
Hari Jum’at ini, para murid dipulangkan lebih awal, sebab para panitia MOPDB akan mengadakan rapat. Kepala sekolah yang memimpin jalannya rapat, sudah masuk terlebih dahulu ke dalam aula yang digunakan sebagai tempat berlangsungnya rapat.
“Kak, mau pulang bareng gue nggak?” Iman dengan setengah berlari mengejar sang Kakak yang hendak menuju ke aula.
“Elo duluan deh. Gue mau rapat dulu.”
“Cie, orang penting, rapatnya sama pihak sekolah.”
Ikhsan tertawa menanggapi candaan dari adiknya. “Makanya, aktif dong, libatkan diri dengan kegiatan, ekskul, dan organisasi di sekolah, biar tahu gimana rasanya rapat sama pihak sekolah.” Iman mengerucutkan bibir membuat tawa Ikhsan kembali meledak. “Oh iya, kalau Bunda nanya gue pulang telat, tolong bilangin ya, gue rapat dulu. Habis itu mau sekalian Jumatan di masjid sekolah.”
“Beres, Kak.” Iman menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk huruf O. Duluan ya, assalamu alaikum.”
“Waalaikum salam, hati-hati jangan ngebut, Man.”
Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi, Setelah semua panitia inti berkumpul, barulah rapat dimulai. Di depan aula, Pak Baratha tampak serius menyampaikan sesuatu hal pada seluruh peserta rapat. Para peserta rapat yang terdiri dari beberapa guru juga sebagian murid yang tergabung dalam OSIS, menyimak dengan saksama semua yang disampaikan oleh Pak Kepsek itu. Pukul 11.00 rapat itu pun berakhir. Para panitia perempuan bersiap untuk pulang, sedangkan para panitia laki-laki menuju ke masjid sekolah, hendak mengambil wudhu, bersiap untuk melaksanakan Jum'atan. Tidak berapa lama, Pak Baratha beserta guru-guru laki-laki dan beberapa murid laki-laki yang menjadi panitia MOPDB, tampak khusyuk melaksanakan shalat Jumat berjamaah, dipimpin oleh Pak Sajidin sebagai imam sekaligus khatib. Tepat pukul 13.00, mereka meninggalkan masjid menuju ke rumah masing-masing.
“Assalamu alaikum.”
“Cie, yang udah rapat sama orang penting. Kepo dong, Kak, rapatnya tentang apa sih?” tanya Iman setibanya Ikhsan di depan pintu rumah. Iman mengejar sang kakak yang hendak menuju kamarnya setelah meletakkan sepatu di atas rak.
“Kak, ditanya malah diam. Rapat pentingnya tentang apa? Boleh, ‘kan, adikmu yang ganteng kayak artis Korea ini tahu. Bisikkin dong.”
Ikhsan memandang sekilas ke wajah adiknya. “Gue nggak mau jawab.”
“Ya, elo mah begitu, Kak. Main rahasia-rahasiaan. Sama adik sendiri padahal.”
“Habisnya, elo juga nggak balas salam gue. Man, kalau ada yang mengucapkan salam, kita wajib menjawabnya.”
“Iya deh, iya, Kak. Maaf. Waalaikum salam.”
“Telat!” Ikhsan menoyor kepala sang adik lantas masuk ke kamarnya diikuti oleh Iman.
“Heh, ngapain ikut masuk? Kakak mau ganti baju dulu!” seru Ikhsan kaget ketika melihat Iman duduk di atas kasur.
“Sebentar aja dong, Kak. Please.” Iman menangkupkan kedua tangannya seraya memandang sang kakak dengan tatapan memohon, ingin segera meminta penjelasan. “Gue penasaran aja sama hasil rapat tadi. Pasti ada hubungannya dengan MOPDB ya? Mau ada acara lanjutan, ‘kan? Acara di luar sekolah kayak waktu angkatan gue? Ada Kemah Bersama Pramuka, ‘kan?”
