
Gilang merasa heran dengan perubahan sikap Iman. Sejak ikut kegiatan Kemah Bersama Pramuka, beberapa hari yang lalu, sahabatnya itu menjadi lebih pendiam. Iman yang biasanya pecicilan, kocak, sering melemparkan candaan di kelas, kini lebih kalem. Bukan hanya Gilang, teman-teman sekelas, bahkan guru-guru juga heran dan penasaran dengan Iman. Selain lebih pendiam dan kalem, cowok bertampang boyband Korea itu juga sering terlihat melamun dan tak fokus menyimak pelajaran.
“Iman, jawab!” Suara Bu Lita membuyarkan lamunan Iman dan refleks cowok itu mengalihkan pandangannya ke depan kelas.
“Jawabannya C, Bu,” jawab Iman sekenanya. Entah mengapa dia ingin menjawab itu. Kalau boleh menawar sama yang bikin soal, Iman ingin semua jawaban pilihan ganda itu C, yang membuatnya teringat pada huruf awal nama depan cewek gebetan.
Gilang yang duduk di sampingnya berkali-kali menyikut tangan Iman. “Man, bukan itu pertanyaannya.” Sobat kentalnya itu berbisik sembari memperingatkan Iman. Namun tak digubris, Iman tetap saja cuek.
“Memangnya Ibu ngasih kamu soal pilihan ganda, Man?” timpal Bu Lita kesal.
Iman menggaruk kepalanya bingung. “Ya, pokoknya C, Bu jawabannya, sesuai kata hati.” ujar Iman santai, masih dengan gaya cueknya.
Gilang membelalakkan mata dan menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan tingkah sobatnya itu. Dia bingung harus memberi tahu Iman dengan cara bagaimana, sebab sahabatnya itu tampak seperti orang ling-lung. Badannya di kelas ini, tapi pikirannya mengembara entah ke mana.
“Astagfirullah, Iman, kamu belum sarapan ya sampai nggak konsentrasi begitu? Ibu, ‘kan cuma nanya kamu udah kebagian lembar soal belum? Malah jawab C! Jangan-jangan kamu juga amnesia lagi kalau hari ini ulangan.” Ucapan Bu Lita membuat pipi Iman merah padam, malu.
“Eh .... Udah Bu.” Iman cengengesan.
“Dari tadi Ibu perhatikan kamu kok diem terus, Man? Nggak kayak biasanya. Kamu lagi sariawan?” tanya Bu Lita yang disambut gelak tawa dari semua murid di kelas XI.
“Alhamdulillah, saya nggak kekurangan vitamin C Bu, jadi bebas dari sariawan.” Duh, lagi-lagi nama vitamin yang disebutkan Iman mengingatkannya pada sosok cantik pujaan hati.
“Terus kenapa kamu jadi pretty boy kayak begini? Duduk manis, nggak pecicilan seperti biasanya. Kan Ibu jadi kepo sekaligus deg-degan.”
“Enggak apa-apa, kok, Bu. Hanya lagi banyak pikiran saja. Pusing mikirin harga kuota yang terus merangkak naik, sementara uang saku nggak ikut naik. Sama mikirin jam tayang Kamen Rider yang dipindah jadi malam banget, Bu.” Jawaban Iman kembali mengundang gelak tawa dari semua murid di dalam kelas.
“Ya, ampun, kamu ini, tetap asal kalau menjawab. Ya sudah, biar nggak pusing, kamu kerjakan soal-soal ulangan. Tapi, jangan asal kayak celetukan kamu itu.”
Iman membolak-balik lembar soal ulangan harian di tangannya. “Bu, kok soalnya essai semua? Nggak ada pilihan gandanya.”
“Pakai nawar lagi, terserah Ibu dong. Memangnya kenapa kalau soalnya pilihan ganda? Ngebet banget kamu,” ucap Bu Lita sambil membetulkan letak kacamatanya.
“Biar bisa menghitung kancing, Bu kalau ketemu soal matematika yang susah.” Kembali suasana kelas itu ramai oleh ledakan tawa para murid yang berada di dalamnya.
