Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
Mom's Secret


__ADS_3

Iman dan Ikhsan kompak melirik jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. Namun, belum ada tanda-tanda sang Bunda keluar dari kamarnya. Entah sudah berapa kali, mereka melihat ke arah pintu kamar yang tertutup rapat itu, tetapi, tetap saja tak ada gerakan atau bunyi yang mengisyaratkan pintu itu terbuka. Bahkan, angin yang berembus kencang pun, tak mampu membuat celah dari pintu yang terkunci sangat rapat itu. Kegelisahan tergambar jelas di wajah Ikhsan dan Iman. Keduanya hanya bisa termenung di meja makan, menatap nasi goreng yang sudah mereka buat untuk makan malam mereka bersama sang Bunda.


“Gimana, Kak? Bunda, kok nggak keluar-keluar?”


“Iya, Man. Gue jadi khawatir, soalnya Bunda belum makan, ‘kan?”


“Bunda baru makan sekali aja, itu pun pagi-pagi, pas mau berangkat rapat.”


“Yuk, ajak Bunda makan, Man.”


Iman mengangguk. Kemudian, keduanya memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Bunda dan mengajak wanita terkasih mereka untuk makan.


“Bund, makan yuk, Ikhsan sama Iman bikin nasgor spesial buat Bunda,” ajak Ikhsan sembari mengetuk pintunya.


“Iya, Bund, makan, yuk. Nggak usah diet juga, berat badan Bunda udah ideal, kok.” Imam berusaha melontarkan candaan, berharap sang Bunda segera keluar. Namun, tetap saja dari dalam tak terdengar suara atau gerakan apa pun.


“Bund, makan ya, nanti Bunda sakit kalau nggak mau makan. Bunda, ‘kan punya maag. Buka dong, Bund,” pinta Ikhsan dengan wajah memelas.


“Iya, Bund, makan ya. Ramadhan juga masih beberapa bulan lagi, kok, Bund, jangan dulu puasa!” seru Iman sembari menatap sendu ke arah sang kakak. Wajah Ikhsan pun tak kalah sedihnya dengan sang adik.


Setelah ketukan yang kelima kalinya, barulah Bunda membuka pintu. Keadaan Bunda cukup mengkhawatirkan. Gamis yang tadi dipakainya ke sekolah belum diganti dan tampak kusut, sementara hijabnya pun tak kalah berantakan, posisinya miring. Kedua matanya sembab, hidung dan pipi memerah.


“Ya Allah, Bunda, jangan terus-menerus larut dalam kesedihan, nanti Bunda sakit.”


Ikhsan memandang sang Bunda dengan tatapan yang khawatir.


“Iya, Bund. Kalau ada sesuatu yang mengganjal, Bunda bisa cerita ke Kak Ikhsan sama Iman. Tenang, Bund, nggak akan tersebar ke tetangga, apalagi ke lambe turah.”


Ikhsan memelotot ke arah Iman. Bisa-bisanya sang adik melucu di saat Bunda mereka sedang terlihat sangat berduka begini. Iman cengengesan, padahal dia hanya berusaha menghibur sang Bunda. Ikhsan dan Iman menuntun sang Bunda ke meja makan. Setelah Bunda duduk di kursi, Iman menyodorkan air putih hangat, wanita paruh baya itu meneguknya sedikit, lalu meletakkan gelas berisi air putih itu di atas meja. Sementara Ikhsan menyendok nasi goreng yang tadi dibuatnya dibantu Iman ke atas piring, lantas memberikannya pada Bunda.


“Bund, makan, ya,” pinta Ikhsan yang dijawab dengan gelengan lemah dari sang Bunda.


“Bund, sedikit aja. Yang penting perut Bunda nggak kosong. Mau Iman suapin?”


Bu Lastri berusaha tersenyum. Wanita itu trenyuh dengan perhatian yang ditunjukkan oleh kedua putranya. Bu Lastri menuruti perintah kedua anak kebanggaannya itu, walau sebenarnya enggan. Dengan tak berselera, wanita paruh baya itu mulai mengunyah makanannya pelan. Setelah hampir lima sendok nasi goreng masuk ke dalam mulutnya, Bu Lastri menghentikan makannya. Masih ada sisa banyak nasi di dalam piring makannya.

__ADS_1


“Gimana chef, kolaborasi nasi goreng ala Ikhsan dan saya, enak, nggak? Kita bakal masuk pressure test atau maju ke babak selanjutnya?” canda Iman persis seperti peserta yang sedang dicicipi masakannya oleh juri di Master Chef Indonesia. Gurauan Iman berhasil membuat Bunda tersenyum kecil.