Ikhsan menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Iman. “Man, elo kenapa sih penasaran banget? Apa ada hubungannya sama gebetan elo?” selidik cowok tampan itu sembari menarik tangan Iman agar bangkit dari tempat duduknya. “ Udah, sana, keluar!”
“Ya, Kakak. Nggak asyik ah.” Iman melangkah gontai ke luar kamar kakaknya.
“Gue mau ganti baju dulu. Nanti gue jelasin sambil makan siang.” Ikhsan menutup pintu kamar, sementara Iman mengacungkan kedua tangannya ke udara sambil berucap yes.
Iman mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke atas meja makan. Sudah lima belas menit lamanya ia menunggu di sana. Sesekali pandangannya mengarah ke pintu kamar sang kakak menanti sang empunya ke luar dari sana. Tak berapa lama, terdengar pintu berderit. Ikhsan ke luar dari sana mengenakan kaus polos berwarna biru tua. Cowok berkulit putih itu melangkah mendekati meja makan. Setelah tiba di sana, ia duduk di salah satu kursinya. Iman menyambut sang kakak dengan senyuman sumringah. Ikhsan membalikkan piring yang tertelungkup di atas meja, kemudian mengisinya dengan nasi serta lauk-pauknya dan mulai menyuapkan ke dalam mulut.
“Kak, gimana?”
“Sebentar, gue ngabisin makan dulu.”
Imam mengerucutkan bibirnya. Setiap kali Ikhsan menyuapkan makannya, Iman menghela napas. Tangan cowok itu menopang dagunya, berusaha tetap sabar menanti. Setelah Ikhsan selesai makan dan meneguk air minumnya hingga tandas, barulah wajah Iman yang sedikit muram berubah cerah.
“Kak ....”
“Eits, sebentar. Bereskan dulu bekas makannya.”
Kembali Iman menekuk wajahnya. Namun, demi informasi yang sangat ditunggu-tunggunya, cowok itu berusaha ikhlas membereskan piring dan gelas bekas makan sang kakak. Cowok itu menaruh peralatan makan yang kotor itu di wastafel. Ikhsan tertawa puas karena berhasil mengerjai adiknya.
“Ngomong-ngomong Bunda ke mana? Kok dari tadi nggak kelihatan?” Ikhsan membuka percakapan setelah Iman duduk lagi di dekatnya.
“Bunda lagi ada pertemuan ibu-ibu kader di rumah Bu RW. Jadi gimana, Kak hasil rapatnya?”
“Rapatnya tentang acara penutupan MOPDB. Bener kata elo, acaranya sama dengan angkatan elo, KBP alias Kemah Bersama Pramuka di Ranca Upas selama tiga hari dua malam. Pihak sekolah minta panitia tambahan di luar OSIS dan ekskul Pramuka, buat bantu-bantu.”
“Nah, kebetulan, Kak. Gue aja sama Gilang. Duo sahabat ini selalu siap sedia membantu,” ujar Iman sembari berpose seperti sedang menghormat bendera.
“Iya, gue memang sudah menunjuk beberapa nama kelas XI dan XII buat jadi panitia tambahan, termasuk nama elo juga soulmate elo itu."
Mendengar ucapan kakaknya, kedua netra Iman berbinar bahagia. “Wah, terima kasih, Kak. Elo memang yang paling mengerti maunya gue.” Saking bahagianya, Iman mencium punggung tangan sang kakak.
“Eh, eh, eh, nggak biasanya elo begini. Ingat, Man. Di sana gue tetap bakal mengontrol elo. Jadi, jangan macam-macam, apalagi berani deketin lawan jenis. Gue bakal langsung pulangin elo sebelum kegiatan usai,” ancam Ikhsan membuat Iman garuk-garuk kepala. Sekilas terbayang wajah Cinta menari-nari di pelupuk matanya, membuat dada cowok berwajah oriental itu seketika berdesir.
***
__ADS_1
Pukul 06.00 pagi, para panitia beserta murid-murid baru sudah berkumpul di gerbang sekolah. Beberapa buah bus tampak berjejer di tepi jalan Pajajaran. Setelah mengecek kehadiran para murid baru dan memeriksa perlengkapan, serta barang bawaan masing-masing, seluruh murid dan juga para panitia MOPDB naik ke dalam bus yang sudah diberi nomor seri. Mereka duduk di bangku sesuai dengan nomor yang didapatkan.
