
Senin pagi yang cerah, Iman berjumpa kembali dengan Cinta. Cewek cantik itu melambai dan tersenyum manis ke arah Iman. Hati cowok itu berdesir, mengapa di saat ia akan mengambil keputusan, cewek itu malah terlihat semakin mempesona? Dengan perasaan yang tak menentu, Iman menghampiri Cinta.
Duh, kok dia makin cantik, ya? Kayak barbie hidup pakai hijab, gumam Iman setelah dia berdiri tepat di hadapan Cinta.
Iman mengamati setiap inchi pesona yang dipancarkan Cinta lewat keindahan wajahnya. Iman merasakan debaran di dadanya kian berpacu. Iman salah tingkah saat manik matanya beradu dengan Cinta, membuatnya tidak berani menatap balik Cinta. Iman lantas memalingkan wajah ke arah lapangan sekolah yang masih belum terlalu ramai.
“Cinta ....”
“Kak Iman ....”
Iman dan Cinta tertawa, karena tanpa sengaja menyebut nama mereka bersamaan. Keduanya saling tersipu malu.
“Kita sehati, ya, Cinta? Ngomong aja bisa barengan,” ujar Iman sembari berusaha menutupi kegugupannya.
Cinta mengangguk, sambil masih tersipu malu. “Kakak aja duluan yang ngomong.”
“Ladies first, dong, monkey last." Iman menunjuk wajahnya. "Cinta duluan.”
“Kak Iman aja. Yang mau Cinta sampaikan nggak terlalu penting, kok.”
“Oke.” Iman menyetujui usulan Cinta. Dia memandang lekat wajah Cinta, lalu menghela napas berat.
Duh, gue, sanggup, nggak ya, mengatakan semuanya? batin Iman lirih.
“Kak, dikasih kesempatan malah diam?” tanya Cinta memecah keheningan. Dia menatap Iman dengan pandangan menyelidik. Cinta dapat menangkap, ada kegelisahan yang sedang berusaha disembunyikan Iman.
“Eh, iya, maaf.” Iman gelagapan. “Nanti sore, Pak Baratha ada di rumah, nggak?”
“Kalau nggak ada rapat, Papa pasti diam di rumah, Kak. Memangnya kenapa Kakak nanyain Papa?”
“Kakak boleh, ‘kan silaturahmi?” tanya Iman hati-hati, khawatir Cinta menolak.
“Boleh, banget, Kak. Cinta tunggu ya.” Kedua mata Cinta berbinar indah. Iman menangkap, ada binar bahagia terpancar di sana. Iman menelan saliva. Rasanya, tak tega merusak binar bahagia itu dengan hal yang akan disampaikannya nanti sore.
“Lho, kok, bengong? Cinta kasih izin, ekspresi Kakak malah biasa-biasa aja. Kakak maunya Cinta nolak?” cecar Cinta heran melihat raut wajah Iman yang datar.
“Masa Kakak harus teriak, gitu? Bisa geger satu sekolah ini?”
Cinta tertawa. “Ya, udah. Sana, masuk, kelas, udah bel. Nanti istirahat, kita ke taman belakang sekolah, ya.”
“Iya,” jawab Iman singkat, lalu berjalan gontai menyusuri koridor sekolah menuju ke kelas XI. Perasaan Iman semakin galau dan didera keraguan. Sanggupkah dia mengakhiri hubungan dengan Cinta, demi kebaikan mereka berdua? Iman benar-benar bingung. Di satu sisi nasihat sang Bunda ada benarnya, tapi, di sisi lain, dia tak rela melihat Cinta terluka.
“Kenapa, elo, Man? Kusut begitu? Ada masalah lagi sama Cinta?” tanya Gilang melihat wajah Iman ditekuk.
“Bilang putus secara baik-baik, gimana ya caranya?”
Gilang tersentak mendengar pertanyaan dari Iman. Ada kegalauan yang Gilang tangkap dari raut wajah yang ditunjukkan Iman.
