Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
A Pretty New Student


__ADS_3

Hari Senin yang cerah, mentari bersinar ceria. Namun, cuaca indah ini tak mampu mengusir mendung yang menghiasi wajah Bu Lita. Guru matematika itu, saat ini sedang berada di kelas XI, duduk di kursi guru dengan wajah masam, membuat para murid itu bertanya-tanya, apa yang menyebabkan guru matematika mereka itu bermuram durja?


Di tangannya ada sebuah amplop cokelat besar berisi hasil PTS. Berkali-kali terdengar suara helaan napas darinya. Bu Lita mengedarkan pandangannya, menatap wajah para murid kelas XI satu persatu, kemudian kembali menghela napas. Suasana di kelas XI begitu tegang, lebih mencekam dari acara uji nyali. Tak ada yang berani bersuara. Mungkin, hanya perut keroncongan beberapa murid yang belum sarapan, yang berani mengeluarkan bunyi.


“Lang, Bu Lita kenapa ya, wajahnya sedih campur kesal begitu? Seperti yang sedang memendam rasa kecewa?” Iman berbicara di telinga Gilang dengan setengah berbisik.


“Nggak tahu, Man. Gue, ‘kan nggak kayak Bu Lita, bisa membaca pikiran orang.”


Iman tampak terkejut dan merasa tak percaya mendengar penuturan Gilang barusan. “Yang bener, Lang? Bu Lita punya kemampuan menerawang? Baru tahu, gue.”


“Iya, Man. Bu Lita, ‘kan selama ini punya mata batin, namanya ilmu mata matika”


“Ngaco, elo. Gue pikir, beneran Bu Lita punya ilmu.” Iman mendengus kesal sekaligus menyesal sudah menanggapi dengan serius omongan sobat kentalnya, yang ternyata hanya sekadar candaan belaka.


Iman menoyor Gilang untuk melampiaskan kekesalannya, sebab kalau ditahan rasa kesalnya, dia kuatir tumbuh jerawat dan bisa mengurangi pesona wajahnya yang unyu kalau dilihat dari Tebing Keraton. “Bu Lita bukan punya ilmu mata matika, tapi punya ilmu aljabar,” timpal Iman menanggapi candaan Gilang.


“Kok, aljabar?” Gilang mengernyitkan dahi tak mengerti dengan maksud perkataan sohibnya itu.


“Iya, karena Bu Lita ngajar matematikanya di Bandung. Coba kalau ngajarnya di Surabaya, namanya bukan aljabar lagi, tapi aljatim,” jawab Iman kalem sembari terkekeh pelan. Kini, giliran Gilang yang kesal, membuat Iman tertawa puas bisa membalaskan kekesalannya pada sahabat kentalnya itu.


“Iman, Gilang, Ibu perhatikan kalian dari tadi bisik-bisik terus! Pasti lagi ngeghibahin Ibu, ya?”


Iman dan Gilang saling sikut. Mereka serempak menundukkan wajah, saat berpuluh pasang mata teman-teman sekelas memandang tajam ke arah mereka.


“Tuh, apa gue bilang? Bu Lita sampai tahu kita lagi ngegosipin dia. Apa lagi kalau bukan karena punya mata batin alias mata matika,” ujar Gilang berbisik di telinga Iman yang ditanggapi dengan sikutan agak keras di perut Gilang. Hal ini membuat Gilang memelotot ke arah Iman.


Sadis amat elo, Man, nggak berperikesahabatan, untung saja perut gue six pack, gumam Gilang sembari meringis kesakitan.


Bu Lita hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah duo close friend yang sering bertingkah aneh itu. Dia memilih tidak menanggapi mereka. Kalau diperpanjang, sampai bel pulang dibunyikan pun, tak akan selesai-selesai. Percuma, hanya menguras emosi dan tenaganya saja.


“Ibu punya berita sedih di pagi yang cerah ini.” Bu Lita berhenti berbicara, kemudian menghela napas panjang, membuat para murid saling pandang antar sesama teman sebangkunya.


