
Iman melangkah ringan dengan penuh semangat di koridor sekolah. Sesekali terdengar dia menyanyikan lagu Love You Like a Love Song, milik penyanyi idolanya, Selena Gomez. Di depan ruang kepala sekolah, Pak Baratha tampak sedang berbincang serius dengan Cinta. Tiba-tiba, langkahnya terhenti, sebab kepsek yang terkenal jarang tersenyum itu memanggilnya.
“Iman, ke sini sebentar.”
Dadanya berdebar tak karuan. Ada apa gerangan sang calon mertua memanggilnya? Apakah hendak menyampaikan sebuah perintah, amanat, atau pesan yang harus dilaksanakannya dengan sepenuh hati?
“Man, Bapak tahu kamu menaruh hati sama putri Bapak,” ucap Pak Baratha sembari menepuk-nepuk pundak Iman.
Rupanya Pak Baratha selain sebagai kepala sekolah, merangkap jadi paranormal juga. Buktinya dia bisa menebak perasaan gue. Iman garuk-garuk kepala.
“Bapak merestui hubungan kalian. Mulai sekarang Bapak percayakan. Cinta sama kamu. Sanggup kamu, Man menjaga Cinta?”
Iman mengangguk. Setelah bersalaman dengan Cinta dan Pak Baratha, dia berlari kencang sepanjang koridor sekolah hendak mencari Gilang dan menceritakan kabar bahagia ini. Saking gembiranya, Iman tak memperhatikan langkahnya, hingga dia terpeleset dan ---
Gedubrak ....!
Iman terjatuh. Anehnya, saat cowok itu membuka mata, ternyata dia terguling di atas kasur. “Buset, ternyata cuma mimpi. Tapi, gue girang banget. Apalagi kalau beneran.”
“Iman, ini udah setengah tujuh. Kamu belum bangun juga?” Bunda berteriak sangat keras sembari membuka pintu kamar putra bungsunya. “Kenapa kamu malah tiduran di situ?” Bunda heran melihat Iman tidur di lantai sambil meringis.
“Jatuh, Bund.”
“Kamu nggak ke sekolah? Ini udah siang, lho.”
Iman melirik jam meja MU kesayangannya di atas nakas. Jarum pendeknya memang sudah hampir menyentuh angka tujuh.
“Buset, udah siang gini. Bunda kenapa nggak bangunin dari tadi?”
“Bunda udah bangunin kamu dari subuh, tetap nggak bangun juga. Tadinya kalau sampai jam segini belum bangun juga, kamu mau Bunda siram pakai air es!”
“ Jangan, Bund. Iman bisa mandi sendiri kok.” Dengan panik, Iman berlari ke kamar mandi. Selesai mandi, Iman tergesa-gesa mengenakan sepatunya lantas menghampiri Bunda yang sedang sarapan, hendak berpamitan.
“Man, sarapan dulu,” ujar Bunda sembari mengoles roti dengan selai cokelat kesukaan Iman.
Iman mengambil segelas air putih di atas meja dan meminumnya. “Iman buru-buru Bund. Udah kesiangan, nih.” Iman lalu mencium punggung tangan sang Bunda.
“Iman, tunggu!” seru Bu Lastri sebelum Iman membuka pintu depan.
“Iya, Bund?”
“Kamu kalau buru-buru, jangan sampai ada yang lupa, dong,” nasihat Bunda sembari berusaha menahan tawa.
Iman kembali mengecek isi tasnya dan memeriksa semua buku pelajaran yang diperlukan sesuai dengan jadwal hari ini.
“Udah lengkap kok, Bund.”
Bu Lastri menurunkan pandangan ke arah kaki Iman. “Kamu belum pakai celana tuh. Masa ke sekolah cuma pakai kolor doang? Mana gambarnya Doraemon lagi.” Tawa Bu Lastri meledak, tak mampu ditahannya lagi.
Waduh, kalau Pak Baratha lihat gue begini, bisa dipecat jadi calon menantu. Iman mengambil langkah seribu menuju ke kamar, mengambil celana seragamnya. Setelah berseragam lengkap, Iman segera berlari menuju ke garasi dan mengeluarkan motor kesayangannya. Iman melajukan motornya dengan kencang, lebih cepat dari Gerry, siput peliharaan Spongebob yang sedang lomba marathon. Gara-gara mimpi indahnya, dia jadi bangun kesiangan.
Untung saja, mimpinya itu hanya sampai pernyataan Pak Baratha yang memintanya menjaga Cinta, kalau diteruskan sampai dia dan Cinta jadian, mungkin Iman bisa bangun pukul dua belas siang.
