
“Kak, Iman! Tunggu!” Seorang cewek dengan tinggi badan sedang dan berkulit sawo matang berlari menghampiri Iman yang sedang melangkah santai menyusuri koridor sekolah menuju ke kelasnya. Setelah agak mendekat, terdengar jelas oleh Iman napas gadis itu terengah-engah. Ia menunduk dan memegangi perutnya menahan lelah setelah berlarian sepanjang koridor, mengejar Iman.
“Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu Kakak juga,” ujar cewek itu di antara napasnya yang memburu.
Dahi Iman mengernyit, mencoba mengingat-ingat, barangkali dia mengenal cewek yang ada di depannya atau mungkin pernah bertemu di suatu tempat. Nihil. Tapi, kalau dilihat dari gelagatnya dan cara cewek ini mengejar dia barusan, Iman menyimpulkan kalau cewek ini bisa jadi adalah penggemar rahasianya.
Alhamdulillah, akhirnya ada juga yang ngefans sama gue. Cowok berjaket kulit hitam ini berdehem, sembari mengamati wajah cewek di hadapannya. Hmm, manis juga, tapi sayang hati gue udah tertambat sama satu cewek. Eh, bukan satu, tapi dua, Selena Gomez sama gebetan kece. Iman senyum-senyum sendiri. Terlintas bayangan cewek gebetannya lengkap dengan senyuman manis dan tatapan mata indahnya.
“Kak, kok senyum-senyum? Wajah saya lucu ya? Kayak badut?” Gadis itu heran seraya mengamati wajah cowok berkulit putih dan bermata agak sipit ini. Sementara kedua tangannya sibuk meraba-raba wajahnya, khawatir kalau riasannya nggak rapi alias belepotan atau terlalu menor.
“Eh, nggak kok.” Lamunan Iman seketika buyar. Kembali ia berusaha menguasai keadaan. “Elo anak kelas berapa? Ada perlu apa sampai ngejar-ngejar gue kayak debt collector?”
“Wah, motor Kakak pasti masih nyicil ya, sampai curhat tentang pengalaman dikejar debt collector segala?” Cewek itu cekikikan melihat Iman mengerucutkan bibirnya. “Maaf, Kak, bercanda. Kenalin nama saya Marina. Saya kelas X, Kak.” Gadis bermata belo itu mengulurkan tangannya ke arah Iman lantas cowok itu menyambutnya. Untuk beberapa detik keduanya berjabatan.
“Namanya kayak merek handbody ya? Hahaha.” Iman terbahak melihat bibir mungil cewek itu manyun. Habisnya, enak aja nuduh N Max nya Iman itu motor cicilan. Udah lama juga tuh motor statusnya lunas kali. “Elo ada perlu apa sama gue?”
“Begini, Kak ..., anu ..., saya ....” Gadis itu terlihat salah tingkah.
Senyum Iman terkulum. Yes, nggak salah lagi ini cewek suka sama gue. Akhirnya, gue bisa cerita ke Bunda sama Kak Ikhsan, kalau gue juga punya penggemar. Senyum Iman semakin lebar, antara bangga dan juga senang, ternyata makhluk yang tak populer di sekolah seperti dia punya juga secret admirer.
“Begini, Kak. Duh ..., malu saya.” Gadis itu semakin salah tingkah. Berkali-kali ia terlihat tersipu. Semburat merah jambu menghiasi pipinya. Marina menundukkan pandangan, tak mampu menatap lawan bicaranya.
Nggak apa-apa, Dek. Ungkapkan saja, tak perlu malu. Biar semut-semut yang berbaris di dinding itu menjadi saksi. Iman bersenandika, tetap dengan tingkat percaya diri yang melambung.
“Kak. Bener nggak sih kalau Kakak itu adik kandungnya Kak Ikhsan?”
Skak mat. Benteng percaya diri yang Iman bangun seketika runtuh. Nggak jadi deh pamer punya fans.
“Kalau iya, elo mau apa?” tanya Iman sembari berusaha menutupi rasa kecewanya.