“Sebagai wali kelas kalian, Ibu sangat kecewa dengan nilai PTS matematika kalian. Ibu jadi merasa telah gagal mentransfer ilmu pada kalian. Entah dengan cara apa lagi yang harus Ibu tempuh supaya kalian hapal rumus-rumus matematika, sehebat kalian mengingat wajah pacar juga mantan yang selalu terkenang dalam ingatan. Dan juga sehebat kalian menceritakan kembali kisah film remaja yang diputar di bioskop kesayangan hingga membekas di luar kepala.” Guru matematika itu mendesah, lantas mengeluarkan lembar jawaban para murid kelas XI dari dalam amplop cokelat besar itu.


“Ibu tidak habis pikir, hampir semua hasil PTS matematika kalian kebakaran alias hancur berantakan. Tak jauh nilainya dari do, re, mi, fa, dan yang paling besar itu mentok di sol. Ampun deh!”


Semua murid menunduk, tak berani menanggapi omelan wali kelas mereka yang sedang dilanda bad mood itu. Kalau sampai salah bicara, mereka bukan hanya mendapat bentakan dari Bu Lita, tentunya akan ditambah pula berurusan dengan Pak Sasongko.


“Sebenarnya, kendala apa yang membuat kalian nggak bisa mengerjakan soal yang Ibu berikan? Padahal, soal-soal ini tidak terlalu jauh dan sangat berkaitan erat dengan beberapa materi yang sudah Ibu jelaskan.”


“Bu, mungkin soal-soal yang Ibu berikan terlalu susah. Sesulit mengungkapkan perasaan pada gebetan,” celetuk Iman berusaha mencairkan suasana. Bagi dia, ketegangan yang tercipta di kelas hari ini, membuat zona nyaman dan situasi santuy di kelas ini terancam punah. Terbukti, beberapa murid, bahkan Bu Lita tersenyum kecil mendengar gurauan yang dilontarkan Iman barusan.


“Terima kasih masukannya Iman. Kalau memang nggak mau berhadapan dengan soal matematika yang susah, kalian bisa bergabung dengan anak Ibu yang masih kelas 1. Paling, ketemunya dengan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan.”


Murid-murid kelas XI tertawa mendengar ucapan Bu Lita. Hanya Iman yang merasa tertohok dengan ucapan Bu Lita yang seperti sindiran baginya. Cowok itu tertunduk, tak mampu menyembunyikan rasa malunya. Padahal, dia tadi hanya berusaha mengembalikan suasana kelas menjadi tidak kaku, normal dan menyenangkan seperti biasanya.


“Ya, sudah. Hari ini Ibu beri kalian remedial. Ibu kasih kesempatan untuk mengulang lagi mengerjakan soal. Pergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk memperbaiki nilai. Kalian belajar dari kesalahan, berusahalah dengan maksimal untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.”


"Bu, nggak bisa ditunda minggu depan remedialnya? Saya belum siap-siap." tanya Gilang panik.


"Siap-siap, mau ke mana? Kamu mau mudik? Gilang, kamu belajar itu bukan hanya ketika akan menghadapi ulangan saja. Setiap hari pun harus belajar, agar kamu selalu ingat ilmu yang disampaikan guru," ujar Bu Lita menasihati Gilang panjang lebar, membuat cowok bertampang kocak itu diam seribu bahasa.


Namun, namanya juga Gilang, tak lama kemudian, dia kembali bersuara. “Man, gue belum belajar, nih. Alamat nilai gue makin parah.” Gilang mendesah pasrah saat Bu Lita mulai membagikan lembar soal dan lembar jawaban.

__ADS_1


“Ya, udah, hitung kancing aja, kalau susah.”


“Ah, elo, Man, bukannya ngasih pencerahan malah bikin otak gue makin buram.”


“Kalau mau punya wajah glowing, pakai krim pencerah.”


Gilang menoyor Iman sembari mengerucutkan bibirnya, membuat tawa Iman semakin meledak.


