
Hari Sabtu, tepatnya tanggal 14 Desember 2019, adalah pembagian raport semester ganjil sekaligus penutupan Porseni dan pengumuman pemenang lomba-lomba. Sebuah panggung berukuran besar telah dipasang di tengah-tengah lapangan sekolah, karena acara ini akan dimeriahkan oleh aneka hiburan dan pertunjukkan musik dari murid dan perwakilan guru. Kursi-kursi lipat telah disusun rapi di depan panggung. Dua baris deretan kursi paling depan, dikhususkan untuk kepala sekolah, para guru, dan para staf sekolah. Sedangkan kursi-kursi lipat yang berjejer setelahnya, khusus untuk para orang tua murid yang ingin menyaksikan acara hiburan ini, setelah mereka mengambil raport putra atau putri mereka.
Pukul delapan tepat, acara dimulai dan dibuka dengan sambutan dari Pak Baratha Yudha, selaku kepala sekolah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an oleh Ikhsan, dan ditutup dengan doa dari Pak Sajidin, guru agama di sekolah ini. Setelah pembacaan doa, kegiatan dilanjutkan dengan acara puncak, yaitu, aneka hiburan, pertunjukkan musik, diselingi dengan pengumuman pemenang lomba-lomba, sekaligus pembagian hadiah dan penghargaan bagi juara pertama, kedua, dan ketiga dari setiap perlombaan yang diselenggarakan selama Porseni berlangsung.
“Kak Gilang!” teriak Cinta setengah berlari menghampiri Gilang yang sedang berjalan di koridor sekolah. “Lihat Kak Iman, nggak?” tanya Cinta setelah berada tepat di hadapan Gilang.
“Tadi, sih, gue lihat lagi di kantin, makan batagor bareng Bundanya. Memangnya dsri tadi elo belum ketemu?”
“Belum, Kak.” Cinta mengernyitkan dahi, karena merasa heran mengapa Iman tak mengajak dia untuk bertemu dengan Bunda?
“Temui sana, di kantin. Siapa tahu masih ada.”
“Iya, deh, Kak. Nanti Cinta ke sana.”
“Ya udah, gue ke toilet dulu,” pamit Gilang sambil berlalu dari hadapan Cinta.
Bergegas Cinta menyeret langkahnya menuju ke kantin sekolah. Setibanya di sana, Cinta mendapati Iman dan Bunda tengah duduk di bangku sebelah sudut kanan kantin. Mereka tampak sedang menikmati makanan di atas piring masing-masing. Dengan hati berdebar tak karuan, Cinta perlahan mendekati mereka.
“Bunda .... Kak Iman ...,” sapa ragu-ragu.
Bu Lastri dan Iman mendongak ke arah sumber suara. Cinta mencium takzim punggung tangan kanan Bu Lastri.
“Assalamu alaikum, Bunda, apa kabar?”
“Waalaikum salam, eh, ada si Cantik. Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar?”
“Alhamdulillah baik juga, Bunda.”
“Alhamdulillah. Kamu mau makan? Bunda pesenin ya.” Bu Lastri hendak melambai ke arah penjual batagor di kantin itu. Namun, Cinta mencegahnya, hingga Bu Lastri mengurungkan niatnya.
“Nggak usah, Bunda. Cinta tadi udah sarapan di rumah, kok. Bunda sama Kak Iman lanjutkan aja makannya.”
Suasana menjadi hening. Sesekali hanya terdengar suara denting garpu yang beradu dengan piring. Cinta termenung, menatap Bu Lastri dan Iman bergantian. Rasanya ada yang berubah dari mereka. Atau mungkin ini hanya perasaannya saja?
“Gimana raportnya? Bagus?” tanya Bu Lastri pada Cinta yang sedang termenung, hingga cewek itu sedikit tersentak.
“Alhamdulillah, Bund, masuk tiga besar. Kalau nilai Kak Iman bagaimana?”
“Wah, hebat. Cinta pasti juara kelas, ya? Iman juga lumayan, ada peningkatan sedikit dibandingkan waktu kelas X,” terang Bu Lastri, kemudian diam lagi, melanjutkan makan batagornya.
