntah. Aku nyerah dan berdiam diri di sudut wc perempuan. Padahal harus ngumpulin tanda tangan mentor.
Saat sedang berusaha meredakan mual dan pening yang melanda, seorang kakak senior tiba-tiba membentak-bentak dan merampas buku tulisku yang kosong. Dia makin mencak-mencak dan bilang kalau aku pelanggar licik, karena bersembunyi dari kegiatan. Padahal, aku sudah coba menjelaskan mengapa aku ada di wc ini. Aku balas saja memaki dia. Kakak kelas macam apa yang merokok di kantin sekolah? Ngasih contoh nggak bener.
Saat aku dan dia terlibat adu mulut yang lumayan sengit, datanglah seorang kakak senior yang wajahnya lumayan tampan lah. Dia dengan sikap ksatria, membela aku dan hampir terjadi adu jotos dengan temannya sesama panitia itu. Ketika tatapan aku dan dia bertemu, kenapa aku jadi deg-degan ya? Sebelum aku mengetahui nama dia, tiba-tiba saja aku sudah berada di ruang UKS. Tadi, di tengah-tengah perseteruan si tampan dan temannya, aku pingsan. Makasih lho udah belain aku dan bawa aku ke sini. Sejak hari ini, aku sudah mulai menyukainya*.
__ADS_1
Deg, tiba-tiba saja Iman merasa lemas. Ternyata, Cinta sudah menyukai seseorang di sekolah, dan itu bukan dia. Perasaan bahagia yang menyelimuti hati Iman mendadak lenyap, menguap entah ke mana. Rencana dia yang akan menembak Cinta besok, seketika hancur berantakan. Iman membuka lagi lembaran lain buku diary itu. Dia penasaran dengan cowok beruntung yang diidolakan oleh cewek secantik Cinta. Netranya mulai terpaku, kembali menelusuri tulisan tangan indah Cinta.
*Jam istirahat ini di pinggir lapangan kok ramai banget ya? Murid-murid cewek terdengar berteriak histeris dan tampak berkerumun. Teriakan mereka mengalahkan penonton di konser musik. Apa mungkin ada artis datang ke sini? Atau sekolah ini dipakai syuting film?
Ketika aku dan Naya lewat di kerumunan itu, mereka menyebut-nyebut nama Ikhsan di sela-sela teriakan mereka. Aku jadi penasaran, serupawan apa sih wajah yang sedang dielu-elukan kaum hawa itu? Ketika aku melayangkan pandang ke arah lapangan, tampak sosok si tampan sedang bermain basket. Jago juga ya mainnya. Berkali-kali dia berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Walau suara di kanan kiriku berisik, tetapi aku berterima kasih, karena mereka, aku jadi tahu nama si tampan.
Kak Ikhsan, melihat wajahnya dan juga perangainya, pantas lah kalau dia jadi idola. Apalagi, sebelumnya, hatiku bergetar oleh suara merdunya ketika melantunkan ayat suci Al quran sewaktu kegiatan Jumat Rohani. Bukan hanya hatiku saja, yakin deh, semua yang hadir di kegiatan itu, tampak terhipnotis dengan suara indahnya. Benar-benar sosok panutan, udah ganteng, soleh lagi*.
Dada Iman mendadak sesak, seolah ada beban yang berat tengah menghimpitnya, kala membaca kalimat demi kalimat berikutnya yang Cinta tulis di lembaran-lembaran lainnya. Sekarang sudah jelaslah cowok yang Cinta suka. Pesona Ikhsan, sang kakak telah mencuri hati cewek gebetannya itu. Jujur, Iman memang merasa cemburu. Namun, rasa iba mengalahkan kegembiraannya, menangkap kepiluan yang dirasakan cewek itu. Hal ini tergambar dari untaian kata-kata yang dituliskan Cinta yang berharap perasaannya akan bersambut. Iman, tak sanggup lagi membacanya. Cowok itu menutup buku itu dan menaruhnya kembali di tempat semula.
