
Pukul 06.15, Iman dan N Max nya sudah berada di depan pintu gerbang rumah Pak Baratha. Sejak kemarin, Iman memang sudah berencana menjemput Cinta dan berangkat bareng ke sekolah. Cinta memang sudah tiga hari yang lalu keluar dari rumah sakit. Iman melirik ke arah garasi di rumah itu. Di sana, tak tampak mobil Pak Baratha. Kepsek itu mungkin sudah berangkat duluan ke sekolah. Setelah lima menit menunggu, Cinta tampak keluar dari rumahnya dan berdiri di ambang pintu, hendak mengenakan sepatunya.
“Pagi, Kak Iman. Maaf, nunggu lama,” sapa Cinta lengkap dengan memasang senyuman paling indahnya.
“Pagi, Cinta. Nggak, kok, hanya nunggu lima menit doang. Kalau buat Cinta mah, Kakak rela walau harus menunggu seribu tahun lamanya,” jawab Iman.
Cinta tertawa mendengar Iman mengucapkan kalimat terakhir sambil dinyanyikan.
“Kamu beneran udah baikan?” Iman memandang wajah Cinta dengan tatapan menyelidik.
“Udah, Kak. Yuk, berangkat. Nanti kesiangan.”
“Nggak apa-apa kesiangan, kita nanti menghadap Pak Sasongko nya berdua, anggap aja guru BP itu lagi jadi saksi pernikahan kita,” canda Iman yang dibalas Cinta dengan memukul lengan cowok itu.
“Kok malah dipukul? Kenapa nggak bilang amin?” tanya Iman sembari memberikan helmnya pada Cinta. Cewek itu tampak tersipu malu mendengar penuturan dari Iman.
Tak berapa lama, keduanya sudah meluncur menyusuri jalan komplek Holis menuju ke jalan Pajajaran.
“Kak, nanti pulangnya nggak usah bareng ya,” ujar Cinta setengah berteriak.
“Lho, kenapa? Mau bareng Pak Baratha?”
“Nggak, Kak. Papa katanya mau berkunjung ke rumah teman lama. Cinta mau ke Gramedia sama Naya. Biasa, mau berburu novel diskon.”
“Oh, oke. Kebetulan Kakak juga pulangnya mau kerja kelompok dulu. Ada tugas bahasa Indonesia.”
Setelah tiba di parkiran sekolah, Cinta turun dari motor. lantas melepas helm dan memberikannya pada Iman. Namun, Iman merasa heran, sebab Cinta tak juga beranjak dari hadapannya.
“Kenapa nggak masuk kelas? Malah lihatin wajah Kakak begitu? Baru nyadar, ya, kalau Kakak itu ganteng?”
“Kepedean. Iya, Kakak memang ganteng, alias gangguan telinga sama gangguan tenggorokan.” Cinta tertawa melihat Iman cemberut. “Kakak satu kelompoknya sama siapa aja, sih?” tanya Cinta menatap wajah Iman dengan pandangan menyelidik.
“Kenapa nanya kayak gitu? Memangnya penting?”
Cinta mengangguk. Dia khawatir Iman satu kelompok dengan Chilla. Dan kalau memang iya, tidak menutup kemungkinan, Iman dan Chilla akan dekat lagi. Cinta nggak akan kuat melihatnya.
“Satu kelas itu dibagi ke dalam 6 kelompok. Dan masing-masing kelompok terdiri dari lima orang." Iman memandang ke arah langit, sembari terlihat mengingat-ingat. Jemari tangannya tampak seolah sedang berhitung. “Kakak sih sekelompoknya sama Siti, Damar, Chilla, terus ....”
Mendengar nama cewek itu disebut, Cinta mendesis sebal. Dia melampiaskan kemarahannya dengan mengentakkan kaki kanannya ke tanah. Iman menatap wajah Cinta. Cowok itu terkejut melihat sorot mata tajam dan ekspresi kesal yang diperlihatkan Cinta.