Cinta merasa canggung, karena sikap Bu Lastri berubah, tidak seakrab waktu itu. Cinta mengamati wajah Bu Lastri yang sedang menyuapkan batagor ke dalam mulutnya. Lalu, pandangan Cinta beralih ke Iman. Cinta merasa, Iman pun lebih pendiam, sebab sedari tadi, cowok itu tak mengeluarkan suara sepatah kata pun. Iman hanya terpaku dengan batagor miliknya yang tersaji di atas piring. Dan Iman lebih banyak menundukkan wajahnya. Ada apa gerangan? Tidak seperti biasanya, Cinta kalau bertemu dengan Bunda dan Iman, suasananya bisa sangat santai, banyak diwarnai canda tawa. Namun, kali ini, aura yang Cinta rasakan sungguh berbeda. Mereka duduk satu meja, tetapi tak saling bicara. Suasana menjadi hening kembali, dan Cinta merasakan semakin kaku.
“Kak Iman, sebentar lagi pengumuman pemenang lomba. Kakak mau lihat? Siapa tahu Kakak juara,” ujar Cinta memecah keheningan.
“Oh, eh, iya.” Iman gelagapan. Garpu yang dipegangnya jatuh ke piring. Imam menatap Cinta dan Bundanya bergantian. “Bund, Iman sama Cinta ke sana dulu, ya. Boleh?” Jari telunjuk Imam menuding ke arah panggung.
“Iya, boleh. Nanti Bunda nyusul. Ingat, jangan berdua-duaan. Nenek bilang itu berbahaya, hey.” Bu Lastri bersenandung, menirukan penggalan lirik lagu Titik Puspa yang melegenda.
__ADS_1
“Iya, Bund.” Iman mengangguk.
Cinta dan Iman lalu pamit pada Bunda dan melangkahkan kaki menuju ke lapangan sekolah, tempat panggung didirikan.
“Kak Iman, Bunda kenapa, sih? Kok, Cinta merasa sikap Bunda berubah?” tanya Cinta setelah dia dan Iman duduk di kursi lipat dekat panggung.
“Eh, nggak apa-apa, kok. Bunda cuma lagi kurang enak badan saja.” Iman berusaha menutupi hal yang sebenarnya dari Cinta.
“Bener? Bukan karena hubungan kita, ‘kan? Soalnya Cinta udah lama, lho, nggak ketemu Bunda. Kakak tidak sedang menyembunyikan sesuatu, ‘kan dari Cinta?” Cinta memandang wajah Iman dengan tatapan menyelidik. Dia berusaha menemukan kejujuran di sana.
Iman menggigit bibir dan menggaruk-garuk kepala, hal yang selalu dia lakukan kalau dia sedang dihadapkan pada situasi yang membingungkan. Iman memilih menjawab pertanyaan Cinta dengan gelengan lemah. Rasanya, Iman ingin menghindar dari situasi yang tidak mengenakkan ini. Iman menelan saliva dan memandang lekat wajah Cinta. Dia menghela napas. Tak tega rasanya membuat Cinta terluka, tapi lama-kelamaan Iman pun harus mengatakan jujur tentang permintaan sang Bunda. Entah, Iman akan sanggup berkata jujur, atau harus tetap menjalani hubungan dengan Cinta dan bermain kucing-kucingan dengan Bunda?
Untunglah, tak lama kemudian Iman diselamatkan dari situasi canggung dan sejumlah pertanyaan Cinta yang menderanya, saat indera pendengaran Iman menangkap namanya disebut sebagai juara pertama lomba membaca puisi.
“Cinta, Kakak naik ke atas panggung, dulu, ya. Nanti dilanjutkan lagi ngobrolnya.”
Iman berjalan meninggalkan Cinta dan naik ke atas panggung. Setelah Iman menerima hadiah dan piagam penghargaan, Iman turun dari panggung, lalu kembali menghampiri Cinta.
“Kak Iman, selamat, ya. Apa Cinta bilang, Kakak pasti juara.” Cinta mengulurkan tangannya pada Iman dan mengucapkan selamat dengan mata yang berbinar. “Cinta bangga punya pacar berbakat kayak Kakak.”
Iman tersenyum kecil, lantas menerima uluran tangan Cinta. “Terima kasih, Cinta.” Iman menyodorkan piagam dan hadiah yang diterimanya pada Cinta. “Nih, simpan, ya. Buat kamu.”
