Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
A Mischievous Iman


__ADS_3

“Alhamdulillah, tumben putra bungsu Bunda pukul segini sudah bangun.” Kedua netra Bu Lastri berbinar indah melihat Iman yang sudah berdandan rapi. Padahal masih pukul 06.00 lho. Biasanya sang Bunda harus kerja ekstra membangunkan Iman dan pukul setengah tujuh anak itu baru benar-benar bisa membuka matanya.


Iman nyengir sembari garuk-garuk kepala, lantas ia menghempaskan diri di salah satu kursi meja makan. Bunda menyendok nasi goreng ke sebuah piring lebar, lalu menyodorkannya pada putra bungsunya itu. Tak berapa lama, cowok itu sudah mulai mengunyah sarapannya.


“Kak, berangkat bareng gue aja ya,” ujar Iman di sela-sela gerakan mengunyahnya.


“Tumben mau berangkat bareng. Pasti ada sesuatu yang mau dibicarakan ya?” Ikhsan menghentikan sarapannya lantas menatap sang adik dengan pandangan menyelidik.


“Eh, iya, Kak. Hampir aja gue lupa.” Iman membuka ritsleting tas gendongnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas itu kemudian mengulurkannya pada sang kakak yang duduk di depannya. “Ini dari Abel buat Kakak.”


“Wah, apa itu? Siapa Abel? Pacarmu, San? Bunda jadi kepo nih.” Sang Bunda mengamati wadah berbentuk hati berukuran sedang yang Ikhsan taruh begitu saja di atas meja makan.


“Dari salah satu penggemarnya Kakak, Bund. Dia di sekolah terkenal, banyak fansnya tuh, Bund.”


Ikhsan tersedak mendengar jawaban dari Iman. Cowok tampan itu meneguk air putih, sementara Bunda yang duduk di samping Ikhsan, berkali-kali menepuk lembut punggung putra pertamanya itu.


“Keren banget putra Bunda, banyak yang mengidolakan. Ngomong-ngomong, salah satunya ada yang jadi pacar kamu?”


“Nggak lah, Bund. Ikhsan mau serius belajar dulu. Maunya nanti ketemu jodoh langsung nikah aja.”


Sang Bunda memandang takjub pada putra pertamanya itu. Dia bangga dengan pola pikir Ikhsan. “Nah, kalau love story nya putra bungsu Bunda seperti apa nih? Kalau bisa sih kayak kakakmu ini, sekolah dulu yang benar. Toh, jodoh itu Allah sudah mengaturnya.”


“Iman mah nggak sepopuler Kakak, Bund.” Iman memasukkan suapan terakhirnya ke dalam mulut, lantas meneguk air putihnya. “Cabut yuk, Kak.”


Ikhsan dan Iman bangkit dari tempat duduk mereka, lalu pamit menuju ke sekolah serta bergantian mencium takzim punggung tangan sang Bunda.


“Itu bingkisannya nggak dibawa, San?”


“Buat Bunda aja.” Ikhsan tersenyum lembut ke arah Bunda dan sekali lagi berpamitan.


Tidak berapa lama, keduanya berboncengan, meluncur dengan N Max nya Iman membelah jalan Holis yang masih agak lengang menuju ke jalan Pajajaran. Sementara itu, pandangan mata sang Bunda masih menatap lekat kedua putranya hingga semakin menjauh dan menghilang di ujung gang. Untaian doa terbaik, ia panjatkan untuk keduanya.


“Kak, elo kan kemarin jadi salah satu panitia MOPDB ya?” teriak Iman di antara suara deru motor yang dikendarainya.


“Iya, memangnya kenapa?”


“Nggak apa-apa sih. Hanya ..., gue ..., mau tanya tentang salah satu murid kelas X.”


“Gebetan elo?” selidik sang Kakak yang dijawab Iman dengan sebuah anggukan.


“Man ..., Man. Kalau elo mau tanya informasi tentang yang begituan, maaf gue nggak bisa bantu. Sebagai seorang kakak, gue nggak setuju kalau elo pacaran. Banyak mudharatnya, Man. Ingat, Man, jangan elo sebar nomor kontak gue ke cewek-cewek itu ya.”


“Kak, santuy sedikit kenapa? Mumpung umur kita masih muda, nikmati aja, Kak.”