“Sudah .... Sudah .... Sudah. Semuanya segera kerjakan soal sebelum waktu istirahat tiba.” Bu Lita berusaha menenangkan suara bising para murid yang seperti dengungan sekumpulan lebah. Brak. Setelah Bu Lita menggebrak meja, barulah suasana kelas kembali sunyi.
***
Pada jam istirahat, Iman mengajak Gilang mampir ke perpustakaan. Hal ini membuat Gilang semakin heran dengan tingkah sahabatnya. Sepanjang sejarah mereka sekolah di sini, baru kali ini dua sahabat sejati kocak itu menginjakkan kaki ke perpustakaan.
“Man, gue lapar nih. Kok malah ngajak ke sini? Memangnya kantin lagi direnovasi ya, terus pindah ke perpus?”
“Bukan, Lang. Menurut informasi yang gue dapat dari Marina, Cinta sama Naya yang memang hobinya membaca itu, lebih sering menghabiskan waktu di perpus ketimbang di kantin.”
“Oh, begitu. Sekarang gue paham. Elo ngajak gue ke sini, sebab pasti saat ini mereka lagi di dalam.”
“Sip, cakep.” Iman mengacungkan jempol tangannya sembari terus melangkah ke dalam perpustakaan yang letaknya tak jauh dari kantin sekolah.
“Sembarangan elo, bayar royalti ke gue, barusan elo udah plagiat kata-kata andalan gue.” Gilang menengadahkan tangan pada sang sobat, persis seperti anak kecil yang minta jajan pada ibunya.
“Halah, baru pinjam cuma sekali aja udah dihitung.” Iman menoyor kepala sahabatnya yang langsung dibalas oleh Gilang. Jadilah suara dua sahabat karib itu gaduh.
“Sstt, berisik, ini di perpustakaan. Kalau mau ramai, pergi sana ke pasar!” hardik Bu Azkia sang petugas perpustakaan membuat keduanya menangkupkan kedua tangan dan kompak berbisik mengucapkan kata maaf. Kemudian mereka bersiap masuk lebih jauh ke bagian lain perpustakaan. Namun, langkah mereka terhenti oleh hardikan kedua dari Bu Azkia.
“Heh, mau ke mana? Isi dulu daftar hadirnya!” Sekali lagi Bu Azkia menegur keduanya sembari mengangsurkan pulpen dan menunjuk ke buku berukuran besar dan cukup tebal yang disimpan di atas meja. Tak lama berselang, Iman dan Gilang bergantian menulis di buku itu.
Dan di sinilah duo sahabat kental itu sekarang terdampar, celingukan bagai orang yang kesasar. Padahal perut mereka keroncongan, tetapi tetap fokus mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru perpus. Bukan, bukan sedang mencari buku yang akan dibaca, melainkan mencari dua makhluk bening ciptaan Allah yang telah mengalihkan dunia mereka.
“Eh, Man, itu Cinta sama Naya.” Gilang menunjuk ke arah di mana Cinta dan Naya tampak sedang duduk serius membaca buku.
Iman melayangkan pandang ke arah yang ditunjukkan Gilang, lantas keduanya menyeret langkah mereka ke sana. Setelah mendekat, keduanya malah saling sikut.
“Eh, Kak Gilang, duduk sini.” Naya yang lebih dulu menyadari kehadiran duo sahabat kocak itu, menggeser posisi duduknya. Sementara Cinta mendongak dan memandang sekilas ke arah Iman yang sedang memasang senyuman termanisnya, kemudian berkutat lagi dengan buku yang dibacanya.
“Naya, ke kantin yuk temenin gue,” ajak Gilang sambil mengedip-ngedipkan mata kepada lawan bicaranya.
“Kenapa elo kelilipan? Sini gue tiup matanya.” Iman mendekat ke arah Gilang dan memonyongkan bibirnya bersiap untuk membuat tiupan.
“Eh, enggak kok. Yuk, Nay.” Gilang menolak bantuan Iman lantas sekali lagi mengajak cewek gebetannya. Naya yang sudah mulai paham dengan maksud dibalik kode kedipan Gilang tadi, beranjak dari tempat duduknya.
