Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
An Adorable Ikhsan


__ADS_3

Suara lantunan ayat suci Al Qur’an yang dibacakan oleh Ikhsan membuat semua yang hadir di lapangan terkesima. Betapa tidak, Ikhsan melantunkannya dengan suara yang indah nan merdu. Berpuluh pasang mata murid perempuan memandang cowok itu dengan tatapan kagum. Begitu juga dengan kepsek, para guru, dan staf sekolah. Semuanya diam membisu, terhanyut dalam setiap ayat suci yang tengah dilantunkan. Kedamaian menyelusup di setiap hati insan yang sedang menyimaknya.


Setiap hari Jum’at pagi, sebelum dimulai pembelajaran, di SMAN 6 memang selalu diadakan kegiatan rutin kerohanian yang diisi oleh ekskul Dinamika Remaja Islam (DRI) dan Hikmatul Iman (HI), yang dikenal dengan istilah Jumroh alias Jumat rohani. Selain diisi dengan pembacaan ayat suci Al Quran, kegiatan ini juga diisi kultum (kuliah tujuh menit) alias tausyiah yang disampaikan oleh Pak Sajidin, selaku guru agama di sekolah ini.


“Keren, Man, suara kakak loe. Penggemarnya bakal makin banyak aja kayaknya.” Gilang berbisik pada Iman yang duduk tepat di belakangnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah sahabatnya. Memang, dua sobat kental ini tak terpisahkan. Ke mana-mana selalu berdua dan berdekatan. Termasuk dalam hal baris-berbaris, Iman selalu baris di depan Gilang, begitu pun sebaliknya. “Kakak loe itu multitalented, Man. Apa aja dia kayaknya bisa ya? Basket pun dia jago. Otaknya juga cemerlang. Kakak loe memang pantas diidolakan. Loe lihat, Man. Cewek-cewek di sana pada pasang tampang mupeng sama kakak loe. Untung aja nggak keluar iler dari mulut mereka.” Cowok itu masih berbicara dengan nada berbisik, sebab takut ketahuan nggak menyimak. Malu, ‘kan kalau harus disuruh ke depan.


“Elo diajak ngomong diem aja, sih, Man. Sirik ya? Salah loe sendiri kakak sama adik jauh banget, ibarat bumi sama langit. Jangan-jangan elo mah anak pungut kali.” Gilang terus saja mencerocos. Netranya masih memandang ke arah cewek-cewek yang menatap lekat penuh kekaguman pada Ikhsan.


Cowok rambut belah tengah itu menertawakan tingkah para murid perempuan yang seolah hilang kesadaran, terhipnotis oleh pesona Ikhsan. Tak lama kemudian, pandangannya berpaling ke arah Iman. “Heu, Ibro. Pantesan loe dari tadi nggak ada suaranya, ternyata abis batere. Bangun, Man. Gebetan elo kabur tuh lihat loe ngiler.”


Tepukan Gilang di kaki Iman, berhasil membuat sobatnya itu membuka kedua matanya. Iman menggerakkan tangan ke atas untuk menghalau rasa pegal. Saat ia menautkan kedua jemari dan menekuknya, terdengar bunyi jari-jemarinya berkeretak. Tak berapa lama, cowok itu pun menguap dan berkali-kali mengucek matanya.


“Loe tuh ya gangguin gue aja. Padahal lima menit lagi aja elo bangunin gue nya. Kisah indah gue belum kelar.” Iman mendelik ke arah Gilang, kesal.


“Memangnya loe mimpi apa?” Gilang mendekatkan telinganya ke dekat wajah Iman. Tampang cowok kocak itu kelihatan penasaran, ingin menyimak cerita sahabatnya.


“Gue tuh tadi lagi mimpi akad nikah sama Selena Gomez. Gue udah baca ijab kabul dengan lancar, yang hadir juga udah bilang sah. Eh, giliran mau menyematkan cincin di jari manis doi, elo keburu ngebangunin. Sebel gue.” Iman menoyor kepala sahabatnya.