Setibanya di gerbang sekolah, Iman memarkir motornya. Gerbang sudah tertutup rapat, dan Pak Sasongko yang biasanya selalu berdiri di sana, sudah tak ada lagi. Iman merogoh saku celananya dan mengambil ponsel untuk melihat jam. Ternyata, waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan lebih.
“Arrgh! Ini udah siang banget!” dengusnya sembari mengacak-agak rambut frustrasi.
Kalau hari ini dia tidak masuk, berarti akan kehilangan kesempatan untuk ikut ulangan matematika. Iman malas kalau harus ikut ulangan susulan, sebab tak ada yang bisa ditanyai ketika dia mengalami kesulitan, alias tidak ada yang akan memberinya contekan. Namun, tidak ada kata menyerah dalam kamus Iman. Dia menciptakan sebuah pepatah dalam benaknya, masih banyak jalan masuk ke gerbang sekolah, termasuk kalau harus memanjatnya.
Akhirnya, Iman mendorong N Max nya menuju kios Mang Wawan di dekat SMAN 6 dan menitipkannya di sana. Setelah itu, dia kembali berjalan menuju sekolah dan mulai memanjat gerbang. Sesampainya di atas, Iman pun melompat. Terdengarlah suara celana seragamnya sobek, karena mengait ke ujung besi gerbang yang runcing.
“Sial, malah sobek!” gerutunya kesal.
Iman terpaksa berjalan dengan menutup bagian belakang celananya yang sobek. Dia mengendap-endap menuju ke kelasnya. Iman tak henti-henti menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak seorang pun memergokinya. Sampai di depan kelas, dia mengintip lewat jendela.
Di dalam, terlihat semua murid sedang sibuk mengerjakan soal, tapi tak ada Bu Lita di sana. Yes, aman, batinnya. Namun, di saat Iman membalikkan badan, guru matematika yang terkenal killer itu, seketika sudah berdiri di depannya.
__ADS_1
“Eh, Ibu.” Iman menggaruk tengkuknya. “Hari ini cerah ya, Bu.”
“Lagi ngapain kamu di sini?” tanya Bu Lita.
“Ini, Bu kacanya kotor banget. Saya lagi bersihin debunya.” Iman pura-pura mengelap jendela.
“Kalau begitu, kamu sekalian saja bersihkan toilet murid. Di sana juga banyak debunya.”
Iman membulatkan mata. Sungguh sial nasibnya hari ini, berbanding terbalik dengan mimpi indahnya. “Tapi, Bu ..., ulangan saya bagaimana?”
“Nggak usah tapi---tapi. Kamu mau hukumannya ditambah dengan keliling lapangan? Untuk ulangan kamu bisa ikut susulan!”
Iman melangkah gontai menuju ke toilet murid. Hukuman dari guru memang sangat identik dengannya. Tapi, begitulah Iman. Dia hanya insan biasa dengan beribu-ribu kekurangan.
***
Kantin, tempat Iman melepaskan lelah setelah menjalani hukuman. Es jeruk campur susu, menjadi minuman pilihannya untuk menghilangkan dahaga. Beberapa murid sudah terlihat mengantre, memesan makanan dan minuman yang akan membebaskan mereka dari rasa lapar juga haus. Dari kejauhan, tampak Gilang berjalan ke arah Iman.
“Tumben elo kesiangan lagi. Kirain udah tobat dari penyakit yang satu ini, “ ucap Gilang setelah duduk di samping Iman. Cowok berwajah kocak itu heran, sebab sudah lama Iman tak pernah datang terlambat ke sekolah.
“Gue, ‘kan semalam bergadang. Mempersiapkan diri menghadapi ulangan matematika.”
“Tapi sia-sia, ‘kan. Elo malah harus ikut susulan minggu depan?”
Iman mengangguk lemah. Padahal, sebenarnya, semalaman dia tak bisa tidur karena memikirkan cara untuk membicarakan tentang Cinta pada kakaknya, ditambah dia terbuai dengan mimpi indahnya, membuat dia bangun kesiangan dan terlambat datang ke sekolah. Kalau Iman tak berhasil membujuk Kak Ikhsan, dia harus berpikir keras menemukan jalan keluar yang tepat. Saat sedang merenung, ekor matanya menangkap sosok sang kakak sedang berjalan menuju ke perpustakaan. Iman beranjak dari tempat duduknya. Saatnya dia berbicara empat mata dengan Kak Ikhsan, karena di rumah dia tak sempat bertemu kakaknya.
