Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
A Love Poem For Her


__ADS_3

Setelah seminggu lamanya, semua murid SMAN 6 berkutat dengan soal-soal PAS yang menyebabkan situasi menjadi tegang, kini mereka terlihat lebih santai. Setelah PAS usai dan sebelum pembagian raport, murid-murid mengikuti kegiatan Pekan Olahraga dan Seni atau disingkat Porseni antar kelas, selama tujuh hari ke depan. Kegiatan ini lebih dikenal juga dengan istilah minggu tenang. Berbagai kegiatan olahraga dan kesenian diselenggarakan dalam bentuk acara perlombaan.


Cabang olahraga yang dilombakan pada Porseni ini di antaranya, sepak bola, basket, catur, atletik, dan tarik tambang. Sedangkan, untuk keseniannya diadakan lomba melukis, lomba baca puisi, dan lomba menyanyi. Setiap lomba memiliki jadwal pelaksanaannya masing-masing. Suasana di sekolah menjadi sangat meriah dengan suara-suara tawa, bercampur dengan teriakan, dan juga ramainya obrolan para murid yang berkerumun. Semua suara itu campur aduk menciptakan ingar bingar dan kebisingan di setiap sudut sekolah. Setiap murid, sibuk dengan urusannya masing-masing. Bahkan, ada pula yang hanya berkumpul saja di depan kelas.


Cinta ditunjuk menjadi seksi acara yang menangani lomba melukis dan pembacaan puisi. Setiap murid yang berminat mengikuti kedua cabang lomba kesenian ini, mendaftarkan diri pada Cinta yang sudah standby di meja pendaftaran yang diletakkan di depan ruang kelas yang dipakai untuk kedua lomba tersebut. Sesekali, tangannya sibuk mencatat nama murid, di daftar peserta lomba, serta memilah-milah, mana yang ikut lomba pembacaan puisi dan mana yang ikut lomba melukis.


“Cinta Lintang Larasati, seksi lomba puisi dan melukis, hahaha.”


Cinta mendongak dan mendapati Naya sudah berdiri di hadapan Cinta dan membaca name tag panitia yang talinya dikalungkan di leher Cinta, hingga name tag nya menjuntai sampai ke setengah badannya.


“Kamu, tega, nggak bantuin Cinta.” Cinta mengerucutkan bibirnya.


“Aku mah nggak usah daftar jadi seksi acara juga, udah seksi dari lahir,” canda Naya membuat Cinta kembali tertawa. Tak berapa lama, tangan Cinta mulai menulis lagi di lembaran daftar peserta lomba.


“Cie, yang lagi sibuk,” ujar Gilang yang baru datang dan kini berdiri di samping Naya.


“Kamu mau daftar lomba, Nay? Kak Gilang juga, daftar ya, biar jumlah pesertanya semakin banyak,” pinta Cinta sambil mengetuk-ngetukkan bolpoint ke atas meja.


“Nggak, kita berdua mah jadi pemandu sorak aja. Iya, ‘kan, Nay?” Gilang menjawil dagu Naya yang dibalas dengan sebuah senyuman manis dari cewek itu.


“Iya, kita mah tugasnya menyemangati kamu yang sedang mengemban amanah, biar lancar.”


“Aamiin. Terima kasih, Nay."


Gilang mengeluarkan ponsel yang bergetar di saku celananya. Selama beberapa detik, dia tampak mengamati layar yang menyala, membaca chat yang masuk. “Cinta selamat bertugas ya, tetap semangat, jangan loyo, karena sebentar lagi Kakang Prabumu menuju ke mari.”


“Kak Iman? Dari tadi Cinta nggak ngelihat dia wara-wiri di sekolah, deh." Cinta celingukan mencari sosok yang dimaksud Gilang.