“Elo bercanda, ‘kan? Baru aja kemarin-kemarin elo bilang udah baikan, sekarang nggak ada hujan nggak ada angin, elo malah nanya caranya putus. Heran gue. Cari tutorialnya di Youtube, atau tanya Mbah Google."
__ADS_1
Iman mengacak-acak rambutnya frustrasi. “Gue juga bingung, Lang. Bunda minta gue mempertimbangkan lagi hubungan pacaran ini, tapi, gue juga nggak bisa ngelepas Cinta begitu saja. Gue udah terlanjur sayang.”
Gilang menatap iba ke arah Imam, sambil menepuk-nepuk pundaknya. Dia merasa kasihan, dengan jalan cinta rumit dan berliku yang harus dihadapi Iman. Sebagai sahabat, Gilang tahu betul bagaimana perjuangan Iman, dari mulai sulitnya meluluhkan hati Cinta. Giliran sudah dapat, Iman malah harus menghadapi hal yang lebih sukar lagi.
“Sabar, Man. Semoga ada jalan keluar terbaik.”
Iman tak menghiraukan kata-kata penghibur dari Gilang. Dia memandang ke arah luar kelas dengan tatapan hampa, membuat Gilang semakin prihatin dengan nasib sang sahabat.
Dua pelajaran sebelum jam istirahat, dilalui Iman tanpa satu pun yang membekas di ingatannya. Dia sama sekali tak dapat mengingat semua penjelasan dari guru selama empat kali sembilan puluh menit tadi yang dilaluinya di dalam kelas. Kini, Iman tengah duduk di bangku taman belakang sekolah dengan perasaan yang tak karuan.
Biasanya, di jam istirahat seperti ini, detik-detik menanti kehadiran Cinta, adalah momen yang paling membuatnya bahagia dan sangat ditunggu-tunggu. Namun, entah mengapa, kali ini Iman merasa hatinya malah tak tenang.
“Kak Iman.” Suara lembut Cinta membuyarkan Iman dari lamunannya. Iman sampai tak menyadari, kalau Cinta sudah berdiri di hadapannya. Cinta tersenyum manis sambil memperlihatkan kotak bekal berwarna biru di tangannya. “Nasgor telur ceplok, yuk makan.” Cinta duduk di samping Iman, lantas membuka tutup kotak itu. Dia mengeluarkan dua sendok makan. Satu sendok, dia berikan pada Iman, dan sendok yang lainnya Cinta pegang.
“Kak, kok diem, aja? Bosan ya, hampir setiap hari dibawain nasgor?” tanya Cinta heran melihat Iman yang hanya bengong saja, tak kunjung menyendok nasi gorengnya. Dia sedari tadi hanya diam sambil memegang sendok.
“Eh, nggak, kok, Cinta. Ini Kakak makan.” Iman tersentak, lalu mulai menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Iman mengunyahnya pelan-pelan.
“Kak Iman, kok diem aja? Kakak sakit?” tanya Cinta memecah keheningan yang tercipta di antara mereka.
“Gue, eh, Kakak lagi sariawan,” jawab Iman sekenanya.
“Kurang vitamin C itu.”
“Iya, Cinta, kurang vitamin Cinta,” canda Iman berusaha mencairkan kekakuan.
“Jinak? Memangnya Kakak hewan peliharaan Cinta?”
“Bukan, tapi sosok yang mengisi hati Cinta.” Cinta meraih jemari Iman dan menggenggamnya. “Walau pun Cinta merasa Kakak sedikit berubah, tapi Cinta harap perasaan Kakak masih tetap sama.” Cinta semakin mengeratkan jemarinya yang bertautan dengan jemari Iman.
Iman menelan saliva mendengar ucapan Cinta. Sepertinya, akan sulit bagi Iman untuk mengakhiri hubungan ini. Kok jadi nggak rela untuk berpisah, ya? Kepala Iman semakin pening memikirkan hal ini.