“Mau ke mana, Man? Nggak pesan batagor dulu?” tanya Gilang sembari memandang penasaran pada sahabatnya itu.
“Nanti, gue makannya di rumah. Bunda bikin batagor spesial rasa ikan Nemo.” Iman menjawab sekenanya sembari beranjak meninggalkan sobat kentalnya
Gilang geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah aneh dan mencurigakan dari sahabatnya itu. Ingin rasanya membuntuti Iman, tetapi panggilan perut yang meronta-ronta minta segera diisi, membuatnya mengurungkan niat itu dan segera menyeret langkahnya, berbaur dengan murid-murid lainnya yang sedang memesan batagor.
Setibanya di perpustakaan, Iman menghampiri sang kakak yang tengah serius membaca. “Kak, gue mau ngomong,” bisik Iman setelah berada di dekat kakaknya.
Ikhsan mendongak ke arah sang adik yang sedang memasang wajah serius. “Itu udah ngomong.”
“Iya, iya. Elo mau masuk ekskul DRI atau HI?”
Iman menggeleng. “Bukan itu, Kak. Ini soal seseorang yang lagi naksir berat sama elo.”
“Itu sih udah lagu lama. Gue nggak aneh mendengarnya.”
“Tapi, Kak ini lain. Kalau elo pacaran sama dia, elo pasti akan bahagia. Karena dia punya cinta yang tulus dari hati.”
“Elo belum sarapan ya? Jam segini udah ngebucin aja.”
“Duh, Kak, gue serius. Dia itu cantik, pinter lagi. Dan hobinya sama kayak elo, Kak. Membaca. Elo pasti bakal cocok sama dia. Pokoknya, dia sosok yang sangat sempurna.”
“Kesempurnaan itu hanya milik Allah, Man.”
“Kak, kalau elo jadian sama dia, elo nggak akan menyesal deh.”
“Gencar banget promosinya. Jangan-jangan elo yang naksir dia.”
Iya, Kak, gue naksir banget sama dia. Makanya gue ingin menyatukan dia dengan elo, orang yang sangat dia cinta, biar dia bahagia. “Kak, namanya Cinta Lintang Larasati, anak kelas X. Dia putrinya Pak Baratha. Elo nggak tertarik?”
Mendengar Iman menyebutkan nama itu, Ikhsan berusaha mengingat-ingat. Sepertinya nama itu tak asing. Ah, iya. Cewek itu yang pernah gue tolong, sewaktu pingsan di hari ketiga MOPDB. “Terus, kalau dia anak kepsek, gue harus bilang wah sambil salto gitu?”
“Bukan begitu, Kak. Pertimbangkan deh buat jadiin dia pacar elo.”
“Gue nggak mau pacaran, Man. Titik.” Ikhsan menutup buku yang dibacanya lantas beranjak dari kursi. “Minggir, minggir. Gue mau ke kelas. Udah bel masuk.”
“Kak, please. Nanti Kakak menyesal lho udah menolak cewek secantik dia.”
“Gue lebih menyesal lagi kalau menerima perasaan dia. Sama aja dengan menumpuk dosa,” ujar Iman tegas sembari berlalu dari hadapan Iman.
__ADS_1
“Kak, kok elo begitu, sih? Teganya menolak cinta tulus seseorang. Kak!” teriak Imam karena sang kakak sudah berada agak jauh darinya.
“Sstt, berisik!” Bu Azkia mendelik ke arah Iman. Refleks, cowok itu menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Iman melangkah gontai menuju ke kelas XI. Badannya berada di sekolah, tetapi benaknya menerawang jauh. Iman sudah menduga, kakaknya pasti akan menolak. Dia menghela napas berat. Bagaimana caranya membuat Cinta bahagia? lirihnya. Ekor matanya menangkap Cinta sedang memandang sedih ke arah Kak Ikhsan yang terlihat sedang berjalan di koridor sekolah. Hati cowok itu pilu dan merasa iba. Iman tersenyum kecut. Dia berharap, nanti malam segera menemukan jalan keluarnya.
***
Malam harinya, otak Iman benar-benar berpikir keras, lebih keras dari saat akan menghadapi Penilaian Akhir Tahun. Benaknya berputar terus memikirkan cara untuk membuat Cinta bahagia.
“Ayo, dong, ilham datanglah. Maaf, gue bukan sedang memanggil Ilham Sanusi, teman sekelas gue, hehehe.” Iman tertawa, berusaha menghibur dirinya yang sedang kalut.