“Udah, kerjakan aja, nggak usah monyong begitu. Itu mulut udah kayak bemper depan bajaj aja.” Iman semakin gencar meledek Gilang yang tengah mengacak-agak rambutnya frustrasi sembari memandangi lembar soal. “Jangan dipandangi terus, kayak lagi lihatin foto Naya aja. Buruan isi lembar jawabannya, nanti gue nyontek.”


“Diam elo, Man! Bikin kepala gue makin pusing sepuluh keliling lapangan Gasibu aja.”


Iman geleng-geleng kepala melihat tampang Gilang yang semakin kusut, melebihi kertas buram yang dipakai untuk menghitung lalu diremas-remas. Setelah Bu Lita membagikan lembar soal dan jawaban kepada semua murid, mereka mulai khusyuk mengerjakan soal. Setelah sepuluh menit berlalu, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar. Bu Lita beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju pintu kelas dan membukanya. Di ambang pintu, tampak Pak Baratha bersama seorang murid perempuan berdiri di sampingnya.


“Man, calon mertua elo, tuh. Bawa cewek cantik. Kira-kira, itu cewek siapa, ya? Dia saudaranya Cinta, gitu?” ujar Gilang setengah berbisik sambil menyikut lengan Iman.


Iman berhenti mengerjakan soal, kemudian melirik ke arah pintu kelas. “Saudara seiman dan setanah air.”


“Maksud gue, kalau itu saudaranya Cinta, itu cewek nggak ada mirip-miripnya sama pacar elo itu.”


“Elo, nyerocos aja. Gue jadi lupa lagi, nih, sama rumus soal nomor sepuluh!” protes Iman sembari garuk-garuk kepala, kemudian kembali Iman melirik ke ambang pintu kelas, memperhatikan wajah murid baru itu. "Lebih cantik cewek gue, lah dan Cinta itu berjilbab. Itu yang jadi nilai plusnya.” Iman kembali berkutat dengan lembar soalnya, memandang ke arah langit-langit kelas, seperti sedang berpikir keras.


“Memang elo tahu cara mengerjakannya?” tanya Gilang sambil melirik lembar jawaban Iman. Pertanyaan Gilang dijawab dengan gelengan kepala sambil nyengir. “Heu, Ibro. Sama aja bohong. Elo sok-sokan cari rumusnya, lembar jawaban elo sama bersihnya kayak punya gue. Masih kosong melompong,” gerutu Gilang gemas.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Bu Lita persis seperti suara operator call center.


“Bu Lita, ini saya titip murid baru di kelas ini.”


“Baik, Pak.”


Bu Lita mengangguk, kemudian Pak Baratha kembali ke ruangannya. Sepeninggal Pak Baratha, Bu Lita mempersilahkan murid baru itu untuk masuk dan memperkenalkan diri. Perhatian para murid kini bukan fokus ke lembar soal, melainkan pada sosok cantik yang sedang berdiri di depan kelas. Bahkan, beberapa murid cowok ada yang terlihat mulai curi-curi pandang dan tebar pesona. Hanya Iman dan Gilang saja yang bersikap biasa saja.


“Salam kenal, teman-teman, perkenalkan saya Chilla Adera. Saya pindahan dari Jakarta. Teman-teman bisa ajukan pertanyaan kalau ingin lebih tahu tentang saya," ucap Chilla sembari tersenyum ramah. Merasa diberi kesempatan, beberapa murid cowok kelas XI yang terpesona dengan kecantikan Chilla, mulai bertanya dengan antusias.


“Chilla, rumahnya di mana?”


“Nomor hp nya berapa?”


“Kalau nomor sepatu?”


“Hobi Chilla apa? Siapa tahu kita samaan.”


“Cita-citanya apa? Kalau sama, itu tandanya kita jodoh.”


Begitulah kira-kira pertanyaan beberapa murid cowok kelas XI yang sedang berusaha mencari perhatian dari murid baru itu.