Sekarang, terjawab sudah, asal-muasal munculnya kesedihan yang tergambar di mata Cinta. Cowok itu paham betul rasanya memendam rasa. Cowok itu menghela napas berat. Ia berusaha tegar dan ikhlas.
Maaf ya, Bund,” lirihnya pilu sembari terus menghisap rokoknya, hal yang selalu dilakukannya secara sembunyi-sembunyi, sebab ini paling dibenci Bunda.
***
“Man, Cinta mau ke perpus tuh. Elo ke sana, temenin dia. Katanya elo mau nembak,” cerocos Gilang yang ditanggapi dingin oleh Iman. “Eh ini anak malah cuek. Tumben lagi, malah ke kantin, biasanya ngajak ke perpus.” Gilang memandang heran ke arah Iman, sebab biasanya sang sobat antusias dan penuh semangat kalau sudah mendengar nama Cinta disebut.
__ADS_1
“Man, elo ngerokok lagi? Sejak kapan? Katanya udah berhenti sejak dilarang Bunda elo.” Gilang semakin penasaran dan bertanya-tanya dengan perubahan sikap Iman. Kemarin-kemarin sahabatnya itu terlihat ceria, sekarang malah bermuram durja. “Man, kalau Cinta lihat elo begini, dia bakal kabur lho.”
“Lang, cerewet elo mengalahkan ibu-ibu komplek. Indonesia udah merdeka sejak tahun ’45, jadi terserah gue dong, mau ngapain juga.”
“Bukan begitu, Man. Seharian ini gue perhatikan, elo nggak secerah kemarin-kemarin. Nggak usah meratapi uang saku yang tetap nggak naik, syukuri aja. Yang penting masih bisa jajan.” Gilang mencoba melemparkan candaan, tetapi Iman masih tetap bungkam. Biasanya, cowok itu akan membalas candaan itu dengan melontarkan lelucon yang membuat keduanya akan tertawa bersama.
“Cerita, dong, Man. Gue sobat yang bisa diandalkan,” ujar Gilang sembari menepuk dadanya.
“Bener elo mau bantu? Apa pun yang gue minta?”
“Iya, Man. Asal jangan pinjem duit aja. Walau musim hujan dan banjir di mana-mana, tapi kantong gue lagi kemarau, nih.” Gilang cengengesan sembari garuk-garuk kepala.
“Kalau elo mau bantu gue. Mulai sekarang, berhenti nanya-nanya gue kenapa. Alhamdulillah, gue sehat wal afiat. Hanya, sedang berkurang aja selera humornya. Mau mencoba lebih bersikap dewasa.” Sejurus kemudian, cowok bertampang Korea itu menghisap rokok dan mengembuskan asapnya ke udara.
“Cie, yang mau kelihatan tampak dewasa. Saran gue, kalau elo mau terlihat begitu, stop melanggar peraturan sekolah. Berhentilah merokok sebelum ada panggilan dari Pak Sasongko.”
“Nggak apa-apa. Gue, ‘kan memang langganan dipanggil ke ruang BP. Itu tandanya Pak Sasongko perhatian.”
__ADS_1
“Ya ampun, Man. Disayang Pak Sasongko aja elo bangga. Kalau diperhatikan sama Cinta, baru elo harus bahagia.”
Iman mengedikkan bahu, lantas berlalu meninggalkan Gilang setelah mematikan rokoknya. Benak cowok bertampang kocak itu dipenuhi berbagai tanya. Bingung harus membantu dengan cara apa untuk mengembalikan keceriaan Iman lagi seperti sediakala. Sahabatnya itu, kini sedang menyembunyikan sesuatu. Sebuah rahasia yang tak ingin diketahui siapa pun, termasuk oleh Gilang, orang terdekatnya di sekolah. Yang pasti, dia yakin hal ini ada hubungannya dengan Cinta. Gilang bertekad akan mencari tahu hal yang menyebabkan sikap Iman berubah.