Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
Our Promise


__ADS_3

Semua yang bernafas perlu menemukan cahayanya


Semua yang bernafas perlu temukan arti hidup dan lengkapi jiwanya


Akhirnya ku tlah temukan kamu


Semestaku tercinta


Dan aku takkan pergi dan melepasmu


Dengan sadarku ku masih mau tuk menuju tujuku


Dan ku berjanji tuk selalu ada sampai waktunya


Karena semestaku ada pada kamu


Tatapanmu bagai bintang


Tak berkilau dan cemerlang


Senyumanmu bagai bulan


Menemani sang malam hingga siang ku datang


Semesta akan slalu ku jaga


Semesta abadi selamanya


(Semesta by Iqbaal Ramadhan)


Hari Minggu pagi yang cerah, Iman sudah berdandan rapi dan juga wangi. Dia mematut wajahnya di depan cermin sambil senyum-senyum sendiri. Iman merasa puas dengan dandanannya kali ini. Namun, saat pandangannya mengarah ke pipi sebelah kiri di dekat hidungnya, seketika saja senyuman Iman memudar.


“Ini jerawat nggak sopan banget! Nggak bilang-bilang dulu mau nangkring di wajah gue!” gerutu Iman sembari mencoba memencet jerawat berukuran kecil itu. “Mana masih belum matang lagi jerawatnya.”


“Man, mau ke mana pagi-pagi begini udah rapi?” tanya Bunda heran sambil mengamati Iman.


“Astagfirullah, Bunda.” Iman terlonjak kaget, karena tak menyadari kedatangan Bu Lastri ke dalam kamarnya. “Bund, Iman minta izin bertemu dengan Cinta.”


“Kamu mau pacaran?” tanya Bunda dengan nada menyelidik sembari menyipitkan matanya.


“Bund, Iman mengawali hubungan pacaran ini dengan baik-baik. Untuk mengakhirinya pun, harus secara baik-baik. Iman ingin menjelaskan pada Cinta, Bund, supaya dia nggak terluka.”


Bu Lastri menatap iba putra bungsunya, kemudian mengelus-elus lembut punggung Iman. “Maafkan, Bunda, Man. Bunda mengerti apa yang kamu dan Cinta rasakan saat ini, karena Bunda juga dulu pernah muda.”


“Wah, ada Bunda Citra Lestari, nin, lagi konser,” canda Iman sambil tertawa mendengar Bunda menyanyikan kata “Pernah Muda,” menirukan salah satu lagu dari Bunga Citra Lestari.


“Hahaha, bisa aja, kamu, Man. Sebelum Bunda ikut kajian, Bunda masih belum terlalu paham tentang Islam. Tapi, setelah Bunda ikut kajian dan mengenang lagi nasihat-nasihat almarhum ayahmu, hati Bunda jadi terbuka. Salah satunya yang paling menarik untuk Bunda, tentang etika bergaul. Dan, Bunda jadi teringat kamu sama Cinta. Maafkan, Bunda, tidak tahu dari awal, hingga sempat mengizinkan kalian pacaran.” Bunda menghentikan sejenak bicaranya, untuk mengambil napas. Bunda mulai menyeka bulir yang mulai menggenang di pelupuk matanya. “Maafkan Bunda, Man. Percayalah, Bunda lakukan ini, bukannya Bunda benci pada Cinta atau pun Pak Baratha, tapi semata-mata karena Bunda sangat sayang sama kamu dan juga Cinta. Bunda sudah menganggap Cinta itu calon menantu Bunda yang tertunda, lho. Kenapa tertunda? Sebab, menunggu kamu jadi orang dulu, mapan dulu, baru kamu mikirin berumah tangga. Masa, anak orang mau kamu kasih whiskas? Memangnya kucing?”


“Hahaha, Bunda, ada-ada aja.” Iman geleng-geleng kepala mendengar kalimat terakhir yang Bunda ucapkan. “Bund, Iman minta tolong, boleh?”