“Kenapa harus sekelompok sama dia, sih?” Nada Cinta tiba-tiba meninggi. Dia terlihat sensi berat jika mendengar nama itu disebut, apalagi oleh Iman, hingga Cinta tak mau menyebutkan langsung nama Chilla.
Iman mengangkat bahunya. “Nggak tahu, Cinta. Bu Nadia yang mengaturnya.”
Cinta melipat kedua tangan, sembari makin mengerucutkan bibirnya. “Kenapa Kak Iman nggak nolak usulan dari Bu Nadia? Kenapa nggak tukeran aja, Kak Gilang yang sekelompok sama Kakak?” tanya Cinta masih tak terima. “Intinya kenapa Kakak harus sekelompok sama dia? Masih ada tiga puluh teman sekelas Kakak yang lainnya!” sentak Cinta sebal.
Iman menggaruk-garuk kepalanya, bingung jika harus menghadapi Cinta yang mood nya sedang buruk ini. Iman mengeluarkan ponsel, mengutak-atiknya sebentar, lalu memasukkan lagi ke dalam saku celana seragamnya.
__ADS_1
“Cinta, selow, jangan ngegas dulu. Periksa hape nya, Kakak barusan kirim nomor kontak Bu Nadia. Cinta bisa tanyakan langsung ke Bu Nadia, biar dapat jawabannya.” Iman meraih jemari tangan kanan Cinta dan menggenggamnya seraya mengajak Cinta jalan bareng ke kelas. Namun, Cinta yang emosinya masih berapi-api, menepis kasar tangan Iman, hingga genggamannya terlepas.
“Udah, sana, duluan! Cinta bisa jalan sendiri ke kelas!”
“Ya, udah. Kakak duluan. Hati-hati jalan di koridornya. Kalau jatuh, bangun sendiri. Jangan lupa, cek hape.” Iman mengedipkan sebelah matanya pada Cinta lantas berlalu dari hadapan Cinta.
Cinta menatap kepergian Iman dengan amarah yang semakin meledak mendapati kenyataan Iman berjalan meninggalkannya sendiri di parkiran. Padahal, dia sangat berharap Iman akan membujuknya. Penasaran, Cinta mengeluarkan ponsel dan menatap layarnya dengan malas.
“Ngapain coba, Kak Iman ngirim nomor Bu Nadia segala?” Cinta memeriksa ponselnya dan memang benar ada dua chat whatsapp masuk dari Iman. Cinta segera membuka chat tersebut.
Cinta terdiam, bukan nomor Bu Nadia yang dia dapat. Iman sama sekali tidak mengirimkan nomor telepon, baik dalam bentuk teks mau pun dalam bentuk file V card. Cinta memperjelas penglihatannya, ingin membaca dengan lebih saksama.
Dari: Iman
Nggak usah cemburu, Bu Nadia itu walau cantik dan masih muda, tapi udah punya tunangan dan sebentar lagi akan menikah. Beberapa tahun lagi, giliran kita yang ke pelaminan.
Cinta mendesis pelan, kedua sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia menahan diri untuk tidak tertawa. Kemudian Cinta menggeser layar ponselnya ke bawah, untuk melihat satu chat lagi yang Iman kirimkan.
Dari: Iman
Nggak usah cemburu. Kakak hanya punya satu cewek, namanya Cinta Lintang Larasati alias my Snow White
Cinta memejamkan kedua mata, tangannya mulai bergerak memegangi dadanya sendiri. Cinta bisa merasakan ritme detak jantungnya lebih cepat. Dia berusaha menarik napas dan mengembuskannya. Berkali-kali Cinta melakukannya, untuk meredakan debaran di dadanya dan sedikit meredam perasaan bahagia yang membuncah tiada terkira. Dia khawatir akan berteriak kencang akibat luapan kebahagiannya. Kalau sampai terjadi, 'kan malu, jadi pusat perhatian di sekolah dan beribu-ribu pasang mata akan memandangnya dengan tatapan aneh. Cinta lantas memutuskan untuk membalas chat dari Iman.
