Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
Hang Out


__ADS_3

Penilaian Tengah Semester telah dilalui oleh murid-murid SMAN 6. Selama seminggu penuh, mereka disibukkan dengan belajar dan belajar, tak ada waktu untuk bermain. Dan hari Sabtu yang cerah ini, merupakan hari terakhir mereka berkutat dengan soal-soal. Kini, mereka bisa bernapas lega dan wajah para murid terlihat lebih ceria, tidak tegang seperti hari-hari sebelumnya.


“Sendirian aja, Neng, kayak ban serep,” ujar Iman sembari menjawil lembut pipi Cinta, membuat cewek cantik itu tersentak.


“Kakak, bikin kaget saja.”


“Udah, jangan terlalu serius mikirin Kakak, biar Kakak aja yang mikirin kamu.” Iman tersenyum kecil melihat Cinta yang semakin terlihat cemberut. “Kenapa, masih mikirin PTS? Udah, deh, yang lalu biarlah berlalu, kita songsong masa depan yang lebih cemerlang.”


“Sepertinya hasil PTS Cinta nggak memuaskan, Kak,” ujar Cinta sambil menghela napas. Rasa kecewa dan penyesalan tergambar jelas di wajah cantiknya.


Iman garuk-garuk kepala, bingung harus menghibur Cinta dengan cara apa. Cowok itu memandang lekat wajah cantik Cinta. Mungkinkah prestasinya menurun karena pacaran, ya? gumam Iman di dalam hati. Seketika saja, dia diliputi perasaan tak enak dan bersalah. Menurut teman-teman sekelasnya, Cinta itu paling pandai dan menonjol di antara teman-temannya. Apa karena kehadiran Iman di kehidupan Cinta, membuat fokus Cinta terpecah antara belajar dan pacaran? Iman jadi terngiang-ngiang nasihat Bunda. Sepertinya, dia memang harus mempertimbangkan lagi keputusannya untuk berpacaran di usia dini. Iman menelan saliva, entah mengapa, ada perasaan tak rela untuk mengakhiri kisah cintanya dengan cewek cantik ini.


“Maaf, kalau Kakak belum bisa jadi pacar yang memotivasi. Maklum, Kakak, ‘kan bukan Mario Teguh.”


“Justru kehadiran Kak Iman di hidup Cinta sangat berarti. Kakak bisa membuat Cinta nggak kesepian lagi. Kakak selalu bisa menghibur dan selalu mampu membuat Cinta tertawa. Cinta mohon, Kakak jangan tinggalin Cinta, ya.” Netra indah Cinta memandang lekat ke arah Iman seraya memohon dengan sangat.


Iman menghela napas berat, hal inilah yang membuat dia tak mampu lepas dari Cinta. Iman tak tega membuat cewek ini terluka, tapi nasihat sang Bunda pun semakin menggema dan terus berputar di kepalanya.


“Ngomong-ngomong, soulmate kamu ke mana? Tumben ya, suasana jadi sepi.” Iman mengalihkan pembicaraan, tak ingin Cinta menangkap kegelisahannya.


“Soulmate nya Cinta, ‘kan yang lagi duduk di sebelah Cinta.”


“Kalau itu, sih sudah pasti, Kakak soulmate nya Cinta dunia dan akhirat.” Iman tersenyum kecil melihat pipi Cinta bersemu merah, membuat wajah cantik cewek itu semakin mempesona, hingga Iman tak kuasa untuk sekali lagi menjawil pipi kekasihnya itu. “Maksud Kakak, Naya ke mana?”


“Oh, Naya. Dia udah pulang dari tadi sama soulmate nya Kakak.”


“Pantesan, chat Kakak cuma di read doang, kayak koran aja. Gilang lagi asyik pacaran kali, ya?”


“Bukannya kita juga lagi pacaran, Kak?”


“Hehehe, Cinta, jalan-jalan dulu, yuk. Hitung-hitung refreshing, melepas penat setelah PTS,” ajak Iman yang dijawab dengan anggukan dari cewek berhidung mancung itu. Keduanya beranjak dari bangku taman sekolah, menuju parkiran.


“Kita mau ke mana, Kak?” tanya Cinta setelah berada di dekat N Max nya Iman. Cewek itu sama sekali belum tahu Iman akan mengajaknya ke mana.


“Mau mengukur jalanan kota Bandung,” jawab Iman sekenanya dengan tampang dibuat serius.


“Ih, Kakak, nggak ada kerjaan, ngabisin bensin aja. Serius, nih, Kakak mau bawa Cinta ke mana?”