“Hahaha, elo di mimpi juga tetep halu ya. Udah, yang penting kan sah. Lagian elo kayak syaiton nirojim aja. Kakak loe lagi khusyuk baca quran, elo malah enak-enakan tamasya ke alam bawah sadar. Nih ya, biar elo tetap melek, loe lihat ke arah sana. Ada ciptaan Allah yang begitu sempurna dan sedap dipandang mata.” Gilang mengarahkan telunjuknya kepada dua cewek yang berada di barisan tengah kelas X. Mereka tampak serius menyimak ke depan.


Debar di dada Iman seketika hadir kala memandang cewek bermata indah itu. Sesekali senyum cewek cantik itu terkembang kala berbincang dengan cewek di sebelahnya. Senyum yang sempurna, menambah ayu parasnya.


“Itu ..., itu sih cewek kece gebetan gue, ‘kan?” Iman membelalakkan kedua matanya berusaha melihat dengan jelas wajah cewek itu. “Keren, dia lebih kece dari istri khayalan gue.”


“Istri khayalan?”


“Selena Gomez. Ah, elo mah, padahal dia femes lho. Nggak gaul sih, jadi aja nggak kenal. Nanti gue kenalin ya. Beberapa menit yang lalu doi kan akad nikah sama gue.”


“Halu loe jangan ketinggian, Man. Entar elo dikira gila.” Kini, giliran Gilang menoyor sahabatnya sebagai balasan yang dilakukan Iman terhadapnya tadi. “Eh, yang di sebelah gebetan loe itu cakep juga, tampangnya manis kearab-araban. Yang itu kandidat gue ya.”


“Terserah loe deh. Belum tentu juga dia mau sama elo.”


“Jangan gitu dong. Ngomong itu yang baik-baik aja. Kata Pak Sajidin juga ucapan itu sama dengan doa.”


“Iya, iya. Maaf. Kalau gitu, kita pedekate nya barengan aja. Kayaknya mereka berdua juga sahabatan seperti kita, Lang.”


“Siip, cakeep.”


Kedua cowok itu melakukan tos. Bersamaan dengan itu seseorang dari arah belakang mencolek bahu keduanya.


“Apaan sih? Pakai colek-colek segala. Kalau mau kenalan nanti pas jam istirahat. Daripada gangguin orang, mending dengerin ceramah tuh,” ujar Gilang tanpa memalingkan wajahnya ke arah orang yang mencolek pundaknya barusan, sebab Bu Lita tengah mengarahkan tatapan tajam ke arahnya.


“Tahu nih orang, ganggu aja. Nah ini, Lang syaiton itu,” ucap Iman dengan tetap mengarahkan pandangan ke depan lapangan. Tampak Pak Sajidin tengah menyampaikan tausyiah. Kembali Iman merasakan bahunya dicolek. “Aduh, stop---stop---stop. Geli tahu.” Iman menepis lengan yang berada di atas pundaknya barusan. Iman tak berani memalingkan wajah, sebab terkungkung tatapan Bu Lita.

__ADS_1


“Iman, Gilang, yuk lanjutkan ngegosipnya di depan. Bapak dari tadi mengamati kok yang kalian perbuat. Ayo silahkan ke depan. Sesekali jadi pusat perhatian kan enak, kayak artis lagi manggung.”


Suara bisikan di telinga keduanya, membuat mereka kompak menoleh ke belakang. Betapa terperanjatnya duo sahabat itu, ternyata yang mencolek pundak mereka dari tadi itu Pak Sasongko. Beliau berdiri di belakang mereka sembari berkacak pinggang. Tak berapa lama, guru BP itu menyuruh Iman dan Gilang maju ke depan dengan gerakan tangannya seraya menyunggingkan sebuah senyuman misterius.


Dua sahabat itu bangkit dari tempat duduknya, melangkah gontai menuju ke depan lapangan. Sial. Mereka harus terus berdiri hingga ceramah usai. Beberapa pasang mata mulai melirik ke arah mereka dan senyum-senyum menertawakan.


“Pegel nih gue, kaki mulai kesemutan,” keluh Gilang setengah berbisik.


“Iya, sama, Lang. Berdoa aja, mudah-mudahan ceramahnya Pak Sajidin nggak sepanjang sungai Nil.” Iman melayangkan pandang ke arah barisan kelas XII. Di sana, tampak sang kakak menggeleng-gelengkan kepala. Iman semakin tertunduk, malu. Maafin gue, Kak. Ulah gue selalu bikin loe malu. Gue nggak bisa sehebat elo. Iman bersenandika, pandangannya semakin menunduk. Malu.