"Iya, barusan Iman chat dan nyuruh gue menyampaikan ucapan semangatnya buat elo. Katanya dia nggak mau ganggu elo yang sedang sibuk. Makanya, dia nggak langsung chat elo," terang Gilang sambil memperlihatkan chat Whatsapp dari Iman. Cinta senyum-senyum sendiri membacanya.


“Sabar, Cinta, Kak Iman lagi OTW, alias Oh Tungguan Weh. Tunggu saja, sebentar lagi pasti nongol. Yakin, deh, Kak Iman nggak bakal kuat menahan rindu. Ingin segera bertemu denganmu," hibur Naya membuat Cinta tersipu malu. "Kak Gilang, ke kantin, yuk, lapar nih." Kali ini Naya berbicara pada Gilang sembari menggamit lengan pacarnya itu. “Cinta, kamu mau nitip sesuatu, nggak?”


“Nggak usah. Udah dikasih konsumsi, kok.” Cinta mengacungkan kotak karton berukuran sedang yang isinya tinggal air mineral kemasan gelas saja dan beberapa bungkus plastik kecil, bekas kudapan asin dan manis.

__ADS_1


“Ya, udah, kita ke kantin dulu, ya.” Naya melambaikan tangan ke arah Cinta, lantas berlalu bersama Gilang meninggalkan Cinta yang kembali menekuri tugasnya.


“Siapa namanya?” tanya Cinta sembari terus menunduk, tak sedikit pun mendongak ke arah murid yang kini berdiri tepat di hadapannya. Tangan Cinta masih sibuk mencatat.


“Fans beratnya Cinta Lintang Larasati.”


Mendengar suara yang tak asing lagi di indera pendengarannya, Cinta langsung mendongak. “Kak Iman? Ke mana aja, sih? Kirain nggak bakal ke sekolah.”


“Kangen ya?” goda Iman, dan berhasil menciptakan semburat merah jambu di pipi putih Cinta. “Catat nama Kakak ya, Iman Dwi Wicaksana, kelas XI, mau ikut lomba baca puisi.”


“Serius, Kak?” Cinta melebarkan pandangannya. Dia tak langsung menulis nama Iman di daftar, khawatir pacarnya itu hanya bercanda.


“Iya, serius.”


“Beneran, Kak?” tanya Cinta untuk lebih meyakinkan kalau Iman sedang tidak bercanda.


Iman menjawab dengan anggukan mantap, sementara Cinta memandang wajah Iman dengan tatapan menyelidik. Melihat kesungguhan yang ditunjukkan oleh raut wajah Iman, akhirnya Cinta mencatat nama Iman di daftar, lalu memberikan nomor peserta dari karton yang dibentuk lingkaran pada Iman. Kini, cowok itu sudah resmi menjadi salah satu peserta lomba membaca puisi.


“Nonton, ya, Cinta. Puisi yang akan Kakak bacakan nanti, itu khusus buat kamu.” Iman mengedipkan sebelah mata sambil mengambil kartu peserta dari tangan Cinta, lantas masuk ke dalam kelas.


***


Tepat pukul 10.00, dimulailah lomba baca puisi. Cinta, Naya, dan Gilang sudah duduk di deretan bangku penonton. Sementara para peserta duduk di deretan sebelah kanan dari bangku penonton. Cinta tampak gelisah, kedua telapak tangannya basah. Cinta tak sabar, menunggu giliran Iman dipanggil ke depan.


“Tenang, Cinta. Iman itu jago bikin puisi akrostik. Gue yakin, dia bakal menang. Puisi buatannya selalu bagus, kok. Nggak tahu, nih, sekarang dia mau baca puisi dalam bahasa apa. Pokoknya, setiap disuruh bikin puisi, Iman memang jagonya, mau Sunda, Indonesia, atau Inggris, dia jabanin."


Cinta membelalakkan mata tak percaya dengan fakta tentang Iman yang baru saja diketahuinya hari ini. Dia tak menyangka, Iman ternyata punya bakat terpendam. “Yang bener, Kak?”