“Minta tolong apa? Paling kamu mau minta uang, iya, ‘kan? Minta tolong kamu ke Bunda nggak akan jauh-jauh, deh, dari masalah uang saku.” Bu Lastri mengernyitkan dahi.


“Bukan, Bund, anu. Tolong ulangi perkataan Bunda yang panjang kali lebar tadi.”


“Lho, ngapain? Memangnya kamu dari tadi nggak menyimak? Percuma, Bunda menyampaikan sampai mulut ini berbusa.”


“Iman denger, kok, Bund. Hanya, belum sempat Iman rekam. Hati Cinta pasti berbunga-bunga, kalau Iman memperdengarkan rekaman suara Bunda. Apalagi pas bagian calon menantu yang tertunda, kayak judul sinteron, Bund.”


“Hush, kamu ini, Man. Nyuruh nggak kira-kira. Tadi aja napas Bunda udah terengah-engah, ini sampai harus mengulangi lagi “


Iman garuk-garuk kepala sambil cengengesan. “Maaf, Bund. Bercanda.”


“Bunda yakin, kamu bisa menyampaikannya dengan baik. Cinta pasti mengerti. Toh, kalian hanya berpisah sementara, dan suatu saat nanti dipertemukan kembali di dalam sebuah ikatan yang suci dan halal.” Bu Lastri mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan dari dalam dompet, lalu memberikannya pada Iman.

__ADS_1


“Apa ini, Bund?”


“Itu Bunda kasih bekal. Buatlah pertemuan kamu hari ini, menjadi sesuatu yang paling berkesan dan dikenang indah oleh kalian berdua, terutama Cinta.”


“Siap, laksanakan.” Iman berpose seperti sedang menghormat bendera. “Terima kasih, Bunda.”


Bunda mengangguk lalu ke luar dari kamar Iman menuju ke halaman rumah, hendak menyiram koleksi bunga-bunga dan tanaman hias miliknya.


Iman mengenakan jaket kulit hitam kesayangannya, lalu menyambar kunci motor dari atas meja belajarnya. Tak lupa juga, dia memasukkan kado untuk Cinta ke dalam ransel besarnya. Kemudian Iman ke luar dari kamar dan pamit pada sang Bunda. Setelah mengeluarkan motornya dari garasi, Iman meluncur menyusuri jalanan komplek, menuju ke rumah Cinta.


***


Pukul sembilan tepat, Iman tiba di rumah Cinta. Dia menunggu Cinta ke luar dari rumahnya di depan pintu gerbang. Setelah menunggu selama lima menit, barulah cewek yang Iman tunggu ke luar dari rumahnya. Tas selempang berukuran agak besar sudah melingkar di bahu kanannya. Iman menebak, pasti ada sesuatu yang sudah Cinta siapkan untuknya di dalam tas itu.


“Kak Iman, bawa apa buat Cinta? Ranselnya gede banget.”


Iman sejenak terpana dengan dandanan natural Cinta. Warna gamis dan hijab yang Cinta kenakan, menambah cantik dan bercahaya paras wajahnya.


“Kak, ditanya kok, bengong?”


“Eh, apa Cinta?” Iman tersentak dari lamunannya, terkesima dengan magnet pesona yang dipancarkan Cinta.


“Itu, ranselnya gede banget. Apa isinya?”


“Ada, deh. Kita kemping yuk,” canda Iman.


“Eh.” Cinta merasa terkejut dengan ajakan Iman.


“Bercanda, kok. Are you ready? Yuk jalan.” Iman memberikan helmnya pada Cinta, kemudian memindahkan posisi ranselnya yang semula di punggung, menjadi di depan. Setelah Cinta naik ke atas motor dan sudah duduk dengan nyaman di atas jok, Iman melajukan motornya. Tak berapa lama, mereka sudah berbaur dengan pengendara lainnya, menyusuri jalanan kota Bandung yang mulai padat.


