
Pulang sekolah siang ini, Iman dan Gilang terlihat sedang berada di kantin. Mereka sedang menikmati jus jeruk campur susu dengan kenikmatan yang hakiki, sebab mengingat cuaca yang sedang terik, minuman ini sangatlah pas dan segar untuk melepas dahaga. Selain menikmati minuman untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering, dua sahabat karib ini tengah menantikan pacar-pacar mereka keluar dari kelas.
“Hey, Gilang, haus sih haus, tapi minuman gue jangan dihabiskan, dong!” seru Iman saat melihat gelas jus jeruknya sudah kosong. Padahal, tadi masih sisa setengahnya.
“Enak aja nuduh gue. Periksa di bawah gelasnya, bocor, kali.” Gilang menjawab dengan asal sembari cengengesan.
“Bener, bukan elo yang minum?”
“Bukan, Man, swear. Gue, ‘kan tadi pesan minuman juga. Gelasnya aja segede gaban gitu. Perut gue bisa kembung minum sebanyak itu. Masa gue maruk minum punya gue, plus punya elo juga?”
Iman menyipitkan matanya sembari memperhatikan gelas yang sudah kosong. “Terus, siapa, ya yang minum jus stroberi gue? Si Pussy sama anak-anaknya, gitu?”
“Kok jus stroberi, sih? Jus jeruk susu!” ralat Gilang. Spontan, cowok bertampang kocak itu menutup mulut dengan kedua tangannya.
Iman tersenyum sinis. “Kok, tahu jus jeruk susu? Padahal, gue belum bilang minuman gue apa, lho sebelumnya.” Akhirnya jebakan yang dibuat Iman berhasil mengecoh Gilang.
“Cerdas juga, elo, Man. Berhasil menjebak gue. Sebagai permintaan maaf, gue bayar, deh, minuman elo.”
“Alhamdulillah, rezeki anak soleh memang nggak ke mana. Hatur nuhun, Lang.” Iman tersenyum puas sembari menepuk-nepuk pundak Gilang yang ditanggapi dengan wajah muram dan menyesal dari Gilang. Tanpa mereka sadari, Cinta dan Naya sudah berada di depan mereka.
“Kak Iman, maaf nunggunya lama,” sapa Cinta sembari duduk di samping Iman.
“Iya, nih, Kak Gilang, maaf lama, mana panas lagi,” ujar Naya pada Gilang sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
“Nggak, lama, kok. Pulang sekarang, atau mau beli minuman dulu?” Iman menatap lekat wajah Cinta. Ingin rasanya dia menyeka peluh yang membasahi dahi sang kekasih. Namun, entah mengapa, dia tak berani.
“Langsung pulang aja, deh, Kak. Khawatir Papa melihat kita.” Cinta melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru sekolah. Sepertinya, sang Papa dan guru-guru belum pada pulang. “Kak, nanti seperti biasa, ya, turunin di gang, jangan terlalu dekat ke rumah.”
Iman mengangguk. Begini rasanya backstreet, berdebar-debar dan harus hati-hati, lebih tegang dari dikejar-kejar debt collector, batin Iman lirih, lantas menyodorkan helm kepada Cinta.
“Sabar, Man, gue juga sama kok kayak elo, sembunyi-sembunyi.” Seolah membaca jalan pikiran Iman, Gilang berusaha menghibur sahabatnya itu. Dia sendiri pun tak jauh berbeda dengan Iman. Walau Dia dan Naya jadian lebih dulu, tetapi sampai hari ini, Gilang dan Naya masih menjalaninya dengan diam-diam, tanpa diketahui orang tua dia mau pun Naya.
Tak berapa lama, dua pasangan remaja itu meninggalkan sekolah, menyusuri jalan Pajajaran yang dipadati berbagai kendaraan. Cuaca yang terik, tidak melunturkan kebahagiaan yang terpancar jelas di wajah mereka.
“Cinta, kalau takut jatuh, kamu boleh pegangan ke aku,” teriak Iman di antara deru suara kendaraan.
“Pegangan gimana maksudnya, Kak?” Cinta terlihat kebingungan dan merasa canggung.
“Itu, seperti Gilang dan Naya.” Iman dan Cinta menoleh bersamaan ke arah Gilang dan Naya yang berada tidak terlalu jauh dari mereka. Tampak kedua tangan Naya berpegangan erat pada pinggang Gilang.
“Seperti itu, Kak? Boleh?” tanya Cinta malu-malu.
__ADS_1
“Ya, boleh, dong. Dari pada nanti pas aku ngerem mendadak, kamu kaget, terus jatuh. Bisa-bisa Pak Baratha mengeluarkan aku dari sekolah, karena nggak mengantarkan kamu dengan selamat sampai ke tujuan.”