Beberapa murid laki-laki tampak ada yang membawa gitar. Sepanjang perjalanan, ada yang bernyanyi, ada pula yang memetik gitar. Ada juga yang menggerak-gerakkan kepala, mengikuti irama musik yang didengarkan melalui headset. Banyak juga dari mereka yang memejamkan mata mengembara di alam mimpi masing-masing. Iman dan Gilang duduk di bangku tengah. Sesekali mereka melihat ke deretan bangku di mana Cinta dan Naya duduk.
“Masya Allah, Man, gebetan gue cakep bener, ya,” bisik Gilang di telinga Iman.
“Lebih cantik bidadari gue dong, Lang.”
“Whatever, deh. Pokoknya di sana nanti kita harus menyusun strategi supaya bisa berhasil pedekate dan sukses melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi, Man."
“Mudah-mudahan, aja, Lang. Tapi kayaknya gue nggak bakalan bisa bebas. Mata jeli nya Kak Ikhsan akan terus mengintai gue.”
“Tenang, Man. Banyak jalan menuju Roma. Kita berjuang sama-sama.”
Tepat pukul 08.00, rombongan itu tiba di lokasi perkemahan. Rencananya, acara akan berlangsung dari hari Sabtu ini hingga Senin pagi. Hawa dingin dan udara yang masih segar alami, menyapa para rombongan yang baru saja turun dari bus. Hal ini dikarenakan, bumi perkemahan Ranca Upas berada pada ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut. Di kawasan ini, pada malam hari, dinginnya bisa mencapai 0 derajat celcius. Makanya mereka diwanti-wanti untuk membawa jaket tebal.
Bumi perkemahan Ranca Upas merupakan kawasan wisata yang berdiri di lahan seluas kurang lebih 215 hektar yang termasuk ke dalam kawasan hutan lindung. Ranca Upas ini merupakan kawasan konservasi beraneka ragam tanaman langka, seperti Ditambang, Kihujan, Jamiju, Huru, Hamirug, dan masih banyak lagi. Di kawasan hutan ini juga terdapat berbagai jenis hewan yang dilindungi, seperti bermacam-macam burung dan rusa.
Iman tampak celingukan. Setelah dirasa cukup aman, karena sang kakak tidak kelihatan sedang berada di dekatnya, ia menarik tangan Gilang dan mengajak sahabatnya itu berjalan lebih cepat.
“Duh, Man, elo ngapain sih nyuruh gue jalan cepat? Santai aja kenapa? Ini kan bukan lagi perlombaan. Mana gue belum sarapan lagi. Lemes nih." Gilang menggerutu sembari menepiskan tangan Iman. Langkah kakinya gontai. Cowok berjaket abu-abu itu tampak lemas.
“Mumpung situasi lagi aman, Lang. Yuk ke sana.” Telunjuk cowok berjaket hitam kebanggaannya itu menuding ke arah dua murid kelas X yang sedang berjalan bergandengan, masuk ke lokasi perkemahan beriringan dengan rombongan lainnya.
Gilang kelihatan senang. Entah mendapat kekuatan dari mana, cowok bertampang kocak itu berlari secepat kilat meninggalkan sang sahabat. “Gue duluan ya, bye.”
“Heu, dasar, Ibro. Tadi katanya lemes. Giliran lihat yang bening-bening aja, power nya nambah seribu kali lipat.” Bergegas Iman berlari menyusul Gilang yang kelihatan sudah mulai terlibat obrolan dengan dua murid baru itu.
“Hai, Cinta. Masih ingat saya, ‘kan?” tanya Iman dengan napas terengah-engah setelah ia berjalan di samping sang pujaan. Dahi cewek berhidung bangir itu tampak berkerut, berusaha mengingat-ingat.
