Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
Something Simple But Special for Him


__ADS_3

Motor Iman berhenti tepat di sebuah rumah sederhana berpagar cat warna cokelat. Walau pun sederhana, tetapi rumah Iman tampak asri, karena halamannya ditanami berbagai jenis bunga-bungaan dan tanaman hias di dalam pot. Cinta tak berani turun dari motor, pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong.


“Cinta, udah sampai nih, nggak turun?” tanya Iman heran.


Cinta menggelengkan kepalanya, berulang kali cewek cantik itu menghela napas berat. “Cinta pulang aja, deh, Kak.”


Iman tertawa pelan. “Turun, Sayang. Kakak mau turun dari motornya, nanti kamu jatuh.”


Cinta menuruti perintah Iman. Setelah mereka berdua turun, Iman membantu Cinta melepaskan helmnya.


“Jangan, Kak!” cegah Cinta seraya memegangi helmnya sambil menatap Iman dengan tatapan memelas.


“Masa helmnya nggak dibuka? Masuk ke ATM aja helmnya harus dibuka.” Iman mengurungkan niatnya membantu melepas helm dari atas kepala Cinta.


“Cinta deg-degan, banget, Kak. Gugup, nih,” lirih Cinta dengan suara yang gemetar dan bertambah berat.


“Gugup sih, gugup. Tapi, nggak harus pakai helm juga, kali. Kepala kamu nanti pusing, lho.”


Cinta melepas helm yang bertengger di atas kepalanya, lantas menaruh helm itu di teras rumah Iman.


“Kak, Cinta takut.”


“Santai, Cinta. Bundanya Kakak orangnya welcome, kok.”


“Beneran?”


“Iya, Cinta Lintang Larasati, Sayang. Yuk, masuk.”


Cinta mengangguk pelan. Langkah kakinya sungguh terasa berat untuk memasuki rumah itu. Cewek cantik itu mendesah pasrah, kepalanya tertunduk. Dia berusaha mengumpulkan segenap keberanian. Entah mengapa, ia menjadi sangat takut bertemu Bundanya Iman. Betapa tidak, perasaannya tak enak mengingat sikap Papanya waktu itu terhadap Bunda Iman. Cinta hanya takut, karena ulah sang Papa, Bunda Iman malah akan membencinya.


Iman tersenyum kecil, memahami kecemasan yang tengah melanda pacarnya. Iman berjalan mendekat, memegangi kedua bahu Cinta.


“Cinta,” panggil Iman lembut, lantas membuka pintu rumah dengan sebelah tangan, sementara tangan yang lainnya masih memegangi bahu Cinta. “Yuk, masuk.”


Cinta mengangguk pasrah dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa Bunda Iman pasti akan menyukainya. Saat memasuki ruang tengah, indera penciuman Cinta menghidu aroma lavender pengharum ruangan, membuat perasaan Cinta sedikit lebih tenang.


“Assalamu alaikum, Bund. Ada yang nagih arisan, nih!” teriak Iman setelah melepas sepatunya.


“Waalaikum salam, kok, ditagih lagi? Bunda udah bayar, kok, kemarin,” jawab Bunda sambil bergegas menuju ke ruang tengah. “Eh, ada tamu rupanya. Iman, cantik begini dibilang tukang tagih arisan.”


“Assalamu alaikum, Bunda, apa kabar?” Cinta menghampiri Bunda, lalu mencium takzim punggung tangannya.


“Waalaikum salam, alhamdulillah, baik, cantik. Bunda senang bisa bertemu lagi sama Cinta,” ujar Bu Lastri sambil mengelus lembut punggung Cinta.


“Cinta juga senang, Bunda.”


“Yuk, temani Bunda makan. Kebetulan Bunda masak ayam kecap.” Bu Lastri menuntun Cinta ke meja makan.


“Iman nggak diajak, nih, Bund? Mau dituntun juga, dong. Iman lemas, lagi diserang lapar.”


“Kamu mau disuapin memangnya? Udah punya pacar masih juga manja. Bisa jalan sendiri, ‘kan?”


Cinta tersenyum kecil, kapan lagi coba melihat sang pacar menderita? Iman beranjak dari sofa bergabung dengan Bunda dan Cinta yang sudah lebih dulu berada di meja makan.


“Ayo, makannya tambah lagi Cinta.”


“Makasih, Bund, segini juga udah cukup, kok.”


“Dia takut gemuk Bund, makanya makannya sedikit,” ledek Iman yang ditanggapi Cinta dengan tatapan tajam.


“Walau nanti jadi gemuk, kecantikan Cinta yang alami ini nggak bakalan pudar, Man.”


Cinta tersipu malu sekaligus bahagia mendengar pembelaan dari Bunda. Rasa takut yang tadi sempat menyelimutinya, seketika saja sirna oleh sambutan hangat dari Bundanya Iman.


