Cinta Untuk Iman

Cinta Untuk Iman
My (Trully) Decision


__ADS_3

Suara adzan Dzuhur sayup-sayup terdengar dari kejauhan, mengiringi perjalanan Imam dan Cinta menuju ke kediaman Pak Baratha. Iman melajukan motornya ke arah Mesjid Raya Bandung.


“Kita salat Dzuhur dulu, ya Cinta."


“Iya, Kak.”


“Kakak mau sekalian berdoa, agar bisa berbicara lancar di depan Pak Baratha.”


“Memangnya lebih deg-degan mana, Kakak bicara sama Cinta atau bicara dengan Papa?”


“Lebih tegang ngobrol sama Pak Baratha, Cinta. Ini aja, jantung Kakak berasa mau copot. Pergelangan tangan Kakak aja dingin begini.”


“Hahaha, tenang saja, Kak. Nggak usah takut. Papa nggak gigit, kok.”


Iman tertawa, kemudian membelokkan motornya ke pelataran parkir di dekat Mesjid Raya. Setelah menitipkan helm dan tas masing-masing di tempat penitipan barang yang terletak di dalam area parkir, Iman dan Cinta melanjutkan langkahnya menuju ke Mesjid Raya.


“Sekarang, salatnya masing-masing dulu. Kelak, Kakak akan jadi imammu,” ujar Iman membuat pipi Cinta bersemu merah.


Di teras mesjid, mereka berpisah. Iman berjalan menuju tempat wudhu pria, sedangkan Cinta melangkahkan kaki ke tempat wudhu wanita. Tak berapa lama, Iman sudah berbaur dengan para jemaah pria, sementara Cinta salat dengan para jemaah wanita. Mereka berdua khusyuk melaksanakan salat dzuhur berjamaah. Usai salat, keduanya tampak khusyuk memanjatkan doa. Isinya hanya mereka berdua yang tahu pasti. Yang jelas, keduanya menyelipkan harapan yang baik untuk kelanjutan kisah cinta mereka di masa depan, yang terpaksa ditunda dulu di masa sekarang. Iman menghampiri Cinta yang sedang duduk di teras mesjid sambil menatap ke arah rumput sintetis yang terhampar di depan mesjid.


“Udah beres Nyonya Iman? Yuk, berangkat,” ajak Iman membuat Cinta tersentak dari lamunannya sekaligus tersipu malu mendengar sapaan Iman untuknya barusan. Cinta hanya mampu menjawabnya dengan anggukan saja. Iman dan Cinta bangkit dari teras mesjid , lalu berjalan menuju ke tempat penitipan sandal/sepatu untuk mengambil sepatu masing-masing yang dititipkan di sana. Setelah mengenakan sepatu, Iman dan Cinta melanjutkan perjalanan menuju komplek rumah Cinta.


Tiba di depan gerbang rumah Cinta, Iman tak langsung turun dari motornya, bahkan helmnya pun tak dilepas dari atas kepalanya. Padahal Cinta sudah duluan turun, dan tengah mengangsurkan helm yang dia pakai pada Iman.


“Kak Iman, ayo turun. Kok malah bengong?”


Suara lembut Cinta membuyarkan Iman dari lamunannya. Dia mengambil helm dari tangan Cinta dan sibuk mengaitkan ke pengait di motornya. Iman melayangkan pandangannya ke garasi rumah Cinta. “Itu mobil Pak Baratha, ya?” Entah mengapa, keberanian Iman sedikit ciut hanya dengan melihat mobil Pak Baratha saja.


“Sejak kapan Kakak amnesia? Iya, itu mobil Papa. Nggak ganti, kok. Yuk, masuk.”


“Cinta, Kakak lupa mau ngomong apa ke Pak Baratha.”


“Semangat, Kak. Kedatangan Kakak belum untuk melamar Cinta, ‘kan? Santuy, Kak.” Cinta mengepalkan sebelah tangan dan mengacungkannya ke atas untuk menyemangati Iman. “Perasaan tadi di Kampung Korea ada yang semangat ngajak ke sini.” Melihat Iman yang masih terlihat ragu, Cinta kembali berusaha memotivasi. “Ayo, kayak baru pertama kali ketemu Papa aja. Di sekolah juga sering, ‘kan bertemu?” Cinta mengulurkan tangannya pada Iman.


Mendengar ucapan Cinta, Iman mulai melepas helm dari atas kepalanya, lantas mengaitkannya ke salah satu kaca spion.


“Bawa masuk aja, Kak,” suruh Cinta. Iman mengambil kedua helm itu untuk membawanya ke dalam.


Tak berapa lama Iman turun dari atas motor, lantas menerima uluran tangan Cinta. Perlahan-lahan, Cinta membuka gerbang, lalu menuntun Iman untuk terus berjalan. Perasaan Iman tak menentu saat menginjakkan kaki di teras rumah Cinta. Dadanya semakin berdebar hebat kala Cinta membuka pintu lantas mengucapkan salam. Kedua telapak tangan Iman terasa membeku, saat indera pendengarannya menangkap suara Pak Baratha yang menjawab salam Cinta.

