
Doni pun menemui Rania di kamarnya.
"Sayang... kamu tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan, itu akan membuat ayah tidak tenang disana". Doni mencoba menghibur Rania, pasalnya Rania tetap murung dan tidak makan dari pagi saat acara wisudanya.
Rania hanya diam menatap dinding kamar nya.
"Kamu harus kuat sayang, sekarang kamu bersihkan dirimu, dan isi energi mu untuk mendoakan ayah, dan menjaga ibu dan adik mu, mereka juga pasti sedih kan sayang..."Doni memberi semangat untuk membangkitkan Rania dari kesedihannya.
"Aku sedih bang, aku...belum bisa membahagiakan ayah, tapi ayah.... sudah pergi meninggalkan ku". Tangisan Rania pun pecah kembali.
Doni yang melihat Rania menangis, mendekatkan tubuh nya, dan membawa Rania dalam pelukannya.
Ini kali pertamanya bagi Rania disentuh oleh lelaki, walau sedikit canggung, tetapi Rania menemukan kedamaian dipelukan Doni.
"Kamu jangan nangis lagi... aku disini untuk mu".Doni menenangkan Rania.
Tiba-tiba dert...dert..dert.. suara smartphone disaku celana Doni bergetar.
Doni melihat panggilan telepon itu, ternyata dari mamanya.
"Sebentar sayang... aku angkat telpon dulu." Seraya meninggalkan Rania dikamarnya.
Rania pun membersihkan dirinya.
"Halo, ma...".Doni menjawab teleponnya.
"Aku lagi dilokasi lahan kayu ma, dihutan, suara mama kurang jelas... halo, halo,... halo ma." Doni pun mematikan teleponnya.
"Maaf ma, aku berbohong.". Ucap nya dalam hati Doni. Ia takut hanya akan membuat situasi menjadi buruk, pasalnya ia baru saja menikahi Rania tampa restu orang tua nya.
Tiba-tiba Doni masuk ke kamar Rania, dan....
Rania yang sedang mengganti baju pun tersentak kaget, ia lupa mengunci pintu.
"Aaaa.... ABang... kamu keluar dulu." Rania berteriak mengusir Doni.
"Ma, maaf... pintunya gak dikunci". Doni pun keluar dari kamar dengan jantung yang berdetak kencang.
Sarah dan ibu Rania yang kaget akan teriakan Rania pun datang ke depan pintu kamar Rania.
"Nak Doni, ada apa Rania teriak." ibu bertanya kepada Doni yang mematung didepan kamar Rania.
"Itu buk... Doni masuk kamar Rania, ternyata Rania lagi berganti pakaian, hehehe". Doni tertawa malu dihadapan ibu mertuanya.
Sarah pun yang mendengar itu, sedikit menahan tawa.
__ADS_1
"Ada-ada saja kalian, kalian kan sudah suami istri". Ibu pun sedikit merasa lucu akan tingkah pasangan baru itu.
Mereka pun duduk diruang tamu yang masih terasa bau kepergian ayah Rania.
Baru tadi siang ruangan itu rame dengan kehadiran tetangga dan sanak saudara yang menyaksikan pernikahan Doni dan Rania, dan disambung dengan takziah para warga atas kematian Ayah Rania.
Malam itu, setelah makan bersama, Sara, ibu dan adik Rania tidur diruang tamu, sedangkan Rania dan Doni tidur dikamar Rania.
Rania ingin tidur bersama diruang tamu, tetapi ibu melarang mereka tidur diruangan itu.
Doni duduk dipinggiran kasur, tempat tidur itu ukurannya tidak terlalu kecil dan tidak terlalu lebar. Rania baru membuka jilbabnya, dan...
Doni melihat Rambut hitam panjang Rania terurai, sepanjang pinggangnya dan wajah manis yang ia miliki semakin terlihat manis dan cantik.
Apalagi selama ini Rania menjaga kulit nya dengan menutup auratnya. Kulit tubuhnya terlihat putih bercahaya, karna terlindung dari tatapan pria yang bukan muhrim nya.
Rania pun membuka games nya, ternyata ia memakai kaos pendek dan celana pendek diatas lutut.
Doni tidak mengira, Rania yang tertutup ternyata terlihat seksi dirumah.
"Maaf bang, Rania berbalik menghadap Doni, aku... kalau mau tidur ya begini." Rania menatap Doni.
"Iya gak papa sayang, aku malah sukak lihat kamu seksi begini". Doni tersenyum menggoda.
Rania pun mendekat ke samping ranjang, dan duduk disebelah Doni.
