
Iman menghentikan laju motor tepat di depan gerbang rumahnya. Dia turun dari atas motor dengan lunglai, lemas, bagaikan tak bertenaga. Sebelum membuka pintu gerbang, Iman mengeluarkan ponsel dari saku celana seragamnya, bermaksud mengecek, kalau-kalau ada chat atau panggilan dari Cinta. Iman menghela napas berat, sebab ponselnya sepi, tak ada notifikasi apa pun. Sama seperti saat Iman masih menjadi jomlo.
Cinta, kamu sudah sampai ke rumah? Apa yang kamu lakukan setelah tiba di rumah? Sudahkah kamu makan siang, cuci kaki, cuci tangan, atau hanya mengurung diri dalam kamar? Maafkan Kakak, Cinta. Iman bersenandika seraya menghela napas panjang, seolah ada beban berton-ton yang tengah menghimpitnya.
Iman membuka pintu gerbang, lantas memasukkan N Max nya ke dalam garasi. Dia berjalan gontai menuju ke dalam rumah, sambil sesekali mengusap wajah dengan sebelah tangan. Setelah membuka pintu, Iman melepas sepatu dan kaus kaki, kemudian menaruhnya di rak sepatu.
“Assalamu alaikum,” ucap Iman sembari menghampiri Bunda yang sedang masak di dapur. Iman mencium takzim punggung tangan wanita terkasihnya itu.
“Waalaikum salam.” Bu Lastri berhenti mengaduk sayur sop di dalam panci yang sebentar lagi hampir matang. Wanita itu memandang Iman dengan tatapan menyelidik. “Kenapa, Man, muka kamu kusut begitu, seperti seragam yang belum disetrika aja. Kamu sakit?” Bu Lastri meraba dahi Iman.
“Nggak apa-apa, Bund.”
“Terus kenapa wajahnya sedih begitu? Bosan dengan menu sarapan yang hanya nasi goreng aja? Atau mikirin uang saku yang nggak Bunda naikkan?”
“Nggak, kok, Bund. Nasi goreng buatan Bunda sama Cinta tetap nomor wahid, sama-sama enak.” Iman menutup mulutnya dengan kedua tangan, karena sadar, barusan dia keceplosan.
“Cie, yang suka dibawain bekal. Pantesan, akhir-akhir ini, kalau disuruh sarapan suka menolak,” goda Bunda membuat bibir Iman melengkungkan sebuah senyum yang dipaksakan. Lebih terlihat seperti seringai atau sedang meringis menahan sakit. “Man, senyum aja ngirit banget. Kamu lagi ada masalah di sekolah?”
“Iman hanya lagi lapar saja, Bund, plus pusing mikirin tugas yang semakin hari semakin menumpuk, persis kayak baju kotor yang nggak dicuci selama seminggu.” Iman berusaha menyembunyikan kegalauan yang tengah melanda batinnya.
“Masa? Lebay banget, kamu, Man. Menahan lapar saja, galau sampai segitunya. Lagian, kamu itu, biasanya nggak pernah tuh, mikirin masalah sekolah. Kamu selalu menyikapinya dengan santuy,” cecar Bunda ikut-ikutan gaya bahasa anak remaja zaman now.
Iman menggaruk kepala. Rasanya, percuma mengelak, Bunda pasti tak akan berhenti mengorek keterangan darinya. Apa Iman cerita jujur aja, ya, tentang masalah yang sedang dihadapi?
“Bund, dulu Bunda pernah nggak cemburu sama almarhum Ayah?”
Pandangan Bu Lastri menerawang ke langit-langit rumah, berusaha mengingat-ingat kenangan bersama almarhum suaminya. “Bunda, ‘kan dulu dijodohkan. Nggak kenal yang namanya pacaran, langsung nikah aja. Dan, selama mengarungi bahtera rumah tangga, almarhum Ayahmu itu Islami banget, Man, persis seperti Ikhsan. Dia sangat menjaga jarak dengan lawan jenis. Jadi, Bunda nggak kenal tuh, sama perasaan cemburu, sebab almarhum sangat menjaga perasaan Bunda. Katanya, pernikahan itu sebuah jalinan yang sakral, nggak boleh dipakai main-main,” terang Bunda panjang lebar, sembari sesekali tersenyum. Kedua netra wanita itu berbinar bahagia, saat masa-masa indah dengan almarhum suami kembali berkelebatan di benaknya bagai slide film.
