Cinta Yang Kedua

Cinta Yang Kedua
35.Selamat.


__ADS_3

Tiba-tiba Rania merasa gerah..


"Bang... kok panas ya...?".


"Masa sih...?". Jawab Dimas santai.


"Bang....". Rania pun merapat kan diri nya ke Dimas.


"Kamu kenapa sayang...". Dimas pun menatap Rania, beberapa menit kemudian Dimas pun merasa gerah seperti yang Rania rasa.


Tak menunggu lama Rania mengecup bibir Dimas, sontak mendapat sentruman dari Rania Dimas pun membalas dengan menahan leher Rania.


Ciuman itu semakin dalam, mereka pun teringat ada orang lain dirumah ini, dan segera berjalan mundur masuk ke kamar mereka.


Tak lupa mengunci pintu Dimas dan Rania hanyut dalam cumbuan itu.


Beberapa menit bercumbu dan bergumul mesra menuntut perlakuan lebih.


"Kamu masih nifas sayang...". Dimas tersadar akan situasi mereka, meski Dimas sudah terbakar oleh pengaruh obat yang ada didalam teh tersebut.


Sayang nya Rania yang banyak meminum teh itu tak mampu menahan gairah nya.


"Tolong aku sayang... aku udah gak kuat...". Rania memohon pada Dimas.


"Tapi sayang.... kamu...". Ucapan nya terpotong karena Rania menyerang nya.


Meski perih Rania tak gentar untuk melanjutkan kegiatan panas mereka.


Akhir nya penyatuan pertama usai melahir kan pun terjadi sebelum ritual mandi nifas dilakukan.


Ana yang berdiri dibalik Pintu kamar Rania pun merasa kesal, rencana nya untuk menggait Dimas pun gagal.


Malah mendengar ******* demi ******* pasangan suami istri yang telah lama menahan rindu untuk bercinta.


***


"Bang... pagi ini adek mandi wajib junub dan nifas?". Tanya Rania.


Hening....


"Maaf kan abang dek... seharus nya abang bisa nahan itu". Dimas merasa bersalah akan semua yang terjadi.


"Adek yang salah bang... seharus nya adek tidak memulai nya".


Kedua nya merasa berdosa...


"Anak abi udah bangun... ". Dimas bermain sebentar dengan khafi karena ia harus bergegas menuju pondok.


"Nanti gak sarapan lagi bang..?". Tanya Rania.


"Iya, nanti abang balik kesini, kita sarapan sama-sama ya..". Dimas pun berlalu pergi.


Usai melaksanakan sholat subuh dimasjid pondok Dimas pun kembali untuk sarapan bersama.


"Sayang... seperti nya kita tidak perlu memakai asisten rumah tangga lagi ya?". Tanya Dimas.


"Ya... sepertinya begitu bang..". Jawab Rania.


"Ini berikan untuk buk ida, titip kan pada Ana". Dimas memberi kan sebuah amplop berisi uang.


"Iya bang... nanti adek sampai kan".


Dimas pun pamit balik kepondok..


"Ana... bagai mana kabar buk Ida?". Tanya nya.


"Alhamdulillah udah mendingan kak..". Jawab Ana.

__ADS_1


"Maaf na, sepertinya udah waktunya kami tidak memakai ART lagi". Jelas Rania.


"Oh, begitu kak, jadi ibuk tidak kerja disini lagi..?". Tanya Ana lagi.


"Iya na, ini tolong sampai kan amplop ini untuk buk ida, sampai kan juga terima kasih kami untuk nya". Pinta Rania.


"Baik lah kak, akan aku sampai kan pada ibuk". ( Gagal deh rencana aku buat gait Dimas....).


Ana pun pamit dan membawa semua barang nya keluar dari rumah Rania.


Siang ini Dimas pulang untuk makan siang bersama Rania.


"Dek.. Ana udah pergi..?". Dimas memastikan.


"Iya bang, belum lama Ana pergi".


"Syukurlah sayang..... ". Ujar Dimas.


"Kenapa bang kok syukur?". Rania merasa heran.


"Jadi.... beberapa hari yang lalu, abang ke dapur buat ambil minum, tiba-tiba Ana keluar dari kolam renang hanya mengenakan bikini..".


"Apa...? beneran bang..?". Rania membolakan mata nya.


"Iya dek... beneran, makanya abang suruh kamu berhentiin dia". Akhirnya Dimas pun memberitahu alasan sebenarnya.


"Memang ya tu orang.... gadis cabe-cabean, awas aja kalau kesini lagi". Geram nya.


"Abang juga merasa aneh dek sama teh yang kamu buat tadi malam, seperti membangun kan gairah dari diri kita". Curiga Dimas akan teh yang Rania suguh kan.