Netra Iman berkeliling, menyapu seluruh penjuru kamar. Siapa tahu, ada sesuatu yang bisa memunculkan ide dalam benaknya. Saat pandangannya terpaku pada sebuah amplop berisi surat pemberitahuan dari sekolah, Iman memperoleh ide. Dia mulai mengambil selembar kertas surat yang dibelinya di tempat fotokopi seberang sekolah tadi siang. Jemari Iman mulai menulis sesuatu di sana.
Assalamu alaikum, Cinta, apa kabar? Pasti kaget ya, nggak ada hujan, banjir pun surut, tsunami juga tak muncul, tiba-tiba aku berkirim surat? Maaf, bukan mau pamer tulisan aku yang rapi dan bagus, tapi melalui sepucuk surat ini, aku ingin menyampaikan sesuatu. Dengarkan curhatku, tentang dirinya. Betapa manisnya, senyum bibirnya. Kamu pasti membaca kalimat yang ini sambil nyanyi lagu Dengarkan Curhatku nya Vierra, ya? Upps, maaf. Just kidding. Mau dianggap serius, dua rius, sampai tiga rius juga nggak apa-apa.
Cinta, kamu tentunya masih ingat, ‘kan peristiwa di mana kamu pingsan sewaktu hari ketiga MOPDB? Di situ aku langsung tahu, lho, nama lengkap kamu. Eitss, jangan menyangka aku itu ahli menerawang, sampai tahu segalanya. Bukan, kok. Biarkan saja alat pendeteksi uang palsu yang bekerja menerawang mah.
Kamu pasti bertanya-tanya, ya, mengapa aku sampai tahu nama kamu, padahal kita belum berkenalan? Mau kenalan bagaimana, kamu nya aja tak sadarkan diri? Aku baca dari nama tag kamu. Sekarang, coba tebak, siapa nama aku? Aku langsung jawab ya, biar aku saja yang kebingungan, jangan kamu. Namaku Ikhsan Eka Wicaksana. Kalau aku boleh jujur, saat pertama melihatmu, aku langsung suka sama kamu. Dan, maaf nih kalau aku kepedean. Aku juga tahu, kamu diam-diam sering mengamati aku. Ciee, bener, ‘kan? Kamu pasti saat ini sedang mengangguk.
Sekian dulu ya surat dari aku. Kalau tanganku udah nggak pegal, nanti aku sambung lagi. Tetaplah tersenyum, jangan bersedih, karena senyuman itu membuat wajahmu lebih cantik daripada Snow White. Empat kali empat enam belas, sempat tidak sempat, surat ini wajib dibalas.
N.B: Biar kamu nggak harus repot-repot membeli perangko dan pergi ke kantor pos, kamu bisa menitipkan balasan suratnya ke adik aku yang super duper cakep alias Iman sang pejuang cinta. Kamu jangan khawatir, dia nggak akan berani membacanya.
Setelah membaca ulang tulisannya dan merasa puas, Iman melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop berwarna merah jambu, senada dengan warna kertas suratnya. Dia tersenyum kecil, semoga usahanya ini berhasil membuat Cinta bahagia.
Esoknya, setelah salat Subuh, Iman bergegas ke kamar mandi. Biasanya, dia tidur lagi, melanjutkan mimpi. Tetapi, kali ini, Iman langsung bersiap-siap hendak ke sekolah.
Sang Bunda yang heran melihat Iman sudah memakai seragam rapi, menghampiri anak bungsunya itu seraya meraba dahinya.
“Man, kamu rajin banget jam segini udah mau berangkat ke sekolah? Padahal baru pukul lima.lebih sepuluh, lho. Kamu sadar, ‘kan?”
“Alhamdulillah, Iman melakukan ini dengan penuh kesadaran, Bund,” jawab Iman sembari mengenakan sepatu. Sekali lagi dia mengamati sepatunya, khawatir salah pakai lagi. Dia bernapas lega, sebab sepatu yang dipakainya sudah benar dan sesuai peraturan sekolah.
“Tadinya, kalau hari ini kamu susah dibangunin, Bunda udah siap-siap ke rumah Pak RT. Mau pinjam toa.” Bunda tertawa kecil melihat putranya mengerucutkan bibir.
“Bunda, pakai mau pinjam pengeras suara segala. Telinga Iman masih normal, Bund. Janji deh, Iman nggak akan khilaf kesiangan lagi. Kasihan Bunda, di sela-sela tugas negara mengurus rumah tangga, Bunda jadi punya ekstra kerjaan, bangunin Iman.”
