Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
Confused


__ADS_3

Di sofa ruang tengah, Pak Baratha duduk termenung dengan hati diliputi rasa gundah. Cinta, putri kesayangannya sedari pulang sekolah hingga malam menjelang, mengurung diri di kamarnya. Pak Baratha khawatir, putri kesayangannya itu akan jatuh sakit, sebab sejak siang Cinta belum menyentuh nasi sama sekali. Sesekali, pria itu melirik ke arah pintu kamar Cinta, berharap putri kesayangannya itu akan keluar dari kamar. Namun, nihil, sampai detik ini pun, Cinta belum juga terlihat batang hidungnya.


Benak Pak Baratha mengembara pada kenangan yang telah dilalui bersama Lastri, kekasihnya semasa SMA. Pria paruh baya itu mencoba mengulang kembali masa-masa bersama sang pujaan. Hanya karena dulu dia tak mau menemui orang tua Lastri, hubungan mereka terpaksa berakhir. Padahal, waktu itu, mereka punya rasa yang sama. Perasaan cinta yang kuat dipupuk dengan indah dan lama-kelamaan berubah menjadi sayang. Namun, dalam sekejap saja, rasa yang telah tumbuh dan mereka jaga dengan sebaik mungkin itu hancur berantakan.


Pak Baratha kini menyadari, putusnya hubungan dia dengan Lastri itu semata karena kesalahan dia yang tak bisa bersikap gentle. Kalau saja waktu bisa diputar kembali, dia ingin kembali ke masa SMA dan akan memperbaiki kesalahannya. Kini, setelah menjadi seorang ayah, Pak Baratha memahami bagaimana perasaan orang tua Lastri. Dia pun akan bersikap sama dan mengajukan permintaan, apabila ada lelaki yang mendekati putrinya. Sebagai orang tua, dia ingin lebih mengenal lelaki yang dekat dengan Cinta.


Andai saja dia mau menemui kedua orang tua Lastri, mungkin hubungan mereka akan berlanjut hingga kini, menjadi sepasang suami istri yang punya anak laki-laki dan perempuan, seperti yang sering mereka bicarakan kalau sedang duduk berdua. Sekarang, ia benar-benar sangat menyesal. Dulu, dia hanya seorang anak SMA yang pola pikirnya masih belum dewasa. Dulu, dia hanya seorang anak yang terlalu takut membantah perintah orang tua.


Pria itu menghela napas panjang. Lautan penyesalannya semakin bertambah, karena mengingat sikapnya tadi di sekolah sangat tercela pada wanita yang dulu sangat dicintainya itu. Dia bertekad akan meminta maaf pada Lastri melalui Ikhsan dan Iman. Saat Pak Baratha melirik jam dinding, waktu menunjukkan pukul 07.30 malam. Pria paruh baya itu beranjak dari tempat duduknya menuju kamar Cinta.


“Cinta, makan, yuk!” seru Pak Baratha sembari berkali-kali mengetuk pintu. Namun, tetap tak ada jawaban dari putri semasa wayangnya.


“Cinta, maafkan Papa. Kamu jangan begini terus, nanti sakit. Yuk, makan.” Pak Baratha mengulangi ajakannya. Namun, tetap saja tak ada suara dari dalam kamar. Pria itu menghela napas berat. Pria itu memutar otak, mencari cara agar sosok yang sedang mengurung diri di dalam kamar itu, mau ke luar menemuinya.


“Cinta, maaf. Papa tahu kamu kaget melihat Papa marah tadi siang. Papa menyesal, Cinta. Papa nggak akan mengulanginya lagi. Cinta, makan, yuk. Kalau kamu sakit, Papa yang paling sedih.” Pak Baratha sudah putus asa, sebab tetap juga pintu kamar putri semata wayangnya itu tertutup rapat. “Cinta, buka, Nak. Bukan hanya Papa yang sedih kalau kamu kenapa-kenapa, Iman pun pasti akan sedih.”


Mendengar nama Iman disebut, terdengar kunci dibuka dari dalam. Pintu yang sedari tadi tertutup rapat, kini terbuka lebar. Muncullah sosok putri kesayangannya, dengan mata sembab dan masih mengenakan seragam sekolah. Pak Baratha memandang iba putrinya.


“Cinta, yuk, makan dulu.” Pak Baratha merangkul bahu Cinta dan mengajaknya ke meja makan. Cinta terdiam dan hanya menurut saja.


Setelah mereka duduk di meja makan, Pak Baratha menyodorkan sepiring nasi beserta lauk pauk pada Cinta yang tatapan matanya masih sendu dan kosong.


“Cinta, makan dulu, ya. Kalau nggak selera, paksakan. Nggak apa-apa sedikit, yang penting perutmu terisi,” pinta sang Papa dengan nada mengiba.