“Nay, kamu mau ke mana?” Cinta menarik lengan sahabatnya berusaha mencegah Naya keluar dari perpus.
“Aku tinggal dulu sebentar ya, lapar nih. Mau nitip nggak? Nanti sekalian aku beliin makanan.”
Cinta menjawab dengan gelengkan lemah, bibir indahnya mengerucut.
“Jangan cemberut, nanti cantiknya hilang. Bentar doang kok, nanti aku balik lagi ke sini.” Naya menjawil dagu Cinta. “Awas, jangan macam-macam sama Cinta ya, nanti dipecat lho sama Pak Kepsek.” Kali ini pandangan Naya berpaling ke arah Iman yang dijawab dengan acungan jempol dari cowok itu.
Cinta memandang dengan tatapan pasrah pada sahabatnya yang melangkah keluar meninggalkan perpus bersama Gilang. Padahal dalam hati, Cinta enggan ditinggalkan berdua dengan Iman. Cewek cantik itu berharap Kak Ikhsan lah yang menemani, bukan adiknya.
Setelah berada di luar perpustakaan, Gilang dan Naya tidak langsung ke kantin. Mereka malah mengintip Iman dan Cinta dari balik pintu.
“Kak Iman itu naksir ya sama Cinta?” tanya Naya setengah berbisik.
“Iya, sejak melihat dia pertama kalinya sewaktu awal masuk sekolah, rasa suka Iman ke Cinta itu tiba-tiba saja muncul dan terus bersemi hingga kini.”
Mereka kembali terdiam, hening. Lantas kembali terpaku pada Iman dan Cinta yang terlihat kaku, saling jaim. Cinta, walau pun ada Iman duduk di sampingnya, malah asyik sendiri dengan buku bacaannya. Sementara Iman tampak salah tingkah, bingung, tak tahu harus berkata dan berbuat apa untuk menarik perhatian gebetannya. Rasa gugup yang menyergap Iman terlihat nyata.
“Pedekate temannya kakak itu payah. Memang baru kali ini ya Kak Iman naksir cewek?” Naya menyayangkan cara Iman pendekatan pada Cinta, sahabatnya.
“Setahu gue sih iya. Eh, kalau Cinta sebenarnya udah punya pacar belum sih? Atau dia lagi suka sama siapa?” tanya Gilang tanpa memalingkan wajah kepada lawan bicaranya. Dia masih terpaku mengamati Iman dan mulai ikut-ikutan greget melihat tingkah sahabatnya yang tak berkutik di depan gebetannya.
“Nggak, tahu, Kak. Dia nggak pernah cerita.“ Sekilas pandangan mereka beradu, membuat keduanya salah tingkah dan refleks saling memalingkan wajah ke arah berlawanan. “Tuh .... Tuh .... Tuh, ‘kan, teman kakak payah, ngebosenin. Cintanya jadi pergi tuh.” Telunjuk Naya yang lentik menuding ke dalam. Tampak Cinta beranjak dari tempat duduknya dan terlihat pamit pada Iman yang disambut cowok itu hanya dengan sebuah anggukan, bukannya mencegah.
Duh, Iman elo kenapa sih? Biasanya juga santuy, gerutu Gilang dalam hati dengan perasaan yang gemas.
Belum sempat Gilang dan Naya beranjak dari tempat pengintaian mereka, keduanya sudah keburu kepergok oleh Cinta dan Iman yang ternyata keluar berbarengan dari perpus.
“Ngapain pada di sini? Katanya lapar mau ke kantin?” tanya Cinta heran melihat Gilang dan Naya tampak kikuk.
“Pada ngintip kita berdua ya? Awas lho, nanti matanya bengkak.” Iman cekikikan sebab ancamannya membuat Gilang dan Naya kompak memegangi kelopak mata mereka.
__ADS_1
Untunglah di belakang pintu perpustakaan ada dua buah sapu, sehingga tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di benak Gilang. Cowok bertampang kocak itu mengambil kedua sapu itu. Yang satu dia pegang, yang satunya dia berikan pada Naya. Keduanya mulai melakukan gerakan menyapu.
