Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
Her Love Statement


__ADS_3

Iman melangkah gontai menyusuri koridor sekolah. Sepanjang perjalanan menuju ke kelas, pikirannya diliputi hal yang kemarin telah dilewatinya. Semua mungkin tak lagi sama. Iman yakin, Cinta pasti akan segan berdekatan lagi dengannya. Cewek itu akan membuat jarak dengannya, hal yang sangat Iman takutkan. Dia lebih tidak khawatir jika perasaannya ditolak oleh Cinta, asalkan cewek itu masih mau berteman dengannya seperti biasa.


Saat hendak berbelok ke kelas XI, mata Iman menangkap Cinta sedang berbincang dengan salah satu teman sekelasnya di ambang pintu kelas X. Iman menyunggingkan sebuah senyuman, tatkala pandangan keduanya beradu. Namun, alih-alih membalas senyuman Iman, Cinta malah memalingkan wajahnya dan masuk ke dalam kelas. Iman menghela napas panjang. Sudah dia duga, sikap Cinta akan berubah. Iman melanjutkan langkahnya dengan tak bersemangat. Sekali lagi, terdengar embusan napas yang panjang dari cowok itu.


“Ih, Man. Elo belum sikat gigi ya? Atau semalam elo makan apa? Napas elo nggak enak bener!” hardik Gilang sembari menutup hidung.


Iman menoleh lemah ke arah Gilang yang sudah berada di sampingnya. “Sembarangan elo, bilang napas gue nggak enak alias bau. Gini-gini juga gue rajin sikat gigi dua kali sehari sesuai anjuran dokter,” jawabnya sambil masuk terlebih dahulu ke dalam kelas, meninggalkan Gilang di belakangnya.


Iman menaruh tas gendongnya di atas meja kemudian menghempaskan badan ke atas kursi. Raut wajah cowok itu menyiratkan dengan jelas, kalau saat ini hatinya tengah kacau. Iman menelungkupkan wajah di antara kedua tangannya, seperti murid yang sedang mengantuk dan ketiduran di kelas.


“Elo, kenapa, Man? Semalam tidurnya kurang? Dari tadi gue lihat wajah elo kusut banget. Udah ketemu dan ngobrol lagi sama Cinta?” Gilang memberondong Iman dengan sejumlah pertanyaan sembari menatap iba pada sahabatnya itu. Hal ini, sontak membuat Iman mendongak ke arah cowok bertampang kocak itu.


“Elo kalau nanya satu-satu, dong. Gue, ‘kan jadi bingung, harus jawab yang mana dulu. Muka gue ini lupa disetrika.” Iman menjawab asal, lantas kembali wajahnya tertelungkup seperti posisi semula. Tak lama kemudian, dia mendongak lagi. “Oh, iya, gue belum lengkap menjawab pertanyaan elo. Tadi, di pintu kelas X, gue lihat Cinta lagi ngobrol sama temannya. Gue mencoba tersenyum ke dia, tapi ngelihat gue, dia malah masuk ke kelas. Sepertinya, dia memang lagi jaga jarak sama gue, Lang.”


“Bukan begitu, barangkali aja mata dia rabun, hingga pas ngelihat elo dari kejauhan, dia pikir itu bukan elo,” canda Gilang berusaha menghibur Iman, berharap sahabat kentalnya itu tak lagi bersedih.


“Terus, dia lihat gue kayak hantu, gitu? Sampai harus lari ke dalam kelas?” Iman mengacak rambutnya. Dia kelihatan sangat gusar.


“Barangkali aja, dia lagi kebelet pipis.”


“Kalau kebelet, larinya bukan ke kelas, tapi ke toilet, Lang. Itu mah jelas banget, dia menghindar bertatap muka sama gue.”


Gilang menggaruk-garuk kepalanya. Dia juga jadi ikut-ikutan terhanyut memikirkan masalah sang sobat. “Sabar, Man. Elo harus tetap berpikir positif. Dia butuh waktu untuk mencerna semua ini.”


‘Iya, Lang, thanks, udah selalu support gue.” Iman menepuk-nepuk pundak sang sahabat. Tumben, kali ini dia ngomong bener dan lebih dewasa, gumam Iman sembari menatap wajah Gilang. Hingga, kalimat berikutnya yang Gilang lontarkan, membuat Iman ingin melayangkan sepatu ke wajah sang sobat.


“Kalau dia nggak mau lihat langsung wajah elo, Man, elo tiap hari ke sekolah pakai topeng aja.”


“Idih, elo pikir gue Pahlawan Bertopeng, apa? Elo kalau ngasih saran yang briliant dong,” sahut Iman sembari menoyor Gilang.


