Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
New Year, New Status


__ADS_3

“Bund, Iman nanti malam mau tahun baruan di rumah Cinta. Boleh?” tanya Iman, kemudian menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Sesekali terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring. Pagi yang cerah ini, Bu Lastri dan kedua putranya memang tengah sarapan bersama di meja makan.


“Kamu masih berhubungan sama dia?” Bunda malah balik bertanya sambil memandang wajah Iman dengan tatapan menyelidik.


Ikhsan menaruh sendoknya di atas piring dan menghentikan sejenak sarapannya. Cowok tampan itu penasaran, ingin juga menyimak jawaban sang adik.


“Bund, nggak pacaran bukan berarti nggak boleh temenan, ‘kan?”


“Iya, Bunda ngerti. Bunda hanya tidak ingin kamu khilaf lagi.”


“Tenang, Bund. Iman ini sudah mulai beriman, kok, walau kadarnya masih sedikit, dan suka turun naik,” canda Iman yang membuat Bunda dan Ikhsan kompak tertawa.


“Temenan apa temenan? Di jari manis Iman udah ada cincinnya, tuh, Bund. Cek tangan,” goda Ikhsan setelah dia menyadari keberadaan cincin yang menghiasi jari manis sang adik. Mendengar sang kakak meledeknya, wajah Iman sampai merah padam seperti kepiting rebus. Bunda tersenyum kecil sembari melirik ke arah Iman.


“Apaan, sih, Kak?” Iman memelotot ke arah Ikhsan sambil sibuk menyembunyikan cincinnya.


“Kamu udah tunangan sama Cinta? Kok nggak ngundang-ngundang? Bunda, kan bisa bikin selametan sederhana.”


“Nggak, kok, Bund. Ini cincin persahabatan Iman sama Gilang,” elak Iman sembari memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


“Jadi gimana, Bund? Iman boleh tahun baruan di rumah Cinta? Rame-rame, kok. Sama Gilang dan teman-teman dekat Cinta juga,” lanjutnya setelah menelan makanannya.


“Yah, pake ganti topik dan pengalihan isu segala, Man.” Ikhsan tertawa melihat wajah Iman yang tertekuk. “Bund, dia nggak tahan kita kepoin.” Ikhsan tak dapat menahan tawa melihat Iman yang semakin melebarkan pandangannya pada dia.


“Memangnya Pak Baratha nggak keganggu, kalau rumahnya dipakai tahun baruan?”


“Nggak, kok, Bund. Kata Cinta, sih, papanya mengizinkan. Dari pada keluyuran nggak jelas katanya.”


Bu Lastri manggut-manggut mendengar jawaban Iman. “Ya, udah, Bunda izinkan. Asal kamu jangan malu-maluin di sana. Jangan ngerusuh.”


“Siap, laksanakan, Bund.” Iman kembali menyantap sarapannya dengan bersemangat.


“Cie, yang udah dapat SIUP, sampai semangat begitu makannya. Tadi mah kayak yang nggak berselera. Mengunyah makanan aja, pelan-pelan, seperti sedang menahan perih akibat sariawan.” Ikhsan tertawa melihat bibir Iman mengerucut.


“SIUP? Apa itu, San?” tanya Bunda mengernyitkan dahinya. Kening Iman pun ikut berkerut dan memandang wajah kakaknya, menunggu jawaban.


“Surat Izin Untuk Pacaran, hehehe,” jawab Ikhsan santai.


“Apaan, sih, elo, Kak? Gue sama Cinta hanya teman, kok. Bund, jangan didengerin, percaya deh sama Iman.”


“Iya, Bunda percaya, Man.”


“Teman, tapi mesra, hahaha.” Ikhsan masih terus meledek Iman sembari bangkit dari tempat duduknya menuju ke dispenser, hendak mengisi gelas minumnya yang sudah kosong.


“Apaan, sih, elo, Kak? Kalau nggak percaya, elo ikut aja tahun baruan.” Iman mengikuti Ikhsan menuju ke tempat dispenser berada, sembari membawa piring-piring kotor ke wastafel.


“Ogah, ah. Gue mau temenin Bunda aja di sini. Kalau gue ikut, di sana gue paling jadi kambing congek, risih, jadi saksi orang yang pacaran.”


