Cinta Yang Kedua

Cinta Yang Kedua
28. Kabar Bahagia.


__ADS_3

Rasanya dunia ku akan runtuh, melihat sikap mu yang berubah menjadi cuek.


Rania merasa tubuh nya tiba-tiba lemah, serasa tak mampu menopang tubuh nya sendiri. lagi-lagi Rania menguat kan hati nya, menahan rasa dihati nya.


Rania berjalan ke dapur, di dapur tubuh nya goyah, ia pun bersimpuh memegang dada nya.


Dimas yang melihat Rania berjalan ke arah dapur seorang diri, ia mengikuti nya ke dapur, ia dikejut kan dengan melihat tubuh Rania yang goyah dan kemudian bersimpuh memegang dadanya.


Segera Dimas mendekat ke Rania.


"Kamu kenapa dik..?". Dimas memegang bahu Rania dan membantu nya berdiri.


Rania hanya diam tak ingin menatap wajah suami nya.


Dimas menyadari akan sikap Rania, ia paham betul mengapa istri muda nya terlihat murung, semua karena sikap nya yang cuek terhadap Rania.


"Kamu pusing Ran..?". Tanya Dimas lagi.


"Aku gak papa kok..". Rania pun melepas kan tangan Dimas dari bahu nya dan pergi meninggal kan nya di dapur.


Waktu pun berlalu, Dimas hanya disibuk kan dengan Dinda dan Fatimah.


Rania terabai kan, dengan dalih kesehatan Adinda, Dimas tak bermalam dikamar Rania.


Dinda pun hanya mengikuti kemau an Dimas.


Siang itu... "Bang... aku mau minta izin pulang kerumah ibu ku dikampung,aku merindukan ibu dan adik ku". Rania meminta izin suaminya.


Dimas mengizin kan meski terasa berat, karena sejatinya Dimas merindukan Rania, hanya saja ia tak ingin membuat Dinda kembali drop oleh rasa cemburunya.


Dimas pun memberitahu Dinda akan mengantar Rania pulang kerumah ibu nya. Dinda memakhlumi nya, mungkin lebih baik Rania tidak Disini dulu, karena ia paham betul akan situasi Rania yang diabai kan.


Dimas pun mengantar istri nya pulang bersama kerumah orang tua nya dikampung.


Mereka pun sampai dirumah ibu nya, sayang nya ibu belum pulang dari kebun, seperti biasa kunci rumah ada dibawah pot bunga dihalaman rumah nya.


Dimas dan Rania pun masuk kerumah, menunggu ibu pulang, tiba-tiba hujan turun begitu lebatnya.


Dimas dan Rania saat ini baru memasuki kamar, ketika itu Dimas menarik tangan Rania dan membawanya kedalam pelukan nya.


"Rania... Maaf kan aku... aku sangat merindukanmu, hanya saja aku tak mampu menunjuk kan rasa ku disana". Bisik nya ditelinga Rania.


Rania hanya diam membisu... ingin sekali ia menolak pelukan itu, tetapi tubuh nya menghianati ke inginan nya.


Sungguh Rania merindukan dekapan hangat suaminya.


Ditengah hujan lebat yang turun disore hari, mereka pun melaku kan penyatuan cinta, memadu kasih dan melepas rindu yang tertahan oleh keadaan.


Satu jam kemudian hujan berhenti, ibu pun pulang kerumah, meski kaget akan kedatangan Rania tetapi ibu senang bisa mengobati rasa rindu pada putri semata wayangnya.


Dimas pun pamit pulang, tapi ibu menahan Dimas untuk bermalam disana, hanya saja ia tak bisa, mengingat kondisi Dinda yang belum pulih.


Mereka pun terpisah oleh ruang dan waktu. Mungkin disini lebih baik bagi Rania, setidaknya ia tak melihat kebersamaan Dimas dan keluarga kecil nya disana.


Rania pun pergi berziarah kubur ke makam ayah nya.

__ADS_1


Dalam hati ia tumpah kan keluh kesah nya dihadapan nisan almarhum ayah tercinta nya.


Ibu curiga akan raut wajah putri nya.


ibu yakin ada beban yang tertahan dihati Rania. Sungguh Rania tak bisa membohongi ibu kandung nya.


Rania tak bergeming, tetap kekeh untuk merahasia kan masalah hidup nya dari ibu.


*


*


Hari demi hari telah dilalui, tak terasa sudah dua bulan berlalu.


Dimas hanya satu kali dalam seminggu mengunjungi Rania dikampung nya.