“Ehem ..., ehem.” Gilang yang berjalan di samping Naya berkali-kali berdehem. “Eh, Nay, kita jalan duluan yuk. Sambil gue ceritain tentang lokasi ini. Tahun kemarin kan angkatan gue yang ke sini.”
“Boleh, boleh, Kak.” Cewek bertampang Arab itu kelihatan antusias dengan ajakan Gilang. Sementara itu, Cinta menarik tangan Naya yang hendak melangkah menjauhinya sembari memelotot.
“Udah, Cinta, tenang. Elo bakal aman kok jalan sama sobat gue yang satu ini.” Gilang menepuk-nepuk bahu sang sahabat sambil membisikkan kata penyemangat pada cowok berjaket hitam itu. “Kita duluan ya, yuk, Nay.”
Naya mengangguk kemudian berjalan mengikuti langkah kaki Gilang. Cinta tampak sedikit kesal pada Naya yang sudah tega meninggalkannya.
“Cinta, maaf, saya waktu itu sudah bilang yang bukan-bukan tentang Pak Baratha. Saya nggak tahu kalau pak kepsek itu Papa kamu.”
“Eh Cinta, Cinta, tunggu!” Iman setengah berlari berusaha mengejar sang pujaan. Untunglah, Cinta belum melangkah terlalu jauh darinya. “Iya, Cinta, Papamu itu sosok yang keren. SMAN 6 bangga punya kepsek seperti beliau.” Napas Iman ngos-ngosan. “Maafkan perkataan aku tempo hari itu ya.” Untuk lebih akrab, Iman mengubah kata “saya" menjadi “aku.” Entah mengapa, Iman yang tak sungkan ber elo gue pada siapa pun, bisa merasa sangat canggung berhadapan dengan sang pujaan.
Cinta tersenyum kecil ke arah Iman membuat cowok itu berdesir. “Nggak apa-apa, Kak. Bukan kakak aja yang bilang Papaku seperti itu. Yang mengenalnya hanya sekilas pasti berkata kalau Papa aku itu jutek, dingin, jarang tersenyum.”
Iman mengusap pelan wajahnya. Dalam hati, dia sangat menyesal bercampur dengan rasa bersalah dan malu karena sudah berbicara tidak baik tentang Pak Baratha pada putrinya sendiri. Hal ini tentunya akan membuat nilai minus dirinya di mata sang pujaan. Duh, ****, ****, ****.
“Cinta, kamu mau memaafkan atas perkataan aku tempo hari? Soalnya aku jadi nggak enak nih.” Iman menggaruk-garuk kepala. Hal yang selalu dilakukannya kalau dia sedang dalam keadaan tak tenang atau merasa grogi. Malahan, kedua telapak tangannya sedari tadi sudah dingin.
“Sudahlah, Kak. Nggak apa-apa, kok.” Cewek cantik itu tersenyum tulus. Tak sedikit pun tergambar kekesalan pada raut wajahnya.
“Tapi .... Kamu .... Kamu, masih mau berteman denganku?” Terbata-bata Iman berkata diiringi debaran di dada yang kian kentara. Cowok itu menundukkan pandangannya, tak berani menatap lawan bicaranya. Tak berapa lama, dia mengulurkan tangan pada sang gadis. Telapak tangan kanannya serasa membeku.
Tak disangka, Cinta menerima uluran tangan Iman. Tangan gadis itu hangat dan halus, selembut perangai juga gaya bicaranya. Anggukan kecil dari sang bidadari, membuat Iman menghela napas, lega seraya berucap hamdallah.
“Terima kasih ya,” ujar Iman membuat cewek cantik itu sekali lagi mengangguk. “Ngomong-ngomong Pak Baratha ke mana? Kok dari tadi nggak kelihatan?”
“Papa nggak ikut. Ada rapat para kepala sekolah katanya.”
Jawaban sang pujaan membuat Iman merasa lebih lega lagi dan juga riang gembira. Kembali hatinya mengucap hamdallah diiringi satu kata yang bersorak di dalam dada. Yes.
