
6 Januari 2020, awal masuk sekolah, setelah para murid SMAN 6 melewati masa liburan selama kurang lebih tiga minggu lamanya. Hari ini mereka berkumpul kembali dengan membawa semangat baru untuk menghadapi semester dua. Seluruh murid dari kelas X hingga kelas XII, kepala sekolah, guru-guru, dan para staf sekolah melaksanakan upacara bendera dengan khidmat. Mereka saat ini, tengah khusyuk menyimak amanat dari Pak Baratha, selaku pembina upacara pada hari Senin ini.
“Anak-anak yang Bapak banggakan, Bapak berharap pada semester dua ini, kalian lebih giat lagi belajar, perbaiki hal-hal yang kurang di semester sebelumnya, sehingga kalian bisa mencapai hasil yang meningkat dan lebih baik dari semester kemarin. Terutama untuk kelas XII, persiapkan diri kalian sebaik-baiknya untuk menghadapi ujian. Sekian amanat dari Bapak, wassalamu alaikum warahmatulahi wabarakatuh.”
Seluruh peserta upacara serempak menjawab salam Pak Baratha setelah kepala sekolah itu mengakhiri amanatnya. Kemudian terdengar suara nyaring komando dari pemimpin upacara yang memberi aba-aba pada semua peserta upacara untuk kembali pada sikap sempurna, setelah mereka melakukan sikap istirahat di tempat selama penyampaian amanat berlangsung. Upacara dilanjutkan dengan pembacaan doa. Semua peserta sejenak menundukkan kepala seraya memanjatkan doa dalam hati masing-masing dengan khusyuk mengikuti lantunan doa yang dibacakan petugas pembaca doa pada upacara hari ini. Usai pembacaan doa, upacara menginjak pada bagian paduan suara menyanyikan lagu wajib nasional. Kali ini, paduan suara yang dipimpin oleh seorang dirigen, bersama-sama menyanyikan lagu Hallo-Hallo Bandung. Setelah seluruh rangkaian kegiatan upacara dilalui, pemimpin upacara memberi aba-aba kepada para peserta upacara untuk balik kanan dan membubarkan barisan. Seketika itu juga, semua murid membubarkan diri dan masuk ke kelas masing-masing.
“Lang, malah bengong. Yuk, masuk.” Iman menepuk pundak Gilang yang sedang termenung di ambang pintu kelas sambil menatap lurus ke arah koridor sekolah.
“Gue, kok, masih nggak rela putus dari Naya.” Gilang menghela napas berat, sembari pandangannya terus terpaku pada Naya yang sedang berjalan berdua dengan Cinta di koridor menuju ke kelas X.
Iman mengalihkan pandangan ke arah Gilang memusatkan perhatiannya. Seketika saja, dadanya berdesir melihat Cinta, mantan pujaannya yang sedang berjalan anggun sambil sesekali melemparkan senyuman manis pada murid-murid yang menyapanya di sepanjang koridor itu. Iman beristigfar seraya memalingkan wajahnya ke arah Gilang.
“Sabar, Lang. Awal-awal memang sulit untuk ikhlas. Tapi, lama-lama elo juga akan terbiasa. Ayo masuk.” Iman menarik tangan Gilang mengajaknya ke dalam kelas.
“Elo aja duluan. Gue masih ingin menatap dia lebih lama.”
“Ya, udah, terserah. Paling elo dapat sapaan dari Bu Lita. Gue duluan, ya.” Iman ngacir, masuk ke dalam kelasnya, meninggalkan Gilang yang pandangannya masih terpaku ke koridor sekolah. Padahal, Naya sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.
“Gilang, ngapain kamu pagi-pagi begini melamun? Kamu masih menyesali nilai-nilai raportmu di semester satu kemarin?”
“Eh, Ibu .... Nggak, kok, Bu.” Gilang tersentak sekaligus gelagapan karena tak menyadari kehadiran Bu Lita. Tiba-tiba saja guru matematika itu sudah berdiri di hadapannya. Gilang lantas mencium punggung tangan Bu Lita.