Iman masuk ke dalam kelas dengan perasaan yang tak menentu. Dia merasa bersalah, karena sudah meninggalkan Cinta di parkiran. Rasa khawatir seketika menderanya, Iman takut kesehatan Cinta kembali drop. Iman berharap, chat-chat yang tadi dia kirimkan, bisa meredam amarah Cinta. Setelah menghempaskan badan di bangku, Iman semakin diliputi rasa gundah, pikirannya semakin tertuju pada Cinta. Dia memutuskan untuk kembali menemui Cinta. Siapa tahu cewek itu masih berada di parkiran. Namun, Iman tak jadi beranjak dari tempat duduknya. Dia merasakan ponselnya bergetar. Ada chat balasan masuk dari Cinta.
Nanti, jam istirahat, kita makan nasi goreng telur ceplok di taman belakang sekolah ya. Semoga nggak bosan dengan bekal yang Cinta bawain. I love you, Kak Iman.
Iman geleng-geleng sendiri membacanya dengan senyum yang makin merekah. Dia tak membalas chat dari Cinta, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
“Ngapain elo geleng-geleng sambil senyum-senyum sendiri? Kayaknya, gue mencium hawa-hawa perdamaian nih.” Gilang yang baru saja tiba, langsung duduk di samping Iman.
“Iya, gue memang udah baikan sama Cinta.”
“Sip, cakep. Gue ikut senang dengernya. Tapi, awas ya, elo pas kerja kelompok nanti jangan sok tebar pesona sama Chilla. Bisa-bisa elo perang dingin lagi sama Cinta.”
“Iya. Perasaan gue, curiga elo tingkatannya lebih tinggi dari Cinta, deh.”
“Sebagai sahabat yang baik, gue cuma mau ngingetin. Takut elo masuk ke jurang yang dalam, sampai elo nggak ingat jalan pulang.”
“Nggak apa-apa. Asal elo ikut masuk juga.”
Tawa Iman meledak melihat Gilang manyun. Ingin rasanya Iman melanjutkan meledek sahabatnya itu. Namun, bel tanda pelajaran pertama akan dimulai telah dibunyikan, membuat Iman mengurungkan niat jahilnya.
***
Iman memberhentikan motor tepat di depan gerbang rumahnya. Dia mengernyitkan dahi melihat mobil yang mirip dengan milik Pak Baratha terparkir di halaman rumahnya. Iman turun dari motor, lantas membuka pintu gerbang. Dia mendorong motornya ke garasi. Indera pendengaran Iman menangkap suara tawa Bunda dan seorang pria dari dalam rumah. Setelah melepas sepatu, membuka pintu rumahnya perlahan-lahan dan masuk ke rumah dengan agak berjinjit, khawatir langkah kakinya menimbulkan kegaduhan, hingga mengganggu Bunda dan tamunya.
__ADS_1
“Assalamu alaikum,” ucap Iman sambil berjalan ke ruang tengah. Dia penasaran, siapa pria yang bertamu pada Bundanya itu.
“Waalaikum salam.” Bunda dan sang tamu menjawab salam Iman serempak secara bersamaan.
Betapa terperanjatnya Iman, melihat pria yang bertandang ke rumah dan sedang mengobrol akrab dengan Bunda. Perasaan, di sekolah tadi dia tidak melakukan pelanggaran yang berat, tapi mengapa kepala sekolahnya datang ke rumah? Iman mencium takzim punggung tangan sang Bunda dan juga Pak Baratha untuk menutupi keterkejutannya. Dia berusaha terlihat biasa saja.
"Yudha, ini putra bungsuku, Iman,” ucap Bunda memperkenalkan Iman pada Pak Baratha.
“Iya, aku tahu, Las. Dia teman dekat Cinta, anak semata wayangku.”