"Iya, dia itu sebenarnya paling suka pelajaran bahasa Indonesia, sih. Nilainya selalu bagus di pelajaran yang satu ini. Malah, dia sering iseng bikin puisi buat Bu Nadia.”


“Oh, ya? Terus, gimana reaksi Bu Nadia?” tanya Cinta antusias.


“Ge-er sekaligus marah. Makanya dia sering dihukum. Gue juga jadi ikutan kena imbasnya. Kompak, dihukum bareng."

__ADS_1


Cinta dan Naya tak mampu menahan tawa mendengar cerita kejahilan Iman. Suruh siapa iseng sama guru? Jadi aja, dapat hukuman.


Akhirnya, tiba giliran Iman dipanggil ke depan kelas. Iman beranjak dari tempat duduknya dan maju ke depan kelas dengan menunjukkan ekspresi yang tenang. Sebelum mulai membaca puisi karyanya, Iman melirik ke arah Cinta sembari melemparkan senyuman termanisnya untuk sang pujaan.


“Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Iman diam sejenak menunggu salamnya dijawab oleh semua yang hadir di kelas ini. “Saya Iman Dwi Wicaksana dari kelas XI. Pada siang hari yang terik ini, sepanas hati yang sedang dibakar api cemburu, saya akan membacakan sebuah puisi akrostik pendek karya saya, yang saya persembahkan untuk seseorang yang juga hadir di sini.” Iman kembali melirik Cinta. Pandangan dua sejoli ini saling beradu, dan keduanya saling melemparkan senyuman terindah. “Jangan dilihat dari panjang pendeknya sebuah karya. Walau pun puisi saya pendek, maknanya tidak sependek isinya. Semoga puisi saya ini bisa mendinginkan situasi yang sedang kegerahan, akibat garangnya cahaya mentari siang ini. Bismillah.”


Our Love


L is for laughter we had along the way


O is for optimism you gave me every day


V is for value of being someone that I adore


E is for eternity. A love that has no end.


(Sumber: https://kincet.com/puisi\-bahasa\-inggris/)


“Terima kasih, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Iman membungkukkan badan ke arah penonton, lalu kembali ke tempat duduknya semula diiringi suara tepuk tangan dari para penonton, peserta, dan juga para juri lomba yang terdiri dari guru bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan juga bahasa daerah. Cinta memandang ke arah Iman sambil tak berhenti senyum-senyum sendiri, terpesona dengan keindahan setiap untaian kata yang dirangkai Iman dalam puisinya.


Pukul 15.00, kegiatan Porseni berakhir. Namun, pengumuman pemenang lomba, baru akan dilaksanakan pada hari Sabtu, sekaligus pembagian raport dan juga penutupan kegiatan Porseni. Iman dan Cinta sudah menyusuri jalan Pajajaran dengan sepeda motor.


“Gimana tadi puisinya? Suka?” teriak Iman berpacu dengan suara deru mesin kendaraan.


“Suka banget, Kak. Puisinya romantis. Cinta yakin, Kakak pasti juaranya.”


“Nggak jadi juara juga nggak apa-apa. Yang penting Cinta suka.”


“Nanti Cinta minta tulisan puisinya, ya.”


“Iya, boleh, sekalian aja difotokopi.”


“Buat apa difotokopi? Jangan dibagi-bagi, ini, ‘kan khusus buat Cinta,” ujar Cinta heran.

__ADS_1


“Kalau nanti hilang, Cinta punya salinannya. Eh, mending dilaminating aja, biar awet,” ralat Iman, kemudian tertawa melihat Cinta cemberut dari balik kaca spion. Tak lama kemudian, Iman tampak meringis menahan sakit akibat cubitan sang pacar yang mendarat di lengannya.


Angin berembus perlahan, menerpa wajah mereka. Udara sore yang sejuk ini, ikut mengiringi dua hati anak remaja yang tengah dilanda rasa bahagia.


__ADS_2