Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
A Teaser Between Us


__ADS_3

“Cinta! Tunggu!”


Cinta memutar bola matanya, kesal. Dia merasa sangat malas untuk menoleh ke arah sumber suara itu. Cinta memutuskan untuk tak menghiraukannya dan terus berjalan memasuki gerbang sekolah. Namun, indera pendengaran Cinta mendengar langkah kaki orang yang meneriakkan namanya itu, semakin mendekat ke arahnya.


“Cinta, gue dari tadi panggil-panggil malah jalan terus. Padahal, suara gue udah lebih gede dari suara film di bioskop," ujar Bagas setelah berada di samping Cinta sembari mengerling nakal. Napasnya terengah-engah, sebab dia tadi berlari, berusaha menyejajarkan langkah dengan Cinta. “Gue antar sampai ke kelas, ya.”


“Nggak usah,” jawab Cinta ketus. Dia semakin sebal melihat tingkah genit cowok yang kini berjalan di sebelahnya.


“Cinta, nggak usah cemberut gitu, dong. Cantiknya kamu jadi hilang. Senyum, dong buat gue. Nggak bakal ada yang marah, ‘kan?” Bagas terus saja nyerocos mengeluarkan jurus jitunya untuk menggoda Cinta.


Cinta mendelik ke arah Bagas. Dia makin kesal mendengar rayuan cowok menyebalkan seperti Bagas. Cinta semakin mengerucutkan bibirnya.


“Kalau gue deketin elo lagi sekarang, gue yakin nggak bakal ada yang ngajak berantem lagi. Bener, ‘kan Cinta?” tanya Bagas sambil memandang wajah Cinta dan senyum-senyum genit. “Soalnya, denger-denger, elo udah putus dari Iman, ya? Apa gue bilang, Cinta. Iman itu nggak pantas buat elo. Dia itu playboy, kalau elo nggak percaya, elo lihat aja dengan mata kepala sendiri. Dia sekarang lagi deketin murid baru pindahan dari Jakarta, itu, lho. Siapa sih, namanya?" Bagas menaruh telunjuknya di atas bibir, sambil mengerutkan kening, berusaha mengingat-ingat. "Chik, Chill. Nah, Chilla, iya Chilla.” Bagas menegaskan ucapannya saat menyebut nama cewek itu sambil tersenyum sinis, membuat Cinta semakin sebal melihatnya.


“Sudah stop, Kak!” hardik Cinta seraya memandang tajam ke arah Bagas, membuat cowok itu seketika membisu. “Cinta nggak suka Kakak menjelek-jelekkan Kak Iman. Cinta tahu betul, Kak Iman itu cowok seperti apa. Dia bukan cowok norak kayak Kakak!” Cinta mengentakkan kaki kanannya ke tanah, lantas berlari meninggalkan Bagas menuju ke koridor sekolah.


“Gue nggak bakal menyerah, Cinta. Lihat saja, gue pasti bakal dapetin hati elo.” Bagas menelan saliva, lalu tersenyum kecut memandangi punggung Cinta yang semakin menjauh darinya.


Cinta berjalan tergesa-gesa sepanjang koridor sekolah sembari memasang wajah masam. Sesekali dia menoleh ke arah belakang, khawatir Bagas mengejarnya. Cinta mendecak kesal, cuaca pagi yang cerah ini, berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang baru saja dirusak oleh cowok yang membuatnya naik pitam sejak bertemu pertama kalinya di Masa Orientasi Peserta Didik. Saat kepalanya menengok ke belakang, tiba-tiba saja tubuh Cinta terdorong ke belakang. Dia merasakan badannya telah bertubrukan dengan seseorang. Hampir saja putri kepala sekolah itu terpelanting, tetapi, untunglah seseorang itu meraih tangannya dan menahan Cinta, hingga cewek cantik itu pun tak terjatuh.


“Kak Iman?” Cinta mendongak dan merasa lega saat mengetahui siapa orang yang telah menyelamatkannya barusan.


“Cinta, kamu nggak apa-apa? Kenapa jalannya terburu-buru dan terus melihat ke belakang, sampai nggak fokus ke depan?” tanya Iman seraya memandang Cinta dengan tatapan khawatir.


“Cinta nggak apa-apa, Kak.”


“Syukurlah. Terus kenapa kamu seperti yang ketakutan begitu?”


“Tadi di gerbang, Cinta berpapasan dengan Kak Bagas. Entah dia tahu dari mana kalau kita udah putus.”


“Terus, dia gangguin kamu?” Iman mengepalkan kedua tangan, rahangnya mengeras. Seketika rasa marah menderanya, apalagi melihat wajah Cinta yang terlihat gelisah. Iman yakin, Bagas telah mengganggu Cinta.