Mata gadis itu berbinar bahagia. “Boleh saya minta nomor kontaknya, Kak Ikhsan?” pinta cewek itu dengan wajah memelas, membuat Iman tak tega. Gadis itu mengeluarkan ponsel dari dalam pouch merah jambu di saku roknya, bersiap untuk menyimpan nomor-nomor yang mungkin akan Iman sebutkan.
Setelah beberapa detik Iman berpikir, akhirnya ia menyebutkan dua belas nomor ponsel yang langsung disimpan cewek itu di ponselnya.
Sekali lagi, binar bahagia terpancar di kedua netranya, bak anak kecil yang dibelikan mainan oleh orang tuanya. “Duh, Kakak, terima kasih banyak ya. Saya doakan semoga kebaikan Kakak dibalas Allah dengan pahala. Dan kalau sedang naksir seseorang, semoga cinta Kakak diterima.”
“Aamiin.”
Baru saja Iman hendak beranjak meninggalkan cewek itu, langkahnya terhenti kala cewek itu melambai pada seseorang.
“Cinta! Sini!” Marina berseru dan dibalas lambaian tangan dari sosok yang dipanggilnya barusan.
Bidadari itu .... Gebetan kece gue. Dada Iman berdebar tak menentu ketika melihat sosok cantik itu berjalan anggun dari gerbang sekolah menuju ke koridor.
“Eh, elo sekelas sama cewek itu?” Iman berbisik di telinga Marina. Berharap cewek itu akan memberinya banyak info tentang si Cantik.
“Astagfirullah, Kakak ngangetin aja. Kirain Kakak udah nggak ada di sini.” Marina memegangi dadanya yang berdegup karena terkejut. “Itu namanya Cinta, Kak. Saya sekelas sama dia. Cuma nggak terlalu dekat sih. Nah, kalau yang di sebelahnya itu namanya Naya, sahabat karibnya dia.”
Cinta, nama yang indah. Allah Maha Hebat menciptakan dia dengan berjuta keindahan menghiasi dirinya.
“Eh, boleh minta nomor hape nya dia nggak?”
“Cie, Kakak ngefans ya?” Marina berucap setengah berteriak membuat Iman gelagapan.
“Ssstt, berisik. Malu kalau didengar sama dia.” Pipi Iman bersemu merah. “Ayo dong, kasih nomor dia ke gue, sebagai imbalan gue udah ngasih nomor Kakak gue ke elo.”
Tak berapa lama, jemari cewek itu berkutat dengan ponselnya mencari nomor kontak yang diminta. “Nomornya ada dua sih, Kak. Yang satu lagi kehapus, waktu saya reset ulang ini hape. Untung yang ini saya simpan di google contact.”
Ponsel Marina kini berpindah ke tangan Iman. Kok nomornya nggak asing? Perasaan gue sering lihat, di mana ya? Saking senangnya, Iman tepiskan perasaan itu. Ia tak mau kebahagiaannya terusik. Nomor kontak itu langsung Iman catat di buku tulisnya, lantas dia tandai tulisan itu, sehingga nomornya ada di dalam sebuah lingkaran berbentuk hati. “Thanks, ya.”
“No, problem, Kak.”
Iman bersiul riang, dan melangkah ringan menuju ke kelas. Perasaan bahagia tengah membuncah di dadanya. Cinta. Berkali-kali cowok itu menggumamkan nama bidadari gebetannya itu.
“Man, tumben wajah loe sumringah banget. Bunda elo nambahin uang jajan loe, ya?” Gilang memandang heran seraya menyelidiki tingkah aneh sang sahabat yang kadang senyum-senyum sendiri sembari mengusap-usap tulisan di dalam bukunya. Sesekali ia menciumi tulisan di buku itu.