“Cinta, Pak Baratha ke mana?” tanya Iman setengah berteriak.


“Papa lagi jogging ke Tegalega.”


“Oh, pantesan Pak Baratha itu sehat, ya? Rajin olahraga ternyata.”


Iman tak langsung menjawab, sebab dia pun bingung menentukan tempat yang enak dan nyaman untuk dipakai mengobrol, sambil makan juga tentunya. Iman baru ingat, karena buru-buru ingin segera bertemu, dia sampai lupa sarapan. Benak Iman masih terus berputar memikirkan tempat yang pas. Namun, dia tak juga menemukan jawabannya.


“Cinta, kamu punya tempat favorit nggak? Tempat yang enak buat ngobrol, plus makan juga. Selain Gramedia tentunya.” Akhirnya Iman memutuskan untuk bertanya langsung pada Cinta.


“Hmmm, apa ya? Kita ke Kampung Korea aja, yuk, Kak?”


“Siap Tuan Putri.”


Iman melajukan motornya ke daerah Batununggal. Pintu masuk yang dapat diakses pengunjung ke Kampung Korea itu ada dua. Pintu pertama adalah melalui gerbang Taman Kiara Artha di Jalan Kiaracondong. Pintu kedua yaitu melalui Jalan Banteng dari arah Jalan Jakarta. Iman memilih masuk melalui pintu pertama.


Tiba di sana, Iman memarkir motornya di area parkir yang cukup luas. Iman dan Cinta berjalan berdampingan menuju ke petugas tiket masuk. Di sana, keduanya disuguhkan pemandangan gerbang dengan ornamen khas Korea yang mencolok. Gerbang masuk kawasan wisata ini dibuat menyerupai bangunan tradisional di Korea Selatan.


Iman mengajak Cinta berfoto di pintu masuk yang berbentuk atap melengkung serta gerbang kayu besar. Setelah itu Iman dan Cinta masuk dan melewati gerbang utama.


“Kak Iman, sakura tiruannya benar-benar keren ya, persis seperti taman tradisional di Korea Selatan. Jembatan kayu dan tanah bebatuannya pun, membuat Cinta berasa menginjakkan kaki di halaman istana.” Cinta begitu takjub dengan pemandangan yang terhampar di hadapannya. Iman tersenyum menyaksikan Cinta yang terlihat sangat bahagia. Iman diam-diam mengabadikan senyum dan binar bahagia Cinta melalui kamera ponselnya.


“Buat kenang-kenangan,” gumamnya sembari mengelus foto-foto yang menampilkan wajah berseri Cinta. Kini, foto-foto itu menghiasi galeri ponselnya. Iman menghampiri Cinta dan menggenggam jemarinya. “Yuk, jalan ke sebelah sana.”


Iman dan Cinta melanjutkan perjalanannya di tempat wisata ini. Lagi-lagi Cinta dibuat terpesona dengan pemandangan di sudut lain kampung Korea ini. Di dalam tempat wisata ini, dibagi menjadi dua kawasan. Ada area tradisional dan area modern. Taman yang dihiasi bunga sakura termasuk dalam kawasan tradisional. Area ini ditandai dengan jajaran bangunan dengan fasad khas Korea. Eksteriornya didominasi oleh kayu, mulai dari pintu, jendela, hingga ornamen. Sementara area modern dibuat sebagai replika suasana Kota Seoul. Fasad bangunan dihiasi jendela kaca yang lebar dan berwarna-warni. Jalanan dihiasi lampu-lampu berbentuk unik dan cantik. Bangku-bangku taman yang juga berfungsi sebagai tempat makan berjajar rapi di tengah area.


Ternyata, fasilitas yang terdapat di Kampung Korea lumayan banyak, antara lain area parkir yang luas, toilet, mushola, dan barisan gerai makanan di food court. Tempat ini juga menyediakan jasa sewa dan foto kostum tradisional Korea, hanbok.


