
Iman mengambil beberapa baju, lantas melemparkan seenaknya ke tempat tidur. Entah mengapa, kali ini Iman jadi sangat lebay hanya karena memilih baju. Biasanya, dia tidak terlalu ribet dan tak mau ambil pusing dalam urusan penampilan. Cukup mengenakan kaus oblong bergambar Doraemon dan celana jeans warna apa saja. Yang penting bisa membuatnya nyaman.
Namun, pagi ini setelah Iman selesai mandi, dia malah kebingungan sendiri. Tingkahnya sudah seperti ibu-ibu yang mau pergi ke kondangan, semua baju yang ada dalam lemarinya diacak-acak hingga berantakan.
“Iman, kamu bisa tolong Bunda cariin ....” Bu Lastri yang membuka pintu kamar Iman, mendadak diam saat melihat anaknya mengacaukan kamar. “Kamu ngapain, sih, berantakin baju di lemari? Nggak kasihan sama Bunda? Tiap hari harus beresin kamar kamu yang kayak kapal pecah. Lagian mau ke mana, sih, ribet banget milih baju?”
“Iman mau jalan-jalan, Bund.”
“Hadeuh, mau jalan-jalan di sekitar komplek aja ribet banget! Belum tentu kamu ada yang naksir, hihihi.”
Selama ini, aktivitas Iman setiap hari Minggu hanyalah jogging menyusuri jalanan komplek rumahnya dan berakhir di ujung gang, kemudian kembali lagi ke rumahnya.
“Bukan, Bund, Iman mau jalan-jalan ke alun-alun Bandung,” jawab Iman sembari terus memilih baju yang berserakan di atas kasurnya.
“Paling jalan-jalannya sama Gilang, ‘kan? Ribet banget sih kamu! Biasanya pakai kaus oblong bergambar Doraemon, celana jeans, plus jaket juga udah pergi,” sambung Bu Lastri.
“Bund, kali ini serius. Iman bukan cuma jalan-jalan sama Gilang aja, tapi sama teman cewek!”
“Astagfirullah! Cewek mana yang khilaf mau jalan sama kamu?” Bu Lastri membulatkan matanya.
“Ih, Bunda begitu amat. Kalau Iman ada di Korea, Bund, Iman udah tenar, lho, jadi salah satu personel boyband papan atas.”
“Papan reklame iklan, kali, Man. Beneran kamu mau jalan sama cewek? Kamu nggak lagi halu, ‘kan?” Bu Lastri mendekati Iman lantas memegangi dahi putra bungsunya itu.
“Bund, memangnya aneh ya, kalau Iman jalan sama cewek?” Iman menyipitkan matanya. Sang Bunda yang duduk di sisi tempat tidur pun mengangguk jujur.
“Aneh pake bingit. Bunda khawatirnya kehaluan kamu itu over limit. Di samping kamu Gilang, kamu membayangkannya lagi jalan sama Selena Gomez atau cewek cantik.”
“Astagfirullah, Bund, udah, ya, nanti Iman dandannya nggak selesai-selesai.” Iman mendengus kesal dengan sikap Bundanya yang mendadak jadi alay bin lebay.
Sebenarnya, tidak heran jika sikap Bu Lastri seperti demikian. Kalau saja Ikhsan yang mau jalan sama perempuan, Bunda pasti percaya. Kakaknya itu, ‘kan fansnya berjibun. Sementara, Iman? Kupu-kupu yang lucu pun tak mau hinggap, dan Bunda yang belum pernah mendengar cerita kalau Iman punya penggemar, sekarang tiba-tiba saja mau jalan dengan perempuan. Jelas Bundanya tak akan begitu saja mempercayainya.
“Ya, udah, Bunda sekarang percaya, asal ....”
“Asal, apa, Bund?” Iman garuk-garuk kepala. Perasaannya sudah tak enak, sebab pasti Bundanya meminta hal yang aneh-aneh deh.