“Terus kenapa kamu masih betah nongkrong di luar? Kamu lagi nunggu siapa?” tanya Bu Lita dengan tatapan menyelidik.
Gilang diam sejenak, memutar otak untuk menemukan jawaban yang tepat dan masuk akal, agar tidak kena teguran Bu Lita. Sebuah ide tiba-tiba saja terlintas di benaknya saat melihat buku paket matematika dan tas yang dipegang oleh guru matematika itu.
“Saya .... Saya memang nungguin Ibu, kok,” ujar Gilang sambil senyum-senyum. Dia berusaha terlihat tenang, padahal di dalam hatinya berdebar tak karuan, takut salah bicara dan bertindak Bisa-bisa di hari pertama masuk sekolah, hati Gilang yang tengah mellow itu, akan semakin pilu oleh karena mendapat hukuman.
“Lho, memangnya kenapa kamu nungguin Ibu? Mau minta remedial? Ibu, kan belum mengadakan ulangan. Kamu rajin amat udah minta remedial.” Bu Lita mengernyitkan dahinya, dan memandang heran ke wajah Gilang.
“Wah, Bu. Saya bisa pingsan dikasih soal pas awal masuk begini. Belum juga pemanasan.”
“Nggak usah banyak basa-basi, to the point aja tujuan kamu nunggu Ibu itu apa?”
“Saya mau bantuin Ibu bawain tas sama buku ini ke dalam. Biar tangan Ibu nggak pegal.” Gilang mengambil tas dan buku paket dari tangan Bu Lita.
“Tumben kamu rajin? Biasanya disuruh piket di kelas aja susah. Kamu kesambet apa?” tanya Bu Lita sambil geleng-geleng kepala. Kemudian, guru matematika yang sudah senior itu masuk ke dalam kelas diikuti oleh Gilang yang tampak kewalahan membawa tas sekaligus buku paket matematika milik Bu Lita.
Buset, ini tas isinya apa aja ya? Berat begini kayak lagi nahan rindu? gumam Gilang sembari berusaha menjaga keseimbangan supaya tas dan buku itu tak jatuh ke lantai.
__ADS_1
Setelah Gilang menaruh dua benda itu di atas meja guru, dia melangkah menuju ke bangkunya diiringi suara aba-aba dari ketua kelas, memberi komando kepada semua murid kelas XI untuk berdoa. Mereka menundukkan kepala dan khusyuk berdoa. Tak lama kemudian, usai berdoa, terdengar suara para murid itu serempak mengucapkan salam kepada Bu Lita yang berdiri di depan kelas, bersiap untuk memberikan materi pada murid-murid kebanggaannya.
***
“Man, elo jadi ngajak gue, Cinta, sama Naya daftar ekskul DRI?” tanya Gilang setengah berteriak, di antara keramaian suara kantin.
“Jadi, dong. Habis ini kita ke sekretariatnya aja,” jawab Iman, lalu memasukkan sepotong batagor ke dalam mulutnya. “Cinta, Naya, kalian mau, ‘kan masuk ekskul DRI?”
“Boleh, deh, Kak. Naya ikut aja.”
“Mau banget, Kak.” Cinta menjawab dengan sangat antusias, membuat Iman berhenti mengunyah makanannya, lantas menatap tajam ke arah Cinta.
“Cinta, jawabnya semangat banget. Apa karena ada Kak Ikhsan?” tanya Iman dengan nada menyelidik.
“Katanya udah nggak pacaran. Tapi, gue mencium bau-bau aroma kecemburuan, nih.” Gilang meledek Iman, membuat Naya tak mampu menahan tawa.
“Apaan, sih, elo, Lang? Ngaco, deh!” Iman melebarkan pandangannya ke arah Gilang.
“Jujur aja, Man. Nggak usah ditutup-tutupi.”
