
Rania tidak membalas pesan WhatsApp dari Doni.
"Ran... kamu pasti kecewa".Doni bergumam dalam hati.
tok tok tok... suara ketukan pintu dari luar kamar Doni.
"Don,,, kamu harus jelasin semuanya ke mama". Mama Gina ingin menuntaskan permasalahan anaknya dengan Rania.
Doni pun membuka pintu kamarnya.
"Jelasin apa lagi ma..? udah jelas kan... Rania itu masih jadi Calon isteri belum jadi istri.
"Pokoknya mama gak setuju kamu sama gadis kampung itu..! lihat aja penampilan nya, pakai seragam kafe lagi, pasti dia pelayan kan..?". Mama Gina gak habis pikir anak laki-laki bungsu satu-satunya dekat dengan gadis biasa dari kampung.
"Mama jangan ganggu Rania, dia masih kulyah ma, Doni mohon jangan persulit kehidupan nya." Doni tahu betul karakter mamanya.
"Kamu tinggalin dia sayang, gak usah ketemu dia lagi...".Sintia memegang pergelangan tangan Doni.
"Lepas..!! kamu gak usah ngarep aku bakal terima kamu lagi, kita udah PUTUS!! kalau kamu punya malu, pergi dari rumah ku..!"Doni mengusir Sintia, lalu menutup pintu kamarnya.
"Tante.... Doni ngusir Tia tante....".Sintia memelas ke mama Gina. "Kamu sabar sayang, biar tante yang urus semua."Mama Gina.
Ternyata mama Gina mengadukan masalah Doni dan Rania ke papanya Doni.
Sehingga papa Doni mengurus persiapan study S2 untuk Doni diluar negeri. Niat mereka ingin menjauh kan Doni dari Rania.
Pagi itu, dimeja makan.
"Don, papa sudah persiapkan semua untuk pendidikan S2 mu di Singapure.
kamu harus berangkat besok sama mama."Mama Gina menyampaikan pesan dari suaminya.
"Ma, Doni memang berniat melanjutkan studi S2, tapi gak buru-buru juga ma."Doni mencoba untuk mengulur waktu.
"Kalau kamu menolak, mama dan Papa akan menghancurkan kehidupan Gadis itu." Mama Gina mengancam Doni dengan kehancuran Rania.
"Kalau kamu kulyah disingapure Don, kita bisa selalu dekat sayang, karna aku juga ada kontrak kerja musik klasik disana."Sintia bersemangat.
"Jangan Harap..!! Oke ma... aku penuhi keinginan mama dan papa, tapi jangan ganggu Rania".Doni mengalah untuk melindungi Rania.
"Bagus..!!'. Mama Gina senang Doni menyetujui keinginan mereka. Terlebih lagi, mereka bisa menjauhkan Doni dari Rania.
Malam itu, Doni mengirim sebuah pesan WhatsApp ke Rania.
*Assalamualaikum..
Rania... Aku tau kamu berfikir aku membohongi kamu soal Sintia, tapi antara aku dan Sintia sudah selesai satu tahun yang lalu, ketika ia meninggalkan aku tampa kabar.
soal mama ku, aku yakin suatu saat nanti mama dan papa ku akan menerima kamu disisi ku.
__ADS_1
Ran... bersediakah kamu menunggu ku? Aku harus melanjutkan Studi S2 ku disingapure. Aku ingin mempelajari lebih dalam lagi tentang bisnis, agar aku bisa lebih memajukan usahaku sendiri, dan aku bisa melindungi kamu dari orang-orang yang ingin menghalangi hunbungan kita.
Ran.. hanya dua tahun aku pergi.
Aku mohon tunggu aku kembali.
Aku akan menjadi kan mu isteri ku,
Aku mencintai kamu Ran...
Beri aku jawaban*...
Rania tertegun membaca pesan itu.
Sebenarnya Rania sudah mulai ingin membuka hatinya untuk Doni. Dan akhirnya Rania membalas pesan WhatsApp dari Doni.
'Walaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh...
Maaf bang Doni... aku tidak membalas pesan mu kemaren.
Abang jangan khawatir aku, aku tidak marah ke abang perihal mantan kekasih abang.
tentang mamanya Abang aku bisa apa bang kalau mama kamu tidak menyukai aku dekat dengan abang.
pergilah bang... tuntutlah ilmu sampai ke negeri Jiran, karna aku pun akan menyelesaikan study ku disini dalam waktu dua tahun lagi.