“Anggap aja, elo itu Tuxedo Bertopeng, terus Cinta itu Sailormoon.” Gilang terbahak melihat Iman mengerucutkan bibirnya. “Bercanda, Man. Jangan terlalu serius, nanti elo cepat tua. Kalau udah begitu, sih, elo kudu borong skin care anti penuaan dini buat melawan keriput, hahaha.”


Saat Iman hendak membalas, bel tanda masuk telah berbunyi dan Miss Aulia sudah berdiri di ambang pintu kelas. Mau tak mau, Iman duduk rapi dengan posisi hendak berdoa mengikuti komando ketua kelas kepada semua penghuni kelas XI.


Sudah 10 menit lamanya pelajaran bahasa Inggris berlangsung di kelas XI. Miss Aulia saat ini sedang menyampaikan materi tentang Direct Indirect Speech. Hampir semua murid di kelas itu serius menyimak penjelasan guru bahasa Inggris yang selalu tampil dengan seragam warna ngejreng. Seperti kali ini, Miss Aulia mengenakan setelan warna pink terang. Sepatu dan tas yang dipakainya pun, memiliki warna senada dengan setelan yang dikenakan. Sesekali para murid itu mencatat materi yang disampaikan di buku tulis mereka.


Namun, di antara para murid yang sedang khusyuk itu, Iman sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Pikirannya selalu tertuju pada Cinta. Hingga, cowok itu tak menyadari Miss Aulia sedari tadi sudah memanggilnya sebanyak tiga kali.


“Man, elo dipanggil, tuh, ke depan.” Senggolan Gilang dengan sikutnya di tangan Iman, seketika membuat cowok itu tersentak.


“Apa, Lang? Bikin kaget saja!”


“Iman, what are you thinking about?” sentak Miss Aulia sembari menatap Iman tajam.


Iman garuk-garuk kepala memikirkan jawaban yang masuk akal. “Nothing, Miss. Cuma mengantuk saja, sedikit.”


“Oke, kalau begitu, supaya kamu nggak sleepy. Please come to the front. Tulis satu contoh kalimat Direct beserta Indirect Speech nya.”

__ADS_1


Buset, gue, ‘kan dari tadi nggak tahu apa yang Miss Aulia jelaskan, direct, Indirect, apa itu? Gue tahunya One Direction, batin Iman. Dia melirik Gilang yang duduk di sampingnya. Gilang hanya mengedikkan bahu.


“Good luck, Man,” ucap Gilang memberi semangat dengan suara yang sedikit pelan.


Percuma juga nanya sama Gilang, jawaban anak itu pasti ngaco. Walau pun dari tadi menyimak, otak Gilang pasti loading untuk mencerna semua penjelasan Miss Aulia. Akhirnya, dengan pasrah, Iman berjalan dengan langkah gontai ke depan kelas. Padahal, dia sama sekali belum tahu harus menulis kalimat apa.


Sesampainya di depan kelas, Iman sejenak membaca tulisan Miss Aulia di papan tulis. Setelah melihat pola kalimat yang tertera di sana, Iman mulai menulis sesuatu.


Iman said, “I love Cinta.”


Iman said that he loved Cinta.


“Oke, thank you, Iman.”


Setelah meletakkan board marker di atas meja guru, Iman kembali duduk di bangkunya. Teman-teman sekelasnya, terdengar sedang kasak-kasuk. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang saling berbisik sembari menatap Iman.


“Buset, Man, elo keren. Mengumumkan perasaan, to the point banget,” celetuk Gilang setelah Iman duduk lagi di sampingnya. Cowok bertampang boyband Korea itu mengernyitkan dahi, masih tak mengerti maksud kalimat yang diucapkan Gilang barusan.


Mata Iman seketika membulat, saat dia membaca kembali tulisannya di papan tulis. Dia baru menyadari, kalau kalimat itu diartikan, sama saja dengan Iman sedang menyatakan perasaannya pada Cinta. Wajahnya merah padam. Dia menundukkan pandangan. Malu sekali pada Miss Aulia dan teman-teman sekelasnya. Siapa sih di sekolah ini yang nggak kenal dengan putri kepala sekolah? Sekarang, semua yang ada di kelas ini, jadi tahu perasaan yang dirahasiakannya selama ini, kecuali pada Gilang.


“Miss, maaf, boleh saya mengganti kalimatnya?” Iman mengacungkan tangan sembari berdiri, hendak maju ke depan kelas.