“Eh, enggak kok. Kita lagi bersih-bersih di sekitar sini. Disuruh sama Bu Azkia. Iya, ‘kan Bu?” teriak Gilang, membuat netra penjaga perpustakaan itu mendelik kepadanya.
“Elo berdua ngeles aja. Yuk masuk udah bel tuh.” Iman merangkul bahu Gilang. Kedua cowok itu berjalan di belakang Cinta yang juga terlihat menggamit lengan Naya. Di dekat mading sekolah, mereka berpisah. Cinta dan Naya berjalan lurus menuju ke kelas X, sementara Iman dan Gilang berbelok ke sebelah kanan, menuju ke kelas XI.
“Man, elo tuh kenapa sih? Pedekate nya kaku banget? Nggak kayak awal-awal. Elo kelihatan menggebu-gebu! Tadi di perpus elo kelihatan payah! Mana selera humor elo?” cerca Gilang sesampainya mereka di dalam kelas. Situasi kelas masih ramai, sebab guru yang akan memberikan pelajaran selanjutnya belum masuk. Iman garuk-garuk kepala. Dia sendiri tak habis pikir. Setiap berada di dekat Cinta, Iman merasa canggung. Selera humor dia pun, ikut menguap, entah ke mana.
“Nggak tahu, Lang. Gue kok merasa dia suka sama orang lain.”
“Tahu dari mana elo? Belum juga berperang udah langsung menyerah kalah aja.”
“Dari sikap dia ke gue. Cuek, dingin, bahkan kalau gue ajak bicara dia menanggapi dengan acuh tak acuh.”
“Duh, Man, Man. Di mana jurus-jurus pedekate ala-ala elo yang sering diceritakan ke gue? Ngerayu Bu Nadia aja elo bisa, masa ke Cinta nggak.”
“Ini lain situasinya, Lang. Perasaan suka gue sama Cinta berasal dari dalam sini.” Iman menunjuk ke hatinya.
“Ya makanya, kalau memang perasaan elo ke dia benar-benar dari hati, elo kudu berjuang sampai titik darah penghabisan.”
“Ya, lihat nanti deh.”
“Bener kata Naya, elo payah.”
“Cie, yang udah mulai deket,” canda Iman membuat pipi Gilang bersemu merah.
“Ya iya lah, gue gitu lho, gerak cepat. Nggak kayak elo, payah. Pulang sekolah juga gue sama dia janji mau ketemuan.” Gilang tertawa puas melihat Iman cemberut. Ada rasa iri tertangkap oleh Gilang dari raut wajah sahabatnya itu. Bukan Iman namanya kalau tidak bisa menutupi perasaannya dan membalas Gilang.
“Selamat ya, elo dapat gelas cantik. Ambil sana di kantin.” Iman menyalami Gilang sembari menepuk-nepuk punggung sang sobat. Kali ini giliran Iman yang tertawa puas, sebab sudah membuat tampang Gilang kebingungan.
“Maksud elo apaan sih?” tanya Gilang dengan nada kesal sembari mengibaskan tangan Iman yang menyalaminya. Udah mulai korslet nih anak, kumat lagi errornya. Gilang geleng-geleng kepala.
“Nah itu tadi, gue hitung elo tiga kali mengucapkan kata payah, jadi elo dapat gelas gratis, hahaha.”
Tawa Iman yang membahana menyaksikan wajah kocak Gilang tampak kesal, seketika saja terhenti, karena melihat Bu Nadia sudah berdiri di depan kelas, bersiap menyampaikan materi. Semua murid kelas XI duduk rapi di bangku masing-masing dan mulai mengeluarkan buku catatan bahasa Indonesia.
***
Sesuai janji Gilang dan Naya ketika di perpustakaan tadi, sepulang sekolah mereka bertemu di kantin. Keduanya hendak membahas tentang Iman dan Cinta. Gilang dan Naya akan berusaha membantu Iman dan Cinta agar bisa dekat.
“Gimana, Kak?”