Tak lama berselang, Iman mundur agak menjauh dari Cinta, sebab sepasang mata Ikhsan sedang mengamatinya dari kejauhan.
***
Kegiatan Kemah Bersama Pramuka atau KBP diawali dengan upacara pembukaan. Yang menjadi petugas upacara, berasal dari anggota ekstrakurikuler pramuka SMAN 6 Bandung yang disebut Ambalan Rakean Sunda untuk putra dan Ambalan Purnamasari untuk putri. Seluruh petugas menjalankan tugasnya masing-masing dengan benar dan tertib. Begitu juga dengan semua peserta. Mereka mengikuti jalannya upacara dengan khidmat.
“Baik adik-adik. Kita tadi sudah melaksanakan upacara dengan tertib dan rapi. Masih pada semangat, ‘kan?” teriak Anto, salah satu anggota Ambalan pramuka melalui pengeras suara.
“Masiiih!” Para murid baru serempak menjawabnya dengan kompak.
“Bagus. Nah, sewaktu adik-adik SMP, pasti pernah ikut kegiatan kemping bukan? Coba acungkan tangannya yang pernah ikut kemping?” Anto menjeda sejenak ucapannya, menunggu jawaban dari para peserta. “Wah, hebat, ya. Hampir semua pernah ikutan. Berarti, adik-adik sudah tidak asing lagi dengan bagaimana cara mendirikan tenda? Mengapa kakak bertanya begini? Sebab acara yang akan berlangsung sebentar lagi berhubungan dengan tenda. Kegiatan apakah itu?”
__ADS_1
Para peserta tampak kasak-kusuk, tetapi tak ada satu pun yang berani menebak. Mereka hanya saling berbisik dengan sesama anggota kelompok mereka. Suara para peserta mulai ribut dan suasana menjadi tidak kondusif.
“Adik-adik, tenang. Bergosipnya bersambung dulu ya.” Ucapan Anto sontak membuat suara bising seperti dengungan lebah itu seketika berhenti. Situasi kembali senyap. “Baik, kakak lanjutkan, ya. Jadi, kegiatan kali ini akan diisi dengan perlombaan mendirikan tenda. Silahkan setiap kelompok berembug untuk memilih lima anggota yang akan diajukan sebagai peserta lomba. Usahakan orang-orang yang terpilih itu sudah mahir mendirikan tenda.”
Para peserta mulai sibuk berdiskusi, menentukan lima orang dari kelompok mereka yang akan ditunjuk untuk mengikuti lomba. Iman dan Gilang tengah duduk di bangku sebuah warung yang terletak tidak begitu jauh dari tempat lomba diselenggarakan. Pandangan mereka tertuju pada Cinta dan Naya yang sedang berdiskusi dengan teman-teman satu kelompok.
“Hei, berdua aja, kayak ban sepeda.” Sebuah tepukan di bahu mereka dari arah belakang membuat keduanya tersentak.
“Kak Ikhsan bikin jantungan aja.” Iman mengelus-elus dadanya yang berdebar.
“Daripada bengong, elo berdua keliling deh. Menyimak jalannya lomba. Siapa tahu ada yang perlu bantuan.”
“Sip, Kak, cakep.” Gilang mengacungkan kedua jempol tangannya. Bergegas mereka berdua bangkit dari tempat duduk melangkah menuju tempat berlangsungnya lomba.
“Kesempatan, Man. Kita deketin grupnya Cinta sama Naya aja,” ucap Gilang setengah berbisik, karena Ikhsan berjalan tepat di belakang mereka.
“Jalan pikiran elo sama kayak gue, Lang. Yuk cepetan ke sana.”
Dengan setengah berlari kedua sahabat karib itu mendekati Cinta dan Naya yang sedang sibuk mendirikan tenda bersama ketiga temannya yang lain. Namun, dua murid kelas XI itu tak bisa berkutik, karena Ikhsan berdiri tepat di samping mereka.