Iman semakin merasa bersalah, karena dia tak bisa menjaga perasaan Cinta, hingga pacarnya itu terluka karena ulahnya.
“Kenapa? Kamu sama Cinta lagi kena virus jealous?” tebak Bunda.
“Nggak, kok, Bund.” Iman masih tetap berusaha menutupi kegundahan hatinya.
“Jangan bohong. Bunda bisa membaca, kok, dari raut wajah kamu yang ditekuk tadi. Besok Bunda bikinin ayam kecap, kamu bawa ke sekolah, lengkap sama nasinya.”
“Bekal buat Iman, Bund?” tanya Iman masih tak mengerti maksud ucapan sang Bunda.
“Kamu bisa sarapan di rumah. Itu bekal maksudnya buat Cinta. Bunda yakin, dia akan luluh, asalkan kamu jelaskan dengan benar tentang kesalahpahaman yang membuat Cinta sampai terbakar api cemburu. Kurangi dulu bercandanya.”
Iman menatap sang Bunda dengan heran. Memang benar ya, hati seorang Ibu itu peka. Buktinya, walau Iman tak menjelaskan secara gamblang masalah yang menerpanya, Bunda bisa langsung menebak.
“Siap 86, Bund.” Iman sekali lagi mencium punggung tangan Bunda sembari mengucapkan terima kasih. Bagai mendapat pencerahan, Iman berjalan dengan langkah ringan menuju ke kamarnya. Sesekali terdengar bibirnya bersiul. Wajah Iman terlihat ceria kembali. Rasanya, ingin waktu cepat berlalu, agar Iman segera bertemu sang pujaan dan membuat jelas semua kesalahpahaman ini.
Bunda geleng-geleng kepala melihat tingkah anak bungsunya. “Dasar, ababil, abg labil. Begitu, tuh, kalau sedang terkena virus cinta. Sebentar terlihat sedih, tak lama kemudian senyum-senyum sendiri.”
***
Pagi ini, Iman berjalan di koridor sekolah dengan wajah yang sumringah. Bibirnya tak berhenti tersenyum. Sesekali diselingi dengan bersiul, menirukan salah satu lagu Selena Gomez, penyanyi yang masih disukainya, walau pun Iman sudah punya pacar. Tangannya memegang sebuah goodie bag yang setiap detik sambil berjalan, selalu Iman lirik isi di dalamnya. Mungkin, dia takut isinya tiba-tiba hilang, ya? Atau mungkin, Iman merasa isi di dalamnya lebih mahal daripada goodie bag nya. Saat hendak berjalan ke kelas Cinta, langkah Iman terhenti, karena terdengar suara Gilang memanggilnya dari kejauhan.
“Man! Tunggu!” teriak Gilang sembari menghampiri Iman setengah berlari. “Mau ke mana elo?” tanya Gilang dengan napas terengah-engah setelah dia berada di dekat Iman.
“Elo kepo aja! Biasa, gue mau ketemu yayang gue.”
“Yayang yang mana dulu, nih? Yang di kelas X atau kelas XI?”
“Elo nggak asyik, Lang. Sejak lihat gue ngobrol sama Chilla, elo julid melulu ke gue.”
__ADS_1
“Gimana gue nggak julid, gue udah peringatkan elo. Tapi elo nya bandel. Tuh, gara-gara mikirin elo, Cinta masuk rumah sakit!” seru Gilang berusaha menekankan ucapannya pada kalimat terakhir, agar Iman menyadari kesalahannya.
Iman terperanjat mendengar ucapan Gilang. Goodie bag di tangannya sampai bergetar mendengar sang pujaan dirawat di rumah sakit. Dia sudah tak peduli dengan isi goodie bag nya, mau tumpah atau jatuh, tak peduli. Yang penting sekarang, dia harus tahu keadaan Cinta, karena Iman lah penyebab utama kesehatan Cinta drop.
“Yang bener, Lang?”
“Iya, gue dapat kabar kemarin dari Naya. Buktinya, Pak Baratha tak hadir hari ini.”
“Cinta dirawat di mana, Lang?”
