Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
Jealous


__ADS_3

“Cinta, Kakak cariin ke kantin, eh ternyata nyangkut di sini.”


Melihat Cinta menangis Iman mengerem langkahnya, lalu diam terpaku di ambang pintu kelas X. Didera rasa khawatir, bergegas dia menghampiri Cinta.


“Cinta, kamu kenapa nangis? Kamu sakit? Mau Kakak antar pulang?” Iman memberondong Cinta dengan sejumlah pertanyaan sambil memandang iba pada pacarnya yang sedang terisak. “Gilang, Naya, elo berdua ngebully Cinta, ya, sampai nangis begini?” tanya Iman, kali ini bukan ditujukan pada Cinta. Namun, ketiga orang yang Iman ajak bicara tak juga bersuara, membuat Iman semakin bingung dan bertanya-tanya.


“Cinta, Sayang, udah jangan nangis lagi. Kamu masih bawa nasgor telor ceplok, ‘kan? Kita makan bareng di taman belakang sekolah, yuk,” ajak Iman dengan wajah polos dan masih merasa tak bersalah.


Mendengar ucapan Iman, tangis Cinta semakin meledak. Imam mengernyitkan dahi, benar-benar tak mengerti dengan sesuatu yang tengah berkecamuk di hati kekasihnya.


“Cinta udahan, dong, nangisnya. Nanti Kakak beliin permen lolly berbentuk Minion. Itu juga kalau ada, hehehe.” Iman menggaruk kepalanya. Dia benar-benar bingung, sebab Cinta, Naya, dan Gilang kompak tak berbicara sepatah kata pun.


Cinta memandang Iman tajam, membuat nyali cowok itu ciut dan menunduk menatap lurus ke arah lantai kelas. “Cinta, Bilang ke Kakak, siapa yang udah gangguin kamu? Nanti Kakak suruh Pak Baratha kasih surat peringatan, biar kena skorsing.” Iman tetap melontarkan lelucon, biasanya sih, hal ini bisa memancing Cinta untuk menanggapi dan selalu berhasil membuat Cinta tertawa lagi, meskipun cewek itu sedang dalam situasi bad mood tingkat tinggi. Namun, kali ini, dugaan Iman ternyata meleset. Cinta malah semakin memandangnya dengan tatapan tajam. Cinta bangkit dari tempat duduknya dan menatap wajah Iman dengan tatapan sebal.


“Kak Gilang, bawa dia keluar dari sini,” ujar Cinta di sela-sela isak tangisnya. Jari telunjuk Cinta menuding tepat ke wajah Iman.


“Cinta, kenapa? Ada apa ini? Salah Kakak apa?” Iman meraih jemari Cinta, hendak menggenggamnya, tetapi Cinta dengan sigap menepis kasar tangan Iman. “Cinta, jangan pakai emosi, kita bicarakan baik-baik. Kalau Kakak punya salah, bicara Cinta, biar Kakak perbaiki.” Iman memandang Cinta dengan tatapan memelas. Dia menelan saliva melihat sikap Cinta yang terlihat sangat membencinya. Cowok itu benar-benar tak bisa melontarkan gurauan lagi.


“Kak Gilang, bawa dia pergi dari sini!” teriak Cinta, masih dengan tatapan tajam, lebih tajam dari pada pisau dapur yang baru saja diasah.


“Tapi, Cinta, kenapa? Salah Kakak apa? Pulang sekolah, kita ketemuan di taman belakang. Nanti kita bicara dari hati ke hati."


Cinta tak menggubris ucapan Iman. Cewek itu memalingkan pandangan ke arah lain, dengan posisi masih berdiri, dan kedua tangan terkepal, seolah menahan luapan emosi. Naya memberi kode dengan gerakan kepala pada Gilang untuk membawa Iman ke luar dari kelas X. Bagai laptop yang tersambung dengan wifi sekolah, Gilang langsung menangkap sinyal yang Naya tunjukkan. Bergegas Gilang menarik tangan Iman dan membawanya keluar kelas.


“Udah, Man, yuk. Nanti gue jelaskan di kelas.”


“Tapi, salah gue apa, Lang? Gue jadi nggak tenang. Nggak biasanya Cinta bersikap begini sama gue.” Iman menyugar kasar rambutnya. Setelah mereka berdua berada di kelas XI, Iman menghempaskan badannya di bangku. Dia menelungkupkan wajah di antara kedua tangan yang bersedekap di atas meja.


“Man, tadi pas jam istirahat, Cinta ngelihat elo ngobrol berdua sama Chilla. Kayaknya dia cemburu, Man.”


“Gue nggak ngobrol berdua. Di kelas ada beberapa temen kita juga, kok.”


“Man, gue aja yang sahabat elo, ngelihat Chilla sama elo ngobrol akrab begitu, rasanya gemas banget! Kalau aja elo itu kutu rambut, udah gue basmi sampai habis.”