“Gimana masakan Bunda, Cinta?”


“Enak banget, Bund. Ini makanan kesukaan Kak Iman, ya?”


“Iya, dia suka banget ayam kecap. Tapi meski pun Bunda masak macam-macam, dia tetap, tuh, nggak bisa move on dari menu praktis favoritnya.”


“Apa itu, Bund?” Cinta terlihat sangat antusias untuk mengetahui makanan kesukaan Iman.


“Nasi goreng telor ceplok. Dikasih makanan itu, dia pasti makannya lahap dan nggak bakalan menolak.”


Cinta manggut-manggut. Ternyata makanan kesukaan Iman cukup praktis, mudah dibuat, dan sederhana. Nggak neko-neko.


“Kalau kamu sama Iman ditakdirkan berjodoh, jangan kaget ya, Iman itu suka susah dibangunin pagi. Cinta siram aja pakai air dingin.”


Cinta tertawa. Dia sebenarnya sudah tidak heran mendengar cerita Bunda tentang Iman yang demikian, sebab Iman sering datang terlambat ke sekolah. Apa lagi yang menjadi penyebabnya kalau bukan bangun kesiangan.


“Bunda, pakai disiram air segala, memangnya Iman kucing yang mau mencuri ikan asin.”

__ADS_1


“Masih mending kucing, dari pada kamu, selalu saja keduluan ayam jantan bangun tidurnya.”


Cinta tertawa puas melihat Iman mati kutu di hadapan Bundanya. Kapan lagi coba, melihat sisi lain Iman yang di sekolah selalu jago ngeles, di rumah sendiri ternyata malah tak berkutik.


Selesai makan dan mengobrol santai, Cinta pamit pulang. Sepanjang perjalanan, bibir Cinta tak henti-hentinya tersenyum. Dia merasa sangat bahagia, karena ketakutannya tak terbukti. Bundanya Iman ternyata menerimanya dengan tangan terbuka.


“Cinta, terbukti, ‘kan, Bunda suka sama kamu?”


‘Iya, Kak. Sampai-sampai Cinta lupa meminta maaf atas perbuatan Papa sama Bundanya Kakak.”


“Udah nggak usah dibahas. Bunda udah melupakannya, kok.”


“Kak, dari tadi Cinta di rumah Kakak, kok nggak lihat Kak Ikhsan?”


“Kenapa, kangen? Masih belum bisa move on dari perasaan ngefans sama dia?”


“Ih, Kakak, jangan cemburu dulu. Memangnya nggak boleh, silaturahmi sama calon kakak ipar?”


Iman bungkam, tak menanggapi dan memilih fokus menyetir. Untungnya, Cinta juga tidak bertanya lagi. Motor Iman berhenti tepat di sebuah rumah besar dan mewah. Cinta melepas helm, lantas turun dari motor Iman.


“Pak Baratha belum pulang, ya?” Iman melirik ke arah garasi yang terletak di samping rumah Cinta. Di sana tak tampak mobil yang sering dikendarai Pak Baratha ke sekolah.


“Belum. Sepertinya masih di sekolah bareng guru-guru. Kenapa, Kak? Mau silaturahmi juga, ya?”


Iman tertawa kecil sembari berusaha menyembunyikan debaran di dadanya. Lantas, cowok itu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Iman lalu turun dari motornya dan berdiri tepat di hadapan Cinta.


“Kakak mau mampir? Di rumah nggak ada siapa-siapa, Kak.” Cinta memandang khawatir ke arah Iman.


“Cinta, pejamkan mata kamu.”


Cinta terperanjat, lalu mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan jalan. “Eh, Kakak mau ngapain? Jangan, ah.”


“Tutup matanya, Cinta.”


“Jangan, Kak, belum muhrim. Nanti digerebek satpam komplek.”


‘Cinta, please, close your eyes. Just a minute."


Sembari menahan debaran di dada, akhirnya Cinta menuruti kehendak sang pacar. Setelah matanya terpejam, dia merasakan telapak tangannya dipegang oleh Iman dan ada sesuatu yang Iman letakkan di atas telapak tangannya itu.


“Nah, sekarang, buka matanya.”


Cinta membuka kedua matanya perlahan-lahan. Cewek cantik itu seketika terkejut mendapati sebuah gantungan kunci berbentuk Minion berada dalam genggamannya.


“Tadi, waktu kamu lagi dandan di toilet. Maaf, belum bisa beliin bonekanya.”


“Nggak apa-apa, Kak. Ini juga bagus banget, Cinta belum punya yang seperti ini, dan Cinta suka. Makasih ya.”