__ADS_1


“Ayo, Kak,” ajak Cinta melihat Iman menahan langkahnya di ambang pintu rumah. Dengan mengucap basmallah, Iman melangkah pelan mengekori Cinta yang berjalan menghampiri Papanya yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah sambil membaca surat kabar.


“Eh, ada tamu rupanya. Duduk, Man.”


Cinta mencium punggung tangan Pak Baratha, kemudian Iman pun melakukan hal yang sama. Setelah itu, Iman dan Cinta duduk di atas sofa, dengan posisi, Cinta duduk di samping papanya, sementara Iman duduk di depan mereka.


“Kasih air, lah, Imanmu itu,” perintah Pak Baratha pada putrinya.


“Maaf, Pak. Saya sudah mandi.”


“Hahaha, maksud Bapak air minum. Kamu mau minum apa, Man?”


Iman terpana sembari memandang heran wajah Pak Baratha. Baru kali ini, dia menyaksikan kepala sekolahnya yang biasanya terlihat jaim dan bertampang dingin itu, kini tertawa lepas di hadapannya.


“Air putih aja, Pak,” jawab Iman gugup, kemudian menunduk, saat pandangannya tak sengaja beradu dengan Pak Baratha.


“Man, cobalah jenis minuman lain. Air putih mah, di kamar mandi rumahmu juga stoknya banyak, ‘kan?” canda Pak Baratha berusaha mencairkan suasana.


“Teh manis juga boleh, Pak.”


“Cinta, bikinin teh manis, katanya,” suruh Pak Baratha.


“Gulanya habis, Pa. Cinta tadi mau beli, tapi baru ingat pas nyampe sini.”


“Habis juga, Pa. Semalam di botolnya sisa sedikit, Cinta minum, deh. Dari pada nanti kadaluwarsa atau dikerubuti semut.”


“Ya udah. Man, berarti nasib kamu harus minum air putih.”


“Nggak apa-apa, Pak.”


Cinta beranjak dari sofa dan berjalan ke dapur, meninggalkan Iman berdua dengan Pak Baratha di ruang tengah. Iman semakin merasa canggung dan lidahnya mendadak kelu untuk mulai bersuara. Cowok itu berharap, Cinta segera kembali, agar membantunya mengurangi rasa gugup yang semakin menghinggapi. Ekor mata Iman melirik Pak Baratha yang sedang membolak-balik surat kabar di tangannya. Iman terlonjak mendengar Pak Baratha berdehem, entah mengapa dia bisa sangat tegang sedemikian rupa. Padahal, ini kali kedua dia bertemu dengan Pak Baratha.


Pria paruh baya itu melipat surat kabar yang dibacanya dan dia taruh di atas meja. Pandangannya beralih pada Iman, membuat Iman semakin didera rasa grogi.


“Wajah kamu tegang sekali, Man. Apa ada hal serius yang mau kamu sampaikan pada Bapak?”


“Eh, ini. Anu, Pak ....” Iman tersentak mendengar pertanyaan dari Pak Baratha, hingga dia menjawabnya dengan terbata-bata. Iman menelan salivanya, sembari melirik ke pintu dapur.


Duh, Cinta, kenapa lama amat, ya, di dapurnya? Apa dia lagi bikinin gue nasi goreng telur ceplok? Atau malah lagi di kamar mandi karena tiba-tiba terserang mules? Cepat temani Kakak, Cinta. Bingung, mau mulai bicaranya dari mana. Iman bersenandika sembari terus menunduk, tak berani menatap balik Pak Baratha. Cinta, datanglah dan bantu Kakak.

__ADS_1


***


Iman tersenyum senang melihat Cinta muncul dari pintu dapur membawa nampan berisi tiga gelas air putih dan beberapa camilan di dalam stoples. Cinta menaruh semuanya di atas meja, lalu duduk kembali di samping Papanya. Perasaan Iman sedikit lebih tenang dan lega karena Cinta sudah ada di hadapannya.


“Ayo, diminum dulu, Man. Biat nggak tegang. Tampangmu sudah seperti murid yang akan menghadapi soal-soal UNBK saja. Rileks saja, Man sama Bapak, mah” ujar Pak Baratha sembari mengambil segelas air dari atas meja, lantas meneguknya sedikit. “Dimakan juga camilannya, biar kamu nanti bicaranya fokus dan bertenaga,” lanjut Pak Baratha, lantas mencomot cheese stick dari dalam stoples. “Nggak usah malu-malu, Man. Nggak bakal ada slip tagihan, kok. Ayo,” suruh Pak Baratha pada Iman yang masih bergeming.


Tak berapa lama, Iman meneguk sedikit air putih dalam gelas, lalu menaruhnya kembali di atas meja. Dia memilih mencomot kacang atom lalu memasukkannya satu persatu ke dalam mulut.


“Begini, Pak. Sebelumnya saya mau minta maaf sama Bapak juga Cinta.” Iman mulai buka suara setelah selesai nyemil kacang atomnya.


“Minta maaf kenapa, Man?” Kening Pak Baratha berkerut. Pria paruh baya itu memandang wajah Iman dengan tatapan menyelidik.