“Nggak, kok, Kak. Dia hanya menyapa Cinta. Ya, basa-basi gitu.” Cewek berjilbab putih itu menggigit bibir. Dia menatap lekat wajah Iman, lalu menghela napas. Rasanya, dia sangat ingin menumpahkan semua kekesalannya karena ulah Bagas di gerbang tadi. Namun, dia khawatir Iman akan adu jotos lagi dengan Bagas seperti waktu itu. Maka, dia memutuskan untuk tidak menceritakan yang sesungguhnya. “Cinta ke kelas dulu ya, Kak,” pamit Cinta berusaha menghindari tatapan menyelidik Iman padanya.


“Iya, Cinta. Tapi, kalau Bagas gangguin kamu, bilang sama Kakak ya.”


“Dia nggak ganggu, kok, Kak,” Cinta tersenyum tipis, sembari memandang ke arah lain, tak kuasa membalas tatapan Iman. “Kakak janji, jangan berantem lagi sama Kak Bagas seperti waktu itu.”


Iman mengernyitkan dahinya. Dia semakin yakin, kalau Bagas sudah mengganggu Cinta. “I .... Iya, Kakak janji.”


“Kalau Cinta lihat Kakak berantem, paling Cinta pindah sekolah,” ancam Cinta sambil berlalu meninggalkan Iman yang didera sejumlah pertanyaan dalam benaknya.

__ADS_1


Awas, elo, Bagas. Elo berani ganggu Cinta, gue nggak akan tinggal diam, gumam Iman geram. Pandangan matanya masih tak lepas dari sosok Cinta yang semakin menjauh.


Kalau gue masih jadi pacarnya, mungkin dia akan bercerita. Iman menghela napas berat. Astagfirullah, kenapa gue jadi ragu sama keputusan yang udah diambil? Nggak, nggak. Gue nggak boleh goyah. Gue harus tetap menjadi iman yang semakin beriman. Kuatkan ya Allah, ini demi Cinta juga.


Iman mengusap wajahnya dengan sebelah tangan. Dia melangkah gontai menuju ke kelas XI. Pikirannya masih dipenuhi bayang wajah Cinta yang terlihat ketakutan saat bertabrakan dengannya di koridor tadi.


***


“Iman, sini!” teriak seseorang dari arah sudut kiri kantin.


Iman yang tengah berjalan bersama Gilang menoleh ke arah sumber suara. “Elo duluan, deh, Lang.”


“Oke, sip.” Gilang berjalan meninggalkan Iman menuju ke kedai penjual batagor, sementara Iman melangkah menghampiri suara yang memanggilnya tadi.


“Elo sendirian aja, Chilla?” tanya Iman sambil duduk di depan murid pindahan dari Jakarta itu.


“Iya, nih. Habisnya, gue pedekate ke Kakak elo, belum berhasil juga.” Chilla mengaduk-aduk es teh manisnya dengan sedotan sembari menatap sendu ke arah luar kantin.


Iman garuk-garuk kepala dan memandang iba pada Chilla. Dia paham betul bagaimana rasanya menyukai seseorang dan orang yang kita sukai itu mengabaikan rasa sayang tulus yang kita miliki untuknya.


“Gue, ‘kan udah bilang dari awal. Kakak gue itu anti pacaran. Mending elo daftar DRI, deh. Biar elo nggak galau melulu.”


Chilla menghela napas berat sambil merapikan poninya yang berantakan. Kemudian dia menyeruput es teh manisnya melalui sedotan. Rasanya sudah tak terlalu manis lagi, sebab es batu di dalamnya telah mencair sedari tadi. Minumannya terasa hambar, sama hambarnya dengan perasaan galau yang dia miliki saat ini. Betapa kacaunya pikiran Chilla, sejak melihat sosok Ikhsan untuk pertama kalinya, tak lama setelah dia pindah ke sekolah ini. Ya, mungkin inilah rasanya love at the first sight. Jantungnya selalu berdebar, saat tak sengaja berpapasan dengan Ikhsan di sekolah. Atau, hatinya dilanda gundah, kala bayang wajah Ikhsan muncul dalam benaknya setiap detik. Walau pun itu hanya dalam mimpi, senyuman manis Ikhsan selalu membuat perasaannya tak menentu.


“Perasaan elo nggak salah, sih. Cuma, kebetulan aja elo jatuh cinta sama yang anti pacaran. Kakak gue pernah bilang, sih, dia maunya pas ketemu jodoh, nanti langsung nikah aja, no pacaran.”


“Andai Kak Ikhsan itu seperti elo,” ujar Chilla pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri. Chilla menggigit bibirnya, sambil sesekali menghela napas.


“Gimana, gimana, Chill? Wah, kalau Kakak gue punya sifat mirip gue, Pak Sasongko bisa pusing tujuh keliling. Sekolah itu, butuh anak-anak alim plus yang badungnya juga. Biar seimbang, lah.”


“Bukan begitu. Maksud gue, elo pikirannya terbuka. Buktinya elo bisa menjalani pacaran.”


“Udah, dari pada elo sibuk mikirin Kakak gue, mending elo banyakkin melakukan kegiatan positif. Saran gue, elo masuk ekskul DRI. Elo nggak bakal nyesel, deh. Gue juga baru masuk, kok.”