***
Iman mematut dirinya di depan cermin. Kali ini, dia berdandan lebih rapi, hingga terlihat formal. Iman yang biasanya ke mana-mana memakai kaus, kini lebih memilih mengenakan kemeja, agar terkesan lebih resmi. Rencananya, sore ini, dia akan bertandang ke rumah Cinta untuk menemui Pak Baratha. Walau pun hati kecilnya masih meragu, tetapi atas desakan sang Bunda dan Kakaknya, Iman berusaha untuk membulatkan tekad.
Dengan diiringi basmallah, Iman meluncur dengan N Max nya meninggalkan rumah menuju ke kediaman kepala sekolahnya yang jaim itu.
Sepanjang perjalanan, Iman merasakan detak jantungnya semakin kencang. Mulutnya komat-kamit memanjatkan doa, supaya lancar mengutarakan maksud kedatangannya pada Pak Baratha. Iman membayangkan, saking groginya, mungkin akan ada momen di mana dia pingsan di depan kepala sekolah. Semoga saja tak sampai terjadi. Rasa malunya akan berlipat, mengingat hal itu terjadi di depan Cinta. Entah apa yang ada dalam benak Cinta juga Pak Baratha, kalau sampai hal itu terjadi.
Pukul 16.00 tepat, Iman tiba di rumah Cinta. Dia memberhentikan motornya tepat di gerbang rumah Cinta. Iman melayangkan pandangan ke arah garasi. Kedua telapak tangan Iman mendadak terasa membeku melihat mobil Pak Baratha terparkir di dalam garasi.
Duh, baru lihat mobilnya aja, udah salting begini. Gimana kalau berhadapan langsung sama orangnya? Gue bakalan pingsan, nggak, ya? batin Iman lirih.
Dia mengamati wajahnya melalui kaca spion, khawatir di sana ada sesuatu yang mengurangi aura kegantengannya.
Ini kali, ya, yang dirasakan Cinta waktu gue ajak ketemuan sama Bunda? Deg-degannya lebih-lebih dari pas gue nyatain ke Cinta.
Cinta yang sudah sangat kenal dengan suara deru motor Iman, tampak gelisah, menyadari kalau cowok itu sudah berada di depan gerbang rumahnya.
__ADS_1
Duh, ternyata Kak Iman menepati janji. Kira-kira, apa yang akan dia sampaikan ke Papa, ya? batin Cinta gelisah.
Hatinya diliputi perasaan tak menentu. Dia melirik sang Papa yang sedang membaca surat kabar di ruang tengah sembari menikmati secangkir kopi. Cinta lalu duduk di samping sang Papa, sambil sesekali mengarahkan pandangannya ke luar rumah. Pak Baratha menghentikan kegiatan membacanya dan menaruh surat kabar di atas meja.
“Cinta, kenapa seperti orang bingung begitu?”
“Ini, Pa, Kak Im ....”
Kalimat Cinta terpotong oleh suara ketukan pintu dan salam yang diucapkan seseorang dari luar sana. Bergegas Cinta menuju ke depan, hendak membuka pintu.
“Pantas saja, kamu dari tadi dandan rapi. Ternyata ada yang bakal bertamu ke sini.”
Semburat merah jambu menghiasi wajah Cinta mendengar candaan yang dilontarkan Pak Baratha. Cinta perlahan membuka pintu rumah. Hatinya bersorak riang karena cowok yang dinanti kini berdiri di hadapannya. Iman dan Cinta tampak salah tingkah.
“Cinta ....”
Netra Iman menatap lekat sang pujaan yang tampak begitu anggun dengan setelan muslimah biru langit. Namun, buru-buru dia beristigfar dan memalingkan pandangan ke arah lain, tepatnya ke bunga-bunga yang ditanam di dalam pot dan diletakkan berjejer rapi di teras rumah Cinta.