“Nggak, kok Cinta. Kakak cuma nanya doang. Nggak ada unsur jealous,” elak Iman. Gilang mencibir mendengar perkataan Iman yang terasa penuh dusta itu.
“Cinta nggak maksud begitu, kok, Kak Iman. Cinta masuk DRI itu, benar-benar ingin menjalani kehidupan remaja yang lebih Islami. Nggak ada maksud lain.” Cinta mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, membentuk huruf V.
“Tenang, Man. Kakak elo sebentar lagi juga lulus dari sekolah ini. Jadi, walau Cinta masuk DRI, peluang bertemu antara dia sama Kakak elo itu, akan lebih sedikit. So, don’t envy.” Gilang yang duduk di sebelah Iman berbisik tepat di telinga sahabatnya itu. Gilang tertawa-tawa melihat Iman memelotot kepadanya.
Usai makan di kantin, mereka berempat menemui Ikhsan di sekretariat ekskul Dinamika Remaja Islam yang terletak di depan ruang OSIS.
“Kak, kita berempat mau ikut ekskul DRI,” ucap Iman mantap yang langsung diamini oleh Cinta, Gilang, dan juga Naya.
Ikhsan mendongak menatap wajah Iman, menyelidiki kesungguhan ucapan adiknya itu.
“Waalaikum salam. Kok gue dengar ada empat orang yang masuk, tapi nggak ada satu pun yang mengucapkan salam?”
Mereka berempat tersipu malu mendengar ucapan Ikhsan yang to the point itu.
“Eh, iya, Kak. Maaf, gue lupa. Assalamu alaikum.” Iman cengengesan.
“Waalaikum salam. Setelah resmi menjadi anggota DRI, kalian harus terbiasa mengucapkan dan menjawab salam.”
__ADS_1
Mereka berempat serempak menjawab perkataan Ikhsan dengan menganggukkan kepala dan mengucapkan kata “iya.”
“Alhamdulillah, gue ikut senang, anggota DRI bertambah lagi. Tapi, ingat, walau kalian ini satu ekskul, jangan dijadikan kesempatan untuk pacaran, ya.”
“Beres, Kak. Kita ini udah bukan pasangan kekasih lagi, kok. Justru tujuan kita masuk ekskul ini, ingin mengenal Islam lebih dekat. Ya, nggak teman-teman?” tanya Iman yang dijawab anggukan mantap dari Cinta, Gilang, dan juga Naya.
“Alhamdulillah, gue ikut senang mendengarnya. Kalian isi dulu formulirnya. Setelah diisi, simpan saja di atas meja ini.” Ikhsan menyodorkan empat lembar formulir isian pada Iman. “Dan kebetulan, setelah usai jam pelajaran, DRI akan mengadakan kajian di mesjid sekolah. Kalian ikut, ya,” ajak Ikhsan sambil berlalu dari hadapan mereka, keluar dari ruang sekretariat.
Sepeninggal Ikhsan, Iman membagikan lembaran formulir isian itu kepada ketiga temannya. Lalu, mereka berempat terlihat mulai sibuk mengisi. “Jangan nyontek, elo, Lang. Kebiasaan, ih.” Iman menutup lembar isian miliknya dengan kedua tangannya saat melihat Gilang melirik formulir isian milik Iman.
“Hei, Man, walau kita sahabat sejati, tapi, dalam hal mengisi biodata, kita punya jawaban masing-masing. Yang pasti jawaban gue lebih bagus dari elo,” timpal Gilang tak mau kalah.
“Sembarangan, jawaban gue selalu lebih elegan dari elo, Lang. Buktinya, nilai raport gue lebih bagus dari elo.”
“Halah, nilai rata-ratanya cuma beda nol koma satu doang, elo bangga,” cibir Gilang, yang dibalas Iman dengan menoyor kepala sahabatnya itu.
“Tapi, pelajaran yang diremedial itu lebih banyak elo dari pada gue, Lang. Akui saja, elo itu kalah, di bawah gue.”
“Terserah, deh. Biar Allah yang menilai, Man. Gue mah serahkan saja pada yang di atas.”