Siang harinya, sekitar pukul 13.00 seluruh siswa diarahkan ke lapangan untuk mengikuti kegiatan fun games. Di sini setiap peserta bersaing untuk memenangkan games yang telah disediakan tim OSIS. Seluruh peserta tampak antusias mengikuti rangkaian permainan yang diberikan oleh kakak-kakak senior, sehingga mengundang gelak tawa di antara mereka, walau pun sebenarnya saat itu cuaca sedang sangat terik.
Ketika Iman tengah asyik memperhatikan jalannya lomba, Gilang menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. “Man .... Man, Cinta, Man.” Gilang membungkuk, memegangi kedua lututnya.
“Cinta kenapa, Lang? Elo tarik napas dulu deh, terus cerita ada apa?” Iman menyodorkan sebotol air mineral pada sahabatnya yang tampak kelelahan itu.
Gilang menuruti ucapan sahabatnya. Berkali-kali cowok rambut dibelah dua itu menghela napas, kemudian meneguk minumannya. Setelah napasnya mulai teratur, barulah dia bercerita. “Cinta cidera, Man. Dia jatuh pas lagi ikut lomba lari estafet. Kakinya terkilir. Kayaknya sih nggak bisa jalan dia.”
Raut wajah Iman berubah panik. Rasa khawatir tergambar jelas di sana. “Di sebelah mana, Lang?”
“Hayu, ikut gue.”
Bergegas keduanya menuju tempat di mana Cinta berada. Di sana, tampak Naya dan semua anggota kelompoknya mengerubungi Cinta. Ikhsan pun ada di antara kerumunan itu.
“Cinta, ya Allah, kamu nggak apa-apa, ‘kan? Mana yang sakitnya? Sini, biar aku obati.” Iman memberondong gadis itu dengan sejumlah kalimat yang tiba-tiba saja meluncur lancar dari bibirnya. Hal ini dikarenakan rasa khawatir yang teramat sangat.
“Sudah .... sudah, Cinta jangan terlalu dikerubungi, nanti dia kegerahan!” seru Bu Lita, salah satu guru senior di SMAN 6, membuat kerumunan itu sedikit agak menepi. “Bagian mana yang sakitnya, Cinta?” guru matematika itu mengoleskan minyak urut pada bagian yang ditunjukkan Cinta, kemudian mulai mengurutnya. Gadis itu berkali-kali meringis kesakitan.
“Cinta, tahan, yang kuat ya.” Naya mengelus kepala sang sahabat yang tertutup jilbab putih. Matanya memandang iba sosok yang tengah kesakitan itu.
“Cinta, tenang, ya. Nggak apa-apa, kok. Sakit sedikit tahan ya, biar kakinya sembuh.” Iman berusaha menghibur sang pujaan.
“Man, gue titip dulu kelompok ini ya. Gue mau keliling dulu melihat keadaan yang lainnya.”
“Iya, Kak. Tapi, gue minta izin selama Cinta belum sembuh, tolong dia suruh istirahat dulu dari semua kegiatan,” ucap Iman dengan nada memohon sembari memegangi bahu sang kakak. Ikhsan mengangguk kemudian meninggalkan tempat itu dan memantau kelompok yang lainnya.
Sepasang mata cantik milik Cinta memandangi punggung Ikhsan yang semakin menjauh dengan tatapan kecewa.
Mengapa bukan dia yang khawatir dengan keadaanku? batin sang gadis, sedih.
Setelah selesai melaksanakan shalat ashar berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan beberapa ekstrakurikuler yang terlibat di kegiatan ini, yaitu KIR, Terase, DRI, Pramuka, dan pengenalan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) setelah selesai salat Maghrib.
Pengenalan pengurus OSIS cukup menarik untuk dibahas. Malam yang kebetulan cerah ini, OSIS memberikan penampilan yang menakjubkan. Pengurus OSIS seolah ingin memberikan argumentasi kepada seluruh calon siswa bahwa mereka adalah remaja-remaja yang masih mengikuti zaman, remaja yang heboh dan asyik, tapi tetap mengetahui batasan dari aturan-aturan yang ditetapkan.
“Cinta, gimana kakinya?” Iman duduk di samping Cinta sembari menyimak kegiatan malam ini.