“Asal, kamu harus foto selfie sama cewek itu. Kalau nggak, Bunda nggak akan kasih kamu uang jajan selama satu bulan!” tegas Bu Lastri.
“Ya, elah, Bund, kejam amat kayak ibu tirinya Cinderella. Memangnya penting, ya, nunjukkin bukti?”
“Tentu saja, Man. Bunda khawatir kamu itu bohong. Izin mau jalan sama cewek, entar malah kelayapan nggak jelas. Bunda nggak mau anak bungsu Bunda terjerumus ke pergaulan nggak bener,” lanjut Bu Lastri membuat Iman menghempaskan badannya dengan malas ke atas kasur.
“Bund, Iman ‘kan udah gede, bisa jaga diri. Lagian, Iman jalan sama Gilang, nggak mungkin macam-macam.”
“Udah, jangan banyak alasan, kamu mau puasa jajan selama sebulan? Nih, uang buat pegangan kamu. Jangan malu-maluin jalan sama cewek. Bawa makan di tempat yang enak. Kalau mau beli camilan, harus yang kekinian, biar kelihatan up to date.” Bu Lastri mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya. “Dandan yang rapi, jangan asal-asalan, biar hasil fotonya nanti nggak hancur!”
Iman bangkit dari tempat tidur begitu Bundanya pergi dan mengambil uang yang sengaja diletakkan Bu Lastri di atas ranjang. “Wuih, tumben Bunda baik banget ngasih uang banyak. Kenapa Kalau naikkan uang jajan susah bener, ya? Padahal udah didemo berkali-kali.”
Setelah berpakaian rapi, bergegas Iman menuju ke garasi mencari N Max kesayangannya. Namun, Iman melebarkan pandangannya ketika tak menemukan motornya itu di garasi.
“Bunda! Bund, motor Iman dicuri!”
Bu Lastri yang panik mendengar teriakan putra bungsunya, berlari tergopoh-gopoh dari dapur menghampiri Iman yang berada di depan rumah.
__ADS_1
“Bund, motor Iman hilang.”
“Oh, iya, Bunda lupa, N Max kamu dipakai Ikhsan ke sekolah.”
Iman menggaruk kepalanya frustrasi. “Hadeuh, Bund, ini ‘kan hari Minggu, rajin amat Kak Ikhsan ke sekolah. Memang ngapain, sih, bantuin penjaga sekolah membereskan kelas?”
“Bukan, Man, latihan basket, buat persiapan pertandingan. Kamu sewa grab aja atuh, kirain ada apa teriak-teriak, bikin kaget saja kamu, Man. Udah, ya, Bunda lagi masak, nanti gosong.”
Iman mencium punggung tangan sang Bunda, lantas mengeluarkan ponsel dari saku celana jeans nya. Kemudian dia melakukan panggilan.
“Halo. Lang, motor gue dipakai Kak Ikhsan.”
“Sama, Man, motor gue juga dipakai sama Bapak, lagi nganterin Ibu ke pasar deket sini. Dari tadi belum balik juga, udah lama padahal berangkatnya. Curiga belanjanya ke Pasar Baru ini, mah.”
“Masa kita harus naik angkot. Gengsi, Lang, bawa cewek cakep soalnya. Kalau pakai grab, berat di ongkos. Apa kita batalin aja ngedate nya?”
“Nggak bisa, Man. Naya tadi telepon, dia sama Cinta udah nungguin di Mesjid Raya. Udah, deh, gimana nanti aja. Kali aja mereka hanya ngajak jalan-jalan di sekitar alun-alun. Elo langsung berangkat ya, nggak pake lama, kasihan mereka udah nungguin.”
“Iya, deh. Langsung ketemu di sana, ya.” Iman menghela napas berat. Sebenarnya, dia sedikit kesal pada Kak Ikhsan. Namun, buru-buru dia beristighfar dan ditepiskannya rasa itu, mengingat sang kakak telah mengalah padanya, hingga Ikhsan sendiri tak punya motor.