“Ya, begitu deh. Iman kayaknya berprasangka kalau Cinta punya gebetan. Yang gue tangkap sih, dia takut perasaannya ditolak sama Cinta.”
“Kasihan juga ya, Kak Iman. Harus memendam perasaan. Padahal segala sesuatu yang ditahan-tahan itu nggak enak lho. Ibarat mules, tapi nggak bisa keluar kentut, perut pasti terasa begah seharian.”
Eh lucu juga nih anak, kocak. Gilang menatap wajah cewek yang duduk di sampingnya sembari tertawa. Dia tak mengira, di balik wajah kalemnya, ternyata Naya orangnya asyik juga.
“Iya, Nay. Apalagi gue sebagai sahabatnya bener-bener merasa iba. Soalnya gara-gara ini nih, Iman jadi banyak berubah, nggak kayak Iman yang dulu, pokoknya mengkhawatirkan deh. Kalau terus-terusan nih, Iman memendam perasaan, gue khawatir, mukanya bakal dipenuhi jerawat.”
“Hahaha. Iya, Kak, aku ngerti.”
“Nah, makanya gue minta bantuan sama elo buat mendekatkan mereka. Siapa tahu bisa jadian.”
“Waalaikum salam, hati-hati. Kalau ada yang ganggu, sebut nama gue tiga kali sambil injak bumi sepuluh kali, dijamin deh ....”
“Dijamin apa, Kak?”
“Dijamin sepatu elo bakal jebol dan cidera telapak kaki, hehehe. Bercanda kok, hati-hati ya.”
“Iya, Kak, makasih. Duluan ya.”
Gilang mengangguk sembari membalas lambaian cewek bertampang Arab gebetannya itu.
Duh ****, kenapa nggak pulang bareng aja ya tadi, kan nanti jadi bisa tahu rumah dia di mana. Baru kepikiran gue. Cowok dengan rambut belah tengah itu berlari menuju gerbang sekolah. Namun, sosok yang dicarinya sudah menghilang dari pandangan.
Keesokan harinya, rencana yang telah disusun Naya di rumah untuk mendekatkan Iman pada Cinta dan semalam sudah diberitahukan kepada Gilang lewat chat whatsapp, ternyata tak berhasil. Cewek bertampang Arab ini sedang melaporkannya pada Gilang di kantin.
“Duh, Kak, kayaknya rencana yang aku buat nggak berhasil deh. Tetap saja Kak Iman sama Cinta begitu, saling jaim. Gagal deh.” Naya tampak putus asa. Rasa lelah tergambar jelas di wajahnya. Berkali-kali cewek berwajah manis ini menyeka peluh di dahinya.
“Sebentar, Nay.” Gilang beranjak dari tempat duduknya diiringi tatapan heran dari Naya. Tak lama berselang, cowok rambut belah tengah itu sudah duduk kembali di hadapan Naya dengan membawa sebotol air mineral. Tangannya mulai membuka penutupnya, kemudian menyodorkan botol itu pada cewek gebetannya.
“Nih, minum dulu.”
“Makasih, Kak.” Naya menerima air mineral pemberian Gilang itu dan mulai meneguknya. Setelah napas Naya mulai teratur, dia kembali mulai bersuara. “Jadi gimana dong, Kak?”
Gilang mengedikkan bahu. Otak dia buntu, tak satu pun ide muncul di pikirannya. Keduanya termenung, tak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba tanpa mereka sadari, Cinta sudah berdiri di depan meja kantin yang bangkunya diduduki Gilang dan Naya.
“Naya, dicari ke perpus ternyata ada di sini. Sekarang udah punya tongkrongan baru?” Cewek cantik itu sekilas melirik ke arah Gilang, kemudian kembali menatap Naya.
Naya yang terkejut dengan kehadiran Cinta, refleks berdiri dari tempat duduknya. “Eh, Cinta, ada apa?”
“Nanti pulang sekolah antar ke Gramedia ya.”
“Tapi, Cinta ....”