“Sudah! Stop! Kalian ini, nggak bisa lihat yang bening sedikit, langsung ambyar!” Bu Lita memelotot ke arah para murid cowok yang berisik itu. “Fokus kembali sama soal-soal kalian! Kenalannya nanti lanjutkan di jam istirahat!” teriak Bu Lita membuat murid-murid cowok yang menggoda Chilla tadi, seketika bungkam dan kembali terpaku pada lembar soal remedial di tangan mereka. “Chilla, kamu duduk sebelah sana ya, sebangku sama Siti.” Bu Lita menunjuk ke deretan bangku kedua dari belakang.


“Baik, Bu. Terima kasih.” Chilla berjalan anggun menuju bangku yang ditunjukkan Bu Lita barusan, diiringi tatapan mata beberapa murid cowok yang terpesona dengan kecantikan murid pindahan dari kota metropolitan itu.


“Waktu kalian mengerjakan soal, tinggal 15 menit lagi.” Ucapan Bu Lita, mengingatkan tentang sisa waktu, bagaikan petir menyambar di siang bolong bagi para murid yang masih berkutat dengan soal-soal, dan menjadi tamparan keras bagi cowok-cowok yang tadi asyik memperhatikan Chilla agar segera tersadar dan menyelesaikan soal remedial yang sedang dihadapi. Mereka terlihat panik dan kelimpungan.


***

__ADS_1


Bola basket yang sedang dimainkan Ikhsan bersama teman-teman ekskul basket, menggelinding ke luar lapangan dan berhenti tepat di bawah kaki Chilla. Murid baru itu menghentikan langkahnya yang hendak menuju kantin. Iman yang sedang berjalan berdua dengan Gilang, langsung sigap membantu.


“Eh, biar gue aja yang ambil.” Iman memungut bola basket itu dan melemparkannya kepada sang kakak. Setelah menangkap bola itu, Ikhsan mengopernya pada Bagas.


“Gas, lanjutkan dulu mainnya!” Ikhsan berjalan ke pinggir lapangan dan menghampiri Iman. “Man, jangan ke kantin dulu, ada yang mau gue omongin.”


“Ya, udah deh, gue duluan ke kantin, ya, Man. Udah ditungguin Naya.”


Iman mengangguk, lantas berjalan menepi bersama Ikhsan. Dua kakak beradik itu berdiri di ambang pintu kelas XI dan terlihat serius mengobrol, hingga tak menyadari, sepasang mata indah Chilla tengah memperhatikan mereka sedari tadi sambil senyum-senyum sendiri. Setelah Ikhsan berjalan ke tengah lapangan dan kembali bermain basket, Chilla menghampiri Iman yang masih berdiri di depan pintu kelas.


“Kamu, Iman, ya?” tanya Chilla setelah berada di hadapan Iman, membuat Iman mengurungkan niatnya yang hendak menuju ke kelas Cinta.


Iman melebarkan pandangan. Bahagia rasanya ada seorang cewek cantik, murid baru pula, mengenal si buruk rupa dari gua Jepang bernama Iman.


“Wow, keran! Elo tahu nama gue? Padahal tadi di kelas, kita belum sempat kenalan.”


“Santuy aja, kali. Orang di baju elo ada namanya.”


“Oh, hehehe.” Iman garuk-garuk kepala dan merasa malu. Kirain, setelah pacaran sama anak kepsek, nama dia bakal setenar Kak Ikhsan.


“Man, gue boleh ngobrol-ngobrol sebentar, nggak, soal ....”


“Soal apa? Soal remedial tadi. Hadeuh, jangan tanya ke gue deh. Dari 20 soal, gua cuma bisa jawab 10.”


“Hahaha, gue, ‘kan nggak ikut remedial. Suruh siapa elo nggak belajar?”


Parah nih, cewek. Berani-beraninya ngetawain plus sok tahu juga bilang gue nggak belajar.


Chilla tampak celingukan ke kanan dan kiri kelas, persis seperti kucing yang takut ketahuan mencuri ikan asin.


“Heh, malah celingukan! Gue masih di depan elo, belum kabur,” canda Iman yang ditanggapi dengan tawa membahana dari murid baru itu. “Buruan, mau ngomong soal apa? Perut gue lapar, nih.”