Iman tampak canggung dan kikuk. Rasanya, sulit untuk terlibat obrolan dengan Bunda dan tamunya itu. Mereka tampak asyik dengan topik yang tengah diperbincangkan
Iman memutuskan untuk pamit ke kamarnya. Saat hendak membuka pintu kamar, Iman merasakan seseorang menarik tangannya dari belakang.
“Astagfirullah!” teriak Iman.
“Sssstt, jangan berisik.” Ikhsan menutup mulut Iman dengan sebelah tangannya. Sementara tangan Ikhsan yang satu lagi masih menarik tangan Iman. “Masuk ke kamar gue. Ada yang mau gue omongin.”
“Ada apa, sih, Kak? Elo bikin kaget aja, deh. Gue mau ganti baju dulu, nih. Gerah. Terus, habis itu gue mau makan, lapar,” protes Iman setelah dia dan Kakaknya berada di dalam kamar Ikhsan.
“Percuma, Bunda nggak masak.”
“Lho, kok bisa? Biasanya Bunda paling rajin masak. Bunda selalu nggak tega membiarkan anak-anaknya kelaparan.”
“Nah, itu dia masalahnya. Sejak Pak Baratha sering ke sini, Bunda jadi beda, Man.”
“Beda gimana, Kak? Memangnya sudah berapa kali Pak Baratha ke sini?” cecar Iman penasaran. Mengapa hal sepenting ini luput dari perhatiannya?
“Elo, sih, sibuk pacaran melulu.” Ikhsan menoyor Iman. “Pak Baratha udah tiga hari berturut-turut ke sini. Bunda berubah, deh, pokoknya. Jadi suka senyum-senyum sendiri. Dan lebih sering menghabiskan waktunya di dalam kamar.”
“Waduh. Jangan-jangan ....” Iman tak melanjutkan bicaranya. Dia sibuk menata hati dan pikirannya yang mulai diliputi rasa gelisah.
“Jangan-jangan apa, Man?” Ikhsan mengernyitkan dahi, sambil memandang Iman dengan tatapan heran.
“Mungkin Pak Baratha lagi pedekate sama Bunda.”
“Jadi, mereka sekarang lagi CLBK, gitu?”
Iman mengedikkan bahu, masih terlihat syok dan berusaha menyelami hal ini. “Mungkin, kalau lihat gelagat Bunda, sih ....” Iman menggigit bibir dan bergidik. “Gue, kok nggak rela, ya, kalau ada yang menggantikan posisi almarhum Ayah.”
“Gue juga nggak siap punya ayah tiri. Elo tahu, nggak, sejak kehadiran Pak Baratha, gue jadi kehilangan Bunda. Habis, Bunda nggak seperti biasanya.” Ikhsan menghela napas berat. “Tapi, Bunda kelihatan ceria. Kita egois, kalau sampai melarang Bunda. Wanita solehah seperti Bunda berhak untuk bahagia, Man.”
Mendengar penuturan Ikhsan, Iman semakin bergidik. “Kalau suatu saat Bunda sama Pak Baratha menikah, nasib gue sama Cinta, gimana, dong? Gue nggak siap kalau dia berubah status dari pacar gue, jadi adik tiri.” Raut wajah Iman berubah sendu. Dia merebahkan badannya di atas kasur.
“Makanya, gue bilang jangan pacaran, biar nggak galau.”
Sayup-sayup di ruang tengah, terdengar derai tawa Pak Baratha dan Bu Lastri yang semakin menggema. Ikhsan dan Iman saling pandang. Bagaimana jika Bunda sedang dilanda jatuh cinta? Bagaimana jika, kelak Bunda bersanding di pelaminan dengan Pak Baratha? Apakah benar, Pak Baratha pria yang tepat yang akan membahagiakan Bunda selamanya? Ikhsan dan Iman kompak menghela napas. Keduanya diam membisu, larut dalam jalan pikiran masing-masing, dengan sejumlah tanya berkecamuk dalam dada. Mereka harus berbicara dari hati ke hati dengan sang Bunda, agar mendapat jawabannya.
__ADS_1