__ADS_1
“Man, loe sehat, ‘kan?” Gilang meraba dahi Iman. “Atau elo udah mulai stress ya mikirin gebetan elo? Itu hanya buku, Man, mana nilai-nilainya nggak jauh dari do re mi alias satu, dua, tiga, masih elo elus-elus juga tuh buku. Bangga loe punya nilai jelek?” Gilang semakin aneh, sebab bukannya marah atau membalas ejekan dia, Iman malah menatap wajah Gilang dengan sebuah senyuman yang terkembang. “Waduh, udah korslet nih anak. Elo belum sarapan ya?” Gilang geleng-geleng kepala.
“Loe tebak deh apa yang gue dapat pagi ini?” Iman mengetuk-ngetuk jari telunjuknya ke nomor kontak di bukunya.
“Itu nomor siapa? Bu Nadia?”
“Hush, bukan.” Iman menoyor kepala sang sobat. “Ini nomornya Cinta.” Kembali Iman mengelus tulisan itu. Senyum masih menghiasi bibirnya.
“Cinta siapa? Cinta nya Rangga di Ada Apa Dengan Cinta?”
“Ngaco loe. Cinta, itu nama bidadari gebetan gue. Rencananya nanti malam gue mau telepon dia.” Kedua netra Iman berbinar bahagia.
Gilang mengerucutkan bibirnya. “Dapat dari mana loe nomornya? Kenapa nggak sekalian mintain nomor cewek bertampang Arab gebetan gue, sih?”
“Duh, maaf. Saking senangnya gue jadi lupa nanyain gebetan loe.” Iman menangkupkan kedua tangannya.
“Nggak setia kawan loe.” Gilang semakin manyun.
“Tenang, Lang. Sambil pedekate, gue bakal cari tahu tentang cewek Arab elo itu.”
“Sip, cakep.” Gilang menepuk pundak sahabatnya.
“Oh iya, namanya Naya, Lang.”
Naya, gumam Gilang seraya menyunggingkan sebuah senyuman. Bayangan wajah cewek manis itu berkelebat di benaknya.
***
Sudah setengah jam lamanya Iman memandangi layar ponsel. Netranya terpaku pada nomor kontak Cinta. Kedua telapak tangannya serasa membeku. Dingin. Cowok itu sesekali melirik jam mejanya. Pukul setengah delapan malam. Kembali dipandanginya nomor kontak itu. Ingin rasanya menekan tombol panggil. Namun, entah mengapa hatinya meragu. Debaran di dadanya kian berpacu beriringan dengan bunyi detak jarum jam mejanya.
Setelah berhasil melawan keraguan, akhirnya ia beranikan diri juga melakukan panggilan ke nomor itu. Iman memegangi dadanya yang kian berdegup seraya mengucap basmallah. Telapak tangannya semakin membeku, dingin. Terdengar ringtone reffrain Istikharah Cinta dari Sigmanasheed di seberang sana. Tak berapa lama, suara ringtone itu berhenti. Seseorang di sana mengangkat panggilannya.
Cinta, sebentar lagi gue yang sangat penasaran dengan suara merdu dan lembutmu, bakal mendengarnya langsung.
“Waalaikum salam.”
Iman tersentak mendengar suara bass seorang pria dari seberang sana. Masa iya salah sambung? Iman menghela napas berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang. Setelah agak menguasai diri, ia mencoba kembali bersuara.
“Ma ..., maaf Om, Cinta nya ada?”
“Cinta, Cinta siapa? Maaf ini bukan rumahnya Bapak Gubernur Jawa Barat.”
Iman menggaruk-garuk kepala. Dahinya berkerut, tak paham maksud ucapan Om dari seberang sana. “Maksud Om?”
“Iya, Cinta itu, ‘kan, nama panggilan sayang Pak Ridwan Kamil buat istrinya.”
Iman bingung harus berkata apa. Salah dia tidak menanyakan nama lengkap Cinta pada Marina tadi pagi. “Maaf, Om, malam-malam ganggu, mungkin salah sambung. Assalamu alaikum.”
“Waalaikum salam.”