“Lho, itu, ‘kan hadiah sama piagam punya Kakak.”
“Nggak apa-apa. Simpan saja di rumah Cinta, biar Cinta suatu saat bisa mengenang pernah punya pacar yang membacakan puisi buat ceweknya dalam perlombaan, lalu dia jadi juara.”
Iman dan Cinta kompak tertawa. Namun, tak lama kemudian, tawa mereka berhenti, karena tiba-tiba saja Bu Lastri sudah berdiri di samping Iman.
“Man, sudah selesai, ‘kan? Ayo, pulang. Ikhsan udah nunggu di rumah. Bunda belum masak, kasihan dia nanti lapar.” Bu Lastri menggamit lengan putra bungsunya, seraya mengajak Iman meninggalkan sekolah.
“Tapi, Bund, Iman pulang bareng Cin ....” Iman memandang wajah Cinta dan Bunda bergantian. Dia benar-benar tak tahu harus bagaimana berhadapan dengan situasi membingungkan seperti ini. Iman merasa tak enak dengan Cinta, yang kelihatan air muka cewek itu langsung berubah muram itu.
“Man, Cinta bisa pulang sama Pak Baratha, iya, 'kan Cinta? Nggak apa-apa kalau Bunda sama Iman pulang duluan?”
“I .... Iya, nggak apa-apa Bund. Hati-hati.” Cinta mencium punggung tangan Bunda.
“Kamu jaga diri ya, Cinta. Jangan sampai wajah cantik kamu dirusak dengan hubungan yang tak halal. Jaga diri dan kehormatanmu, hanya untuk pasangan halalmu kelak,” ujar Bunda sembari mengelus-elus lembut punggung Cinta. “Bunda pulang duluan, ya. Yuk, Man. Assalamu alaikum, Cinta.”
“Waalaikum salam.” Cinta menjawab pelan dan lemah salam Bu Lastri. Pandangannya sedikit mengabur oleh bulir bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Cinta menelan saliva, lantas memandang kepergian Iman dam Bu Lastri dengan tatapan getir.
“Maaf, Cinta,” ujar Iman lirih sambil terus memandang ke arah Cinta dengan tatapan iba, mendapati netra Cinta mulai berkaca-kaca. Iman sangat ingin menyeka air mata itu, namun, apa daya, sang Bunda telah mengungkungnya.
Setelah Iman dan Bu Lastri menghilang dari pandangan, tangis Cinta pecah. Bergegas dia berlari ke toilet. Sesampainya di sana, Cinta menaruh piagam dan hadiah pemberian Iman di samping wastafel, kemudian dia membasuh wajahnya agar tak ada satu pun yang tahu kalau dia habis menangis.
Apa karena Papa pernah marah sama Bunda, hingga sikap Bunda berubah dan nggak mau merestui hubungan Cinta sama Kak Iman? batin Cinta lirih, membuat rinai bening kembali terjun bebas membasahi pipinya.
***
__ADS_1
“Kamu masih pacaran sama Cinta?” tanya Bunda menyelidik setelah mereka berada di dalam mobil grab.
“Ma .... Masih.” Iman menjawab dengan ragu dan terbata-bata. Dia menunduk, tak berani menatap wajah sang Bunda.
Bu Lastri menghela napas. “Sampai kapan kalian akan terus menumpuk dosa? Kamu nggak tega berpisah dari Cinta? Takut Cinta sakit hati?”
“I ... Iya, Bund. Iman nggak mau lihat Cinta terluka, sakit karena keputusan Iman.”
“Man, lebih baik sakit hati, daripada kelak sakit disiksa di neraka. Kalau kamu benar-benar sayang sama Cinta, kamu seharusnya tahu keputusan yang paling tepat yang harus kamu ambil. Bunda juga sayang sama Cinta, makanya Bunda nggak mau lihat kalian pacaran yang hanya akan membuat kalian terus mendekati zina. Coba, ajak Cinta ikut kajian, Bunda yakin dia akan mengerti. Belajarlah dari Ikhsan, lebih dekat dengan Islam, hati kalian pasti akan lebih tenang.” Bu Lastri menasihati Iman panjang lebar, sembari mengelus-elus punggung putra bungsunya itu. Wanita itu berharap, mumpung mereka masih muda, semoga saja hati Cinta dan Iman terbuka untuk menerima hidayah dari-Nya.