Setelah meneguk minumannya, Bunda menatap Ikhsan dan Iman bergantian. Dengan suara parau, wanita itu mulai berbicara. Berkali-kali Bu Lastri menghela napas.


“Ikhsan, Iman, sebenarnya Bunda punya kisah masa lalu dengan Yudha.”


“Yudha, siapa Bund?” tanya Ikhsan dan Iman hampir bersamaan.


“Baratha Yudha, kepala sekolah kalian. Bunda memanggil nama dia demikian. Dulu, Bunda dan dia satu SMA. Hubungan kami lumayan dekat, hanya sebatas sebagai sahabat saja.” Bunda menghentikan sejenak bicaranya, lantas meneguk air putih yang tinggal separuh di dalam gelas. Kemudian, wanita itu melanjutkan ceritanya. Ikhsan dan Iman tampak serius menyimak cerita sang Bunda.


***


“Lastri, boleh, nggak aku mengenalmu lebih dekat lagi?” tanya Yudha di tengah-tengah keramaian kantin sekolah.


“Lho, bukannya dari dulu juga kita dekat, Yudha?” Lastri balik bertanya sembari mengamati lelaki yang sudah lama berteman dekat dengannya itu.


“Bukan, begitu, aku inginnya kita lebih dari sekedar sahabat, kayak Galih dan Ratna, misalnya.”


“Maksud kamu, kita pacaran, begitu?”


“Bukannya aku nggak mau, Yudha. Tapi, Ayah Ibuku melarang aku pacaran. Mereka maunya aku fokus dulu sekolah.” Lastri menunduk menekuri lantai kantin. Dia khawatir, Yudha akan kecewa dan tak mau lagi berteman dengannya.


“Las, kamu tuh pikirannya jangan terlalu polos, deh. Kita, ‘kan bisa backstreet. Banyak kok di sekolah ini yang begitu dan mereka baik-baik saja. Santai, jalani saja dulu.” Yudha menggenggam jemari Lastri berusaha meyakinkan perempuan yang disukainya itu.


“Iya, deh, dicoba dulu.”


Sejak saat itu, hubungan Yudha dan Lastri berubah dari sekedar sahabat, menjadi sepasang kekasih. Mereka menjalani hari demi hari dengan bahagia. Di mana ada Yudha, di situ pasti ada Lastri, seolah tak ada yang dapat memisahkan.


Namun, sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, baunya tetap tercium juga. Hubungan backstreet yang dijalani Lastri dan Yudha, akhirnya terendus juga oleh orang tua Lastri. Apalagi, Ayah Lastri yang awalnya menaruh rasa curiga, sebab akhir-akhir ini Lastri sering pulang sore dari sekolah. Selentingan-selentingan tetangga tentang Lastri yang suka diantar pulang oleh lelaki sebayanya dengan sepeda motor, sampai juga ke telinga Pak Hamid dan Bu Siti, Ayah dan Ibunya Lastri.


“Las, Bapak tahu kamu sedang dekat dengan seorang pemuda. Bapak nggak melarang, asal kamu jangan sampai kebablasan.”


“Kalau bisa, ajak atuh ke rumah. Ibu juga ingin kenal, Las,” ucap Bu Siti pada putrinya yang masih menunduk menekuri lantai rumah.


“Betul itu, saran Ibumu, Las. lelaki yang baik adalah yang berani datang ke rumah perempuan yang dipacarinya dan bertemu baik-baik dengan orang tua sang pacar, bukan yang diam-diam mengajak bertemu di luar.”

__ADS_1


Lastri manggut-manggut mendengar nasihat sang Ayah. Dia bertekad, besok akan menyampaikan hal ini pada Yudha. Gadis itu yakin, Yudha yang terlihat sangat mencintainya itu, tidak akan keberatan memenuhi permintaan kedua orang tua Lastri.


“Yudha, nanti mampir ke rumah ya. Ayah dan Ibuku ingin berkenalan," ujar Lastri saat mereka duduk di taman belakang sekolah.


“Duh, gimana, ya, Las. Bukannya nggak mau. Santai aja, lah. Kita, ‘kan baru pacaran beberapa bulan. Jangan terlalu serius. Orang tuaku meminta aku setelah lulus, fokus kuliah dulu.”


“Jadi, kamu, nggak mau ketemu kedua orang tuaku?” tanya Lastri dengan nada kecewa.


“Bukan nggak mau, Las, tapi, jangan sekarang. Nanti setelah aku siap. Aku janji, Las, sesudah lulus kuliah, aku akan langsung melamarmu.” Yudha menggenggam erat jemari kekasihnya, berusaha meyakinkan gadis yang mulai terisak itu. “Las, aku serius sama kamu. Untuk sekarang, jalani aja dulu seperti ini.”