***
Setibanya Iman dan Gilang di alun-alun Bandung, mereka melangkahkan kaki menuju ke Mesjid Raya. Setelah mereka sampai di sana, tampak Cinta dan Naya sedang duduk-duduk di rumput sintetis depan Mesjid Raya. Bergegas dua sahabat itu menghampiri pacar mereka.
“Cinta, maaf aku telat,” ujar Iman malu-malu.
“Aku juga, Nay, udah lama, ya, nunggunya?” Gilang pun mesem-mesem menahan malu.
“Ya, udah, mau ke mana kita? Nanti keburu siang, yuk.” Iman mengalihkan pembicaraan, berusaha mencairkan suasana.
“Jalan-jalannya sekitar sini saja, ‘kan ya?” tanya Gilang sembari menatap wajah Cinta dan Naya bergantian. Dia berharap, kedua cewek itu mengangguk, sebab mereka tidak perlu berkendara lagi, cukup ditempuh dengan jalan kaki saja, kalau hanya jalan-jalan di sekitar alun-alun ini.
“Kita ingin nonton di BIP, nih. Biar sekalian dekat kalau mampir ke Gramedia,” ujar Cinta yang diamini langsung oleh Naya.
Dasar, ya, ini dua cewek, gila banget sama buku. Tetap saja ujung-ujungnya ke Gramedia juga, gerutu Iman dalam hati.
“Ya, udah, yuk, berangkat. Kalau terlalu siang, nanti macet.” Gilang menjawab dengan ragu-ragu sembari sesekali melirik ke arah Iman. Dia masih memutar otak, memikirkan cara membawa kedua cewek itu ke Jalan Merdeka.
Tak berapa lama, keempatnya sudah melangkah meninggalkan Mesjid Raya. Naya dan Cinta berjalan berdampingan di depan, sementara Iman dan Gilang berjalan di belakang mereka.
“Man, gimana, dong? Kita, ‘kan nggak bawa motor." Gilang berbicara setengah berbisik, khawatir terdengar oleh Cinta dan Naya yang sedang berjalan di depan mereka sembari bercakap-cakap. Sesekali, diselingi gelak tawa dari mereka.
“Ini gue juga lagi mikir, Lang. Tapi, mendingan jujur aja. Kalau mereka cinta sama kita dengan tulus, mereka pasti bisa menerima keadaan ini.”
“Terserah elo, deh.”
Sesampainya di perempatan Jalan Dewi Sartika, Iman dan Gilang menghentikan langkah kedua cewek itu yang hendak menyeberang.
“Cinta, Naya, tunggu sebentar,” ujar Gilang ragu-ragu.
“Kak Iman sama Kak Gilang parkir motornya di mana?”
Iman dan Gilang saling pandang. Mereka bingung harus menjawab apa atas pertanyaan yang Cinta lontarkan tadi.
__ADS_1
“Aku sama Gilang nggak bawa motor. Tapi, tenang, kita mau bawa kalian ke BIP, pakai pajero. Sebentar ya.” Iman setengah berlari menyeberang jalan meninggalkan Cinta, Naya, dan Gilang yang bengong bersamaan, sebab tak mengerti dengan maksud perkataan Iman.
Tak lama, Iman kembali menghampiri mereka diikuti sebuah angkot berwarna hijau berhenti di dekat mereka.
“Ayo, naik. Tenang, untuk kenyamanan kalian, pajero ini sudah aku sewa sampai ke tujuan.” Iman naik duluan ke dalam angkot itu, diikuti oleh Cinta, Naya, dan juga Gilang.
“Maaf, ya, Cinta, Naya, motorku sama motor Gilang sedang dipakai. Terpaksa aku bawa kalian pakai pajero ini,” ujar Iman, malu-malu sekaligus sedikit lega karena sudah berterus-terang.