“Elo segitu keselnya lihat gue tadi pas ngobrol?”

__ADS_1


Gilang mengangguk. “Gue aja yang nggak punya perasaan sedikit pun sama elo, reaksinya begini, apalagi cewek elo.”


Iman menghela napas berat. Maafkan, Kakak Cinta. Berkali-kali Iman menggumamkan permintaan maaf pada sang kekasih. Terbayang kembali wajah sedih Cinta yang berurai air mata, membuat Iman semakin merasa bersalah. Dalam hati, Iman bertekad, pulang sekolah, dia harus menjelaskan semuanya pada Cinta agar tak terjadi kesalahpahaman.


“Eh, ngomong-ngomong, elo tadi ngobrol apa aja sama anak baru itu? Gue perhatikan elo berdua asyik bener. Dunia serasa milik berdua, yang lain pindah ke planet Mars.”


“Kepo, elo. Ada deh, RHS, alias rahasia.” Iman tertawa melihat Gilang cemberut. Walau sebenarnya hati dan pikiran Iman sedang sangat amburadul alias kacau, dia berusaha menghibur diri.


“Sombong elo. Mentang-mentang direbutin sama dua cewek cantik. Ada duo C di antara Iman, Cinta dan Chilla. Nggak tahunya Chiko yang ditakdirkan berjodoh sama elo, tahu rasa elo!"


“Ye, julid amat sih elo. Kalau gue jadi sama Chiko, masa jeruk makan jeruk?” Iman tertawa dan tawanya menular pada Gilang, yang seketika saja cemberutnya hilang entah ke mana. “Elo percaya, ‘kan, Lang, kalau gue nggak ada apa-apa sama Chilla?”


“Masa ke gue jelasinnya? Pacar elo itu Cinta, bukan gue. Kalau gue sih percaya aja, tapi sebelum elo jelaskan ke Cinta mah, nggak ngaruh. Tetap aja elo berdua bakal gencatan senjata melulu. Jangan sampai elo lepas dari Cinta, Man. Inget perjuangan elo buat mendapatkan hati dia, nggak mudah, ‘kan? Elo nanti nyesel kalau menyia-nyiakan ketulusan hati Cinta,” terang Gilang panjang lebar, berusaha menasihati Iman, agar sahabatnya itu tak terjerumus ke jalan yang sesat.


“Iya, Man. Gue ngerti. Gue sayang banget sama Cinta. Dia nggak akan pernah tergantikan posisinya di hati gue.”


“Sip, cakep. Gue suka gaya elo.” Gilang mengacungkan kedua jempol tangannya. Tak lama, keduanya melakukan gerakan tos.


Bel tanda istirahat usai, terdengar nyaring. Murid-murid yang memadati kantin sekolah, mulai kembali ke kelas masing-masing. Kalau Iman boleh usul, ingin rasanya bel pulang segera dibunyikan. Tak sabar ingin lekas berjumpa sang pujaan, menghapus tangis sedihnya dan menggantinya dengan tawa bahagia.


Bel tanda pelajaran usai yang dinanti-nanti pun telah dibunyikan dengan panjang. Seluruh murid SMAN 6 berhamburan ke luar dari kelas, bersiap untuk pulang. Ada yang menunggu jemputan di pinggir jalan, ada yang menuju ke parkiran mengambil motor atau mobil mereka, ada pula yang masih duduk-duduk di sekolah. Semua punya tujuan yang sama, pulang ke rumah, makan siang, melepas lapar dan dahaga, juga beristirahat untuk membebaskan rasa lelah karena seharian berkutat dengan pelajaran.


Iman dan Gilang berjalan beriringan menuju ke taman belakang sekolah. Mereka duduk-duduk di bangku taman, sambil menunggu pacar masing-masing. Gilang terlihat sangat santai menunggu Naya keluar dari kelasnya, sementara Iman tampak gelisah.


“Santai aja, Man. Saltingnya elo itu, kayak zaman masih pedekate sama Cinta.” Gilang menepuk-nepuk pundak Iman, berusaha membuat sahabatnya itu merasa sedikit rileks.


“Gue gugup, Lang.”


“Ya, namanya juga elo punya salah, jelas aja gugup.”


“Man ....” Sebuah suara lembut dari arah belakang mereka, membuat keduanya serempak menoleh. Ternyata, suara itu milik Chilla. Murid baru itu berdiri sembari memasang senyum manis. Iman dan Gilang sekilas terpana, tetapi keduanya buru-buru beristighfar dan memandang ke arah lain.


“Iman, nggak lagi buru-buru, ‘kan?” tanya Chilla, masih memasang senyum mautnya.