“Tetap backstreet, maksudnya?”


Yudha mengangguk, membuat Lastri melepaskan jemarinya dari genggaman Yudha. Tangis Lastri mulai pecah. Nasihat sang Ayah terus saja terngiang di benaknya. Dia sungguh sangat kecewa dengan penolakan Yudha.


“Ya, udah, kalau begitu kita putus!” Lastri berlari meninggalkan Yudha yang juga dilanda perasaan kecewa karena keputusan sepihak dari Lastri mengakhiri hubungan mereka.


Padahal apa salahnya backstreet dulu, toh nanti juga setelah siap, dia akan menemui kedua orang tua sang pacar dan menepati janji melamar kekasihnya itu. Dia hanya butuh waktu untuk membuktikan semua. Namun, Yudha yang merasa sakit hati dan tak habis pikir dengan keputusan yang diambil Lastri, tak berusaha mengejar dan menjelaskan pada Lastri.


Tamat SMA, Pak Hamid menjodohkan Lastri dengan putra dari sahabatnya, Muhammad Fatih Wicaksana, yang tak lain adalah almarhum Ayah Ikhsan dan Iman. Sejak dipertemukan pertama kalinya, entah mengapa hati Lastri langsung tergetar dan berkata bahwa Fatih adalah pria yang tepat untuknya.


Memang terbukti nyata adanya, setelah mereka menikah, menjalani kehidupan berumah tangga, Pak Fatih adalah suami yang baik, yang mampu menuntun istri dan anak-anaknya untuk lebih dekat dengan Islam. Contoh nyata didikan almarhum suaminya, yaitu Ikhsan yang begitu taat beribadah. Bu Lastri berharap, Iman akan segera mengikuti jejak kakaknya. Bu Lastri sendiri, dia baru-baru ini tergerak hatinya untuk mengenakan hijab dan mulai sering mengikuti kajian. Padahal sudah dari dulu, almarhum suaminya itu menyuruh dia menutup aurat. Bu Lastri sangat menyesal mengapa baru sekarang ia menuruti nasehat suaminya yang telah pergi selama-lamanya mendahului dia.


“Jadi, begitu ceritanya.” Bu Lastri mengakhiri ceritanya. Wanita itu membelai lembut pipi Ikhsan dan Iman bergantian, dua buah hati kesayangan yang Allah titipkan melalui Pak Fatih dan dirinya. Ikhsan dan Iman, anugerah terindah yang hadir dalam hidup Bu Lastri dan almarhum suaminya. Tak terasa, bulir bening terjun bebas ke pipi wanita itu.


“Pantesan, mendengar cerita Iman tadi siang, Pak Baratha segitu bencinya sama kita, Bund. Mungkin beliau sakit hati ya, Bunda nikah sama orang lain?” tanya Ikhsan sembari menggenggam jemari sang Bunda, berusaha membuatnya tegar.


“Ya jelas nyesek, Kak. Pacaran sama kita, eh nikahnya sama orang lain. Pak Baratha itu ibarat jagain jodohnya almarhum Ayah kita.”


“Hush, Iman!” Ikhsan menoyor kepala Iman, dia kuatir Bundanya akan bersedih lagi mendengar ucapan Iman. Namun, saat melirik ke arah sang Bunda, Ikhsan bisa bernapas lega, sebab Bundanya itu sudah bisa tertawa lepas.


“Makanya, Man, pertimbangkan kembali niat kamu buat pacaran. Banyak baiknya atau buruknya? Di usia seperti kamu, juga Cinta, alangkah lebih bagusnya mengukir prestasi dulu sebanyak-banyaknya. Biar nanti, bisa menjadi kisah yang membanggakan untuk diceritakan pada anakmu kelak,” ujar Bunda panjang lebar, kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju ke kamar.


“Jangan bengong, saatnya elo hijrah, Man. Susah, lho menggapai hidayah Allah. Gue mendukung banget nasihat Bunda. Mendingan elo masuk DRI atau HI, biar nggak galau.” Sebelum masuk ke kamarnya, Ikhsan menepuk pelan punggung sang adik, membuat Iman tersentak dari lamunannya.


Bayangan wajah cantik Cinta lengkap dengan senyuman manisnya, berkelebatan di pelupuk mata Iman. Cowok itu semakin gundah dan bimbang. Iman mengusap wajahnya. Dia harus mengambil keputusan yang paling tepat, agar tak melukai hati Cinta.

__ADS_1


Cinta, sedang apa kamu di sana? Masihkah kamu bersedih? Jangan nangis, Cinta, aku yang paling menderita jika melihatmu berduka.


__ADS_2