“Nggak ada tapi, tapi. Aku mau beli novel terbarunya Shireishou, yang judulnya Obsession. Hari ini doang promonya, besok udah kembali ke harga normal. Temenin ya, please.” Cinta menangkupkan kedua tangannya seraya memohon agar sahabatnya mau mengabulkan permintaannya.
Naya tampak kebingungan ditodong demikian. Namun, demi melihat sahabatnya senang, dia mengangguk pelan.
“Thanks, ya.” Cinta terlihat sangat girang melihat anggukan dari sahabatnya. Dia berlalu cepat dari kantin dengan langkah lebar, kembali menuju tempat favoritnya, perpustakaan.
Naya lantas merengut. Bukannya dia nggak setia kawan, nggak mau bantuin sahabat, tapi kali ini dia lagi PMS, hingga mood dan badannya sedang merasa nggak enakan. Untung cowok yang diajak ngobrol saat ini, orangnya menyenangkan. Jadi, dia merasa sedikit terhibur. Namun, Naya juga tak habis pikir, setiap dia berada di dekat Kak Gilang, dia selalu merasa nyaman. Sejurus kemudian, raut wajah cewek manis ini berubah ceria.
“Lho, tadi cemberut. Sekarang malah senyum-senyum sendiri. Bagi-bagi atuh rasa gembiranya,” ujar Gilang yang heran melihat perubahan mood cewek di sampingnya.
“Aku ada ide, Kak, gimana membuat Kak Iman dan Cinta menjadi akrab.”
“Caranya?”
“Sini aku bisikkin.”
__ADS_1
Gilang tampak tersenyum puas dengan rencana yang diutarakan oleh Naya. Cowok bertampang kocak ini mengakui idenya cewek ini cemerlang. Dia yakin, kali ini usaha dan strategi mereka akan berhasil. Kebersamaan mereka harus berakhir, karena bel tanda istirahat usai tengah berbunyi nyaring. Gilang dan Naya berpamitan, menuju ke kelas masing-masing.
“Cinta, maaf. Kayaknya aku nggak bisa mengantar ke Gramed. Mama minta aku buru-buru pulang, nyuruh ngantar ke pasar, nyari kue buat persiapan arisan.” Naya menangkupkan kedua tangan dengan wajah memelas.
“Ya, gimana dong? Aku sama siapa ke sananya? Papa juga nggak bisa dimintai bantuan, mau ada pertemuan para kepala sekolah.”
“Maaf ya, Cinta.” Sekali lagi Naya menampakkan wajah memelasnya, padahal sesungguhnya dia ingin tertawa melihat Cinta kebingungan. Dia tahu, Cinta nggak bisa pergi ke mana-mana sendiri. Ini dikarenakan sikap overprotective Pak Baratha padanya. Sang Papa tak akan memberi izin putri semata wayangnya itu jalan-jalan sendirian, harus ada yang menemani, baru izin itu akan diberikan. Maaf ya sahabat, kalau aku menuruti kehendakmu, bisa berantakan rencana yang telah tersusun rapi ini. Naya tersenyum penuh arti.
“Nggak apa-apa, kok, santai aja. Aku bisa pergi sendiri,” ucap Cinta pelan seolah berbicara pada diri sendiri. Nada bicaranya terdengar ragu. Cinta berharap Naya bisa mengubah keputusannya dan bersedia mengantar dia, sebab pasti Papa akan marah kalau tahu dia ke Gramedia sendirian. Cinta tadi sudah minta izin ke Papanya pergi berdua dengan Naya.
Mendengar itu, hati Naya bersorak. Yes, kebetulan. Naya yakin, situasi seperti ini akan membuat rencananya berhasil dan berjalan mulus.
“Begini aja deh, Cinta. Kamu minta antar sama Kak Iman aja, pasti dia mau.”
“Hah? Sama dia? Nggak deh nggak.” Cinta menolak mentah-mentah usul dari Naya dan mempertegasnya dengan gerakan tangan.