“Iya, iya, sabar.” Chilla sekali lagi celingukan, lalu tersipu saat memandang wajah Iman. “Kita ngobrolnya di dalam, yuk. Biar fokus.”


Iman mengangguk, lantas mengekori Chilla masuk ke dalam kelas. Tak berapa lama, mereka sudah terlibat obrolan.


“Kak Iman, ini Cinta ba ....” Cinta tak melanjutkan kalimatnya. Cewek cantik itu menghentikan langkah kakinya. Dia memandang tajam ke arah Iman yang sedang asyik mengobrol dengan seorang cewek cantik yang belum pernah Cinta lihat di sekolah, malahan Iman duduk bersebelahan dengan cewek itu. Sesekali, terdengar tawa mereka membahana di ruang kelas XI, seolah dunia hanya milik mereka berdua.


“Pantesan, ditungguin di kelas, nggak nongol-nongol! Tahunya lagi anteng mojok sama cewek baru, huh!”


Cinta semakin sebal melihat tingkah pacarnya yang mengobrol semakin akrab dengan cewek itu. Netranya mulai berkaca-kaca. Cinta tak sanggup lagi memandang ke arah sang pacar yang saking asyiknya mengobrol, sampai-sampai tak menyadari kehadiran Cinta di ambang pintu kelas XI. Cinta membalikkan badan, memunggungi kelas XI, dan menyeka bulir bening yang mulai berjatuhan di pipinya.


‘Nih, buat Kak Gilang aja!” Cinta menyerahkan kotak bekal berisi nasi goreng pada Gilang yang kebetulan baru datang dari kantin. Tadinya kotak bekal itu akan Cinta berikan untuk Iman. Cinta lantas berlari meninggalkan kelas XI, sambil berusaha menahan isak tangisnya.


Gilang memandangi punggung Cinta dan kotak bekal di tangannya dengan pandangan heran dan bingung. Sebelum dia mengungkapkan tanya, Cinta keburu menghilang dari pandangan. Saat Gilang masuk ke kelasnya, dia menyaksikan Iman sedang duduk mengobrol berdua dengan Chilla, pertanyaan Gilang terjawab sudah.


“Euh, Iman, cari perkara aja. Katanya Cinta punya nilai plus, tapi murid baru diembat juga. Dasar, playboy cap sate kelinci. Semoga saja Allah segera membukakan hidayah buat dia,” ujar Gilang berbicara pada dirinya sendiri.


Cowok berambut dibelah tengah itu geleng-geleng kepala menyaksikan Iman yang terlihat semakin seru mengobrol dengan Chilla. Dia memutuskan keluar dari kelas, mencari Naya dan Cinta di kelas X. Setibanya di sana, Gilang melihat Naya sedang berusaha meredakan tangis Cinta.


“Cinta, ini kotak bekalnya gue balikkin. Gue tahu ini buat Iman, makanya gue nggak mau makan hak dia, takut sakit perut.” Gilang cengengesan melihat Naya memelotot ke arahnya. Lalu, cowok berwajah kocak itu memandang Cinta dengan tatapan iba. “Udah, Cinta, jangan nangis. Gue yakin, ini salah paham. Iman sayang banget sama elo. Dia nggak mungkin berpaling.”


“Iya, Cinta, aku juga yakin, Kak Iman nggak seperti yang kamu duga,” timpal Naya sembari mengelus-elus lembut punggung sahabatnya.

__ADS_1


“Kak Iman tega, Cinta udah bela-belain bangun jam tiga subuh. Habis tahajjud, langsung bikin nasgor kesukaannya. Tapi, dia malah ngedeketin cewek lain!”


Gilang dan Naya saling pandang. Memang susah menasihati orang yang hatinya sedang diliputi amarah. Saat ini, Cinta sedang terbakar cemburu, hingga tak bisa menyikapi ini dengan kepala dingin. Segala yang berhubungan dengan Iman, tentunya membuat emosi Cinta semakin memuncak dan memercikkan api kebencian. Kalau saja Iman sekarang ada di depan Cinta, mungkin cewek itu akan melempar wajah pacarnya itu pakai sepatu.


__ADS_2