__ADS_1


“Justru itu, selagi masih muda, isi dengan hal-hal yang bermanfaat, Man. Makanya, loe masuk DRI biar elo paham.”


“Idih, ogah. Gue bisa tua sebelum waktunya masuk ekskul itu.” Iman bergidik sembari membayangkan dandanan beberapa murid yang masuk ekskul itu. Terlihat alim, kalem, nggak neko-neko, tampangnya selalu serius, berbicara seperlunya, bergaul seperlunya terutama dengan lawan jenis, dan tampak lebih tua dari usia mereka. Membosankan. “Kalau di SMAN 6 ada ekskul band, baru gue ikutan.”


“Sayang, Man, ikutan yang begituan. Mendingan suara bagus elo dipakai buat ngaji.”


“Tiap abis salat juga gue suka kok ngaji. Walau satu ayat dua ayat sih.”


Ikhsan menghela napas. Sungguh sulit menyentuh hati Iman dan membawanya hijrah ke arah yang lebih baik. Padahal, ia sudah berhasil membawa sejumlah murid SMAN 6 untuk mengenal Islam lebih dekat, terbukti mereka merasa lebih damai. Ikhsan berharap hidayah itu akan segera menghampiri sang adik, sebelum dia lulus dari sekolah ini.


***


Bu Nadia, guru bahasa Indonesia, tengah menjelaskan tentang prosedur teks di kelas XI. Semua murid menyimak dengan saksama penjelasan dari guru muda berparas cantik itu. Sesekali tangan mereka mencatat hal yang dianggap penting di buku masing-masing. Beberapa menit kemudian, mata mereka fokus ke tayangan slide-slide serta contoh video tentang teks prosedur yang ditayangkan melalui infokus.


“Man, udah hampir seminggu nih sekolah berjalan. Tapi, kita belum juga berhasil deketin gebetan. Tahu namanya aja nggak.” Gilang berbicara setengah berbisik ke telinga Iman yang duduk sebangku dengannya.


Iman menyugar rambutnya. Raut wajahnya tampak serius. Bukan sedang menyimak pelajaran, melainkan berpikir keras mencari jurus jitu pedekate pada pujaan hati. “Gue juga lagi mikir cara yang tepat, Lang. Tapi, tiap bayangan wajah kecenya muncul, otak gue jadi buntu.”


“Bukannya tiap hari otak elo buntu? Nggak pernah diasah tuh, jadinya tumpul.” Gilang tertawa kecil melihat sang sobat mengerucutkan bibirnya. “Memangnya kakak elo nggak ngasih info seputar murid baru? Dia kan panitia MOPDB.”


Iman menggeleng lemah. “Dia nggak setuju gue pacaran.”


“Kakak loe nggak asyik ya.”


“Siip, cakep.” Duo sahabat itu terhanyut dalam percakapan itu, hingga tak menyadari mereka sedang berada di dalam kelas, di tengah-tengah proses kegiatan belajar mengajar. Tak sadar juga, mereka melakukan tos yang suaranya cukup keras. Kini, Bu Nadia dan berpuluh-puluh pasang mata teman sekelas mereka memandang tajam ke arah keduanya.


“Iman, Gilang, sedang berdiskusi apa kalian? Sini ke depan!” Bu Nadia memasang wajah masam. Kedua matanya mendelik ke arah duo sahabat itu. Iman dan Gilang sikut-sikutan. Lalu, keduanya tertunduk, malu.


“Iman, Gilang, ayo ke depan!” Kembali Bu Nadia memerintah mereka.


Dua sahabat itu melangkah gontai ke depan kelas. Pandangan mereka tertunduk ke bawah lantai kelas.


“Nah, coba kalian sebutkan apa saja struktur teks prosedur?” tanya Bu Nadia setelah keduanya berada di depan kelas.


Kembali Iman dan Gilang saling sikut.


“Ayo jawab!” Bentakan Bu Nadia membuat mereka tersentak. Namun, bukan Iman namanya kalau tidak bisa membuat guru muda itu salah tingkah.