Setelah Gilang memberitahukan nama rumah sakit tempat Cinta dirawat, di benak Iman tak terlintas hal apapun, kecuali segera menemui Cinta untuk mendengar kabar tentang kondisi terbaru pacarnya. Bergegas Imam berlari menuju ke gerbang sekolah diiringi tatapan heran dari Gilang.
“Man, elo mau ke mana? Lima menit lagi masuk kelas!” teriak Gilang.
“Bilangin saja, gue mau nganter kucing gue yang lagi demam ke dokter hewan!” balas Iman dengan berteriak juga. Untung saja Pak Sasongko yang biasanya standby di gerbang sekolah, pagi ini, tak tampak batang hidungnya. Hingga Iman bisa dengan leluasa, menuju parkiraan sekolah, kemudian melenggang aman keluar dari gerbang sekolah dengan N Max kesayangannya.
“Heu, Ibro, ada-ada saja.” Gilang geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah sahabatnya. “Good luck, Man!” teriak Gilang memberi Iman semangat. Tak lama kemudian, Gilang melanjutkan langkahnya menuju ke kelas XI, sebab suara bel tanda masuk telah terdengar dengan nyaring.
***
Iman perlahan membuka pintu kamar rawat nomor 305. Dia dapat melihat jelas sosok cantik dengan wajah pucatnya terbaring lemas di atas kasur. Cewek itu tengah memandangi pemandangan luar rumah sakit dari balik jendela dengan tatapan sendu.
“Kak Iman ...,” panggil Cinta lirih mengetahui keberadaan Iman di ambang pintu.
Melihat keadaan Cinta yang demikian, Iman berusaha tersenyum, walau pun hatinya amat sangat sedih. Rasa bersalah, kembali menderanya.
“Masuk, Kak,” suruh Cinta dengan suara lemah.
Iman mengangguk dan melangkah masuk ke dalam. Iman berjalan mendekat, mengambil kursi di dekat kasur Cinta. Mereka berdua diam tak bersuara, membuat suasana di kamar itu hening.
“Kak Iman, sengaja bolos sekolah?” tanya Cinta memecah keheningan.
“Papa pulang dulu, ngambil baju ganti Cinta. Kakak beneran bolos?” tanya Cinta lagi memandang wajah Iman dengan tatapan menyelidik.
“Maaf, Cinta. Kakak terpaksa bolos, karena panik mendengar kamu dirawat. Cinta sakit apa?” tanya Iman sambil menaruh tasnya di bawah.
“Sakit hati,” jawab Cinta dengan suara yang masih lemah.
“Sakit hati? Liver? Kok nggak ada tanda-tanda kuning kayak koleksi Minion kamu?"
“Lucu?”
"Maaf." Iman menggeleng, kemudian memandang wajah pacarnya dengan tatapan iba.
Cinta mendengus pelan, lalu terdiam. Di benaknya terbayang kembali Iman yang sedang tertawa-tawa mengobrol berdua dengan cewek cantik di kelas XI dan taman belakang sekolah. Cinta menghela napas berat. Dia memegangi perutnya yang terasa perih kembali.
“Cinta, kenapa?” tanya Iman dengan nada khawatir melihat raut wajah Cinta yang seketika berubah.
“Cinta takut.”
“Takut? Takut apa, Sayang?"
“Kak Iman pergi ninggalin Cinta, dan pacaran sama cewek itu,” jawab Cinta, mengungkapkan kekhawatiran.
Iman menelan saliva, kini giliran dia yang dibuat terdiam. Iman memandangi wajah pucat Cinta dengan perasaan bersalah yang semakin besar. Maafkan Kakak, Cinta, sudah membuatmu sesakit ini.
“Cinta, maaf ....” Iman menghela napas berat. Dia meraih jemari Cinta dan menggenggamnya erat. “Maaf, karena ulah Kakak, kamu jadi tersiksa begini. Seharusnya Kakak menjelaskan semuanya dari awal. Soal Chilla ....”
__ADS_1
“Oh, jadi nama cewek itu Chilla?” Cinta memotong ucapan Iman. Dia mendengus sebal saat Iman menyebut nama cewek itu. “Kakak suka sama dia?”
“Nggak, Cinta.”
“Bohong! Buktinya, Kakak terlihat nyaman ngobrol sama dia.”
Iman semakin mengeratkan genggamannya. “Cinta, Kakak nggak suka Chilla, Kakak sukanya cilok bumbu kacang. Terus, rasanya lebih enak kalau dimakan sepiring berdua bareng kamu."
