
Dua Desember 2019, hari pertama Penilaian Akhir Semester atau disingkat PAS. Semua murid dari kelas X hingga kelas XII, berusaha semaksimal mungkin dan belajar lebih giat untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Satu minggu ke depan, mereka akan menghadapi soal-soal PAS yang jumlahnya lebih banyak dari PTS kemarin-kemarin. Selama seminggu ini, mereka akan disibukkan dengan belajar dan belajar. Tak ada waktu untuk bermain, sebab semuanya tak ingin punya nilai-nilai yang turun.
Begitu juga dengan duo couple, Iman-Cinta dan Gilang-Naya, selama seminggu ini, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan dan belajar bersama setelah pulang PAS. Banyak murid yang memandang iri dengan gaya pacaran mereka asyik juga menyenangkan, karena diisi dengan hal-hal yang positif. Mereka terlihat saling mendukung dalam hal yang bermanfaat.
“Lang, elo nggak merapalkan doa sama minta air lagi ke Emak elo?” tanya Iman setengah berbisik.
“Usaha tanpa doa itu sia-sia, Man. Begitu pun dengan doa, tanpa dibarengi usaha yang maksimal, nggak akan ada hasilnya.”
“Tumben elo cerdas, sarapan apa tadi pagi? Elo sehat?” Iman meraba dahi Gilang, membuat Cinta dan Naya tersenyum kecil.
“Iya, terbukti waktu PTS kemarin. Gue sama sekali nggak belajar. Gue hanya minum air pemberian Emak.”
“Terus, nilai-nilai PTS elo jadi bagus?” tanya Iman penasaran. Cinta dan Naya pun ikut mencuri dengar.
“Alhamdulillah, remedial semuanya, kecuali olahraga,” jawab Gilang dengan ekspresi datar.
Iman, Cinta, juga Naya tak mampu menahan tawa, apalagi melihat wajah Gilang yang polos, terlihat semakin kocak.
“Sstt!” Mata Bu Azkia mendelik ke arah mereka, membuat keempatnya refleks melakukan gerakan menutup mulut dengan sebelah tangan. Mereka lalu melanjutkan belajar dengan serius.
“Kak Iman, bedanya teks anekdot sama humor itu apa?” tanya Cinta membuat Iman terlonjak. Untung saja, Cinta menanyakan tentang pelajaran favoritnya, bahasa Indonesia. Kalau sampai bertanya tentang rumus, Iman angkat kaki dan tangan, deh.
“Kalau ankedot, ‘kan ide ceritanya berasal dari peristiwa nyata, kalau humor, murni rekaan. Terus ....” Iman berusaha mengingat-ingat.
“Oh, iya, Cinta ngerti.” Cinta memperlihatkan buku paket bahasa Indonesia pada Naya yang duduk di sampingnya. Tak berapa lama, keduanya sudah terlihat asyik berdiskusi. “Nih, Nay, contoh-contohnya, kelihatan, ‘kan bedanya?”
“Iya, Cinta. Jelas banget.” Naya mulai membaca lembar halaman buku paket yang ditunjukkan Cinta. Keduanya tampak serius mengamati buku itu.
“Buset, Man. Ini dua cewek nggak ada lelahnya belajar,” bisik Gilang di telinga Iman.
“Memangnya elo, baru lima menit buka buku otaknya langsung ngebul.”
“Daripada elo, dikasih soal mendadak ngantuk.”
“Bukannya elo yang dikasih soal langsung bolak-balik ke wc, sakit perut.” Iman tertawa puas melihat Gilang cemberut. Iman berhasil mengelak ketika Gilang memukulnya dengan buku.
“Kak Iman, pulang, yuk. Kita lanjutkan besok belajarnya,” ajak Cinta.
__ADS_1
Iman mengangguk. Keempatnya lalu memasukkan buku-buku catatan ke dalam tas masing-masing. Setelah itu, mereka bangkit dari tempat duduk, lantas membereskan buku-buku paket yang mereka pinjam selama belajar tadi, dan menaruhnya di rak buku. Bergegas mereka ke luar dari perpustakaan menuju ke pelataran parkir sekolah yang sudah sepi. Tak lama berselang, mereka sudah meluncur menyusuri jalan Pajajaran dengan motor. Iman yang membonceng Cinta, melajukan motornya di samping motor Gilang yang membonceng Naya.
“Man, nanti malam elo belajar yang serius ya, sampai hapal semua di luar kepala,” teriak Gilang saat mereka berhenti di perempatan karena lampu merah menyala.
“Kalau gue yang belajar, elo nggak ada kerjaan, dong, Lang?”
“Tenang, gue nggak bakalan nganggur, Man. Gue besok bakal sibuk menyalin jawaban elo ke lembar jawaban gue.”
“Kalau elo punya niat nyontek, gue nggak akan belajar, ah. Biar kita diremedial bareng, hahaha.”
Cinta menoyor kepala Iman yang tertutup helm. “Kakak, doanya, kok, ingin diremedial, sih?”
“Bercanda, Cinta.” Iman mengelus lembut tangan Cinta yang melingkar di perutnya.
