
Saat Dimas dan Rania melanjutkan c*mbu*n panas mereka dan terdengar suara pecahan gelas dilantai. Sontak membuat kegiatan panas mereka terhenti, Dimas pun bergegas ke luar dari kamar Rania dan menyalakan lampu, ternyata Adinda menjatuhkan gelas kacanya.
"Astaghfirullahal'azim.... kamu sayang
...?". Suara Dimas yang masih dengan deru nafas memburunya.
"Maaf bi... gak sengaja kelepas dari tangan ami". Dinda menyembunyikan tangan nya yang gemetar.
Ternyata saat Dinda kedapur untuk mengambil air minum dan membawa nya kembali ke kamar. Suasana malam yang sunyi mebuat Dinda mendengar suara des*han dan kecap*n dari kamar Rania, sehingga membuat nya gemetar dan menjatuh kan gelas yang ada ditangan nya.
Dimas pun membantu Dinda membersihkan pecahan gelas itu.
"Kamu gak papa kan sayang..?". Tanya Dimas sambil menatap Dinda.
"Gak papa bi... udah masuk lagi ke kamar, ami juga mau tidur." Kilah Dinda dan pergi meninggalkan Dimas.
Rania hanya diam dikamar mendengar kan percakapan suami dan madunya.
Seolah menyadari apa yang terjadi, Rania pun pura-pura sudah tertidur ketika Dimas kembali kekamar.
"Dik... kamu tertidur... ". Dimas mengecup kening Rania dan tidur memeluk nya.
Rania hanya diam dan berusaha untuk terlelap dalam diam nya.
***
Keesokan harinya, Dimas membangun kan Rania dan ia pun pergi ke masjid.
Dinda pun melihat Rania keluar dari kamar dengan rambut terurai nya.
Pemandangan yang ia cari adalah kering atau basah nya rambut madunya pagi itu.
Sedikit rasa terobati ketika Dinda mendapati Rambut Rania kering.
Ternyata Rania memang dengan sengaja keluar kamar membawa teko dan gelas diatas nampan yang ada dikamarnya.
Tak ada yang istimewa dihari itu....
Sore itu Dimas mengabarkan pada kedua istrinya, Guru besar dikairo mengundang nya untuk menghadiri acara pertemuan para Ulama dari alumni kampus nya dari seluruh dunia di Kairo.
Hal itu membuat Dinda mengusul kan Dimas untuk membawa Rania bersama nya.
"Ajak Rania bi...". Ucap Dinda.
"Kok aku aja kak... kakak gak ikut?". Tanya Rania.
"Kakak dulu udah pernah kok diajak ke kairo sama abi, sekarang giliran kamu lah dik". Jelas Dinda.
"Kamu beneran mi..?". Dimas menatap Dinda.
"Iya abi.... biar ami yang tinggal buat jagain yayasan. Dinda melanjutkan.
"Yaudah... kalau gitu biar abi siapin semua keperluan nya." Jawab Dimas.
Rania hanya diam memperhati kan keduanya.
Dimas pergi meninggalkan kedua istrinya.
__ADS_1
"Beneran kak? gak papa aku yang pergi.. kakak gimana?".
"Iya gak papa lah dik.... jangan fikirin yang aneh-aneh... sekalian kan buat kalian honeymoon..". Dinda pun mengajak Rania tertawa dengan ledekan nya.
"Hi ihh... kakak apa an sih bahas itu". Pipi Rania bersemu merah karena malu.
***
Dirumah mama Gina....
Setiap hari Doni hanya disibuk kan oleh pekerjaan kantor nya. Perlahan ia sudah melupakan Rania akan tetapi Doni belum mau membuka hatinya.
"Doni.... sayang, kamu mau ya mama jodoh kan sama Karin...". Mama Gina merayu Doni dengan lembut.
"Ma... Doni belum mau menikah lagi, jangan jodoh-jodohin Doni ah... kayak zaman siti nurbaya aja". Kilah Doni.
"Mau sampai kapan sayang, kamu menutup hati untuk orang lain." Mama Gina tak menyerah.
"Ma... kalau mama maksa-maksa Doni buat dijodohin sama anak nya teman mama, lebih baik Doni balik ke rumah Doni". Doni pun pergi meninggalkan rumah mama nya. Ia kembali kerumahnya bersama Rania, meski pun rumah itu menyimpan kenangan yang pahit, tetapi ada tersirat kenangan manis yang menyejuk kan hatinya.
Sesampainya dirumah... Doni pergi melihat kamar nya bersama Rania.
Ia pun kembali duduk disopa ruang tamu, saat ia bersandar disopa terlintas mata nya melihat sisi tv yang ada dituangan itu.
Sesaat hati nya ingin tahu akan kebenaran yang terjadi dalam rumah tangga nya. Doni pun pergi keruang kerja nya, disana lah tempat ia bisa melihat rekaman sisi tv dirumah nya.
"Bismillahirrahmanirrahim.... ". Doni menguat kan hati, apa pun yang ia lihat, ia sudah siap menerima nya.
