
“Elo Chilla Adera, ya?”
Chilla yang tengah menikmati kupat tahu di salah satu bangku kantin, mendongak ke arah sumber suara. “Iya, gue Chilla. Elo siapa?" Chilla mengernyitkan dahinya, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Barangkali saja, dia mungkin pernah bertemu dengan cowok jangkung ini di suatu tempat, atau mungkin pernah mengenalnya. Untuk beberapa detik, dia mengamati wajah cowok yang kini duduk di depannya itu.
"Kenalin, gue Bagas, kelas XII. Gue sekelas, lho sama Ikhsan.” Melihat Chilla yang tampak kebingungan, Bagas mengulurkan tangan kanannya ke arah cewek itu sambil memperkenalkan diri.
“Kalau gue, sih sekelas sama adiknya Kak Ikhsan,” ujar Chilla sambil membalas uluran tangan Bagas. Kemudian cewek itu kembali menyuapkan potongan tahu ke dalam mulutnya.
“Oh, elo sekelas sama Iman?”
“Iya,” jawab Chilla singkat di sela-sela kunyahannya.
“Oh, pantesan gue akhir-akhir ini gue sering lihat elo ngobrol sama dia, akrab gitu. Elo berdua pacaran?”
Chilla tersedak mendengar pertanyaan Bagas. Beberapa kali terdengar suara batuknya. Chilla menyeruput jus jeruknya sambil mengusap-usap dada, berusaha meredakan batuknya.
“Nggak usah panik begitu, deh. Gue, ‘kan cuma nanya, nggak ada maksud lain. Hanya keponya tiba-tiba kumat aja, hehehe.” Bagas mengusap-usap rambutnya yang agak keriting sambil tersenyum penuh arti menyaksikan Chilla yang memperlihatkan kegugupannya. Bagas yakin, cewek di hadapannya ini ada rasa suka terhadap Iman.
“Iman, ‘kan pacaran sama Cinta. Seantero sekolah ini udah pada tahu, kok.”
“Hahaha, elo ke mana aja, sih? Sampai ketinggalan zaman begini.” Bagas geleng-geleng kepala.
“Sorry, ya. Gue itu bukan biang keladi atau biang gosip. Kalau biang keringat, iya. Makanya gue nggak pernah ingin tahu kabar terupdate seputar yang ada di sekolah ini.” Chilla mendecak kesal melihat Bagas menertawakannya. Dia merasa menjadi murid yang paling nggak up to date atau nggak gaul karena Bagas meremehkannya.
“Asal elo tahu aja, ya. Iman itu udah putus dari Cinta.”
Chilla membelalakkan mata. Entah mengapa, ada sedikit perasaan senang mendengar kabar itu, walau itu bukan dari mulut Iman sendiri. Sepertinya dia harus menyelidiki sendiri kebenarannya.
“Gue tahu, elo ada hati, ‘kan sama Iman?" tanya Bagas dengan antusias. Dia sangat yakin, tebakannya itu benar.
"Sok tahu, elo!" Chilla mendelik sembari mendecak kesal menanggapi rasa ingin tahu yang diperlihatkan Bagas.
"Udah, percuma elo ngeles. Kelihatan, kok, dari sikap elo ke Iman. Dari pada elo terus mengharapkan Ikhsan. Susah cuy, elo itu ibarat pungguk yang merindukan bulan.”
“Elo itu punya indera keenam atau cenayang, sih? Kok elo bisa tahu isi hati gue? Heran, deh! Penting, gitu buat elo, untuk tahu dalam hati gue?” Chilla memandang wajah Bagas dengan tatapan menyelidik, sementara yang ditatap malah cengengesan.
“Gue bukan orang pintar atau semacamnya. Gue ini calon pacarnya Cinta.”
“Halu, elo. Mana mau Cinta sama cowok kayak elo? Elo itu jauh banget kalau dibandingkan dengan Iman, sejauh jarak matahari dan bumi ini,” cibir Chilla.
“Sembarangan elo kalau ngomong! Gini-gini juga gue itu coverboy majalah flora dan fauna.” Bagas menepuk dadanya sendiri sembari membusungkannya, bangga.