“Ya udah terserah. Daripada kamu nggak dapat harga promo.” Naya melirik ke arah Cinta. Ekor matanya menangkap, Cinta sedang sangat kebingungan. Namun, Naya yakin, Cinta pasti akan menerima usulnya, mengingat sahabatnya itu ngefans banget sama Shireishou, dan tak akan rela ketinggalan promo novel penulis idolanya itu.
“Ya udah deh, aku mau. Tapi, kamu yang menyampaikannya ke dia ya.”
Naya menjawab dengan menautkan ibu jari dan telunjuk, membentuk huruf O. Yes, berhasil. Naya mengeluarkan ponsel dari saku rok seragamnya, lantas mengirim chat pada Gilang.
Sementara itu, di kelas XI, Gilang tampak sedang berusaha membujuk Iman. Ini sesuai dengan rencana yang telah disusun bersama Naya.
“Man, tahu nggak? Kata Naya, hari ini Cinta mau ke Gramedia, beli novel Obsession nya Shireishou."
“Terus, hubungannya sama gue apa?”
“Hadeuh, Ibro, sama yang beginian aja elo lemot, nggak bisa berpikir jernih. Temenin, Man. Elo antar ke sana. Ini kesempatan elo buat pedekate.” Gilang gemas melihat Iman yang mendengar berita ini malah cuek.
“Begitu ya? Kalau dia nggak mau gue antar gimana?”
“Ya ampun, Iman. Otak elo bener-bener harus diasah. Ya elo coba tawarin diri buat ngantar dia ke sana. Masalah dia mau atau nggak, setidaknya elo udah berusaha menunjukkan kalau elo itu perhatian sama dia. Parah .... Parah.”
“Ya, nanti gue coba.”
“Jangan dinanti-nanti, Man. Elo harus gerak cepat. Kalau elo diam aja, Cinta nggak bakalan tahu kalau elo suka sama dia.”
“Sekarang? Gue harus nyamperin Cinta ke kelas gitu?”
“Iya, sekarang. Saatnya elo fighting, tunjukkan kalau elo itu suka sama dia.” Gilang mengepalkan tangan dan mengacungkannya ke atas.
“Kan sekarang mah belajar dulu. Elo mau gue dihukum sama Bu Lita meninggalkan jam pelajaran? Santuy lah, nanti, ‘kan pulang sekolah?” Iman menepuk-nepuk pundak sahabatnya.
“I .... Iya, maksud gue pulang sekolah. Hehehe, gue tadi salah ya? Maaf, maaf.” Gilang garuk-garuk kepala, sebab tadi dia terlalu bersemangat memotivasi Iman untuk maju mendekati pujaannya.
“Elo bawa uang lebih nggak? Gue pinjam dulu buat beliin Cinta novel sama traktir makan di sana.”
“Haduh, Ibro. Mau deketin cewek nggak punya modal. Untung aja gue kebetulan bawa.” Gilang mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dari saku celana dan memberikannya pada Iman.
“Hatur nuhun, Lang. Tenang aja, di rumah gue punya celengan ayam berukuran besar dua buah.” Iman memasukkan uang itu ke dalam saku celananya.
“Tapi isinya nggak ada, ‘kan?”
“Hahaha, tahu aja elo kalau itu cuma pajangan. Tenang, besok gue pasti ganti uang elo. Makasih ya.”
Gilang mengangguk sembari di dalam hati berdoa semoga saja rencana Naya dan dia mempersatukan Iman dan Cinta berhasil, setidaknya sukses dulu membuat mereka dekat.
“Eh, tapi, sebentar .... Sebentar.” Iman tampak berpikir sampai dahi cowok itu berkerut, membuat Gilang juga ikut mengernyit dan bertanya-tanya apa yang sedang sang sobat pikirkan.
“Gue, ‘kan cuma bawa helm satu.”
“Ibro, gue kira ada hal penting yang lagi elo pikirkan.” Gilang kelihatan gemas dan kesal. Kalau Iman itu ayam bakar, udah dilahap habis sampai hanya tersisa tulang-belulangnya doang.
“Ya penting lah. Kalau gue ditilang gimana?”
“Man, Man. Elo itu kan cowok. Usaha dong. Pinjam kek, ke siapa gitu.”