"Ayo kita tidur". Rania pun berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"hmm.." Doni tersenyum, dan memikirkan dirinya,"Bagai mana bisa tidur kalau yang dibawah on, kalau tidak dalam suasana berduka udah aku makan kamu sayang".Doni larut dalam pemikirannya yang berperang.
ia pun mencoba memejam kan matanya, lama terpejam tetapi usahanya gagal. Ia mendengar suara nafas Rania yang mulai teratur, menandakan Rania sudah tidur. Ia pun mendekat kan tubuhnya ke tubuh Rania, dan memeluknya.
"Hmm.... Harum". Hatinya berbisik tenang, akhirnya ia pun tertidur dengan memeluk Rania dari belakang.
***
Keesokan pagi nya.
Rania mulai bangun mendengar suara kuali didapur dan orang yang sedang mencuci piring.Ia pun membuka matanya, saat ingin duduk, terasa ada yang berat diatas dadanya. Rania pun tersadar kalau itu adalah sebuah tangan yang melingkar ditubuhnya dan... "A...". Teriakan nya membuat Doni terbangun, ia langsung duduk kaget.
Ternyata malam itu Doni membuka baju nya, karena tidak ada Ac atau pun kipas angin dirumah Rania, membuat Doni membuka bajunya karena kepanasan.
Rania yang melihat Doni telanjang dada pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jantungnya berdetak kencang, baru pertama kali ia melihat tubuh pria sekaligus begitu menggoda iman. Doni memiliki tubuh yang berotot atletis, kulit putih bersihnya terlihat maskulin, membuat Rania malu dan tergoda olehnya.
Doni pun memegang tangan Rania, menurunkan tangan yang menutupi wajahnya. Rania mengikuti gerakan tangan Doni, dan menatap wajah Doni.
__ADS_1
"Sayang, kamu tadi malam sengaja menggodaku dengan keseksian mu, jadi,, aku juga menggoda mu dengan tubuh atletis ku, gimana? kita impas kan..?". Doni senyum menyeringai.
Tiba-tiba Rania menarik tangan nya, ia pun pergi mengambil handuk dan keluar dari kamar menuju kamar mandi didapur.
"Manten baru... kesiangan....". Sara menggoda Rania.
"Apa an sih Ra... ". Rania pun masuk kamar mandi.
"Sara .. kamu godain Rania, kan jadi malu dia". Ibu tersenyum lucu.
Doni pun keluar dari kamar bergantian untuk membersihkan diri.
Mereka sarapan bersama, hari itu mereka habiskan untuk bersih-bersih rumah bersama.
Hingga akhirnya tidak terasa waktu sudah berlalu tiga hari, Doni tidak bisa terlalu lama disana, dan berniat pulang membawa Rania bertemu orang tua nya untuk meminta restu.
ibu dan rendra merasa sedih harus melepaskan Rania pergi lagi, tapi Rania adalah seorang istri untuk Doni, maka Ibu tidak bisa melarang Doni memboyong Rania kerumahnya.
Setelah berpamitan, Doni, Rania dan Sarah pun pergi meninggal kan desa kelahiran Rania.
Sara kembali ke kost san nya, sedangkan Rania harus ikut bersama Doni tinggal bersama nya dirumah Doni.
Mereka sudah menikah dan memiliki surat nikah, tetapi belum bisa tenang karena mereka belum mendapat kan restu dari kedua orang tua Doni.
Sesampainya di gerbang rumah Doni, pak satpam membuka kan pintu itu, dan Rania merasa takjub melihat kemegahan rumah Doni.
"Bang, ini rumah orang tua abang..?". Rania mulai berbicara.
"Bukan sayang... ini rumah abang, abang bangun rumah ini untuk keluarga kecil abang.
mereka pun turun dari mobil," Pak kadir, ini isteri saya, namanya Rania". Doni mengenalkan Rania ke pak satpam.
"Ia tuan, nyonya Rania saya kadir, satpam dirumah ini nyonya."
"Ia pak, jangan panggil nyonya...". Rania membalas.
"Maaf nyonya.. saya harus memanggil seperti itu." Jawab pak Kadir.
"Gak papa sayang, ayo kita masuk". Doni menggandeng tangan Rania masuk kerumahnya.
Dan membawa nya ke kamar utama, kamar yang sudah ditata untuk pengantin baru, ternyata Doni memerintahkan asisten nya untuk menyiapkan kamar pengantin itu, dan...
Salam sayang pembaca ku...
semoga kalian tetap suka ya sama alur nya, jangan lupa tinggalkan jejak ya Gaes.. 😍
__ADS_1