“Siapa yang di atas? Cicak?”
“Udah, Man. Gue menanggapi elo terus, sampai adzan Maghrib juga, nggak bakal kelar-kelar ngisinya.” Gilang berdecak kesal.
Iman tertawa puas melihat Gilang tak bisa membalas ejekannya. Sementara, Cinta dan Naya hanya senyum-senyum sembari menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan tingkah dua cowok yang ngakunya bersahabat, tapi setiap detik selalu saling meledek. Setelah mengisi formulir, dan menaruhnya di atas meja, mereka berempat meninggalkan ruang sekretariat itu menuju ke kelas masing-masing, karena bel tanda waktu istirahat usai, telah dibunyikan.
Tepat pukul 13.00, Iman, Cinta, Gilang, dan juga Naya, bergabung dengan para anggota ekskul DRI lainnya dan berkumpul di dalam mesjid. Sebelumnya, mereka berempat, terlebih dahulu melaksanakan salat Dzuhur berjamaah. Ikhsan merasa sangat bahagia dan berkali-kali mengucap syukur, karena harapannya untuk membawa sang adik mengenal lebih dalam tentang Islam sebelum lulus sekolah, akhirnya terwujud. Iman dan juga soulmate nya yaitu Gilang, sudah resmi masuk ke dalam ekskul DRI. Di dalam mesjid, mereka berdua bersama para anggota DRI putra, tampak sedang serius menyimak kajian. Di sudut lain, di antara para anggota DRI putri, tampak mantan pacar dua sahabat karib itu, Cinta dan Naya, tengah khusyuk menyimak kajian juga.
Usai kajian, bergegas Iman melangkahkan kaki menuju pelataran parkir. Setelah berada di dekat N Max nya, Iman mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru pelataran parkir itu. Netra Iman terpaku pada Cinta yang sedang berjalan sendirian mendekati parkiran itu. Buru-buru Iman menghampiri Cinta.
“Cinta, pulang bareng yuk,” ajak Iman setelah dia berdiri tepat di hadapan Cinta.
“Nggak usah, Kak. Cinta pulang bareng Papa aja.”
“Kamu nggak marah juga nggak sedih, ‘kan karena kita putus?” Iman menatap lekat wajah cantik Cinta, berusaha menebak apa yang sedang berkecamuk dalam benak cewek itu.
Cinta menggeleng sambil tersenyum tipis. “Cinta nggak marah juga nggak sedih, Kak. Kajian tadi, telah membuka pikiran Cinta dan Cinta semakin paham tujuan Bundanya Kak Iman menyarankan kita untuk mengakhiri hubungan.” Cinta diam sejenak untuk mengambil napas, lalu melanjutkan bicaranya. “Justru Cinta berterima kasih pada Bunda karena telah memperingatkan Cinta agar tak terjerumus pada hal-hal yang tidak disukai Allah. Cinta akan tetap menunggu Kakak menjadikan Cinta pasangan halal Kak Iman.” Cinta mengelus-elus cincin pemberian Iman.
“Terima kasih, Cinta.” Iman takjub dengan ucapan Cinta barusan. Dalam hati, Iman merasa lega sekaligus bersyukur, sebab kini dia tahu, Cinta telah ikhlas dan menerima keputusan ini.
__ADS_1
“Iya, Kak. Cinta duluan, ya.” Cinta melangkah meninggalkan Iman yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
Sebelum melangkah meninggalkan pelataran parkir, mata Iman masih sempat menangkap Cinta yang terlihat sudah masuk ke mobil Pak Baratha. Kemudian, mobil yang dikendarai kepala sekolah itu, perlahan melaju meninggalkan pelataran parkir. Mata Iman masih tertuju pada mobil itu, hingga menghilang dari pandangan. Iman kembali berjalan ke arah motornya diparkir, lantas melajukan motornya meninggalkan SMAN 6 dengan hati yang riang, sebab sirna sudah hal yang mengganjal di pikirannya.