“Iya deh, nanti gue ke mampir ke pos satpam.”
“Mau ngapain elo? Mau mencuri helmnya Pak Sapri?”
“Sembarangan. Elo jangan asal nuduh. Fitnah itu lebih kejam daripada fitness. Walau pun langganan dihukum guru, tapi gue ini sahabat sejatinya satpam sekolah.”
“Maksudnya elo mampir ke sana mau pinjam helm?”
Bersamaan dengan datangnya Bu Lita ke kelas XI, Gilang bisa bernapas lega melihat Iman menganggukkan kepalanya. Syukurlah, otak teman gue bersih dari kriminalitas, begitu kira-kira jeritan hati Gilang.
Gilang dan Naya membuntuti Iman dan Cinta ke Gramedia. Setiap gerak-gerik dua insan yang saling jaga image itu, tak luput dari perhatian keduanya. Alhamdulillah, usaha mereka tidak sia-sia. Keduanya melihat dengan mata kepala sendiri, Cinta dan Iman tampak mengobrol akrab di salah satu food court dekat Gramedia. Sesekali terdengar tawa terkembang dari keduanya. Gilang dan Naya tersenyum puas menyaksikan hal itu.
“Alhamdulillah, Kak, cara kita berhasil.” Netra Naya berbinar bahagia melihat Cinta, sahabatnya tertawa lepas. Begitu juga dengan Iman, dia kelihatan bahagia.
“Makasih ya, Nay sudah bantuin gue. Tanpa ide dari elo, gue nggak mungkin bisa menyatukan mereka sampai sedekat ini. Mudah-mudahan aja mereka bisa jadian.”
“Aamiin. Iya, Kak sama-sama. Sebenarnya sih, Kak Iman sama Cinta itu klop, hanya saja saling jaga gengsi.”
“Nay, kita jadian yuk.” Gilang menutup mulutnya dengan kedua tangan. Entah mengapa, kata-kata itu bisa terlontar begitu saja. “Maaf, keceplosan.”
Naya tersenyum kecil melihat cowok itu salah tingkah. “Hayu, Kak. Siapa takut,” ujar Naya sembari menatap Gilang. Netra keduanya sejenak beradu. Gilang dan Naya salah tingkah. Keduanya memalingkan pandangan ke arah Iman dan Cinta berada.
“Maksudnya? Naya? Gimana ini? Kita mulai saat ini resmi pacaran gitu?”
“Iya, Kak.”
“Beneran, Nay?” Cowok itu masih tak percaya dengan yang baru saja dialaminya, takut kalau ini hanyalah mimpi di siang bolong semata. Namun sebuah anggukan kecil dari Naya melambungkan angannya ke angkasa.
“Setelah ini, mau ‘kan kalau nanti aku banyak ngerepotin Kakak?”
“Siap, komandan. Aku bersedia menjadi apa pun. Pacar hayu, teman oke, sahabat jadi, sekaligus merangkap tukang ojek online kamu juga bisa, walau tanpa aplikasi.” Naya tertawa memperlihatkan lesung pipit di kedua pipinya, menambah cantik paras wajahnya. Sementara Gilang menggaruk kepalanya, baru menyadari kalau sapaan elo gue darinya kini berubah menjadi aku kamu.
Gilang masih merasa tak percaya, cewek yang duduk di sebelahnya itu sekarang sudah menjadi pacarnya. Namun, satu hal yang pasti, kini dia tak jomlo lagi. Dua tahun lamanya bersekolah di sini dan menyandang titel itu, rasanya nggak enak, bro. Selalu jadi bahan olokan teman-teman yang sudah punya pacar.
__ADS_1
Benar kata orang, cinta datang karena kedekatan. Dan ini terbukti padanya. Karena dia dan Naya akhir-akhir ini sering bertemu sewaktu menyusun rencana membuat Cinta dan Iman lebih akrab, membuat perasaan suka itu, bukan hanya milik dia, tetapi muncul juga di hati Naya. Semoga saja Iman bisa segera menyusul, mewujudkan harapannya, jadian dengan Cinta, melepas titel jomlonya.