***


Suara bel tanda waktu istirahat tiba terdengar nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Para murid keluar dari kelas masing-masing dan berhamburan menuju ke kantin sekolah yang terletak di belakang perpustakaan.


Gilang dan Iman pun mengikuti jejak teman-temannya melangkahkan kaki mengikuti kehendak perut mereka yang sudah dangdutan sedari tadi. Saat melewati koridor sekolah, langkah mereka terhenti, sebab di pinggir lapangan terdengar suara teriakan yang memekakkan telinga, berasal dari murid-murid perempuan yang sedang berkerumun di sana.


“Ikhsaan! Keringetan gitu makin cute ya. Andai gue yang jadi bola basketnya.”


“Ya ampun, keren banget ya, jago main basketnya.”


“Kak Ikhsan I love you!”


“Masya Allah, Kak Ikhsan makhluk Tuhan yang paling ganteng sedunia. Justin Bieber mah lewat.”


“Gila, Man, kakak elo udah kayak selebriti aja. Kapan kita dielu-elukan kayak gitu?” Gilang menepuk pundak sahabatnya yang ditanggapi dingin oleh Iman. “Kakak elo pakai pelet apa sih bisa bikin cewek-cewek sampai segitunya? Bagi-bagi gitu ke gue, Man,” lanjutnya, namun Iman masih tak menanggapi.


“Man! Sini sebentar!” Sebuah panggilan dan lambaian dari Dinar membuat langkahnya terhenti.


“Lang, elo duluan deh ke kantin. Nanti gue nyusul. Biasa ya, pesenin gue batagor kering bumbu kacang, tanpa sambal, jangan lupa pakai jeruk purut.”


“Oke, siap.”


Bergegas Iman menghampiri Dinar yang sudah menunggunya di ambang pintu kelas.


“Ada apaan sih?”


“Man, sebenarnya kakak loe itu udah punya pacar belum sih? Atau siapa di antara mereka yang jadi pacar dia?”


“Nar, elo kan sekelas sama dia. Kenapa nggak elo tanyain langsung?” Iman memandang heran ke arah Dinar yang sedang mengamati cewek-cewek itu dengan pandangan tak suka. Cemburu lebih tepatnya.


“Gue malu, Man. Elo kan adiknya, ketemu setiap waktu sama dia. Pernah nggak dia curhat ke elo soal cewek yang lagi deket sama dia?”


“Setahu gue sih dia nggak pernah cerita soal urusan pribadinya. Gue sama dia lebih sering diskusi tentang sekolah malah.”

__ADS_1


“Berarti dia masih jomlo ya, Man? Gue harap sih begitu.” Ada secercah keinginan yang teramat sangat terpancar dari kedua mata gadis itu. Iman mengedikkan bahu.


“Elo mah aneh, katanya kakak beradik, tapi nggak tahu menahu. Nggak bisa diandelin loe.” Dinar menghentakkan kaki, kesal. Lantas melangkah pergi meninggalkan Iman.


Cowok bertampang boyband Korea itu menggaruk kepalanya dan menertawakan tingkah salah satu penggemar kakaknya. Lah kok gue yang disalahkan?


Baru saja Iman hendak menuju kantin, langkahnya terhenti sebab ada yang menarik jaket kulit hitam kesayangannya.


“Eh---eh---eh jangan main tarik dong. Nanti jaket gue sobek!” Iman menoleh ke arah sang penarik jaketnya. Kedua bola matanya memutar. “Duh, elo lagi Abel. Mau nitip apa lagi buat kakak gue?”


“Eung ..., anu, Man. Ini ada cokelat Swiss buat Kak Ikhsan. Gue nitip ya. Inget loe, cuma buat Kak Ikhsan. Elo nggak boleh makan! Awas kalau sampai makan, gue sumpahin loe sakit perut nggak sembuh-sembuh.”


“Idih, naudzubillah. Hati-hati entar doanya kena ke elo juga. Kata Pak Sajidin kita harus mendoakan yang baik untuk orang lain. Insya Allah segala hal baik yang kita panjatkan untuk orang lain akan terjadi pada kita juga.”