Iman menggigit bibir, kepalanya semakin tertunduk. Dia memainkan jemarinya. “Begini, Pak. Saya nggak bermaksud untuk mempermainkan perasaan Cinta. Tapi, mulai hari ini, sebenarnya saya dan Cinta sudah tidak pacaran lagi, Pak.”


“Apa? Kalian putus? Gara-gara apa? Orang ketiga? Ada yang nikung? Selingkuh? Atau hanya cemburu buta?” cecar Pak Baratha dengan nada sedikit emosi.


“Pa, sabar. Biar Kak Iman jelaskan dulu.” Cinta berusaha meredam emosi sang Papa.


“Cinta, kamu ini aneh. Kok nggak ada sedih-sedihnya putus dari pacar kamu? Kamu nggak menyesal berpisah dari Iman?” Kali ini Pak Baratha memberondong putrinya dengan sejumlah pertanyaan.


“Maaf, Pak. Keputusan ini terpaksa saya ambil, dan Cinta pun memang sudah menyetujuinya, karena ....”.


“Kalian berdua ini aneh bin ajaib. Mengaku katanya saling menyayangi, tapi malah mengakhiri hubungan.” Pak Baratha memotong ucapan Iman sambil bergantian menatap Iman dan juga Cinta, berusaha menyelami apa yang tengah terjadi di antara dua sejoli remaja ini.


“Justru karena saya sangat sayang pada Cinta, Pak. Makanya saya mengambil keputusan seperti ini.”


“Alah, nonsense!” Pak Baratha sudah terlihat semakin emosi. Namun, Cinta mencoba untuk meredakannya.


“Pak, mohon maaf karena saya baru menyadarinya sekarang, sehingga kemarin-kemarin, saya malah khilaf mengajak Cinta terjerumus ke dalam suatu hubungan yang tak halal. Kami berpisah hanya untuk sementara, Pak, supaya terhindar dari mendekati zina. Suatu saat nanti, kalau saya sudah berhasil jadi orang, saya akan kembali lagi ke mari, mengajak Cinta untuk membina hubungan yang halal dan suci, tentunya diridhai Allah juga."


Iman diam sejenak menunggu reaksi Pak Baratha. Namun, pria itu membisu, menatap lurus ke arah jendela. Tenggorokan Iman terasa kering. Dia meneguk lagi air putihnya. Seketika saja, rasa segar menjalari tenggorokannya.


“Pak, sekali lagi saya mohon maaf. Saya tidak bermaksud mempermainkan Cinta. Justru saya mengambil keputusan ini untuk menjaga Cinta, calon ibu buat calon anak-anak atau calon cucu Bapak dan Bunda saya. Duh, maaf, Pak, bicaranya jadi belibet begini. Saya harap Bapak mengerti dengan perkataan saya yang IQ nya agak-agak jongkok ini, nggak secemerlang putri Bapak,” lanjut Iman panjang lebar. Namun, Pak Baratha masih tetap tak bersuara. Iman dan Cinta saling pandang. Mereka sama-sama menunggu respons Pak Baratha dengan harap-harap cemas.


Iman dan Cinta kompak melirik Pak Baratha. Mereka melihat netra pria paruh baya itu berkaca-kaca. Cowok itu jadi merasa bersalah. Sementara cewek pujaannya tampak menunduk. Suasana menjadi hening, karena tak ada satu pun dari mereka bertiga yang bersuara. Mereka tampak diam seribu bahasa, larut dalam jalan pikiran masing-masing. Pak Baratha bangkit dari tempat duduknya, lalu mendekati Iman. Melihat hal itu, wajah Cinta berubah menjadi tegang.


“Terima kasih, Man. Feeling Bapak ternyata benar. Kamu lelaki yang tepat untuk Cinta. Bundamu memang wanita yang hebat, telah mendidik dan membentuk kamu menjadi lelaki yang keren.” Tak dinyana, Pak Baratha memeluk Iman, lalu menepuk-nepuk punggung cowok itu. “Bapak tunggu kamu membuktikan ucapanmu.”


Cinta kaget melihat reaksi Pak Baratha, terutama Iman. Dia tak menyangka akan mendapat pelukan yang terasa hangat dari kepala sekolah yang selama ini Iman kenal selalu memasang wajah jutek itu.

__ADS_1


“Kamu tenang, Man. Sebelum janur kuning melengkung, Bapak tidak akan menerima lelaki mana pun untuk mendekati Cinta selain kamu. Bapak tunggu kamu untuk menepati janji.”


“Iya, Pak.” Iman mengangguk mantap. Dia benar-benar merasa lega dan sangat bahagia. Hilang sudah satu beban yang selama ini terus berputar di benaknya. Iman melirik pujaan hatinya. Rasa lega dan bahagia tergambar jelas juga di wajah Cinta. Iman dan Cinta saling melemparkan senyum, saat kedua manik mereka saling beradu pandang. Restu Papa dan juga Bunda sudah terlebih dulu mereka dapatkan. Kini, mereka hanya tinggal banyak memanjatkan doa, agar Allah mewujudkan harapan mereka untuk kelak bisa bersatu.


__ADS_2