“Masuk, Kak. Papa, ada, kok.”
Iman dan Cinta melangkah mendekat ke ruang tengah, tempat Pak Baratha sedang duduk santai di atas sofa. Iman mencium takzim punggung tangan Pak Baratha, lantas duduk di hadapan Pak Baratha. Sementara Cinta berjalan ke dapur, hendak mengambil minuman dan camilan.
“Pak, apa kabar?”
“Eh, Iman. Alhamdulillah, baik. Tadi juga, kita ketemu di sekolah.”
Iman menunduk, tak berani menatap Pak Baratha. Kecanggungan terlihat jelas di antara keduanya. Tak berapa lama, Cinta muncul membawa nampan berisi tiga gelas sirup rasa jeruk, dan beberapa camilan di dalam stoples. Dia menaruh semuanya di atas meja, lalu Cinta duduk di samping sang Papa. Dalam hati Cinta bertanya-tanya dan penasaran dengan hal yang akan Iman sampaikan.
“Ayo, Man, silahkan diminum,” tawar Pak Baratha.
Iman mengangguk, lantas meneguk sedikit sirup jeruk untuk mengurangi ketegangan yang tengah bergejolak dalam hatinya.
“Maaf, Pak. Kalau kedatangan saya ini mengganggu Bapak yang sedang santai,” ujar Iman dengan terbata-bata.
“Nggak mengganggu, kok, Man. Jangan guru saja yang home visit. Sekali-sekali gantian, lah, muridnya yang berkunjung.”
“Terima kasih, Bapak sudah welcome sama saya.” Iman terharu dengan sambutan hangat Pak Baratha padanya yang bertamu sore ini. “Bapak, tahu, ‘kan kalau saya sama ....”
“Iya, Bapak tahu kamu akhir-akhir ini dekat dengan Cinta,” potong Pak Baratha, membuat Iman semakin tegang.
“Justru itu, saya kemari ingin bersilaturahmi sama Bapak. Karena, kata almarhum kakek saya, lelaki yang baik adalah yang berani datang ke rumah dan menemui orang tua sang pacar.”
Pak Baratha manggut-manggut. Pria paruh baya itu pernah mendengar kalimat itu dari mulut Lastri, mantan pacarnya sewaktu SMA.
“Bapak senang, kamu dekat sama Cinta, Man. Walau kamu di sekolah sering kena hukuman, tapi Bapak yakin kamu lelaki yang baik, mampu menjaga Cinta.” Pak Baratha diam sejenak, menghela napas, kemudian melanjutkan ucapannya. “Bapak sangat sayang pada Cinta. Bapak yakin, kamu nggak bakalan menyakiti hati Cinta. Untuk itu, Bapak minta, kamu jaga Cinta, ya.” Pak Baratha meraih gelas dari atas meja, kemudian meneguknya hingga isinya tersisa tinggal separuh. "Tapi, Bapak berpesan, pacarannya jangan kebablasan. Jadikan pasangan kalian itu moodbooster dan support system. Bapak yakin, kalian pasangan yang klop, yang bisa saling mendukung. Bapak udah lihat, kok, buktinya. Kamu, Man sudah jarang dihukum. Dan, Cinta, terlihat lebih berseri-seri. Bahagia, dia."
Deg. Iman menelan saliva. Seharusnya dia senang mendengar ucapan Pak Baratha yang berarti memberi lampu hijau pada hubungannya dengan Cinta. Namun, nasihat sang Bunda kembali terngiang, membuat ganjalan di hatinya kian terasa. Ambyar sudah, semua kata-kata yang telah Iman susun di rumah. Dia melirik ke arah Cinta. Kedua netra cewek itu berbinar bahagia, membuat perasaan Iman semakin tersiksa.
Waduh, kalau kayak gini, gue sama Cinta harus backstreet dari Bunda juga Kak Ikhsan, gumam Iman lirih.
__ADS_1