“Ih, Kakak. Gue nggak pacaran. Ssstt, stop deh, nanti SIUP gue dicabut lagi sama Bunda.” Iman berbisik di telinga Ikhsan setelah dia menaruh cucian kotor di wastafel.


“Bund, Iman nih, ternyata masih pacaran sama Cinta!” teriak Ikhsan sembari sibuk berusaha menghindari tangan Iman yang bergerak menutup mulutnya.


Bu Lastri geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah kedua putranya dari meja makan.


Mas Fatih, kalau saja Mas masih ada di antara kami, Mas pasti bangga melihat dua bujang kita ini, gumam Bu Lastri sambil menyeka bulir bening yang mendarat di pipinya.

__ADS_1


***


Suasana halaman rumah Pak Baratha ramai dan meriah. Gilang tampak sedang bernyanyi diiringi petikan gitar yang dimainkan oleh Iman. Sementara Cinta, Naya, dan beberapa teman perempuan satu kelas mereka, tengah sibuk membakar sosis, jagung, dan juga sate. Aromanya semerbak menggugah selera dan membuat perut keroncongan. Sesekali terdengar suara tawa mereka.


“Kirain, Cinta juga bakal ngajak temen-temen sekelasnya yang cowok. Kita berdua jadi paling ganteng di sini, Man.”


“Elo salah. Di dalam masih ada satu yang ganteng. Pak Baratha,” ujar Iman setengah berbisik, khawatir kepala sekolah itu tiba-tiba muncul di depan mereka.


“Oh, iya. Gue lupa,” Gilang tepuk jidat lantas nyengir.


Tak berapa lama, Pak Baratha ke luar dari rumahnya, ikut bergabung. Iman dan Gilang mencium takzim punggung tangan kepala sekolah mereka itu.


“Kalian sedang melakukan hal seru apa, nih? Bapak gabung di sini, ya.” Pak Baratha duduk di dekat Iman dan Gilang.


“Kita dari tadi ngamen, Pak. Tapi, nggak ada yang ngasih uang,” canda Iman membuat pria paruh baya itu tertawa.


Gilang memandang heran ke arah Pak Baratha, sebab baru kali ini dia melihat kepala sekolahnya yang dingin itu, bisa juga tertawa lebar. Gilang lantas melirik ke arah Iman, menunjukkan wajah penasaran. Iman hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis.


Baru tahu elo, ya? Keduluan, deh sama gue. Begitu kira-kira kalimat yang ingin diucapkan Iman. Namun, karena Pak Baratha ada di hadapan mereka, kalimat itu hanya terucap di hati Iman saja.


“Boleh Bapak pinjam gitarnya?”


Iman mengangguk, lantas memberikan gitar di tangannya pada Pak Baratha. Pria paruh baya itu mulai memetik gitarnya, lantas bernyanyi salah satu lagu nostalgia zaman dia masih muda. Iman dan Gilang terpana melihat kepala sekolah mereka, ternyata mahir memainkan gitarnya. Suara pria paruh baya itu pun merdu, membuat Iman dan Gilang hanya melongo saja, tak mampu berkata-kata. Duo sahabat itu larut dalam alunan lagu yang dinyanyikan oleh Pak Baratha dengan syahdu.


Beberapa menit sebelum 1 Januari 2020, jagung bakar, sosis bakar, dan sate sudah siap untuk dihidangkan. Cinta, Naya, Iman, Gilang, dan beberapa teman sekelas Cinta berkumpul di teras rumah. Sayangnya, sudah sejak satu jam yang lalu Pak Baratha pamit tidur. Mereka menikmati jagung bakar, sosis bakar, dan sate sambil berkelakar.


“Eh, tahu nggak? Gue sama Iman berasa jadi dua penyamun di sarang sepuluh perawan,” ujar Gilang. Kemudian mulutnya meniup jagung bakar di tangannya.


“Elo aja, kali penyamunnya. Gue mah pangeran di antara para bidadarinya,” balas Iman, yang membuat tawa semua orang di teras itu meledak, kecuali Gilang.


“Assalamu alaikum,” ujar Cinta ragu-ragu.