Iman bahagia melihat Cinta senang dengan gantungan kunci Minion pemberiannya. Cewek itu tak henti-hentinya mengamati dan mengelus-elusnya. Sesekali, dia terlihat mencium miniatur Minionnya. Iman geleng-geleng melihat tingkah Cinta. Siapa sangka, cewek cantik, pandai, kalem, dan tampak sempurna itu, bisa bertingkah demikian bila dihadapkan dengan segala sesuatu yang berbau Minion.


“Kirain Cinta, Kakak tadi mau minta sun. Cinta sampai kaget.”


“Tegang ya? Nggak, lah, belum halal dan sah di mata Allah, penghulu, wali, juga saksi dan semua anggota keluarga kita.” Iman mengelus lembut kepala Cinta yang tertutup jilbab putih. “Kakak pulang, ya. Hati-hati di rumah. Hubungi Kakak kalau ada apa-apa. Assalamu alaikum.”


“Waalaikum salam, hati-hati, Kak. Kabari kalau sudah sampai rumah, ya “


Iman mengangguk, lantas melajukan motornya, meninggalkan sang pujaan hati yang membuat dia selalu berdebar, walau hanya dengan membayangkan wajah cantiknya saja. Cinta baru masuk setelah motor Iman menghilang di belokan. Bibir mungilnya tak berhenti bersenandung dan senantiasa melengkung membentuk senyuman indah.


***


Pak Baratha ke luar dari kamarnya sembari berkali-kali mengucek mata. Pria itu melirik ke arah jam yang menempel di atas tembok ruang tengah. Jarum jam menunjukkan pukul 04.30. Sesubuh ini, suasana di dapur terdengar cukup ramai. Suara seseorang mengaduk masakan di dalam wajan, menggema ke penjuru rumah. Aroma bawang putih menguar ke setiap sudut ruangan. Siapa yang masak subuh-subuh begini?


Pak Baratha berjalan ke arah dapur dan mendapati Cinta tengah sibuk memasak di sana. Tangan putri semata wayangnya begitu cekatan membolak-balik masakan yang ada di atas wajan.


“Cinta, lagi masak apa? Baunya enak banget, menggugah selera.” Hidung Pak Baratha menghidu aroma masakan yang sedang Cinta buat.


“Nasi goreng SPTC, Pa. Buat sarapan sama bekal ke sekolah juga.”


Pak Baratha mengernyitkan dahinya mendengar nama makanan yang dibuat oleh Cinta. “Nasi goreng jenis baru itu, Cinta? Perasaan Papa baru dengar SP apa itu?”


“SPTC, Spesial Pakai Telor Ceplok, hehehe.”


“Hahaha, kamu ini, kirain Papa sejenis nasgor kekinian.”


“Cinta, sih inginnya buat nasgor kekinian, Pa. Tapi, orangnya lebih suka yang original begini.” Cinta spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan, menyadari dirinya bicara keceplosan.


“Oh, buat Iman maksudnya?”


“Nggak, kok, Pa. Maksud Cinta, Papa pasti lebih suka rasa nasgor yang original, ‘kan daripada yang kekinian?” Buru-buru Cinta meralat ucapannya, khawatir sang Papa curiga.


“Nasgornya kamu bawa ke sekolah buat Iman juga, Papa nggak bakalan kasih hukuman. Asal dimakannya pas jam istirahat, bukan ketika pembelajaran sedang berlangsung.” Pak Baratha tertawa melihat putrinya tersipu malu. Pria itu lalu bergegas menuju kamar mandi, karena sayup-sayup terdengar azan Subuh dari mesjid komplek.

__ADS_1


“Sejak berteman sama kamu, Iman jadi jarang kena hukuman ya!” teriak Pak Baratha dari dalam kamar mandi.


“Dulu dia belum beruntung, kali, Pa, makanya dihukum melulu!” seru Cinta sembari tertawa.


Cinta lalu melanjutkan pekerjaannya. Setelah mencicipi sedikit nasi goreng buatannya dan dirasa bumbunya sudah pas, dia memasukkannya ke dalam wadah nasi berukuran sedang dan menatanya di meja makan bersama dengan peralatan makan lainnya untuk sarapan dia dan Papa. Sisanya, Cinta masukkan ke dalam wadah kotak berwarna biru sambil tersenyum penuh arti.


“Pagi, Cinta. Wah, gantungan kunci baru, nih? Lucu banget ekspresi Minionnya.” Tangan Naya memainkan gantungan kunci yang Cinta pasang di salah satu ritsleting tas gendongnya.


“Dikasih sama Kak Iman,” ucap Cinta malu-malu, lantas melirik ke arah kotak berwarna hijau yang Naya taruh di atas meja. “Itu, apa isinya, Nay?”


Naya terlihat malu-malu dan ragu untuk menjawabnya. “Anu .... Roti selai cokelat buat Kak Gilang.”


“Nay, nggak usah malu. Aku juga bawa bekal buat Kak Iman.”