“Gimana nanti, deh. Gue masih belum sanggup menata hati.” Chilla menghela napas, kemudian menyeruput minuman dalam gelas berukuran besar yang isinya tinggal setengah.


“Kalau elo belum siap, nggak usah dipaksakan.”


“Thanks, Iman. Elo memang satu-satunya teman yang paling nyaman gue ajak ngobrol.” Chilla tersenyum kecil.


“Don’t mention it, Chill. Itu, ‘kan gunanya teman, tempat saling berbagi dan bertukar pikiran. Asal jangan dipakai untuk menampung mantan aja.”

__ADS_1


“Hahaha, elo kocak. Gue, tuh sebenarnya kalau lihat elo, jadi ingat Jungkook.”


“Jungkook siapa? Gue tahunya IQ jongkok sama jungkir balik.”


“Hahaha, elo lucu. Bisa banget buat gue ketawa. Pantesan, Cinta jatuh hati sama elo.”


“Bisa aja, elo.”


Seketika Chilla merasakan desir aneh di dadanya, saat tak sengaja netranya beradu pandang dengan Iman.


Apa gue mulai menyukai cowok ini karena gue nyaman berada di dekat dia? gumamnya sembari memalingkan wajah ke gelas minumannya, sebab desir aneh itu kian mendera hatinya.


Sementara itu, di sudut lain kantin, Gilang yang sedang menyantap batagornya, terus saja mengamati Iman yang terlihat sedang terlibat obrolan serius dengan Chilla. Seketika timbul rasa ingin tahunya tentang isi percakapan antara Iman dan murid baru itu. Baru saja Gilang hendak bangkit dari tempat duduknya dan berniat menghampiri Iman juga Chilla, dari kejauhan, Gilang melihat Cinta dan Naya berjalan ke arah kantin. Dia mengurungkan niatnya dan kembali duduk di bangku kantin itu.


Waduh, bakal ada perang dingin, nih, gumam Gilang sembari menelan saliva.


“Eh, kalian. Makan, yuk,” ajak Gilang setelah Cinta dan Naya duduk di dekatnya. “Cinta, sebaiknya elo pesan minuman dingin dulu, biar berasa adem dan nggak dehidrasi. Cuacanya kebetulan lagi panas banget." Gilang mengibas-ngibaskan sebelah tangannya. Saran dari Gilang barusan membuat Cinta dan Naya saling pandang. Dahi kedua sahabat karib itu, seketika saja berkerut.


“Kak Iman mana? Biasanya kalian ke mana-mana berdua terus, kayak ban motor,” tanya Cinta sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin.


“Ban satu lagi, kempes, Cinta. Jadi dibawa ke tukang tambal dulu, hehehe.” Gilang berusaha melemparkan lelucon, karena dia yakin, kalau Cinta melihat Iman dan Chilla berduaan, akan menimbulkan ketegangan. Walau pun Iman dan Cinta sudah tak berpacaran, tetapi rasa sayang di antara mereka masih sangat besar.


“Apaan, sih, Kak? Bercandanya garing. Cinta itu nanya serius.” Naya memelotot ke arah Gilang.


“Hehehe, iya, maaf, Nay. Iman, di ....” Gilang menunjuk ke arah Iman dan Chilla berada dengan dagunya.


Cinta dan Naya kompak memalingkan pandangan ke arah yang ditunjukkan Gilang. Cinta tercengang melihat Iman tampak sedang mengobrol berdua dengan Chilla. Sesekali, mereka berdua terlihat tertawa bersama.


Apa benar yang dikatakan Kak Bagas tadi di gerbang sekolah? Apa iya, Kak Iman lagi pedekate sama cewek itu?


Sejumlah pertanyaan berkecamuk di benak Cinta. Entah mengapa, walau Iman bukan pacarnya lagi, tetapi ada perasaan sakit menyelusup di hatinya, sekaligus rasa tak rela apabila ada cewek yang menggantikan posisinya di hidup Iman.


Cinta memalingkan pandangan ke arah lain, tak sanggup lagi menyaksikan keakraban yang diperlihatkan Iman dan cewek itu.


Ya Allah, mengapa dari sejak pagi hingga kini Cinta harus merasakan mood yang hancur berantakan begini? keluh Cinta sambil bergegas meninggalkan kantin.


“Cinta!” teriak Naya. “Kak, kenapa, sih, Kak Iman tega? Baru aja dia putus, udah bikin luka baru di hati Cinta!” hardik Naya pada Gilang.


“Ini kayaknya salah paham, Nay. Aku yakin, Iman nggak seperti itu. Ya, siapa tahu, mereka lagi ngobrolin pelajaran.”


“Pake sok-sok ngebelain. Semua cowok sama aja, nggak punya perasaan!” Naya berlari meninggalkan kantin dan mengejar Cinta.

__ADS_1


“Nay!” Gilang mengurut-urut pelipisnya. Kemudian, dia kembali memandang ke arah Iman yang masih anteng ngobrol dengan Chilla. “Elo ada-ada aja, sih, Man. Elo yang asyik berduaan, gue jadi ikut kena getahnya.”


__ADS_2