“Lho, mengapa mau dihapus? Kita tanya dulu pendapat teman-temanmu ya. Bagaimana, students, kalimat yang ditulis Iman? Is it correct?”


Semua serempak menjawab benar. “You see, Iman, tidak ada yang salah pada kalimat yang kamu tulis. Ini merupakan contoh Direct Indirect Speech dalam bentuk simple present tense yang diubah ke bentuk simple past tense. Well done, Iman.”


Iman tampak lega dan berulang kali membusungkan dadanya, bangga. Sesekali senyumnya tersungging, terutama pada yang berbisik-bisik tadi. Teman-teman yang kasak-kusuk pun, sudah bersikap biasa kembali. Hingga, kalimat berikutnya yang meluncur dari Miss Aulia, seketika melunturkan senyumannya.


Ucapan Miss Aulia sontak membuat semua murid kelas XI ramai oleh gelak tawa yang membahana. Kini, berpuluh pasang mata sedang terarah kepadanya sembari tak henti tertawa. Iman semakin tertunduk malu. Seandainya ada Doraemon, dia akan meminta kucing itu untuk mengeluarkan pintu ke mana saja dari kantong ajaibnya. Dia ingin segera menghilang dari kelas ini. Saat pandangannya berpaling ke arah Gilang, tampak wajah sahabatnya itu memerah, menahan tawa.


Tega, elo, Lang, tertawa di atas penderitaan sahabat sendiri, gumamnya geram.


***


“Cinta! Cinta!, Iman ....” Gilang tergopoh-gopoh menghampiri Cinta yang sedang makan batagor bersama Naya.


“Kak Iman, kenapa, Kak?” tanya Cinta dengan raut wajah yang khawatir, takut kalau sesuatu yang buruk menimpa Iman.


Gilang tampak terengah-engah. Dia belum sanggup melanjutkan kalimatnya, sibuk membuat napasnya kembali teratur.


“Nih, Kak, minum dulu.” Naya mengangsurkan sebotol air mineral yang isinya tinggal separuh. Gilang langsung menenggaknya hingga tandas.


“Makasih, Naya, Sayang.” Gilang memandang ke arah sang kekasih dengan tatapan lembut yang dibalas sebuah senyuman manis.


“Aduh, syuting cerita romantisnya nanti dulu, dong.!” ucap Cinta. Pikiran cewek itu benar-benar kalut ingin segera mengetahui tentang hal yang menimpa Iman. “Kak Iman, kenapa, Kak?” Cinta kembali mengulangi pertanyaannya.


Setelah napasnya teratur, Gilang mulai bercerita lagi. “Iman berantem, di kebun belakang sekolah.”

__ADS_1


“Hah, berantem? Sama siapa? Terus gara-gara apa?” Cinta tersentak. Dia merasa tidak percaya, cowok yang kemarin-kemarin sempat akrab dengannya itu, bisa terlibat perkelahian.


“Sama Kak Bagas, kelas XII. Gue nggak tahu ada masalah apa di antara mereka. Mendingan kita ke sana, yuk.”


Kening Cinta mengernyit, berusaha mengingat-ingat sesuatu. Bagas Mahesa, kelas XII, cowok yang sering mengiriminya chat whatsapp dan terang-terangan menyatakan perasaan padanya. Namun, Cinta sama sekali tidak respek, sebab, dia senior yang pernah membentak-bentak Cinta di hari ketiga MOPDB dan hampir menonjok wajahnya karena Cinta membeberkan perbuatan merokok Bagas di kantin.


“Ayo, jangan bengong. Kasihan Kak Iman, keburu babak belur jadi lontong sayur.” Naya menggamit lengan sahabatnya.


Bergegas mereka bertiga menuju ke kebun belakang SMAN 6. Di sana, tampak Iman dan Bagas sedang bergumul hebat. Gilang terlebih dahulu menghampiri dan berusaha memisahkan dua murid yang sedang bersitegang itu. Namun, Iman dan Bagas sulit dilerai, sebab emosi keduanya sama-sama sedang memuncak.


“Hentikan!” Teriakan Cinta berhasil membuat keduanya menghentikan perkelahian. Napas Iman dan Bagas ngos-ngosan.


Iman menyeka darah yang keluar dari mulutnya. Bagas pun melakukan hal yang sama. Dia mengusap darah yang mengucur dari hidungnya.


“Ada masalah apa, ini?” tanya Cinta sembari memandang tajam ke arah Iman dan Bagas, membuat kedua cowok itu ciut, menunduk menekuri tanah kebun. Keduanya tak berani menatap balik Cinta.