“Cinta, kamu suka kopi? Kita nongkrong di sana aja, yuk.” Iman menunjuk ke sebuah gerai kopi yang ada di sana. Nama gerainya Joheun Keopi.


“Boleh, Kak. Yuk.”


Setelah duduk di gerai itu, Iman dan Cinta memesan nasi campur Korea atau Bibimbap dan Naeng, yaitu racikan kopi dan madu yang disajikan dingin.

__ADS_1


“Kak, ayo tukeran kado.” Cinta mengeluarkan kotak Tupperware dan sebuah dus berukuran sedang yang dibungkus kertas kado bergambar Doraemon, lantas memberikannya pada Iman.


Iman pun melakukan hal yang sama. Dia mengeluarkan sebuah dus berukuran agak besar dan juga dibungkus kertas kado bergambar Minion, lalu menyerahkannya pada Cinta. “Kita buka bareng-bareng, ya. Satu, dua, tiga.”


Pada hitungan ketiga, Iman dan Cinta membuka kado fifth anniversary mereka. Melihat isinya, Iman dan Cinta tampak terkejut. Malahan, Cinta sampai histeris.


“Whoaa! Ini, ‘kan boneka Minion new arrival yang Cinta mau waktu itu. Terima kasih, Kak.” Cinta memeluk boneka itu lalu menciuminya. Kedua netranya berbinar bahagia.


“Maaf, Kakak hanya bisa memberi itu. Suka?”


“Suka banget, Kak.”


Iman tersenyum senang melihat Cinta sangat bahagia menerima kado darinya. “Cinta, ini .... Ini bantal Doraemon. Dari mana kamu tahu kalau Kakak suka Doraemon?” Iman senang sekaligus heran, karena dia belum pernah sekali pun cerita kalau dia sangat suka dengan karakter kartun kucing ajaib sahabat Nobita itu.


“Ada, deh.” Netra Cinta mengerling manja, membuat Iman tak kuasa untuk menjawil pipi Cinta. “Eh, ini ada satu lagi buat Kakak.” Cinta menyodorkan Tupperware yang ia taruh di atas meja pada Iman.


“Apa ini?” Iman membuka tutupnya, lalu dibuat takjub dengan isinya. “Doraemon? Again?” Iman tertawa dan geleng-geleng kepala melihat beberapa buah cupcake berbentuk kepala Doraemon yang dihiasi fondant atau plastic icing di atasnya, sehingga menyerupai wajah Doraemon. “Ini kamu yang buat? Ini, sih, terlalu indah untuk dimakan. Bagusnya, sih buat pajangan.”


“Iya, ini Cinta yang buat. Anggap aja namanya fortune cupcakes, semacam ala-ala fortune cookies gitu, Kak. Jadi, di salah satu kuenya Cinta selipkan kertas berisi harapan untuk hubungan kita. Coba Kakak pilih.”


Iman mengelus-elus lembut kepala Cinta yang tertutup hijab instan. Dia lalu memilih salah satu cupcake, lalu mulai menggigitnya. “Maaf ya, Doraemon, aku makan satu. Masih banyak, kok duplikat kamu di Tupperware.” Iman mulai mengunyahnya, lalu menyuapkan kue itu ke mulut Cinta. “Terima kasih Cinta, ini enak banget.”


Pada suapan berikutnya, mulut Iman merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Jari Iman menariknya. Ternyata itu secarik kertas. “Ini kertas yang Cinta maksud?”


“Iya, Kak. Coba baca.”


Iman berdehem sebentar, lalu membaca tulisan Cinta yang tertera di kertas itu. “Jadikan aku sebagai pelabuhan terakhirmu, bukan hanya sekedar persinggahan sementara.” Iman menelan saliva, lalu memandang lekat wajah Cinta. Gue harus mulai dari mana untuk berkata jujur? Kok, jadi nggak tega, ya? gumam Iman lirih.