Kemudian Rania mengingat sesuatu..


"Kalau gak salah tadi malam adek buat teh, terus balik badan ke lemari es buat ambil cemilan, tiba-tiba Ana udah ada di belakang adek, posisi nya pas dimeja dekat teh bang..".


"Jangan-jangan.....". Dimas menduga.


"Ana masukin obat perangsang ke dalam teh". Jawab Dimas.


"Perangsang..?". Rania rak mengerti.


"Obat perangsang itu semacam obat yang membuat orang yang meminum nya haus akan ****, gairah nya memuncak ingin berhubungan intim". Jelas nya lagi.


"Ada yah obat seperti itu, Astaghfirullah... tadi malam adek.....". Rania pun menyadari hal itu.


"Syukurlah bang... Ana udah dipecat, tapi tetap aja kasihan sama buk ida bang...". Terdengar sayup-sayup kesedihan Rania.


"Allah maha memberi kecukupan bagi semua makhluk ciptaan nya sayang... jadi kamu jangan sedih ya".


Tiba-tiba terdengar tangisan khafi di kamar, mereka pun melihat khafi disana.


Terdengar suara ketukan pintu...


"Assalamualaikum...".


"Waalaikumsalam... ". Dimas membuka pintu rumah nya dan ternyata Dinda dan Fatimah yang datang.


"Ami... eh, sama Fatimah..". Dimas pun menggendong putri nya.


"Abi ke sini gak ngajakin kita, kami kan udah rindu sama dedek khafi." Ujar Dinda.


"Maaf... Ami gak bilang mau ikut kesini.. yuk Khafi ada dikamar lagi mimik". Ajak Dimas.


Mereka pun masuk ke kamar dan..


"Eh.. ada Ami Dinda sama kak Fatimah... sini masuk sayang..". Ajak Rania.


"Khafi... udah mimik nya nak... Ami kangen sayang..". Dinda menggendong khafi dari pangkuan Rania.

__ADS_1


"Ami.. abi mau balik kepondok, udah habis jam istirahat.. Ami disini aja dulu ya...". Titah Dimas.


"Iya bi... nanti ami pulang sama Fatimah".


Dimas pun pergi meninggal kan mereka dirumah Rania.


Selang beberapa waktu kemudian sebuah mobil parkir didepan rumah Rania.


"Assalamualaikum...".


Suara salam dari luar.


"Waalaikumsalam... eh.. abah sama umi...". Rania pun menyahut sekaligus menyapa mertua nya.


"Ayo masuk umi..abah.. didalam juga lagi ada Fatimah dan kak Dinda".


Abah dan umi tak sabar ingin melihat cucu laki-laki nya.


"Khafi.... ini kakek sama nenek...". Abah pun membelai lembut baby khafi yang masih mungil.


"Sini Din.. biar umi yang gendong.. udah kangen bangett...".


"Mi.. dah lama Rania gak lihat Ananda...?". Tanya Rania ke umi.


"Ananda ikut suami nya Ran tinggal di Malaysia..". Jawab umi singkat.


"Oh.. pantesan gak pernah kelihatan..".


Rania pun bergegas ke dapur membuat kan minuman dan camilan untuk mereka semua.


Mereka pun berkumpul di ruang keluarga sembari menonton televisi dan menikmati camilan.


Mereka asyik berbincang satu sama lain hingga Dimas pun muncul mengucap kan salam dari balik pintu.


Mereka menjawab salam dari Dimas.


"Kok cepat pulang abi..". Tanya Dinda.


"Iya, tadi Rania nelpon abi, katanya abah sama umi dateng... abah kok gak singgah ke pondok dulu..?". Tanya Dimas.


"Iya, abah udah gak sabar mau ketemu khafi, malam ini boleh abah sama umi nginab disini..?".


"Boleh dong abah ...".Jawab Dimas.


"Kalau gitu kita nginab rame-rame disini". Ujar Rania.


"Iya yah...". Umi menyahuti.


"Kak Dinda juga kak... kan kamar disini ada tiga kak..". Ajak Rania.


"Kakak balik kepondok aja dik sama Fatimah..". Tolak Dinda.


"Lah.. kok balik kak...? Disini aja kak... kita ngumpul bareng...".


"Iya ami... disini aja...". Ajak Dimas.


Dinda pun menyetujui ajakan Rania.


Sore itu Dinda dan Rania sibuk didapur, abah dan umi bermain bersama Fatimah dan Khafi.


Sedang kan Dimas harus balik ke masjid dipondok untuk melaksanakan sholat fardhu bersama para santri nya.


Dan kembali kerumah Rania setelah sholat isya.


Malam itu ketika waktu tidur tiba....


Pembaca tersayang...

__ADS_1


Jangan lupa vote nya ya😍


__ADS_2