“Jawab!” seru Cinta membuat Iman, Bagas, Naya, dan juga Gilang terkejut berjamaah. Buset, cantik-cantik, kok, galak? Begitu kira-kira suara hati keempatnya.


“Maaf, Cinta, gue nggak rela kalau dia deket-deket sama elo. Akhir-akhir ini gue lihat, dia gangguin elo. Bener, ‘kan? Makanya gue berantem. Berusaha melindungi elo dari cowok sengklek macam dia.”


Ucapan Bagas menyinggung perasaan Iman. Tangannya menarik kerah seragam Bagas. “Sembarangan elo bilang gue sengklek. Apa hak elo ngelarang gue deketin Cinta? Elo pacarnya? Pak Baratha aja selow.”


“Kalau gue suka sama Cinta, elo mau apa, hah!” tantang Bagas. Keduanya kembali bersitegang. Untunglah, Gilang dengan sigap melerainya.


“Sudah, sudah. Justru aku terganggu dengan chat-chat yang Kakak kirim ke aku. Maaf, Kak Bagas, Kakak harus tahu, kalau aku suka sama Kak Iman. Aku sama sekali tidak keberatan kalau dia deketin aku. Dijadikan pacarnya pun aku mau.” Cinta menatap lembut ke arah Iman sembari bibirnya mengulas sebuah senyuman yang sangat manis. Seketika jantung Iman berdetak kencang.


Ucapan Cinta membuat semua yang hadir di sana merasa tak percaya, terutama Iman. Dia mencubit pipinya sendiri, khawatir kalau ini hanyalah mimpi. Namun, ternyata dia merasakan sakit. Itu artinya, dia sedang berada di dunia nyata.


“Lang, tolong pegang gue, lemes nih.” Iman memegangi bahu Gilang, agar dia punya kekuatan untuk tetap berdiri.


“Heu, Ibro, Cinta mengungkapkan perasaan, elo malah nggak bertenaga, kayak nggak makan seminggu aja.”


“Oke, gue mengalah. Tapi kalau elo berani menyakiti Cinta, gue akan buat perhitungan sama elo! Gue nggak takut, walau elo adiknya Ikhsan!” hardik Bagas sembari telunjuknya menuding tepat ke wajah Iman, membuat mata cowok itu memelotot ke arah Bagas.


“Selow, Gas, stok cewek masih berjibun.” Gilang berusaha menengahi. Dia menurunkan jari telunjuk Bagas dan menjauhkannya dari wajah Iman.


“Sedang apa kalian di sana!” Sebuah suara yang tak asing didengar, menyentak mereka. Itu berarti, kalau berurusan dengan sang pemilik suara, mereka akan berhadapan dengan sebuah hukuman. Pak Sasongko menghampiri mereka dengan berkacak pinggang. Setelah mendekat, guru BP itu mengamati wajah mereka satu-persatu.


“Bagas, Iman, kenapa muka kalian babak belur begitu? Kalian berantem?” tanya Pak Sasongko sembari memandang mereka dengan tatapan menyelidik.


“Nggak, kok, Pak. Kami tadi lagi main kucing-kucingan di kebun. Karena kami tak sengaja menginjak tali sepatu sendiri, kami jadi terjatuh. Benar, ‘kan, Kak?” Iman menjawab sekenanya sembari merangkul bahu Bagas.


“I .... Iya, Pak.” Bagas tersenyum dan membalas rangkulan Iman. Keduanya terlihat sangat akrab, padahal baru saja terjadi baku hantam. Cinta, Naya, dan Gilang menahan tawa melihat tingkah mereka yang terlihat aneh dan kikuk.


“Memangnya Bapak bisa percaya begitu saja? Main kucing-kucingan, seperti anak SD saja. Bagas, Iman, berdiri di lapangan dan hormat bendera sampai jam pulang! Suruh siapa adu jotos? Kalian mau jadi jagoan!” Pak Sasongko memelotot ke arah Iman dan Bagas, kemudian berlalu dari situ.


Bagas dan Iman terlihat lemas. Keduanya berjalan gontai ke arah lapangan sekolah, bersiap menjalani hukuman. Sementara Cinta, Naya, dan Gilang kembali ke kelas masing-masing.

__ADS_1


Meski pun cuaca sedang terik, bagi Iman, hukuman ini paling indah dan menyenangkan untuk dijalani. Apalagi, saat membuka ponselnya dan membaca chat yang dikirimkan Cinta, bunga-bunga seolah bermekaran di sekitar tempatnya berdiri.


Kak, nanti pulang bareng ya. Kita bicarakan lebih lanjut tentang yang tadi aku ucapkan. Cinta.


__ADS_2