Tawa Cinta meledak mendengar lelucon yang dilontarkan Iman. Dengan ragu-ragu, Cinta mengulurkan tangannya lantas memeluk pinggang Iman dari belakang. Mendadak, jantung Iman berdetak kencang. Angannya seolah melambung ke angkasa, kala Cinta semakin mengeratkan pelukannya. Kok, gue berasa lagi syuting film Dilan, ya? Cuma bedanya, nggak diguyur hujan. Kalau turun hujan, malah kayak lagi main film Bollywood, hehehe.
Setelah mengantarkan Cinta sampai ke gang dekat komplek rumahnya, Iman melajukan motornya menuju ke rumah tercinta dengan perasaan bahagia yang semakin membuncah.
“Assalamu alaikum, Bund. Ada yang nagih PDAM nih!” seru Iman sesampainya dia di rumah.
“Waalaikum salam, perasaan bulan ini Bunda sudah bayar, kok.”
“Bercanda, Bund. Ini ada surat dari sekolah.” Iman mencium punggung tangan sang Bunda dan mengeluarkan surat dari dalam tas, lantas memberikannya pada Bunda.
“Astagfirullah! Kamu bikin kasus apa, sampai-sampai Bunda dipanggil ke sekolah?” Bu Lastri memelotot ke arah Iman sembari memegangi dadanya yang berdebar.
“Ih, Bunda, jangan suudzon dulu. Ini, tuh surat undangan untuk menghadiri rapat persiapan Penilaian Tengah Semester, besok.”
“Oh, kirain.” Bu Lastri mengeluarkan surat itu dari dalam amplop dan mulai membacanya. Tampang sang Bunda sudah tak sepanik tadi, sekarang terlihat lebih rileks. “Lho, kepala sekolahnya ganti, Man?”
“Iya, Bund, baru enam bulan. Pak Baratha itu, papanya cewek yang foto selfie sama Iman. Doain ya, Bund, biar calon mertua Iman itu merestui.”
Deg. Baratha Yudha, mungkinkah pria yang sama dengan yang dahulu kukenal? gumam Bu Lastri sembari memandangi Iman yang melangkah menuju ke kamarnya. Kenangan masa lalu berkelebatan di benak wanita itu.
Aula SMAN 6 telah penuh sesak oleh para orang tua murid dari kelas X hingga kelas XII yang diundang dalam rapat persiapan Penilaian Tengah Semester (PTS). Ikhsan dan Iman diwakili oleh sang Bunda, Bu Lastri. Seluruh orang tua murid itu dikumpulkan di aula sekolah yang memang berukuran luas, sehingga mampu menampung banyak orang.
Pak Baratha menjadi pembicara di rapat itu. Saat pria itu maju ke podium, Bu Lastri tampak terkejut melihat sosok Pak Baratha. Pria itu, ternyata .... Apakah dia masih mengingatku?
Netra Bu Lastri terpaku pada sosok yang tengah berbicara di podium dengan penuh wibawa. Wanita itu terus fokus pada setiap gerak-gerik Pak Baratha. Dia masih tetap seperti dulu, dingin, jarang tersenyum.
Benak Bunda Ikhsan dan Iman ini kembali mengembara pada kenangan bersama sosok kepala sekolah kedua anaknya ini. Masa lalu yang menorehkan luka pada hati Pak Baratha. Hal ini membuat Bu Lastri selalu dibayangi rasa bersalah hingga kini pada pria yang pernah mengisi relung hatinya itu. Bu Lastri yakin, Pak Baratha pun jika bertemu dengannya, benak pria itu pun akan kembali membuka ingatannya pada masa ketika mereka pernah terikat suatu hubungan dekat.
Untunglah, selama rapat berlangsung, Bu Lastri duduk di bangku deretan hampir ke belakang, sehingga Pak Baratha tak menyadari kehadirannya. Hal itu membuat Bu Lastri merasa sedikit lega, dan berusaha terlihat tenang menyimak setiap penjelasan Pak Baratha, walau sebenarnya hati dan perasaannya tak menentu, hingga tak mampu menangkap setiap kalimat yang tengah diucapkan pria itu.
“Man, mana pacar kamu? Kenalin atuh sama Bunda. Di foto mah nggak jelas. Bunda ingin melihat aslinya, “ pinta Bu Lastri setelah rapat usai.
“Itu, Bund, yang dekat mading. Yuk ke sana.” Iman menuntun Bundanya mendekati Cinta yang sedang mengobrol dengan teman-temannya di dekat mading sekolah. Melihat, Iman dan sang Bunda menghampiri Cinta, satu persatu teman-teman Cinta membubarkan diri, seolah memahami situasi demikian.
“Cinta, kenalin, ini Bundaku,” kata Iman setelah berada di hadapan Cinta. Cewek cantik itu langsung mencium punggung tangan Bu Lastri dengan takzim.
“Masya Allah, meuni geulis pisan, Man. Kamu memang pinter, nggak salah memilih.” Bu Lastri terpana dengan kecantikan dan perilaku santun dari Cinta. “Siapa namanya?”
“Cinta, Bu.” Cinta menjawab pelan dan salah tingkah bertemu dengan Bundanya Iman.