“Dari siapa, Pa?” tanya Cinta penasaran. Jemarinya menggenggam remote tv dan sedari tadi terus saja mengganti-ganti channel. Tak satu pun tayangan televisi yang menarik perhatiannya.
“Nggak tahu, salah sambung.”
Cinta mengangguk-angguk mendengar jawaban Papanya. Sejurus kemudian, gadis cantik itu terlihat beberapa kali menguap. “Cinta tidur duluan ya, Pa. Ngantuk.”
“Cinta, kamu nggak lagi dekat sama cowok, ‘kan?” Pertanyaan sang Papa menghentikan langkah sang gadis menuju kamarnya. Ia berbalik menghadap Papa.
“Nggak, Pa. Cinta dekatnya sama Naya. Tanya dia aja kalau nggak percaya.”
Pria itu lega mendengar jawaban putrinya. Dia sangat percaya dengan anak yang namanya Naya, sebab orangnya sopan dan kelihatan anak baik-baik. “Ya sudah. Have a nice dream.” Pandangan pria itu terus terpaku pada anak semata wayangnya hingga gadis itu menghilang di balik pintu kamarnya.
Cinta, Papa akan selalu melindungimu, sebelum kau bertemu lelaki yang tepat. Papa nggak mau merasakan kehilangan untuk kedua kalinya. Cukup Mamamu yang meninggalkan Papa, batin pria itu, lirih. Tak terasa matanya berkaca-kaca kala bayangan almarhumah istrinya berkelebat di benaknya.
Klik. Iman mengakhiri panggilan. Cowok itu menyugar rambutnya, lantas beranjak dari tempat tidur menuju ke ruang tengah. Ia meraih gelas di rak lalu mengisinya dengan air di dispenser, kemudian meneguknya sampai habis. Terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Seketika ruangan itu terang benderang.
__ADS_1
“Lho, Bunda belum tidur?” Iman menoleh ke arah sosok yang berdiri di belakangnya. Buru-buru Iman mengambilkan minum untuk sang Bunda.
Bu Lastri meneguknya sedikit. “Itu, tadi ada perempuan telepon Bunda. Nanyain Kakak kamu.”
“Terus, dia cerita apa?”
“Nanya-nanya kalau Bunda itu siapa nya Ikhsan. Ya udah, Bunda sekalian aja kerjain dia, hahaha. Anaknya lucu juga, Man. Bisa mengimbangi candaan Bunda.” Bu Lastri tertawa diiringi juga tawa dari si anak bungsunya.
Rasain loe Marina. Sudah gue duga elo bakal ngasih nomor salah sambung. Gue kasih nomor Bunda aja ke elo. Kita impas, hahaha.
***
“Marina, tunggu!” Iman setengah berlari menghampiri cewek yang hendak ke perpustakaan. “Ini nomor siapa? Bukan nomor Cinta, ‘kan? Elo mau ngerjain gue?” Iman memberondong Marina dengan sejumlah pertanyaan setelah ia berada tepat di depan cewek itu.
“Nomornya Cinta, kok, Kak. Swear. Dia ngasih dua nomor ke saya, termasuk nomor yang itu.”
Iman melihat ada kesungguhan dalam nada bicara cewek itu. “Gue heran aja, sih. Yang ngangkat telepon tadi malam itu suaranya kayak bapak-bapak.”
“Mungkin, hapenya lagi dipegang papanya, Kak. Atau karena yang menelepon Cinta itu nomor asing, jadi dia minta papanya yang ngangkat.”
“Mungkin juga, ya.” Iman mengangguk-anggukan kepala. Penjelasan Marina cukup masuk akal juga.
“Kakak juga ngerjain saya. Kemarin saya ngobrol sama kakak perempuan Kak Ikhsan.” Cewek itu mengerucutkan bibirnya, kesal.
“Hahaha, itu Bunda gue. Maaf, gue nggak maksud ngerjain, hanya, gue menjalankan amanah dari Kakak gue buat nggak menyebarkan nomornya dia ke siapa pun.”