“Oh, ya? Pantesan gue pernah lihat elo di kebun binatang.”
Bagas tak berkutik. Dia langsung terdiam, tak mampu membalas ucapan Chilla. Untung saja, orang di hadapannya ini seorang cewek, sehingga Bagas cukup bersabar menghadapinya. Kalau saja dia itu cowok, Bagas sudah pasti akan langsung melayangkan tinjunya ke wajah orang itu tanpa ampun.
__ADS_1
“Makanya, elo pepet terus Iman, biar jalan gue mulus untuk mendapatkan Cinta. Elo jangan sia-siakan kesempatan, mumpung Iman udah berstatus single, sikat aja.”
“Elo kira Iman itu kamar mandi atau gigi kelinci, pakai disikat segala.”
“Hahaha, elo itu lucu, cocok banget sama Iman yang kocak. Elo mah enak udah deket banget sama dia. Gue? Kudu gaspoll cuy pedekatenya, nggak bisa dikasih kendor.”
Chilla tampak serius berpikir. Akhir-akhir ini dia memang merasa sangat nyaman apabila berdekatan dengan Iman. Chilla pun mengakui, dia nggak pernah merasa sungkan untuk curhat hal apapun pada Iman. Nyatanya, yang dikejar, malah semakin tak tergapai, kenapa nggak dia coba meraih yang sudah dekat?
“Oke, gue setuju sama usul elo.”
“Sip, gue suka gaya elo. Good luck, cuy.”
“You too.”
Chilla dan Bagas saling berjabatan tangan sebagai pertanda mereka sepakat mewujudkan tujuan yang sama, yaitu berusaha untuk mendapatkan orang yang mereka cintai masing-masing. Saking asyiknya Bagas dan Chilla serius membicarakan rencana yang telah disepakati, mereka tak menyadari bahwa sedari tadi ada seseorang yang mengawasi gerak-gerik mereka dengan tatapan penuh kecurigaan dan juga rasa ingin tahu.
“Wah, gue mencium gelagat yang nggak beres, nih. Sepertinya mereka bersekongkol merencanakan sesuatu yang berbahaya. Gue yakin, ini ada hubungannya sama Iman juga Cinta.” Setelah menyuapkan potongan terakhir batagornya, Gilang bangkit dari tempat duduknya, lalu membayar makanan dan minuman yang sudah dihabiskannya tak bersisa. Dengan langkah lebar, bergegas Gilang meninggalkan kantin, mencari Iman dan juga Cinta. Dia bermaksud ingin menyampaikan kecurigaannya pada gerak-gerik Bagas dan Chilla.
***
Gilang berlarian sepanjang koridor sekolah sembari mengedarkan pandangannya. Namun, dua sosok yang dia cari tak kunjung ditemui. Tiba di kelas XI, Gilang tak juga menemukan Iman. Cowok bertampang kocak itu lantas melangkahkan kaki menuju kelas X, berharap Iman dan Cinta ada di sana. Mudah-mudahan juga dia bisa sekaligus bertemu dengan Naya. Setibanya di kelas X, Gilang kecewa, karena tiga orang yang dicarinya tak ada juga di sana.
“Duh, pada ke mana, sih, mereka?” Gilang menggaruk-garuk kepala sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celana seragamnya, lalu melakukan panggilan.
Maaf, pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan. Segeralah lakukan pengisian ulang.
Dia lantas berjalan menuju taman belakang sekolah. Feeling Gilang mengatakan kalau mereka saat ini ada di sana, karena di sanalah mereka berempat sering berkumpul ketika masih berstatus pacaran. Benar saja, sampai di sana, Gilang melihat Iman, Cinta, juga Naya sedang duduk di bangku taman. Namun, Gilang melihat Iman dan Cinta tampak sedang bersitegang. Gilang mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk mengamati dari kejauhan. Pada situasi seperti ini, bukanlah waktu yang tepat untuk menyampaikan tentang Bagas dan Chilla.
“Kak Iman, ini kayaknya Cinta kembalikan aja, ya.” Cinta memberikan cincin serta kalung pemberian Iman dengan wajah sendu.