Setelah lampu hijau menyala, di perempatan jalan itu, mereka berpisah. Gilang melambaikan tangan pada Iman yang membelokkan N Max nya ke sebelah kiri jalan, menuju ke rumah Cinta. Sementara Gilang mengambil jalan lurus, menuju ke rumah Naya.
***
Iman menghentikan motornya di depan rumah Cinta. Cewek itu perlahan turun dari motor dan melepaskan helm lalu memberikannya pada Iman. Cinta melongok ke arah kaca spion kemudian memperbaiki letak jilbabnya yang agak miring dan sedikit kusut. Iman tersenyum kecil melihat wajah Cinta yang kini berjarak dekat dengannya.
“Dua Desember?” Iman balik bertanya sembari memandang heran wajah Cinta.
“Hari apa?”
“Hari Senin, kita, ‘kan tadi upacara.” Iman mengernyitkan dahi sambil berusaha mencerna maksud pertanyaan Cinta.
“Selain itu, apa lagi yang Kakak ingat?”
Sebelum menjawab, Iman berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat. “Dua Desember dua ribu sembilan belas, hari Senin, sekaligus hari pertama Penilaian Akhir Semester.” Iman melengkapi jawabannya, mungkin Cinta lebih membutuhkan jawaban yang padat dan jelas.
“Hanya itu yang Kakak ingat? Nggak ada lagi jawaban lain?” cecar Cinta sambil menunjukkan wajah kesalnya.
Iman menggeleng, lalu menggaruk-garuk kepalanya. Dia sama sekali tak mengerti dengan perubahan ekspresi yang ditunjukkan oleh Cinta.
“Kalau jawaban itu, sih, semua murid SMAN 6, juga pasti jawab begitu.” Cinta mendecak sebal, sambil melipat kedua tangannya. “Jangan-jangan, Kakak juga lupa tanggal jadian kita.”
“Kakak ingat, atuh, Sayang. Itu, ‘kan momen paling berharga dan bersejarah dalam hidup Kakak. Walau Kakak waktu itu kena hukuman, tapi hati Kakak sangat bahagia.”
__ADS_1
“Kalau Kakak ingat, coba sebutkan tanggal jadian kita,” tantang Cinta sembari memandang wajah Iman dengan tatapan menyelidik.
“Dua Mei, bener, ‘kan?”
“Tuh, ‘kan Kakak nggak peka! Itu Hari Pendidikan Nasional, Kakak.” Cinta memukul pelan lengan Iman. Rasa kesalnya semakin berlipat.
“Maaf, bercanda. Dua Agustus, benar, ‘kan?” Iman menjawab dengan mantap sambil tersenyum puas. Dia yakin, kali ini jawabannya benar.
Mendengar jawaban Iman, Cinta tersenyum bahagia. Ternyata Iman tidak melupakan hari bersejarah mereka. Hingga pertanyaan polos Iman berikutnya merusak senyum bahagia Cinta, dan berganti dengan rasa kesal kembali.
“Terus, apa hubungannya sama tanggal sekarang?”
“Kakak bener-bener nggak peka! Hitung dong, Kak. Kita udah pacaran berapa lama?”
Iman menghitung jarinya, lantas mengacungkan kelima jari tangannya. “Berarti hari ini, fifth months nya kita? Cinta, happy fifth ....”
“Belum tua, udah pikun sebelum waktunya, kebanyakan makan micin, ya?” ujar Cinta ketus, memotong kalimat ucapan yang akan Iman sampaikan padanya.
“Maaf, Cinta. Kakak bener-bener lupa. Jangan marah, please.” Iman menangkupkan kedua tangannya sembari memasang wajah memohon.
Melihat wajah iba yang ditunjukkan Iman, Cinta jadi kasihan dan tak tega. Perlahan, rasa kesal Cinta pun pudar, berganti dengan senyuman ceria menghiasi bibirnya. “Ya, udah, Cinta maafkan. Tapi, habis bagi raport, kita tukeran kado, ya. Isi kadonya harus berupa sesuatu yang sangat disukai masing-masing pasangan.”
Iman mengangguk pelan. Di benaknya masih belum terlintas ide sesuatu yang sangat ingin Cinta miliki saat ini. Dia jadi pusing sendiri, layaknya orang yang kebingungan mencari alamat rumah, dan mendapati kenyataan kalau ternyata itu alamat palsu.
Iman tersenyum manis. Tangannya terulur mengelus kepala Cinta yang tertutup jilbab.
“Jangan banyak pikiran, fokus dulu dengan PAS nya. Semangat ya.”
“Semangat juga buat Kak Iman, jangan sampai banyak pelajaran yang diremedial ya.”
Iman mengangguk. Tangannya turun, menyentuh lembut pipi Cinta, membuat cewek itu salah tingkah. Cinta dapat merasakan sorot mata hangat Iman yang begitu dalam. Cinta gugup setengah mati, debaran di dadanya kian berpacu.
“I love you, Cinta.”
Lidah Cinta mendadak kelu untuk membalas ucapan Iman. Dia hanya mengangguk pelan, sembari menunduk tersipu malu. Bahkan, saat Iman berpamitan dan motornya menghilang dari pandangan, Cinta masih tetap tak mampu meredam debaran di dadanya.
“I love you, too, Kak Iman,” gumam Cinta pelan, sambil masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1