“Alhamdulillah, Bunda senang kalau kamu sudah bisa berpikir lebih dewasa. Tapi, kenapa berangkatnya sesubuh ini? Di luar masih sepi dan gelap, lho. Kak Ikhsan aja belum berangkat, masih ngaji di kamarnya.” Bunda memandang penasaran pada putra keduanya itu.
“Iman kebetulan hari ini piket, Bund.”
“Ya udah, sebelum berangkat, sarapan dulu, biar kamu menyapu kelas dengan benar, penuh konsentrasi dan semangat yang tinggi. Sehingga hasilnya bersih dan rapi.”
Iman tertawa kecil mendengar ucapan Bunda yang persis seperti sedang menyampaikan pidato motivasi. Kemudian, dia menyeret langkahnya ke meja makan. Tak lama berselang, dia sudah melahap roti tawar yang diolesi selai cokelat. Sementara Sang Bunda menyiapkan segelas susu untuk Iman.
Selesai sarapan, Iman melajukan N Max nya dengan santai. Jalanan masih tampak sepi, sehingga dia bisa tiba di sekolah dengan cepat. Suasana SMAN 6 masih tampak lengang. Iman melangkahkan kaki menuju ke kelas X dengan mengendap-endap. Dia khawatir, yang dia lakukan ini ketahuan orang. Setelah dirasa tak ada siapa pun di dekat situ, Iman melanjutkan langkahnya menuju ke dalam kelas X. Sebentar kemudian, tampak ia celingukan. Masih tak terlihat orang di sekitar situ. Aman. Iman lantas menyimpan surat yang semalam ditulisnya, di kolong meja tempat Cinta biasa menduduki bangkunya.
Usai menuntaskan misinya, Iman menyeret langkahnya ringan menuju ke kelas XI. Sesekali terdengar siulan dari bibirnya. Inilah yang menjadi alasan dia untuk datang lebih awal ke sekolah, yaitu menyimpan surat di kolong meja Cinta tanpa ketahuan siapa pun. Uji coba pertama berjalan cukup lancar. Semoga hari-hari berikutnya juga bisa semudah ini.
Setibanya di kelas XI, Iman kembali melangkahkan kaki ke kelas X, untuk memastikan surat itu benar-benar jatuh ke tangan Cinta. Di dekat mading sekolah, Iman melakukan pengintaian. Dia sama sekali tak mengalihkan pandangan dari pintu kelas X.
Tak berapa lama, dia melihat Cinta yang baru saja tiba, melangkah masuk ke kelasnya. Dada Iman berdebar tak karuan, khawatir rencananya gagal.
Tak lama berselang, Cinta tampak celingukan di ambang pintu kelas sembari menggenggam amplop yang Iman taruh di kolong mejanya sebelum Cinta datang. Iman merasa lega.
Tampak Cinta membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Sejurus kemudian, netra indah Cinta mulai menelusuri baris demi baris kalimat yang tertera di surat itu. Setelah membacanya, kedua mata indah Cinta berbinar bahagia seraya mendekap surat itu di dadanya. Iman merasa sangat senang menyaksikan hal itu. Misinya membuat Cinta bahagia ternyata berhasil.
“Man, ngapain elo senyum-senyum sendiri di mading?” tanya Gilang heran sembari menepuk pundak sahabatnya.
“Astagfirullah, elo, Lang. Bikin kaget aja. Ini, gue lagi girang banget, soalnya puisi karya gue dipajang di mading.” Iman gelagapan, sambil menjawab asal pertanyaan Gilang. Telunjuknya menuding ke salah satu puisi yang menempel di mading.
“Mana?” Penasaran, Gilang menajamkan pandangannya ke puisi yang Iman tunjuk tadi dan serius membacanya. “Ini mah puisi karya Chairil Anwar. Kirain gue beneran puisi elo. Sembarangan ngaku-ngaku.”
Iman berlagak seolah dia membaca lagi puisi itu. “Oh, iya, gue salah. Habis, sekilas mirip sih. Hanya beda di judul saja. Ini judulnya Aku, kalau puisi gue judulnya Kamu.”
__ADS_1
“Ada-ada aja elo, Man.”
“Udah, nggak usah dipikirin. Yuk ke kelas. Udah bel.” Iman menarik tangan Gilang, mengajaknya menjauh dari sana, agar sahabatnya itu tak curiga. Sebelum benar-benar melangkah jauh dari sana, Iman kembali melirik Cinta yang wajahnya terlihat lebih ceria dan bersemangat. Melihat itu, Iman merasa sangat bahagia, walau bagian hati dia yang lainnya sedikit merasa perih.