“Cie, sok bijak elo. Kalimat masih copas dari guru juga, nggak kreatif. Habisnya gue kesel, gantungan menara Eiffel yang gue kasih ke Kak Ikhsan malah elo pake buat jadi asesoris kunci motor loe.” Gadis itu mencubit tangan Iman membuat cowok itu meringis kesakitan.


“Aduh, ampun, Bel. Itu kan atas seizin kakak gue. Udah dong udah, nanti kulit mulus gue terkontaminasi sama elo.” Abel melepaskan cubitannya, ia memandang iba ke arah Iman yang sedang mengelus-elus tangannya. Cewek itu baru menyadari kalau cubitannya barusan terlalu keras. “Tenang, Bel, cokelat ini bakal gue kasihkan ke dia, utuh.”


Thanks ya.” Murid kelas XI itu berlari kecil sembari sesekali melihat ke arah Ikhsan yang masih bermain basket. Iman menangkap binar di mata Abel setiap kali melihat Ikhsan mendribble bolanya.


“Cie ada yang ngasih hadiah. Elo punya penggemar, Man? Siapa?” Tatapan Gilang terpaku ke bungkusan yang dibawa Iman. Sebuah kotak berukuran sedang berbentuk hati.


“Bukan buat gue, buat Kak Ikhsan.” Iman menghempaskan badannya ke kursi kantin. Peluh bercucuran dari keningnya.


“Sudah gue duga. Elo yang tabah ya.” Cowok bertampang kocak itu menepuk-nepuk lembut pundak sahabatnya. “Buruan makan nih, keburu bel masuk.”


Iman memasukkan sepotong batagor ke dalam mulutnya. Kemudian cowok itu menyeruput es jeruk campur susu kesukaannya.


“Gue heran, Man. Kakak elo itu penggemarnya banyak. Memangnya nggak ada satu pun cewek yang mampu menggetarkan hatinya? Padahal kalau punya banyak fans gitu, bisa tiap hari gonta-ganti cewek tuh, hahaha.”


“Nggak tahu, Lang. Sejak dia gabung di DRI juga HI, dia mulai jaga jarak sama lawan jenis.”


Benak Iman menerawang ke masa di mana dia dan kakaknya masih kecil. Ikhsan kecil yang berkulit putih, berpipi chubby, dan berwajah menggemaskan, memang lebih populer di lingkungan rumahnya. Ibu-ibu komplek lebih sering menjawil pipi Ikhsan dan mengajak bermain kakaknya itu ketimbang dirinya. Sejak dulu hingga kini, Ikhsan memang banyak diidolakan kaum hawa. Terlebih lagi, kakaknya itu memiliki otak yang cemerlang, aktif di organisasi di sekolah dan punya segudang prestasi sejak kecil, membuat Ikhsan semakin dikenal.


Kak, elo boleh deh jadi pacar siapa pun. Asalkan jangan Selena Gomez dan gebetan kece gue di sekolah ini, batinnya lirih. Sekelebat bayangan wajah cantik milik cewek gebetannya terlintas di pelupuk mata. Duhai sang pemilik mata dan senyum indah, siapa gerangan namamu?


“Man, katanya elo laper, tapi batagor ini malah dipelototin doang. Hayu ke kelas, udah bel.” Iman tersentak hingga batagor dalam mulutnya jatuh ke dalam piring. Ia bangkit dari kursi sembari membawa piring berisi batagor yang tinggal separuh itu.


“Mau dibawa ke mana itu batagor? Dilarang makan di kelas.” Sebagai sahabat yang baik, Gilang berusaha mencegah niat buruk Iman.


“Enak aja nuduh gue. Siapa yang mau makan di kelas? Pussy, pussy, sini dong. Ada makanan buat elo.” Seekor kucing berbulu putih kombinasi corak hitam seperti sapi muncul dari kolong meja kantin dan mulai melahap makanan pemberian Iman. Tak berapa lama tiga ekor kucing kecil ikut makan juga.


Gilang trenyuh, ternyata di balik sifat cuek dan urakan Iman, tersimpan hati yang lembut dan penyayang.

__ADS_1


__ADS_2