Kalau memang abang Jodohnya Rania pasti kita akan bersatu suatu hari nanti.
jadi fokus lah dengan studi kita masing-masing agar kita berhasil dimasa depan.
semoga Allah selalu melindungi kita.
Sampai bertemu lagi bang...
wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Doni pun tersentuh dengan pesan balasan dari Rania.
Akhirnya Doni pergi meninggalkan ibukota untuk beberapa tahun kedepan, sedangkan Rania fokus dikota L untuk menyelesaikan studi dalam waktu dua tahun kedepan, dan tetap bekerja dikafe untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dikota.
Sementara itu, dikediaman Dimas yang baru. Dimas membuat rumah mewah didepan Pondok pesantren yang ia bangun bersama ayahnya. Pesantren itu dikelola oleh Dimas, Adinda dan juga sahabat Dimas yang sama-sama pernah belajar diKairo.
"Aby... lihat deh.. Fatimah udah pinter maem roti."Adinda menggendong anak pertamanya, yang sedang menikmati roti untuk bayi usia enam bulan ke atas.
"Anak aby udah pinter ya..".Dimas mengambil Fatimah dari gendongan Adinda.
"Yaudah, sama Aby dulu.. Umy mau masak...".Adinda pun pergi meninggalkan Dimas dan Fatimah ke dapur.
Tetapi, pagi itu tidak disangka terjadi sesuatu kepada Adinda.
__ADS_1
Tiba-tiba ketika Adinda selesai menjemur kain Adinda kepleset air sabun sisa cucian kainnya sendiri, dan perutnya membentur tembok setinggi paha pembatas antara dapur dan tempat cucian kain.
"Astaghfirullah....". Adinda merasakan sakit yang luar biasa dibagian perutnya.
"Aby.... Aby.. tolongin...". Adinda memanggil Dimas.
Dimas datang ketika mendengar suara teriakan Adinda.
"Astaghfirullahal'azim... sayang....". Dimas meletak kan Fatimah ke stroller nya, lalu menolong Adinda.
"Kamu kenapa sayang....". Tanya Dimas panik.
"Aku klepleset by...Sakit banget perut Aku by..". Adinda kesakitan.
Akhirnya Dimas membawa Adinda kerumah sakit terdekat.
Dirumah sakit...
"Bagai mana dok keadaan isteri saya..?". Dimas menanyakan ke adaan Adinda ke dokter yang merawatnya.
"Begini pak, janin yang ada dalam rahim isteri anda tidak bisa diselamatkan." Dokter menjelaskan.
"Apa... dok, isteri saya sedang mengandung?". Ternyata Dimas dan Adinda belum mengetahui kehamilan Adinda.
"Jadi bapak dan istri belum mengetahui..?, ternyata isteri anda sedang mengandung tiga minggu pak, dan sayang nya....
"Ada apa dok..?".Dimas merasa kurang enak dengan ucapan dokter yang terhenti.
"Rahim isteri bapak mengalami kerusakan yang parah, setelah dilakukan kuret, rahimnya mengalami pendarahan yang hebat karena ada luka didinding rahimnya. Sehingga kemungkinan istri bapak akan sulit untuk mendapatkan keturunan lagi.
"MasyaAllah.... Adinda..".Dimas tidak menyangka akan separah ini akibat nya."Tapi, istri saya bisa diselamatkan kan dok?".
"Isteri anda sudah melewati masa kritisnya pak, sekarang sudah dipindahkan ke ruang perawatan." Dokter menjelaskan detailnya.
"Alhamdulillah ya Allah..., terimakasih dok sudah melakukan yang terbaik untuk istri saya.
"Sama-sama pak, semoga istri anda cepat sembuh".Dokter pun pergi meninggalkan ruangan itu.
Cobaan ini begitu menyayat hati, selain kehilangan janin yang dikandung Adinda, Adinda juga harus mendapati kenyataan sulit untuk mengandung lagi.
Saat ini mereka hanya pasrah akan takdir yang Allah berikan, tetapi mereka tetap semangat untuk mengobati Adinda. Pengobatan secara medis maupun secara tradisional.
hingga akhirnya waktu berlalu begitu cepat.
Dua tahun kemudian....
Hi... Gaes.. semangat ya bacanya...
aku usahain terus update nih😍
__ADS_1