Iman tercengang, sebab tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja Cinta seperti itu. Dia memandang lekat wajah Cinta, berusaha menebak dan memahami apa yang sedang berkecamuk dalam benak cewek cantik itu. Iman mengalihkan pandangannya pada Naya, seolah meminta penjelasan dari sahabat dekatnya Cinta. Namun, Naya membalas tatapan Iman dengan mengangkat bahu. Iman mengacak-acak rambutnya frustrasi. Dia semakin dibuat bingung dihadapkan dengan situasi seperti ini. Iman menggenggam erat cincin dan kalung Cinta yang sudah berpindah sedari tadi ke tangannya.
“Kenapa dikembalikan, Cinta?”
“Biar Kak Iman bebas pacaran dengan siapa pun, termasuk murid baru dari Jakarta itu,” jawab Cinta pelan dan lemah. Wajah cantiknya terlihat semakin muram. Naya mendekati Cinta, lalu mengelus-elus lembut punggungnya, berusaha menguatkan Cinta.
“Cinta, Kakak nggak pacaran sama siapa pun. Sama Chilla juga cuma temenan, nggak lebih.”
“Tapi, Kakak dekat banget sama dia. Kelihatan nyaman kalau bicara berdua. Cinta kemarin nggak sengaja, lihat Kakak sama dia ngobrol, akrab banget.” Cinta masih tetap tak mau menyebutkan nama cewek dari kota metropolitan itu. Ada rasa panas menyebar di dadanya apabila mengingat wajah cewek itu. Cinta menghela napas berat. Entahlah, dia sendiri tak mengerti dengan yang sedang berkecamuk dalam dadanya saat ini. Padahal, dia sudah bukan pacar Iman lagi. Tak seharusnya dia bersikap seperti ini.
“Dia curhat soal Kak Ikhsan. Chilla itu sukanya sama Kak Ikhsan, Cinta. Percaya sama Kakak, please.” Iman menangkupkan kedua tangannya seraya memohon.
“Rasa suka itu berawal dari curhat dan kedekatan, Kak. Jadi, biar Kakak bebas, nggak terbebani dengan janji Kak Iman yang sudah terucap, Cinta nggak bisa pakai lagi cincin dan kalung dari Kakak itu. Anggap saja, di antara kita nggak pernah ada apa-apa. Dan, Cinta juga bisa bebas melanjutkan hidup.”
“Sebentar, Cinta. Maksudnya, kamu mengembalikan ini semua, biar kamu juga bebas didekati Bagas? Begitu?”
__ADS_1
“Sabar, Man, sabar. Cinta juga sabar, ya. Nggak usah pakai emosi dulu.” Bergegas Gilang menghampiri mereka, lantas duduk di samping Iman. Dia harus turun tangan untuk meredakan ketegangan dan kesalahpaham antara Iman dan Cinta. “Gue punya info penting buat elo semua.”
Iman, Cinta, dan juga Naya kompak memandang ke wajah Gilang. Tanpa perlu mengajukan pertanyaan, melihat raut wajah mereka, Gilang tahu, kalau ketiganya sedang penasaran dan meminta penjelasan darinya.
“Nggak usah pada terpesona, gitu, deh melihatnya, mentang-mentang wajah gue ini gamal. Elo semua sampai terpukau begitu,” canda Gilang berusaha mencairkan ketegangan. Cowok berwajah kocak itu menyugar belahan rambutnya dengan sebelah tangan.
“Gamal? Sejenis makanan apa itu?” tanya Iman heran.
“Ganteng maksimal, lah. Masa elo semua nggak menyadarinya?” Gilang menaikkan kedua alisnya sambil senyum-senyum sendiri.
“Bukan ganteng maksimal, tapi galau maksimal.” Iman geleng-geleng kepala. Rupanya sahabat kental dia sedang kumat rasa percaya dirinya yang hanya berupa khayalan semata saja.
Ganteng dari mana? Dilihat dari lubang sedotan ada nggak ada lucu-lucunya. Begitu kira-kira pendapat hati Iman tentang Gilang. “Udah, to the point aja. Elo mau menyampaikan hal penting apa? Dari pada elo semakin halu tentang tampang elo itu, nanti pas lihat kenyataannya, elo malah kena syok akut.”