“Ke hatimu.” Iman tertawa melihat Cinta mengerucutkan bibirnya. “Terserah, Cinta aja, deh.”


Cinta mendengus sebal. Dia yang ngajak, kok dia yang bingung tujuannya ke mana. Cinta berpikir sebentar tentang tempat yang ingin dia kunjungi hari ini. Lalu, terlintaslah sebuah tempat yang dia sukai selain toko buku di benaknya.


“Kak Iman, kita ke mall dekat sini aja, ya,” ajak Cinta.


“Tumben nggak ngajak ke Gramedia.” Dahi Iman berkerut. Biasanya, Cinta yang pecinta buku ini, kalau diajak jalan-jalan, tidak akan melewatkan untuk menyambangi toko buku langganannya itu.


“Belum ada novel yang mau dibeli. Yuk, Kak, mumpung belum siang banget.”

__ADS_1


Iman mengangguk. Mereka berdua segera memakai helm masing-masing dan naik ke atas motor. Bersiap untuk berangkat. Iman tersenyum senang melihat Cinta tak sungkan lagi melingkarkan kedua tangannya di perut Iman. Cowok itu lantas menghidupkan mesin motor dan melajukannya menuju mall yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah mereka.


***


Tak lama berselang, Iman dan Cinta telah tiba di parkiran mall. Cinta turun duluan dari motor Iman, melepaskan helm dan merapikan jilbab yang sedikit miring. Mereka berjalan berdampingan menuju ke pintu masuk mall. Sebelum tiba di pintu masuk, langkah Iman mendadak terhenti, membuat Cinta memandang heran ke arah pacarnya.


“Kenapa, Kak Iman?” tanya Cinta bingung.


"Sebentar, Cinta, kayaknya ada yang lupa, deh.”


Cinta jadi khawatir sendiri mendapati wajah Iman yang terlihat cukup serius.


“Apanya yang lupa, Kak? Dompet? STNK? Hp? Atau lupa bawa uang? Tenang, Cinta nggak akan minta dibeliin apa-apa, kok. Kita window shopping aja dulu.”


“Bukan, Cinta.”


“Terus apa dong, Kak?”


“Ini, lupa digenggam.” Iman meraih tangan Cinta, mengunci jemari lentik itu dengan jemarinya sembari mengulas sebuah senyuman.


Cinta dapat merasakan jantungnya berdebar dan kedua pipinya memanas. Cewek cantik itu salah tingkah sekaligus merasa senang. Beberapa kali jalan berdua, baru kali ini jemari mereka saling bertautan. Dua sejoli remaja itu berjalan kembali, masuk ke dalam mall.


Tempat pertama yang Cinta kunjungi adalah toko boneka. Saat masuk ke dalam toko, Cinta mulai heboh, ketika melihat boneka, gantungan kunci, mug, tas, dan beberapa benda lainnya yang berbau Minion. Baginya, melihat merchandise yang ada Minionnya, merupakan hal yang sangat membahagiakan, sama menyenangkannya dengan melihat novel baru penulis idolanya terbit dan tersedia di Gramedia.


“Wah, boneka Minionnya lucu banget!” pekik Cinta dengan mata yang berbinar-binar.


“Ini memang new arrival, Kak,” ucap seorang penjaga toko berambut sebahu sambil tersenyum ramah.


“Kamu suka Minion, Cinta?” tanya Iman merasa tak percaya, sebab dia baru tahu cewek secantik Cinta selain suka buku, ternyata doyan juga dengan makhluk kecil berbentuk kapsul berwarna kuning yang diberi kaki dan tangan, selalu berbaju biru dan berkacamata tebal serta mengoceh dengan bahasa yang aneh dan muncul di film animasi Despicable Me. Bahkan, lirik lagu yang dinyanyikan makhluk kecil itu, tidak mudah dimengerti. Hanya ada dua kata yang bisa ditangkap oleh indera pendengaran, yaitu banana dan potato.


“Suka banget, Kak. Di rumah, Cinta mengoleksi segala hal yang berbau Minion. Hanya boneka yang ini Cinta belum punya.” Cinta menunjuk ke boneka yang tadi sempat membuatnya histeris. “Nanti aja, deh belinya kalau Cinta ke sini lagi. Yuk, Kak.” Cinta menggamit lengan Iman mengajak keluar sambil sesekali melirik ke arah boneka itu berada.


Tak berapa lama, keduanya berjalan tak tentu arah di mall itu, keluar masuk toko tak jelas. Iman melirik Cinta. Cewek itu sudah terlihat lelah.