Tiba di rumah, Iman langsung masuk ke kamar dan merebahkan badannya di atas kasur. Pikirannya benar-benar kalut dan perasaannya menjadi tak menentu saat benaknya berkelana pada Cinta. Iman mengeluarkan ponsel dari saku celana seragamnya, kemudian melakukan panggilan. Dari seberang sana, terdengar suara ringtone lagu Semesta milik Iqbaal Ramadhan, membuat hati Iman semakin tersayat.
“Ha .... Hallo, Cinta. Maafkan Kakak,” ujar Iman terbata-bata dengan suara yang bergetar setelah Cinta menerima panggilannya.
“Kenapa Kakak bohong sama Cinta? Kenapa nggak bilang jujur? Benar saja, yang Cinta rasakan, ada yang Kakak sembunyikan dari Cinta.”
“Maaf, Sayang, Kakak bingung.”
“Apa Bunda benci sama Papa juga Cinta? Gara-gara Papa pernah marahin Bunda?”
“Bukan itu, Cinta. Untuk hal itu, Bunda sudah melupakannya dan sudah memaafkan.”
“Terus kenapa, Bunda kayak yang nggak setuju kita pacaran? Padahal, dulu merestui,” cecar Cinta di sela-sela isak tangisnya.
“Bunda sayang banget sama Cinta, Kak Iman juga sayang sekali sama Cinta.” Iman menghela napas. “Cinta jangan merasa sakit hati, atau salah mengerti. Kalau Cinta terluka, Kakak yang paling merasakan sakit.”
“Apa yang salah dengan perasaan kita, Kak?”
“Jangan nangis, Cinta. Kakak paling nggak kuat lihat Cinta sedih.” Iman menelan salivanya, bingung bagaimana harus menjelaskannya. “Tak ada yang salah dengan perasaan kita, Cinta. Perasaan suka, cinta, dan sayang, itu fitrah yang Allah anugerahkan kepada setiap makhluk-Nya.” Iman diam sejenak, mengambil napas, kemudian melanjutkan bicaranya. “Begini, aja, deh. Besok kita jalan-jalan, yuk. Sekalian mewujudkan rencana kita untuk tukeran kado itu, lho.”
“Iya, Kak. Besok jemput Cinta jam sembilan. Tapi, Kakak janji menjelaskan semuanya, jangan ada yang disembunyikan.”
“Iya, Cinta, Kakak janji. Tapi, Cinta juga janji jangan nangis lagi. Kakak hitung sampai tiga, ya. Satu, dua, tiga. Senyum.”
“Iya, Cinta udah senyum, kok. Sampai besok, Kak Iman. Cinta tunggu, ya. Cinta udah siapkan sesuatu buat Kakak.”
“Iya, Kakak juga punya sesuatu buat Cinta.”
Iman mengelus boneka Minion yang waktu awal-awal mereka jadian, Cinta pernah sangat ingin membelinya.
Kemudian, pandangan Iman beralih pada sebuah kotak merah muda berukuran mungil di atas meja belajar. Iman berencana akan memberikannya pada Cinta bersamaan dengan boneka Minionnya besok, sebagai isi kado dia untuk Cinta. “Cinta, Kakak sayang banget sama Cinta. *Keep smile, my Snow White.”
“Iya, Kak. Cinta juga sayang banget sama Kakak. See you tomorrow*.”
Klik. Cinta mengakhiri panggilannya. Iman kembali menjatuhkan badannya di atas kasur. Dia memandang hampa ke langit-langit rumah. Iman berharap, esok akan menjadi pertemuan yang manis antara dirinya dan Cinta. Semoga saja, besok tak menyisakan luka dan rasa saling benci, tetapi rasa lega serta ikhlas menerima, juga tetap sama-sama bisa menjalani hidup dengan bahagia.
Maafkan Kakak, Cinta. I really love you, but I have to do this .... Hope you’ll understand what I mean, batin Iman lirih. Tak terasa, kedua netranya berkaca-kaca, saat bayang wajah cantik Cinta berkelebatan.
__ADS_1