Lagi-lagi Cinta menuruti kehendak Papanya dan mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dengan malas-malasan. Cinta hanya makan sedikit, setelah meneguk minumnya, dia membawa peralatan bekas makannya ke wastafel. Pak Baratha menatap punggung putrinya dengan perasaan sedih dan juga bersalah. Pak Baratha melangkah ke ruang tengah dan kembali termenung di sofa.


“Cinta, mau ke mana? Sini, duduk dulu, Papa mau cerita,” pinta Pak Baratha, membuat Cinta menghentikan langkahnya yang hendak menuju ke kamar. Cinta duduk di samping sang Papa dengan masih tetap bungkam tak bersuara.


Setelah keduanya duduk di sofa, mulailah Pak Baratha bercerita tentang masa lalunya dengan Ibunya Iman. “Cinta, jadi dulu itu, Papa sama Bunda nya Iman, pernah punya kisah.”


“Kisah? Kisah seperti apa, Pa?” tanya Cinta mulai membuka suara dengan parau.


Pak Baratha tersenyum senang, sebab putrinya sudah mulai mau berbicara. “Ya, kurang lebih, seperti kamu sama Iman, begitu.”


“Papa ....” Cinta tersipu malu mendengar ucapan sang Papa. Dia menunduk menekuri lantai keramik rumah, tak berani menatap papanya.


“Nggak apa-apa, Cinta, tak perlu malu. Dulu, Papa pun pernah mengalami fase seperti kamu sekarang ini. Jatuh cinta berjuta rasanya.” Pak Baratha menyenandungkan lagu Titik Puspa, membuat Cinta semakin tertunduk malu.


“Lalu, kenapa hubungan Papa sama Bundanya Iman nggak berlanjut?”


“Kamu mau menyimak kisahnya? Ini bukan sedang ghibah ya. Papa hanya sekedar berbagi pengalaman, supaya yang baiknya bisa kamu jadikan pelajaran.”


Cinta mengangguk dan mulai menyimak dengan saksama dan mencoba mencerna setiap kalimat yang meluncur dari mulut Papa tercintanya itu. Sesekali Papanya tertawa, sembari menampakkan binar indah di matanya, kala bercerita tentang hal yang bahagia. Tak lama, netra pria itu berkaca-kaca, saat menceritakan kisah kandasnya cerita cinta dia dan harus mengubur dalam-dalam perasaan serta kenangan indahnya bersama Bu Lastri.


“Nah, jadi, Papa sama Bundanya Iman itu nggak bisa bersatu, bukan karena kesalahan dia, melainkan karena kebodohan Papa yang tak berani menemui kedua orang tuanya.”


Tak terasa, air mata Cinta ikut meluncur membasahi pipinya mendengar kisah kasih tak sampai yang dialami Papanya. Cinta tak menyangka, sang Papa dibalik sikapnya yang dingin, ternyata di hatinya menyimpan kenangan yang pilu. Siapa yang tahan melihat orang yang dicintainya menikah dengan orang lain?


“Udah, jangan nangis lagi, Cinta. Nanti matamu bengkak. Papa percaya, walau pun Iman itu sering kena hukuman, tapi, dia laki-laki yang baik.”


“Kok, Papa bisa seyakin itu? Kan selama ini yang dekat dengan Kak Iman itu, Cinta, bukan Papa,” ujar Cinta polos, membuat Papanya tak mampu menahan tawa.

__ADS_1


“Papa sangat yakin, sebab Iman terlahir dari rahim seorang ibu yang baik. Papa sangat mengenal Bu Lastri, dulu di SMA dia termasuk anak berprestasi, akhlaknya juga terpuji. Papa percaya, dia mendidik Ikhsan dan Iman dengan sangat baik.”


Oh, pantas saja Kak Ikhsan itu pintar, ternyata kecerdasannya menurun dari Bundanya. Kalau Kak Iman yang kebalikan dari Kak Ikhsan menurun dari siapa, ya? gumam Cinta tertawa kecil sembari membandingkan antara Ikhsan dan Iman.


“Kok senyum-senyum sendiri? Kangen sama Iman, ya?” goda Pak Baratha sambil menjentik hidung putrinya yang mancung itu.


“Nggak, kok, Pa.” Cinta menjawab gurauan sang Papa dengan malu-malu. Semburat merah jambu menghiasi wajah cantiknya.


“Nggak apa-apa, kok. Papa nggak melarang, hanya saja jangan sampai kebablasan dan mengganggu pelajaran. Let it flows aja. Cinta, jalani dengan santai. Ingat, perjalanan kamu masih sangat panjang. Wujudkan dulu cita-citamu, yang lain bisa menyusul. Toh, Allah sudah menyimpan rencana terbaik untuk semua hamba-Nya.".


Kalimat terakhir yang meluncur dari mulut sang Papa membuat hati gadis itu sangat lega sekaligus merasa senang, sang Papa memberi lampu hijau terhadap hubungannya dengan Iman. Netra Cinta yang masih sembab itu berbinar bahagia.