Iman mengeluarkan sebuah kotak kecil berbentuk hati dari dalam ranselnya. Dengan hati berdebar, Iman menggenggam jemari Cinta. Manik mata keduanya beradu di antara jemari yang saling menggenggam erat.


“Cinta, Kakak juga akan menjadikanmu pelabuhan terakhir. Tapi, tidak dengan menempuh jalan pacaran.”


“Maksud Kakak? Kita putus?” Cinta melepaskan genggaman tangan Iman.


Iman berusaha terlihat tenang, walau sesungguhnya di dalam hati, dia panik. Khawatir Cinta tak terima, sakit hati, dan marah padanya. Perlahan dia membuka kotak kecil itu dan mengeluarkan isinya, yaitu sepasang cincin berhiaskan bulan sabit dan bintang, juga sepasang kalung pendant, yang satu berwarna perak dan satunya lagi berwarna emas. Iman kembali meraih jemari Cinta.


“Cinta, sayang, dengar.” Tangan Iman memegang dagu Cinta seraya menegakkan wajah Cinta yang tertunduk. Telunjuk Iman mengusap bulir bening yang siap terjun ke pipi putih mulus Cinta. “Hey, jangan nangis. Kita hanya berpisah sementara untuk kelak bersatu dalam ikatan halal. Bunda juga sudah mengklaim Cinta sebagai calon menantunya.”


“Bunda bilang begitu?”


“Iya, Cinta. Asalkan, kamu bersedia setia menanti Kakak, hingga kelak Kakak siap memintamu pada Pak Baratha untuk menjadi istri Kakak.” Iman menyodorkan kotak perhiasan itu pada Cinta. “Kalau Cinta bersedia, Cinta ambil satu cincin ini, dan kalung pendant emas ini, lalu pakai.”


Cinta diam, sementara Iman harap-harap cemas menanti jawaban dari cewek yang duduk di hadapannya. Perlahan, jemari lentik Cinta turun ke atas kotak itu. Rasa bahagia membuncah di hati Iman, kala melihat Cinta mengambil kalung dan cincin, lantas memakainya. Iman menyaksikan Cinta mengelus cincin yang melingkar di jari manisnya.


“Kakak juga pakai cincin dan kalung yang sama dengan yang Cinta pakai. Artinya, kita memang couple, walau tak pacaran. Kita hanya perlu bersabar, menunggu saatnya tiba, bersatu dalam ikatan suci. Cinta paham, ‘kan?”


“Iya, Kak. Cinta mengerti. Cinta janji, tak akan menerima lamaran lelaki mana pun, sebelum Kakak datang melamar.”


“Melamar apa? Melamar kerja?”


“Ih, Kakak, serius!” Cinta melebarkan matanya lantas mendaratkan cubitan di lengan Iman.


“Ampun, Cinta. Bercanda.” Iman meringis kesakitan lalu mengelus-elus lengannya bekas cubitan Cinta. “Calon istri Kakak galak amat, hehehe.” Iman mengelus lembut cincin yang melingkar di jari manisnya. “Cinta, tahu, nggak, kenapa Kakak memilih cincin yang berhiaskan bulan dan bintang?”


“Nggak tahu, kenapa memangnya?” Cinta balik bertanya sembari kembali mengelus lembut cincin yang menghiasi jari manisnya.


“Karena semestaku ada pada kamu." Iman menjawab dengan menyanyikan kalimat yang diucapkannya.


“Kok, Kakak tahu lagu itu?”


“Tahu, dong, dari ringtone hape kamu.” Iman menjentik hidung mancung Cinta. “Pulang, yuk. Kakak mau mampir ke rumah Cinta.”


“Mau ngapain?”

__ADS_1


“Ngobrol soal ini ke Pak Baratha. Yuk.”


Iman dan Cinta beranjak dari tempat duduk lantas meninggalkan Kampung Korea yang menjadi saksi bisu terucapnya janji di antara dua insan yang saling menyayangi.


__ADS_2