“Elo, dari tadi halu, angkot dibilang pajero.” Gilang menoyor kepala Iman. “Maaf, Nay, Cinta, kita berdua nggak bilang jujur. Takutnya kalian malu, jalan sama kita pakai angkot. Gengsi, gitu.”
“Nggak apa-apa, Kak. Kenapa harus malu? Aku sama Naya juga kalau jalan-jalan suka pakai angkot, iya, ‘kan, Nay?”
Naya menjawab pertanyaan Cinta dengan sebuah anggukan, membuat Iman dan Gilang merasa lega. Tak berapa lama, Cinta dan Naya mengibas-ngibaskan tangan mereka untuk mengusir gerah.
“Nah, Lang, ini yang gue maksud pajero, sebuah sensasi yang kita rasakan kalau naik angkot. Pajero alias panas dijero, kegerahan di dalam."
Mendengar candaan yang Iman lontarkan, ramailah angkot itu dengan gelak tawa.
“Ada satu sensasi lagi, Kak Iman, untuk mencegah pajero. Yaitu AG, alias angin gelebug.” Cinta menggeser kaca angkot, berembuslah angin menerpa mereka berempat, diiringi gelak tawa yang semakin membahana.
Begitu sampai di BIP, mereka berempat bergegas menuju bioskop di lantai empat.
“Mbak, harga tiket ke Jakarta berapa ya?” tanya Iman membuat petugas tiket bioskop mengerutkan dahinya.
“Kalau tiket ke Surabaya?” Gilang ikut-ikutan bertanya, sehingga raut wajah petugas itu semakin terlihat kebingungan.
“Maaf, Mbak, teman kami memang begitu orangnya,” serobot Cinta sembari menarik Iman ke belakang.
“Iya, mereka telat minum obat,” timpal Naya.
“Kirain pacaran. Kasihan deh, kalian berdua kena friendzone,” kata petugas tiket sok SKSD sembari bergidik melihat Iman dan Gilang.
Sebelum Iman dan Gilang berang, Cinta dan Naya segera menyelesaikan urusan mereka di situ. “Kita pesan empat tiket untuk film yang ini, ya, Mbak.”
Setelah mendapatkan tiket nonton, sambil menunggu, mereka duduk-duduk di kursi yang sudah tersedia di sana. Iman menatap lekat wajah Cinta yang sedang duduk di sampingnya, sementara Gilang dan Naya sedang asyik mengamati poster-poster film yang dipajang di sana.
Cling ....
Ponsel Iman berbunyi. Dia segera mengeceknya yang ternyata chat whatsapp dari Bundanya.
Bundaku Idolaku
Man, jangan lupa foto selfienya, ya
Sekali lagi Iman menatap wajah Cinta. Cewek secantik ini bakal mau nggak ya, berfoto bareng dia? Namun, mengingat ancaman dari sang Bunda, Iman memberanikan diri juga untuk mengajak Cinta berselfie ria dengannya.
“Cinta, selfie dulu, yuk.” Iman mengarahkan ponselnya ke mereka berdua.
“Eh, tunggu dulu. Janji, ya, jangan disebar di medsos mana pun.” Cinta menjauhkan ponsel Iman dari wajahnya. Dia khawatir kalau sampai foto-foto mereka berdua tersebar, bisa gawat kalau ketahuan sang Papa.
“Beres, Cinta. Foto-foto ini buat aku pandangi kalau sedang rindu.”
Pipi Cinta bersemu merah. Cewek cantik itu akhirnya bersedia berfoto selfie bareng Iman, dengan berbagai gaya, mulai gaya serius, seperti untuk pas foto, sampai gaya bebas. Setelah itu, Iman mengirimkan foto-foto dia dengan Cinta ke Whatsapp Bundanya, seraya berucap hamdallah. Akhirnya, keberlangsungan hidupnya selama satu bulan terselamatkan.
__ADS_1