“Makasih, Papa.” Cinta memeluk sang Papa. Pak Baratha mengelus-elus lembut punggung putri kesayangan yang sangat dibanggakannya itu. Mereka berdua serempak menghela napas lega.


***


Di kamar, Iman termenung, larut dalam pikirannya yang sedang kalut. Cowok itu membuka pintu kamarnya dan celingukan. Rumah sudah tampak sepi. Dia menutup kembali pintu kamarnya pelan-pelan dan mulai menyalakan rokok, karena dirasa situasi sudah aman. Sejenak, dia larut dalam nikmatnya setiap isapan rokok yang ia embuskan asapnya keluar. Ucapan sang Bunda terus saja terngiang-ngiang dalam ingatannya. Diiringi bayang wajah Cinta yang berkelebatan. Membuat hatinya semakin dilanda gelisah.


Lamunan Iman seketika buyar oleh suara getaran ponsel yang ditaruh di atas nakas. Iman meraih benda persegi tipis itu dan mulai membuka aplikasi whatsapp. Ada chat dari Cinta di sana. Iman mematikan rokok. Pandangannya mulai terpaku membaca chat di layar ponsel.


My Snow White


Kak Iman, lagi apa? Cinta rindu.


Iman Si Ganteng Kalem


Lagi, di kamar, merindukan kamu juga. Cinta, udah nggak nangis lagi? Jangan sedih terus ya, aku paling nggak bisa lihat kamu sedih.


My Snow White


Iman Si Ganteng Kalem


Wah, apa itu? PTS nya ditunda ya, tahun depan? Hore.


My Snow White


Ih, bukan, Kak, coba tebak.


Iman Si Ganteng Kalem


Apa, ya? Sekolah diliburkan satu tahun?


My Snow White


Bukan, ayo tebak lagi.


Iman Si Ganteng Kalem


Harga-harga jajanan di kantin turun, atau buku-buku di perpustakaan boleh dimiliki selamanya?


My Snow White

__ADS_1


Ih, udah, ah, nggak usah nebak lagi. Makin ngaco!


Iman Si Ganteng Kalem


Hehehe, iya, Sayang, maafkan kekasihmu yang terlalu sempurna ini, sampai-sampai otaknya nggak bisa dipakai berpikir. Just kidding, jangan marah, ya.


My Snow White


Cinta nggak marah, Kak, cuma kesel. Mau tahu nggak kabar gembiranya?


Iman Si Ganteng Kalem


Ya mau atuh, bagi-bagi kabar gembiranya, biar Cinta nggak jadi S5P alias senyum-senyum sendiri sampai sakit perut.


My Snow White


Kak Iman, bisa aja deh. Papa merestui hubungan kita.


Iman Si Ganteng Kalem


Alhamdulillah


My Snow White


Cuma alhamdulillah doang? Nggak ada ucapan lain? Lebih heboh, dong, kata-kata sambutannya.


Iman Si Ganteng Kalem


Ini juga lagi salto Cinta, saking senangnya sampai nempel di dinding kayak Spiderman.


My Snow White


Bukan Spiderman, tapi cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap.


Iman Si Ganteng Kalem


Bukan, Cinta, tapi semut merah yang berbaris di dinding, menatapmu curiga.


My Snow White


Hahaha. Kak Iman, jangan tinggalin Cinta, ya. Udah, ya, Kak, Cinta ngantuk. I love you, Kak Iman.


Iman Si Ganteng Kalem


I love you, too, Cinta. Met bobo ya, mimpi indah, jangan lupa cuci muka, tangan, kaki, sikat gigi, dan juga sikat lantai kamar mandi. Jangan ngiler, nanti bikin pulau lagi, di atas bantal.


My Snow White


Kakak! Stop, deh bercandanya, Cinta jadi nggak berhenti ketawa, jadi beser, pengen pipis terus.


Iman tersenyum kecil membaca sekilas chat balasan dari Cinta dan memutuskan untuk tak membalasnya. Iman menaruh kembali ponselnya di atas nakas. Seharusnya Iman bahagia mendengar kabar ini. Namun, entah mengapa, kini dia malah dilanda kebingungan.

__ADS_1


Haruskah dia tetap berpacaran dan menyeret mereka berdua ke dalam kubangan dosa? Atau menuruti kehendak sang Bunda yang artinya merelakan hubungan mereka berakhir sampai di sini? Kalau dia memilih keputusan yang kedua, pastilah Cinta menganggapnya cowok yang suka mempermainkan perasaan, dan hal itu akan sangat menyakiti hati Cinta.


Entahlah, dia benar-benar tak mampu mengambil keputusan. Iman menyugar kasar rambutnya dan kembali menyulut sebatang rokok. Bayang wajah Sang Bunda dan Cinta berkelebatan di pelupuk mata, menemani malamnya yang sunyi, diliputi rasa gundah yang semakin berkecamuk. Mengapa perasaannya jadi didera kebimbangan, di saat Pak Baratha telah merestuinya?


__ADS_2