“Waalaikum salam. Selamat tahun baru, Cantik!”


“Bunda, apa kabar?” Cinta terkejut sekaligus senang menerima telepon dari Bu Lastri. “Belum, Bund. Masih sepuluh menit lagi menuju ke 1 Januari.”


“Nggak apa-apa, dari pada keduluan sama Iman. Kabar Bunda baik, Cinta. Gimana kabar kamu?”


“Alhamdulillah, baik, Bunda.”


“Iman ada di sana, ‘kan?”


"Ada, Bunda. Lagi makan sosis bakar sama teman-teman."


“Syukurlah, kalau ada di sana. Bunda khawatirnya dia keluyuran.” Bu Lasti diam sejenak. Begitu pula Cinta, dia merasa canggung, tak tahu harus berkata apa.


“Maafkan Bunda, ya, yang terpaksa menyuruh kalian putus. Kamu nggak marah, ‘kan?” tanya Bu Lastri memecah keheningan yang sempat tercipta sesaat.


“Nggak, kok, Bunda. Cinta mengerti maksud baik Bunda. Papa juga setuju sekaligus merasa bahagia.”


“Alhamdulillah. Kalau kalian ditakdirkan berjodoh, kalian pasti akan bersatu. Cinta bersedia menanti Iman hingga kelak datang melamarmu?”


“Bersedia Bunda. Cinta akan tetap menunggu Kak Iman, juga Bunda datang ke rumah, meminta Cinta pada Papa.” Cinta mengelus-elus cincin pemberian Iman, lalu tersenyum tipis saat melirik sekilas ke arah Iman yang sedang makan sosis bakar.


“Terima kasih, Nak. Ya sudah, Bunda tutup dulu, ya. Ini mata udah lima watt. Bunda sayang banget sama kamu. Assalamu alaikum, Cantik.”

__ADS_1


“Iya, Bunda. Cinta juga sayang banget sama Bunda. Waalaikum salam.”


Setelah panggilan berakhir, Cinta bergabung kembali dengan teman-temannya di teras dan menyantap sosis bakar.


“Cinta, duduk sebelah sana, yuk. Bareng Gilang dan Naya.”


“Teman-teman, Cinta tinggal dulu sebentar ke sana, ya," ujar Cinta yang dijawab dengan anggukan dari teman-temannya.


“Sok atuh, kalian mah lanjutkan aja makannya. Tenang habiskan saja, nggak bakalan ditagih, kok,” canda Iman sebelum berlalu dari hadapan teman-teman Cinta.


“Ayo.” Cinta menarik tangan Iman. Keduanya kemudian berjalan menghampiri Gilang dan Naya yang tampak sedang berbincang serius.


“Berdua aja, nih. Kayak ban sepeda. Kita boleh, dong gabung, biar jadi seperti ban mobil mewah.” Iman duduk di sebelah Gilang, sementara Cinta mengambil tempat di samping Naya. “Gue mau jujur sama elo berdua. Sebenarnya, gue sama Cinta udah nggak pacaran,” lanjut Iman membuat Gilang dan Naya kompak membelalakkan mata.


“Yang bener? Sejak kapan? Elo tega, Man. Elo bilang gue sohib sejati. Tapi elo membiarkan gue jadi orang terakhir yang tahu.”


“Mereka juga nggak tahu, kok, Lang,” tunjuk Iman ke arah teman-teman Cinta yang berada di teras. Mereka masih asyik menyantap makanan sembari bercakap-cakap.


“Maaf, ya, Nay. Cinta juga belum sempat cerita,” ujar Cinta sambil menggenggam jemari Naya, sahabat setianya.


“Nggak apa-apa, Cinta. Kalian putus gara-gara apa? Karena kehadiran murid baru dari kota metropolitan itu?”


“Bukan, kok, Nay. Tapi, karena beberapa pertimbangan, dan ....” Cinta tak melanjutkan kalimatnya. Dia melirik Iman, seolah meminta cowok itu untuk menjelaskan lebih detailnya.


Iman yang menangkap maksud Cinta, mulai buka suara. “Jadi begini ....” Meluncurlah semua cerita Iman tentang latar belakang putusnya Cinta dan dirinya.