Doni cari rekaman enam bulan yang lalu... dan.....
Betapa terkejutnya Doni melihat mama nya datang menemui Rania membawa surat gugatan pengadilan. dan rekaman saat Doni pulang dari kota A.
Malam itu Rania bik jum dan pak satpam menyantap makanan dari mama Gina, hingga akhirnya pak satpam tertidur usai menyantap makanan itu. Sedangkan Rania tertidur disopa ruang tamu nya.
Beberapa saat kemudian sosok Hendra masuk kerumah mereka, dan mengangkat Rania yang tidur disopa ke dalam kamar mereka.
Seolah menyadari sebuah rekayasa, membuat Doni geram mengepal kan tinjunya. "Mama..!!!".
Doni pun pergi membawa rekaman sisi tv itu kembali kerumah mama nya.
Dirumah mama Gina...
"Ma....., Mama.. ". Doni tak tahan lagi.
"Kamu balik lagi nak... ada apa sayang.. kok...?". Ucapan mama Gina terpotong oleh Doni.
"Kenapa mama tega menghancurkan rumah tangga anak mama sendiri ?Rania salah apa ma? Sampai mama tega membuat siasat untuk memfitnah Rania..?". Doni memperlihat kan rekaman sisi tv yang ada diponsel nya.
"Oh, jadi kamu sudah tau". Dengan santai mama Gina menjawab seperti tampa rasa bersalah.
"Seringan itu kah jawaban mama". Doni kecewa akan sikap mama nya.
"Mama tidak sudih punya mantu dari keluarga miskin Don.., Seharusnya kamu nurut dong sama perintah mama. ini lah akibat nya kalau kamu membantah mama."Mama Gina membelalak kan matanya.
"Jadi... mama dan papa hanya berpura pura menerima Rania saat itu?, Aku gak nyangka ma....". Doni menggeleng kan kepala dengan mata berkaca.
Akhirnya Doni pun memutuskan...
__ADS_1
"Baik lah ma.. mulai saat ini, aku tidak akan pernah kembali kerumah ini lagi". Doni pun pergi meninggalkan rumah mamanya dan bergegas menuju kampung halaman Rania....
Diperjalanan Doni tak bisa diam, ia hanya mengatakan "Maaf kan aku Rania... maafkan aku sayang... "... Entah berpuluh-puluh kali ia ucap kan itu.
Dua jam kemudian Doni sampai didepan rumah ibu Rania.
Saat itu pukul 22:00... "Assalamualaikum... " Doni mengetuk pintu rumah Rania.
tok tok tok... "Assalamualaikum... bu... Rania..." Panggil Doni.
Ibu yang mendengar pun membuka kan pintu.".Kamu..?".
"Iya bu, ini Doni... ". Jawab Doni
"Mau apa kamu kesini?". Tanya ibu.
"Doni mencari Rania bu...". Jawabnya.
Ibu pun keluar dari pintu dan duduk dikursi teras rumah nya.
"Untuk apa kamu mencari Rania lagi? kalian sudah resmi bercerai..". Jelas ibu singkat.
"Doni mau minta maaf bu ke Rania, Doni udah tahu kejadian yang sebenarnya.. Rania tidak bersalah bu". Doni menangis bersimpuh disamping kursi ibu duduk." Dimana Rania bu..?".
Ibu diam sejenak... ia berusaha mengontrol emosinya bagai mana pun malam itu, Doni tega mengusir Rania dari rumah nya hingga membuat Rania terombang-ambing dijalanan dan tertabrak oleh mobil Dimas...
"Buat apa kamu mencari Rania Nak..?".
Jawab ibu tenang.
"Doni akan perbaiki semuanya bu..". Jelas Doni lagi...
"Terlambat nak.. Rania sudah menikah lagi... ". Jawab ibu terus terang.
Seketika Doni terdiam dan menatap wajah ibu, ia tak percaya akan apa yang ia dengar.
"Bagai mana bisa bu... Rania secepat itu melupakan Doni dan menikah lagi?".
"Takdir tidak ada yang tahu nak, mungkin ini rencana Allah yang terbaik untuk kalian, karena kedua orang tua mu tidak merestui hubungan kalian.
"Jadi.. ibu mohon... Nak Doni tidak usah mencari Rania lagi." Ibu pun pergi masuk kerumah meninggalkan Doni yang masih bersimpuh diteras.
Doni hanya terdiam, menangis menyesali semua yang telah terjadi.
****
Dirumah Dimas..
Rutinitas masih berjalan seperti biasa.
Malam ini Dimas tidur dikamar Dinda.
"Mi... besok abi mau ajak Rania ke kantor imigrasi, buat pasport." Dimas memberitahu Dinda.
"Iya bi... ami gak papa kok". Jawab Dinda biasa, (Mungkin akan lebih baik jika mereka pergi berdua, agar mereka tidak terganggu oleh kehadiran ku) Dinda pun terlelap.
Keesokan harinya....
__ADS_1
Hai gaes... aku up lagi nih..
Semangat ya baca nya❤️💪