“Alhamdulillah, udah agak baikan, Kak.”
“Syukurlah, semoga lekas sembuh ya. Jangan terlalu diforsir. Tenang aja, aku udah izin ke Kak Ikhsan, kok. Biar kamu nggak usah dulu ikut kegiatan lainnya.”
Cinta tersenyum kecil ke arah Iman. Gadis itu menghela napas. Seandainya yang perhatian kayak gini itu, Kak Ikhsan .... Gadis itu melayangkan pandang ke arah Ikhsan yang tepat berada di seberang tempat dia duduk saat ini. Cowok tampan itu sedang berbincang dengan panitia lainnya.
Hari kedua kegiatan, diawali dengan salat Subuh berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan senam sehat, yang disebut "senam pramuka.” Pembawaan yang santai dan asyik dari instruktur membuat peserta lupa akan hari yang masih pagi yaitu sekitar pukul 05.30 yang sebenarnya masih menjadi waktu yang nyaman untuk melanjutkan tidur.
Setelah senam sehat mereka langsung sarapan bersama, dan menerima berbagai materi tentang sejarah kepramukaan, struktur organisasi, pengenalan SKU (Syarat Kecakapan Umum) dan SKK (Syarat Kecakapan Khusus), tanda pengenal pramuka, organisasi penegak pramuka, peraturan baris-berbaris di lapangan, diakhiri dengan pencapaian TKK (Tanda Kecakapan Khusus) dan memasak sebelum akhirnya melaksanakan salat Maghrib dan Isya berjamaah.
Selesai salat Isya, peserta langsung diarahkan ke lapangan untuk melaksanakan upacara api unggun. Proses menyalakan api unggun pada upacara ini dimulai ketika seluruh ketua ekstrakurikuler SMAN 6 Bandung mengelilingi tumpukan kayu bakar, menyalakan dan mengangkat obor di genggaman mereka sambil mengucapkan ikrar ekstrakurikulernya masing-masing, salah satunya Ikhsan, sang ketua ekskul DRI. Setelah seluruh ketua ekstrakurikuler berhasil mengucap ikrarnya, mereka melemparkan obor tersebut secara bersamaan sehingga menghasilkan kobaran api yang cukup besar. Sesudah upacara api unggun, kegiatan dilanjutkan dengan acara pentas seni dari seluruh ekskul yang berpartisipasi pada kegiatan KBP ini.
Keesokan harinya, kegiatan dilanjutkan dengan penutupan KBP sekaligus sebagai pertanda seluruh rangkaian kegiatan MOPDB berakhir. Seluruh peserta melaksanakan upacara penutupan, setelah sebelumnya melaksanakan senam sehat, operasi semut atau kebersihan, dan kegiatan wiyata mandala yang dipimpin oleh mentor dari kelompok masing-masing.
Iman merasa lega melihat sang pujaan sudah berjalan seperti biasa lagi, tak tertatih-tatih seperti dua hari sebelumnya. Ini menandakan kaki Cinta yang terkilir sudah sembuh total.
__ADS_1
Tiba-tiba netranya tertumbuk pada sebuah buku harian berwarna merah muda yang tergeletak begitu saja di atas tanah perkemahan. Iman memungutnya, tangan dia menepuk-nepuk noda tanah yang menempel di buku harian itu. Di sampul depannya terukir jelas nama sang pemilik. Deg, dada Iman berdebar. Dia mengelus lembut nama yang tertera di sana. Saat Iman hendak mengembalikan buku harian itu, ternyata sang empunya sudah tak kelihatan lagi batang hidungnya.
Biarlah untuk sementara, ia simpan dulu buku harian itu. Iman memasukkan buku bersampul warna merah muda itu ke dalam tas gendongnya dan berniat akan mengembalikannya nanti saat bertemu di sekolah. Lumayan lah, hal ini bisa dijadikan alasan bagi Iman untuk bisa bercakap-cakap dengan dia, berharap pertemuan nanti tidak menciptakan kecanggungan lagi di antara mereka.