“Jadi, begitu, Nay, Lang, ceritanya. Kita pisah bukan karena nggak setia atau pun sebab hadirnya orang ketiga, bukan. Tapi, kita menunda dulu rasa yang kita miliki, untuk suatu saat nanti menuju ke jenjang yang lebih serius.”


“So sweet! Jadi teringat kisah cinta dalam diamnya Fatimah Az Zahra dan Sayyidina Ali.” Naya memandang takjub pada Cinta dan juga Iman. “Kak Gilang kita putus juga, yuk." Pandangan Naya kini beralih pada Gilang.


“Nay, kok, tiba‐tiba? Gue, eh, aku masih sangat sayang.” Gilang memandang lekat ke arah Naya, seraya memohon untuk mempertimbangkan kembali keputusannya.


“Kalau elo bener-bener sayang, sebaiknya elo ikhlas. Jika kalian memang berjodoh, kalian pasti bersatu,” ujar Iman sambil menepuk-nepuk pundak Gilang, berusaha menguatkan hati sahabatnya itu. Sebab, Iman tahu betul bagaimana rasanya putus Cinta.


Gilang diam sebentar, lalu berkali-kali menghela napas. “Iya, deh, Nay. Kalau memang itu yang kamu mau. Tapi, tunggu Kak Gilang, sampai nanti Kakak datang melamar ke rumahmu, ya.”


Naya mengangguk pelan sambil tersipu malu. Cinta merangkul bahu Naya, seraya membuat sahabatnya itu tegar.


“Melamar apa? Melamar jadi tukang kebun di rumah Naya?” canda Iman membuat Cinta dan Naya tersenyum. Sementara raut wajah Gilang memberengut, antara kesal pada Iman dan sedih karena baru saja hubungannya dengan Naya kandas.


“Lihat, Kak Gilang. Mereka katanya putus, tapi punya cincin couple rupanya. Jangan-jangan mereka udah menginjak ke acara lamaran, nih,” ledek Naya sambil mengamati sebuah cincin indah yang melingkar di jari manis Cinta.


“Tenang, Nay, kalau kamu mau, Kak Gilang beliin, deh. Kalau perlu kita buat perjanjian di atas materai.”


“Elo pakai materai segala.” Iman menoyor kepala Gilang. “Elo habis nonton film Dilan, ya, sampai terinspirasi begitu?” Iman menjawil dagu Gilang. Cowok bertampang kocak itu bergidik, lantas langsung menepis tangan Iman.


“Protes aja, elo, Man. Ini kisah gue, ya terserah gue, dong mau ngapain. Elo aja pakai kalung sama cincin couple, gue nggak prostes!”


Cinta dan Naya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah kedua cowok yang saling ledek itu. Pukul 00.00 tepat, mereka berempat bergabung lagi dengan teman-teman yang duduk di teras, sembari menikmati langit malam yang seketika terang oleh cahaya warna-warni kembang api. Suara petasan terdengar, saling bersahutan dari setiap penjuru komplek itu, menambah meriah suasana pergantian tahun ini.


“Happy Ney Year!” seru mereka bersamaan dengan membawa harapan baru di hati masing-masing, agar tahun 2020 lebih baik dan lebih indah dari tahun-tahun sebelumnya.


“Tahun baru, status baru. Gue jomlo lagi, deh,” lirih Gilang pada Iman di antara suara-suara letusan petasan dan kembang api yang bersahutan. “Apa karena kita itu soulmate sejati, ya, hingga Allah selalu membuat persamaan di antara kita? Gue jadian, nggak lama elo juga jadian. Sekarang, elo putus, gue juga putus.”


“Sabar, Lang. Kuatkan hati elo. Awalnya perasaan gue juga hancur. Tapi, elo akan lebih tenang setelah tahu maksud dari semua ini.” Iman menepuk-nepuk punggung Gilang. “Semester dua, daftar ekskul DRI, yuk. Ajak Cinta sama Naya juga.”

__ADS_1


Gilang mengangguk, setuju dengan usulan Iman. Kedua sahabat itu, lalu kembali fokus mendongak ke angkasa, menikmati warna-warni kembang api yang cahayanya masih berpijar menghiasi langit malam.


__ADS_2