Iman tersenyum senang melihat Cinta mulai bisa tertawa, walaupun hanya sedikit.
“Cinta, dia itu ngobrol dengan Kakak karena dia suka sama Kak Ikhsan. Dia minta Kakak yang jadi comblangnya.”
“Terus, pasti Kakak mau, ‘kan? Lama-lama, dia sukanya sama Kakak.”
“Nggak, Cinta. Kakak suruh dia berusaha sendiri. Lagipula, Kakak cerita, kok, kalau Kakak itu pacarnya kamu.”
Cinta tersipu malu, membuat wajah pacarnya meronta memancarkan aura cantiknya. Iman tak mampu menahan gemasnya, lantas menjawil lembut pipi Cinta. Cewek itu semakin tersipu.
“Kakak janji ya, jangan dekat-dekat lagi sama dia. Kalau sampai Cinta lihat Kakak berduaan lagi sama dia, maag Cinta bakal mendadak kambuh lagi.”
“Iya, Sayang, Kakak janji.”
“Beneran?”
Iman mengangguk mantap. Melihat hal itu, bibir Cinta melengkung membuat sebuah senyuman. Iman menghela napas lega.
“Oh, iya. Ini ada titipan dari calon mertua buat kamu, titipan ini harus sampai di tangan Cinta tanpa mengurangi isinya. Sampai-sampai Kakak diancam sakit perut, lho, kalau berani-berani memakannya.” Iman mengeluarkan goodie bag berwarna cokelat dari dalam tas, kemudian memberikannya pada Cinta.
“Wah, apa ini?” Cinta mengamati goodie bag yang sudah berpindah ke tangannya dengan mata berbinar. Cinta mengeluarkan isinya dan dia semakin terlihat berbinar bahagia. “Wah, ini dari Bunda? Bilang makasih ya, ke Bunda.” Cinta menaruh kotak bekal itu di atas lemari pasien bedside cabinet di samping tempat tidurnya.
Iman mengangguk. “Cinta, cepat sembuh ya. Kakak kangen, udah lama nggak pulang bareng.”
“Iya, Kak. Ya, udah, Cinta tidur dulu, ya, Kak. Biar segera pulih.”
“Iya, Cinta, kamu istirahat. Jangan banyak pikiran dan jangan telat makan.”
“Tapi, Kakak di sini aja. Jangan ke mana-mana.”
“Iya.”
Cinta menutup kedua matanya perlahan, mengistirahatkan badan. Akhirnya, keresahan yang dirasakan Cinta sedikit berkurang. Hatinya tak lagi segalau kemarin-kemarin. Kehadiran Iman memulihkan energinya yang sempat hilang. Iman memandangi Cinta yang tampak mulai terlelap.
“Kak Iman!”
Iman terlonjak kaget, sebab Cinta tiba-tiba saja membuka mata dan meneriakkan namanya. “Apa?”
Cinta memandang Iman dengan tatapan menyelidik. “Kakak jangan punya pikiran ngeres, ya. Mentang-mentang Cinta lagi tidur, dan nggak tahu apa-apa, Kakak diam-diam mau cium Cinta.”
Iman melongo sekaligus bingung. Ini cewek gue kenapa, ya? Untung aja gue sayang.
“Nggak, Cinta. Pikiran Kakak udah disapu bersih, nggak ngeres, kok.”
“Tapi, bener, ya. Kak Iman nggak boleh cium, Cinta!”
“Iya, tidur Cinta Lintang Larasati,” perintah Iman lembut sembari mengelus puncak kepala Cinta yang tertutup jilbab merah muda.
Cinta menurut, kemudian kembali memejamkan kedua matanya. Iman menunggu Cinta sampai benar-benar terlelap. Iman memperhatikan Cinta lekat. Kedua netranya tak lepas memandangi paras cantik Cinta.
__ADS_1
Iman tersenyum sekaligus merasa bersyukur dalam hati. Dia lega, melihat Cinta baik-baik saja. “Get well soon, my Snow White.”
Ingin rasanya jemari Iman mengelus lembut pipi Cinta. Namun Iman mengurungkan niatnya, karena khawatir timbul kegaduhan di rumah sakit ini akibat Cinta yang akan meneriakkan lagi namanya seperti tadi.