“Oh, ya?” Mata Naya membulat. Dia terkejut sekaligus senang, karena bukan hanya dirinya yang membawa makanan buat pacar. “By the way anyway busway, kamu bawa bekal apa, nih?"


“Ada, deh.” Cinta mengedipkan sebelah matanya, membuat Naya penasaran.


“Duh, jadi kepo nih, ingin buru-buru jam istirahat. Biar bisa nge gap kalian.”


“Pokoknya aku bawa yang sederhana tapi spesial, karena ini merupakan favoritnya Kak Iman.”


Percakapan mereka terhenti, karena bel tanda jam pelajaran akan dimulai, sudah berbunyi nyaring.


Pukul 09.30, terdengar bunyi bel tanda waktu istirahat tiba. Para murid berhamburan dari dalam kelas, seperti sekumpulan lebah yang keluar dari sarangnya. Mereka melangkahkan kaki menuju ke kantin untuk menghilangkan lapar dan dahaga yang sempat ditahan selama jam pelajaran berlangsung.


“Kak Iman!” panggil Cinta sembari menghampiri Iman yang hendak melangkahkan kaki ke kantin.


“Nggak usah jajan. Temenin Cinta ke taman belakang sekolah." Sebelah tangan Cinta menarik tangan Iman, sementara tangan yang satunya, Cinta sembunyikan di belakang.


“Kakak lapar, Cinta. Kakak nggak lagi puasa sunnah. Nggak sempat sahur soalnya.” Iman memandang heran ke arah sang pacar yang bersikap sedikit aneh.


“Temenin dulu sebentar.”


Bagai kerbau dicocok hidung, Iman menuruti langkah Cinta yang menuntunnya ke taman belakang sekolah.


“Cinta, ada apa, sih?”


Setelah mereka duduk di bangku taman, Cinta menyodorkan goodie bag berisi kotak bekal berwarna biru dan sebotol air mineral pada Iman.


“Nih, buat Kakak. Isinya tapi ya, kalau tempatnya wajib dikembalikan. Khawatir ditanyain sama Papa.”


“Apa ini?” tanya Iman penasaran sekaligus bahagia mendapat kejutan tak terduga dari Cinta.


“Buka aja.”


Iman mengeluarkan isi di dalam goodie bag itu. Setelah melihatnya, dia merasa sangat terharu dengan perhatian yang diberikan Cinta melalui bekal yang dibawa Cinta untuknya.


“Wah, nasi goreng telor ceplok. Makasih Cinta “ Iman girang bukan main melihat isi di dalam kotak bekal yang Cinta bawa. Dia mulai menyendok nasi gorengnya dan memasukkan ke dalam mulut.


“Gimana, Kak. Enak, nggak?”


“Enak banget Cinta, kamu selain pandai dalam hal pelajaran, ternyata pintar masak juga, ya. Benar-benar istri idaman.”


“Mama Cinta, ‘kan sudah meninggal sejak Cinta umur lima tahun. Makanya, Cinta sudah belajar masak sejak kecil.”


Iman berhenti mengunyah melihat wajah Cinta yang berubah sendu. “Jangan sedih, Cinta. Kalau rindu sama almarhumah, kamu kirim doa. Beliau pasti sangat bangga punya anak yang serba bisa kayak Cinta “


Bulir bening menetes di pipi Cinta. Jemari Iman mengusapnya lembut. “Jangan nangis Cinta, Kakak jadi sedih. Mendingan makan, ya. Nih aaaa.” Iman menyuapkan nasi goreng ke dalam mulut Cinta.


“Gimana, Kak, suka sama nasgornya?”


“Suka banget. Makasih, ya, Sayang.”


“Kalau Kakak suka, nanti Cinta bawain tiap hari.”


“Nggak bakalan ada slip tagihan, ‘kan? Nanti disuruh bayar per bulan lagi,” canda Iman sembari mulai menyuapkan nasi gorengnya.


“Ih, Kakak! Buat Kakak mah gratis. Asal Kakak tetap jadi pacar Cinta.”


Uhuk uhuk


Iman tersedak mendengar permintaan pacarnya, sementara Cinta menepuk-nepuk punggung Iman.


“Nih, Kak, minum dulu. Pelan-pelan makannya, waktu istirahat masih panjang."


Iman membuka penutup botol air mineral yang disodorkan Cinta, lalu meneguknya.


“Kenapa, sih sampai tersedak begitu mendengar permintaan Cinta? Kakak nggak mau, ya jadi pacar Cinta?”


“Ya .... Ya mau atuh. Tapi, masa kita pacaran terus seumur-umur, kapan nikahnya?”

__ADS_1


Cinta mencubit lengan Iman. Binar bahagia terpancar di kedua netra indah Cinta. Iman seharusnya senang. Namun, entah mengapa nasihat sang Bunda waktu itu terngiang kembali di telinganya.


__ADS_2