“Duh, Bu jangan galak-galak dong, nanti cantiknya hilang.” Iman tersenyum kecil melihat Bu Nadia tersipu. “Saya coba jawab ya Bu. Yang namanya teks itu terdiri dari kalimat-kalimat, dan disusun menjadi paragraf-paragraf yang saling nyambung. Jadi, kemungkinan struktur teks prosedur juga terdiri dari beberapa paragraf. Bisa dua atau tiga paragraf, Bu.” Iman menjelaskan panjang lebar sembari tersenyum bangga, karena yakin jawabannya pasti benar. Sementara itu, teman-teman sekelasnya tampak menertawakan dia, membuat cowok itu heran. Memang ada yang salah gitu jawaban gue? Cowok bertampang ala boyband Korea itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Bu Nadia geleng-geleng kepala. Ia mengusap wajah cantiknya dengan sebelah tangan. Pandangannya beralih ke arah Gilang. “Coba kamu, Gilang. Jawaban kamu apa?”


“Hehehe, idem Bu.”

__ADS_1


“Kalian memang sahabat sejati ya. Semua hal dilakukan bersama. Tidak menyimak pelajaran kompak, menjawab pertanyaan juga kompak. Untuk menghargai kekompakan kalian, Ibu akan kasih kalian hadiah.”


“Asyik, apa itu Bu?” Imam berusaha menghibur diri, walau sebenarnya dia tahu, hadiah yang Bu Nadia maksudkan adalah sebuah hukuman untuk dia dan Gilang.


“Kalau salah satu dari kalian bisa membuat puisi, maka kalian berdua Ibu bebaskan dari hukuman. Sebaliknya, kalau tidak ada yang berhasil, maka siap-siap ke wc murid, bersihkan sampai kinclong.”


“Duh, Man gimana dong? Gue nggak sanggup kalau disuruh bikin puisi,” keluh Gilang dengan nada memelas. Gilang merasa mual membayangkan bau tujuh rupa yang berasal dari wc murid.


“Udah, elo tenang aja,” bisik Iman di telinga sahabatnya. Seketika terlintas sebuah ide dalam benak Iman, saat melihat wajah Bu Nadia. “Bu, boleh minta kertas selembar, buat bikin konsep puisinya?”


Bu Nadia menyobek bagian tengah buku tulis dan memberikan secarik kertas itu kepada Iman. Tidak berapa lama, Iman mulai menulis sesuatu.


“Bu, ini puisinya sudah selesai.” Iman menyerahkan kertas berisi tulisan tangannya. Kemudian tampak guru muda itu membacanya dengan serius.


“Gimana Bu? Puisi saya bagus? Mau dibacakan juga Bu?”


Wajah Bu Nadia tampak merah padam. Ia tak habis pikir, dari mana Iman belajar puisi akrostik, sebab memang tak ada materinya dalam buku pelajaran. Bel tanda istirahat berbunyi, bersamaan dengan pikiran guru cantik itu yang berkelindan tak bertemu jawabnya.


“Materinya kita lanjutkan minggu depan. Sekarang kalian boleh istirahat.” Murid-murid kelas XI itu mulai berhamburan ke luar kelas. Diiringi tatapan Iman dan Gilang yang masih setia berdiri menanti kepastian dari Bu Nadia.


“Kalian berdua istirahatnya di wc ya,” ucap Bu Nadia tenang seraya menyunggingkan senyuman termanisnya.


“Lho kok di wc, Bu?” tanya Gilang heran yang dijawab dengan anggukan dari guru cantik itu kemudian bergegas melangkah menuju ruang guru, meninggalkan sejumlah tanya dalam benak cowok berambut belah tengah itu.


“Man, elo memangnya bikin puisi apa sih?”


“Gue lupa. Udah lah terima aja hadiahnya dengan ikhlas. Yuk.” Iman menggamit lengan Gilang mengajak sahabatnya itu menuju ke wc.


“Iya, tapi, apa yang salah dari puisi buatan elo?”


“Kan gue udah bilang lupa isinya apa? Gue cuma nulis aja yang terlintas di pikiran gue. Udah lah, nggak istirahat sekali-kali aja nggak apa-apa, ‘kan? Malah untung, duit jajannya bisa ditabung.” Iman berusaha menghibur Gilang dan dirinya. Sebab, dia pun tak tahu di mana letak kesalahan dirinya.


Puisi Hukuman Dari Bu Nadia


Namanya begitu indah kudengar


Anggun paras cantiknya


Dan sampai akhirnya ku bertemu dengannya


Indahnya memang begitu terasa


Andaikan ku bisa selalu bersamanya

__ADS_1


Made by Iman


__ADS_2