Cinta dan Naya tersenyum kecil mendengar ucapan Iman. Sementara Gilang malah cemberut. Candaan yang dia lontarkan, malah menjadi boomerang baginya.
“Nggak lucu, elo, Man. Setuju aja, kenapa, biar elo dapat pahala, karena membahagiakan hati seorang Gilang ini,” ujar Gilang, masih mengerucutkan bibirnya.
“Gue nggak tega, Lang. Takut elo patah hati. Karena halu elo nggak sesuai dengan kenyataan.”
“Iya, deh, iya. Elo memang selalu menang kalau dalam hal membully gue.” Gilang diam sejenak, berusaha menerima kekalahannya dari Iman. “Jadi gini, gue tadi lihat Bagas sama Chilla di kantin. Mereka lagi ngobrol serius begitu. Terus, nih, sebelum Bagas meninggalkan Chilla, mereka berjabatan tangan. Erat banget.”
“Mungkin mereka lagi kenalan, atau jadian,” tebak Iman.
“Bukan, Man. Kayaknya mereka merencanakan sesuatu yang ada hubungannya dengan elo juga Cinta. Elo tahu sendiri, ‘kan, Man, Bagas itu suka sama Cinta. Gue yakin, dia akan melakukan segala cara untuk mewujudkan keinginannya itu."
Iman manggut-manggut, lalu memasang wajah serius. Sepertinya, dia sedang memikirkan sesuatu. “Terus, hubungannya sama gue, apa? Chilla itu, ‘kan cinta mati sama kakak gue.”
“Ibro, kirain elo tadi diam, udah paham maksud gue.” Gilang menepuk jidatnya. “Kalau gue tebak, sih, Chilla itu udah berubah haluan. Dia udah nyerah mengejar kakak elo, dan mencoba deketin elo, Man. Sampai sini, elo ngerti, Man?”
“Jadi, maksud elo, Bagas nyuruh Chilla deketin gue, biar jurus pedekatenya dia ke Cinta berjalan mulus? Tanpa hambatan?”
“Tepat sekali, Man. Tumben elo nyambung. Sinyalnya lagi kuat, ya?”
"Always on, Lang, gue, mah."
Mereka berempat lantas sama-sama terdiam, larut dalam jalan pikiran masing-masing. Iman melirik Cinta, berharap cewek itu kembali mau memakai cincin dan kalung pemberiannya. Sayup-sayup terdengar suara bel dibunyikan, pertanda jam istirahat telah usai.
“Cinta, please, pakai lagi.” Iman mengangsurkan cincin dan kalung di tangannya pada Cinta. Dia berharap, cewek itu luluh dan mau menerima kembali kedua benda itu.
“Maaf, Kak. Cinta belum bisa menerimanya sebelum semuanya terbukti. Yuk, Nay.”
Naya mengangguk. Kemudian, dua cewek sahabat karib itu beranjak dari bangku taman dan melangkah meninggalkan Iman juga Gilang. Iman menatap sendu kepergian Cinta. Dia menggenggam cincin dan kalung milik Cinta di tangannya dengan perasaan hampa dan tak karuan.
“Sabar, Man. Gue bakal bantu elo membuktikan kecurigaan gue sama Bagas juga Chilla. Elo lihat aja reaksi Chilla. Kalau dia gencar deketin elo, berarti ucapan gue terbukti benar.” Gilang menepuk pundak Iman, berusaha menenangkan hati sohibnya yang sedang kacau itu.
__ADS_1
“Iya, Lang, thanks. Gue akan buat Cinta kembali mau memakai ini.” Iman menghela napas berat. Dia tak menyangka, kedekatan dirinya dan Chilla yang hanya sebatas teman saja, menimbulkan situasi yang pelik antara dia dan Cinta, cewek yang sampai detik ini masih sangat disayanginya itu.
Dari kejauhan, tampak Pak Sasongko berjalan ke arah taman. Sebelum guru BP itu semakin mendekat, buru-buru Iman dan Gilang beranjak dari tempat duduk mereka. Duo sahabat sejati itu bergegas menuju ke kelas XI. Dari pada kena teguran guru BP itu, mereka lebih memilih cari aman dan tak berurusan dengan Pak Sasongko, bisa berabe nantinya.