“Cinta, ketemu sama Bundaku, yuk.”


“Hah, sekarang?” Cinta panik mendengar ajakan mendadak dari Iman.


“Iya, sekarang.”


“Sebentar, Kak. Cinta ke toilet dulu.”


“Santai aja, Sayang, jangan grogi, sampai perutnya melilit begitu. Baru juga silaturahmi, belum meningkat ke acara lamaran.” Iman tertawa melihat Cinta yang tak mampu menyembunyikan kepanikan.


“Bukan begitu, Kak. Cinta mau dandan syantik dulu. Kan mau ketemu calon mertua, masa wajahnya berminyak begini.” Cinta tersipu malu melihat tawa Iman meledak.


"Nggak apa-apa, Cinta, minyaknya bisa buat memasak."

__ADS_1


“Ih, Kakak!" Cinta memukul pelan lengan Iman. "Sebentar, ya, Kak. Cinta kali ini dandannya kilat kok, nggak lama. Soalnya lagi nggak bikin video tutorial.” Bergegas Cinta setengah berlari menuju ke toilet wanita, meninggalkan Iman yang masih belum berhenti tertawa.


Sepeninggal Cinta, Iman melangkahkan kaki menuju ke toko boneka yang tadi mereka kunjungi. Untung saja, jarak toko itu dan toiletnya tidak terlalu jauh. Sehingga, Iman sudah berada kembali di dekat toilet wanita, saat Cinta ke luar dari sana. Iman seketika terpana menatap wajah Cinta yang dipoles dengan riasan wajah natural.


“Kakak, jangan lihatin Cinta kayak begitu, jadi ge-er nih. Dandanan Cinta nggak menor, ‘kan?”


“Nggak, Cinta.”


Cinta membuka cermin kecil dari dalam tas, kemudian mengecek kembali riasan wajahnya. Dia memperbaiki jilbabnya yang sedikit kusut. “Kak, Cinta udah cantik, ‘kan?”


“Iya.”


“Bener?”


“Bener, Cinta.”


“Bener, apa?”


“Beneran cantik.”


“Itu jawabannya dari hati, ‘kan?”


“Iya, Cinta. Kamu itu udah Allah takdirkan berwajah cantik dari lahir.”


“Makasih, Kak.” Cinta mengangguk puas. Dia memegangi dadanya, merasakan debaran jantung yang berdetak sangat cepat. Cinta benar-benar merasa tak tenang.


“Are you ready, Darling? Yuk,” ajak Iman sembari menggenggam erat jemari Cinta. “Yang mau ketemu camer, sampai membeku begini telapak tangannya,” ledek Iman, membuat Cinta mendaratkan cubitannya di lengan Iman.


“Kak Iman, Bundanya Kakak nggak benci sama Cinta? Tempo hari, ‘kan, Papa Cinta bersikap kasar,” ujar Cinta setengah berteriak di antara suara deru kendaraan.


“Nggak, Cinta.”


“Kata siapa?”


“Kata Kakak barusan. Tenang, Cinta. Yang galak itu doggy, bukan Bundanya Kakak. Suka baca, ‘kan tulisan berisi peringatan di pintu rumah yang ada doggy nya?”


“Iya.”


“Tuh, tulisannya bukan awas ada bunda galak, ‘kan?” Iman menunjuk salah satu rumah besar berpagar tinggi di jalan di jalan yang mereka lewati. Pintu gerbangnya ditempeli papan dan terpampang jelas tulisan awas, anjingnya galak, biar jadi jinak, kenalan dulu, dan sebutkan password yang benar. Semuanya ditulis dengan huruf kapital, lengkap dengan tiga buah tanda seru.


"Lucu juga, ya, Cinta tulisannya? kira-kira apa ya, passwordnya kalau mau masuk ke rumah itu?" canda Iman berusaha mencairkan suasana dan membuat perasaan Cinta sedikit lebih rileks.


“Kakak, serius, ih! Tapi, Cinta khawatir, karena perlakuan Papa, Bundanya Kakak jadi nggak suka sama Cinta.”


“Tenang, Cinta, Bundanya Kakak nggak begitu, kok.”


“Cinta takut, Kak.”

__ADS_1


“Nggak usah takut. Ada Kakak.”


Cinta menelan salivanya. Cewek cantik itu semakin mempererat genggaman tangannya di pinggang sang pacar. Sebelah tangan Iman sejenak melepaskan stang motornya, lalu membelai lembut tangan yang melingkar di pinggangnya, berusaha membuat perasaan Cinta sedikit lebih tenang.


__ADS_2