__ADS_1
“Nggak usah malu-malu, anggap saja ini ibumu sendiri. Panggil Bunda aja, ya, kayak Iman. Ya, biar lebih akrab begitu.”
Cinta mengangguk. Iman sangat senang karena sang Bunda sepertinya memberi lampu hijau pada hubungannya dengan Cinta. Dia hanya harus memikirkan cara yang tepat untuk meluluhkan hati Pak Baratha agar mau menerima dia yang sudah berpacaran dengan putrinya.
Ketika mereka asyik berbincang, datanglah Pak Baratha. Kepsek itu terlihat sangat terkejut, melihat wanita yang pernah mengisi hatinya di masa lalu itu kini ada di hadapannya. Dalam hati, ia mengakui wanita ini kini terlihat lebih cantik dengan hijabnya.
“La, Lastri?”
“Baratha?” Bu Lastri pun kelihatan kaget, tetapi ia berusaha terlihat biasa saja. Wanita berhijab biru itu mengulurkan tangan pada kepsek SMAN 6 itu.
“Apa kabar? Dua putraku sekolah di sini, Ikhsan dan, ini Iman.” Bu Lastri memandang wajah Pak Baratha. Wanita itu berharap, walau pun dulu Pak Baratha pernah terluka olehnya bertahun-tahun lalu, semoga saja, pria itu sudah berdamai dengan perasaannya.
Namun, di luar dugaan, wajah Pak Baratha menyiratkan kemarahan. Jangankan menyambut uluran tangan Bu Lastri, kepsek itu memandang tajam ke arah wanita yang pernah menghiasi relung hatinya itu. Seketika rasa nyeri dan luka yang dulu tergores di hati Pak Baratha muncul kembali. Perih.
“Cinta! Dengarkan Papa baik-baik! Kamu boleh bergaul dengan siapa pun. Asalkan jangan dengan Ikhsan sama Iman!”
Cinta, Iman, dan Bu Lastri terperanjat mendengar kemarahan dari Pak Baratha. Sang Bunda mungkin tahu mengapa sikap Pak Baratha begitu. Namun, Cinta dan Iman sama sekali tidak mengerti.
“Tapi, kenapa, Pa?”
“Jangan membantah, atau Papa akan memindahkan kamu dari sekolah ini!” tegas Pak Baratha sembari berjalan menuju ke kantornya.
Betapa terperanjatnya gadis cantik itu, sebab baru kali ini dia melihat papanya marah seperti itu. Netranya mulai berkaca-kaca. Dia berlari menuju ke kelasnya. Hati Iman sangat sedih melihat pujaan hatinya menangis. Namun, cowok itu bertanya-tanya dalam hati, mengapa Pak Baratha sangat membenci Bunda, Kak Ikhsan, juga dirinya.
“Bund .....” Sebelum Iman sempat bertanya lebih lanjut, wanita yang sangat dikasihinya itu menarik tangannya dan mengajak pulang dengan berlinang air mata.
Sementara itu, di dalam kelas, Cinta menumpahkan kesedihannya dan menceritakan semua pada sahabatnya.
“Kenapa, Nay? Kenapa di saat aku merasakan nyaman bersama seseorang, Papa malah melarang? Apa aku salah cinta sama Iman? Kenapa Papa benci sama Iman? Padahal, Iman nggak pernah nyakitin aku, dia selalu buat aku bahagia. Aku harus gimana, Nay?” Tangis Cinta semakin pecah. Naya memandang iba sahabatnya dan berusaha meredakan tangis Cinta.
Di dalam mobil grab yang disewa sang Bunda, wanita itu tak banyak bicara. Iman tahu saat ini hati Bundanya sedang hancur, sebab air matanya tak henti-henti mengalir membanjiri pipi. Walau sejumlah rasa heran dan penasaran menghujaninya, Iman tak berani bertanya. Cowok itu hanya bisa menggenggam tangan Bunda dan mengelus-elusnya lembut, berharap kegundahan yang melanda Bundanya akan segera sirna.
Setibanya di rumah, Bunda langsung masuk ke kamar dan menutup pintunya rapat. Ikhsan yang sudah pulang lebih dulu dan sedang makan siang, memandang heran dan penasaran dengan sikap sang Bunda.
“Man, Bunda kenapa?” Ikhsan menghentikan makan siangnya, lantas menghampiri Iman yang duduk termenung di sofa ruang tengah.
Iman mengangkat bahu sebagai jawabannya. Keduanya duduk termenung di sofa sembari sesekali melirik ke arah pintu kamar sang Bunda yang tertutup rapat. Mereka berharap wanita terkasih keluar dari sana. Lalu, Iman menceritakan kejadian yang tadi berlangsung di sekolah.
Dua anak laki-laki kesayangan Bunda itu saling diam, larut dalam jalan pikiran masing-masing dan mencoba menerka apa yang membuat Pak Baratha bersikap demikian pada Bunda mereka.
Sepertinya, akan sulit untuk mendapatkan restu dari Pak Baratha, batin Iman lirih.
__ADS_1