“Eh, nggak, kok. Iya, ‘kan, Lang?” Iman menutupi kegugupannya dengan terpaksa memandang wajah Gilang yang tak ada cakep-cakepnya di mata Iman. Cowok itu heran, kenapa Naya mau ya, jadi pacarnya Gilang? Mata Naya udah rabun atau kelilipan sesuatu sampai bisa terpesona dengan seorang Gilang? Atau mungkin Naya kena pelet? Iman tertawa sendiri, membuat Gilang mengernyitkan dahi.

__ADS_1


Iman, lihat wajah gue ketawa-ketawa begitu. Memangnya wajah gue selucu pelawak? Atau dia lagi ngeledek gue? Atau dia baru nyadar, punya sobat seganteng Oppa Korea? gumam Gilang dalam hati, berusaha menebak maksud dari tawa Iman.


“Gue boleh ngobrol sebentar, nggak, Man?”


“Maksudnya, ngobrol bertiga?” tanya Iman tak mengerti maksud ucapan Chilla barusan.


“Nggak, sama elo doang, Man. Maaf ya, Gilang, gue pinjam dulu teman elo,” pinta Chilla sambil memasang wajah memohon.


“Oke.” Gilang bangkit dari tempat duduknya. “Sebentar, ya, Chilla. Gue mau ngomong dulu sama Iman.” Gilang menarik tangan Iman, agak menjauh dari Chilla.


“Hati-hati, Man. Ini cewek agresif, lebih bahaya dari virus yang menyerang komputer. Awas, elo, jangan sok kecakepan. Walau poligami itu nggak dilarang, gue yakin, Cinta nggak bakalan mau dimadu.”


“Elo ngomong apa, sih? Memangnya kalau punya pacar, kita harus pilih-pilih teman dan membatasi pergaulan? Nggak, ‘kan? Gue juga tahu batas, kok. Berteman boleh dengan siapa aja, yang penting, hati tetap buat Cinta seorang.”


“Terserah elo, deh. Gue udah ngingetin. Jangan sampai ada salah paham lagi sama Cinta.”


“Iya, nggak bakalan. Habis ini gue jelasin semua ke Cinta. Everything will be fine.”


Gilang memutuskan untuk pamit. Dia melangkah meninggalkan Iman dan Chilla yang tampak mulai terlibat obrolan di bangku taman. Setelah empat puluh lima menit berlalu, Chilla pamit pulang duluan.


Namun, dari kejauhan, tampak Cinta yang hendak menghampiri Iman, mengurungkan langkahnya dan berbalik berjalan menjauh. Hati Cinta sakit, bukannya mendapat penjelasan dari Iman, dia malah kembali melihat Iman duduk berdua dan mengobrol di taman dengan cewek itu. Iman yang menyadari kehadiran Cinta, berlari mengejarnya.


“Cinta! Tunggu! Biar Kakak jelasin dulu!” teriak Iman sambil terus berlari berusaha mengejar Cinta yang berjalan semakin menjauh. Jangankan menanggapi, menoleh ke arah Iman pun, tidak Cinta lakukan. Semakin Iman mengejarnya, Cinta semakin mempercepat langkahnya. Saat langkah Iman hampir mendekati Cinta, sayangnya, sebelum Iman sempat menjelaskan semua kesalahpahaman ini, Cinta keburu masuk ke dalam mobil Pak Baratha.


“Sial!” Iman mengacak-agak rambutnya frustrasi. Cinta, maafkan Kakak. Tolong, kasih Kakak kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Rasa takut seketika menyergap. Iman khawatir, Cinta akan memutuskan hubungan dengannya.


“Kunaon, Jang? Meuni lari-lari? Lagi latihan marathon, ya? Jangan di pinggir jalan begini. Tuh di sana di Gor Pajajaran.” Seorang pengemis berusia kira-kira lima puluh tahunan yang berada di pinggir trotoar, menyapa Iman yang sedang berjalan tak tentu arah.


Iman yang suasana hatinya tengah kacau, memilih untuk tidak menanggapi. Sebelum berlalu, dia merogoh saku celana seragamnya dan mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu. Iman memberikan uang itu pada sang pengemis.


“Nggak ada kembaliannya, Jang.”


“Ambil aja semua, Pak.”


“Alhamdulillah, hatur nuhun, Jang. Mudah-mudahan perempuan yang sedang kamu incar, bisa segera membuka hatinya.”

__ADS_1


Iman tersenyum kecil dan mengangguk ke arah sang pengemis. Mungkin bapak ini dari tadi memperhatikan gerak-gerik Iman, sampai bisa berkomentar demikian. Iman melangkah gontai kembali ke parkiran sekolah. Tak lama berselang, dia meluncur dengan N Max kesayangan, membelah jalan Pajajaran dengan perasaan hampa. Tak ada canda tawa, tak ada gurauan, tak ada suara lembut Cinta. Sepi, sunyi, walau di tengah keramaian dan kemacetan.


__ADS_2