“Buset, calon mertua saya kok gaul banget ya? Kirain saya kemarin ngobrol sama sesama ABG.” Gadis itu membayangkan seperti apa wajah Bundanya Kak Ikhsan itu. Bicaranya benar-benar seperti anak muda. Semoga suatu saat dia bertatap muka langsung dengan sosok Bunda gaul ini. “Tuh, Kak, kesempatan buat pedekate.” Jari telunjuk Marina menunjuk ke arah Cinta yang tengah berbincang serius dengan Pak Baratha di depan kantor kepala sekolah.
“Sip, doain gue ya. Elo juga, selamat berjuang.” Iman menghampiri Cinta saat Pak Baratha sudah masuk ke ruangannya.
“Anak kelas X ya? Kenalin nama saya Iman, kelas XI.” Cowok berkulit putih itu mengulurkan tangannya. Iman sangat bahagia ketika cewek cantik itu membalas uluran tangannya.
“Cinta,” jawab cewek itu singkat sembari melangkah menuju ke kelasnya. Iman, walau dadanya berdegup, ia berusaha terlihat tenang, dan berjalan di samping Cinta.
“Kalau kamu nggak keberatan, saya antar sampai ke kelas ya.”
“Nggak, kok, nggak keberatan.”
Jawaban sang bidadari membuat Iman serasa melayang ke angkasa. “Eh iya, tadi kenapa dipanggil sama Pak Baratha? Pak kepsek itu jarang senyum lho, jutek, kesannya jaim alias jaga image gitu. Di rumah, dia sejutek itu juga nggak ya? Heran aja, kok kamu bisa ngobrol seakrab itu sama orang yang dingin macam Pak Baratha.”
Cinta mengedikkan bahu sembari menatap wajah cowok di sampingnya sekilas, lantas tersenyum tipis.
“Nggak kerasa, ya kalau jalan bareng bidadari, cepat banget sampai ke tujuan. Cinta, saya pamit ke kelas ya. Selamat belajar. Have a nice day.”
Cinta mengangguk lalu melemparkan sebuah senyuman pada Iman. Gadis cantik itu melangkah ke dalam kelas dan duduk di bangkunya. Tampak, Naya sudah ada di bangku itu juga. Tak berapa lama, mereka terlihat berbincang.
“Cinta! Kalau Pak Baratha membuat kamu nggak nyaman, bilang sama aku!” teriak Iman di ambang pintu kelas X. Tiba-tiba, cowok itu merasakan punggungnya ditepuk seseorang dari belakang. Ia menoleh ke arah sana dan mendapati Marina berdiri di situ.
“Elo, ngapain sih nimbrung? Gue masih ingin menatap lebih lama sang bidadari dari sini.”
“Maaf, Kak, bukannya mau ganggu. Tapi, jangan ngomongin Pak Baratha di depan Cinta.”
“Lho, memangnya kenapa? Gue bicara sesuai fakta. Memang kepsek kita begitu kan orangnya? Jaim.”
“Kakak ngomong begitu ke Cinta?"
Iman mengangguk.
"Kak, Pak Baratha itu papanya Cinta.”
“Hah? Yang bener?” Iman tersentak. Cowok itu berharap cewek yang berdiri di depannya ini sedang berbohong.
Namun anggukan Marina menyiratkan bahwa ucapan gadis itu bukan sekedar bualan belaka. Pantas saja, ketika Marina memberitahu nomor kontak Cinta, deretan angka itu seperti tak asing lagi baginya. Iman mengeluarkan buku yang tertera nomor kontak Cinta dari dalam tas gendongnya. Untuk memastikan, cowok itu menuju ke papan mading sekolah dan mencocokkan nomor di bukunya dengan nomor yang tertera di brosur sekolah yang menempel di papan mading itu. Dia berharap, ada satu atau dua nomor yang berbeda. Namun, ternyata nomornya sama, itu nomor hape Pak Baratha. Seketika pening melanda. Cowok itu mengurut pelipisnya.
Mati gue.
__ADS_1