Ibu tak merasa curiga akan permasalahan yang dihadapi oleh Putri nya.


Adinda mulai merasa bisa hidup dengan damai lagi tampa Rania diantara keluarga kecil nya.


Serasa tak bertanggung jawab akan keputusan dan permintaan nya kepada Rania tempo lalu.


Pagi itu Rania masih aktif dikebun, memetik mentimun untuk pemasok pedagang pasar.


"(Lebih tenang disini...)". tampa tekanan bathin dari keluarga suaminya. Pikir an Rania melanglang buana.


"Ndok... kamu lagi mikirin apa toh? kok melamun..". Tanya ibu didepan nya.


"Nggak buk... Cuma lagi bersyukur aja, banyak permintaan pasar untuk hasil kebun kita". Rania menjawab tanya ibu dan tersenyum manis untuk nya.


"Oiya buk.. ini tanggal berapa kok kita belum ngirim uang spp nya Rendra?". Rania teringat sesuatu.


"Tanggal 16 ndok...spp nya seharusnya tanggal 15 udah dikirim ndok, ibuk kok sampek lupa gini yo". Jawab ibu dengan polos nya.


Rania terdiam, sepertinya sudah dua bulan ia tidak kedatangan tamu bulanan..."Jangan-jangan...???".


"Jangan-jangan opo ndok.??". Tanya ibu heran.


"Enggak buk... Jangan-jangan kita udah mulai pikun..". Rania tertawa lucu dengan ucapan nya sendiri, seraya nya ibu pun ikut tertawa bersama nya.


Rania penasaran akan kebenaran itu, ia pun segera ke apotik ditengah kampung untuk membeli alat uji kehamilan.


Keesokan harinya Rania pun mencoba test kehamilan itu dengan air urin pertama dipagi hari. dan.....


Ternyata muncul garis dua di alat uji kehamilan itu, pertanda bahwa Rania positif hamil.


Rania terperangah akan hasil nya, tak bisa berkata apa-apa kecuali rasa syukur yang ia hatur kan untuk sang pencipta dunia dan isi nya.


"Alhamdulillah.... Ya Allah...". Air mata berbinar jatuh membasahi pipi nya.


Rasa bahagia menyelimuti hatinya.


"Buk... ibuk...". Rania memanggil ibu nya untuk memberitahu kan kabar gembira itu.


"Ada apa ndok... kok teriaki ibuk..?".

__ADS_1


Jawab ibu yang duduk di teras dapur mereka.


Rania datang menghampiri ibunya, dengan senyuman bahagia ia pun...


"Rania positif hamil buk". Senyum nya semakin merekah diwajah cantik nya.


"Hamil kamu ndok..??". ibu berdiri dan memeluk anak perempuan nya...


"Alhamdulillah... ya Allah... Selamat ndok..". Ucap ibu padanya.


Rania pun mengangguk kan kepalanya di pelukan ibu nya, tangis bahagia mewarnai mereka.


*


*


Dua hari kemudian Dimas pulang seperti biasa, ia pun bertemu dengan istri tercinta nya, namun tak mampu memberi waktu sepenuh nya untuk berada disamping nya.


"Sayang... Kamu sehat kan..? Abang kangen banget sama kamu dik..". Peluk Dimas dikamar bersama Rania.


"Miss you so much hubby, I Love You..". Balas Rania.


"Abang gak salah denger ini..? tumben romantis bilang l love you, biasanya kata rindu dari abang aja gak dibalas.. hem..??". Ucap Dimas lembut.


"Iya sayang... aku lagi bahagia... mau tau nggak?..". Canda nya..


"Bahagia kenapa sayang..?". Tanya Dimas lagi.


"Mau tau ? apa mau tau bangett..?". Tunjuk Rania dengan jari nya ke wajah tampan suaminya.


"Hemm... mau tau, dan mau tau.....


bangettt..!!". Balas Dimas.


"Selamat buat kamu sayang... akhirnya aku... hamil.........". Rania pun memberitahu kan kabar bahagia itu ke Dimas.


Dimas yang mendengar kabar itu sontak mengucap syukur dengan spontan secara mendalam hingga suaranya tak terdengar oleh orang yang berjarak 2 meter dari nya.


"Alhamdulillah... terimakasih ya Allah..". Dimas pun memeluk Rania dan memberinya kecupan diwajahnya, dan mengusap lembut perut Rania yang masih rata itu.


Dimas merasa ini lah saat nya ia membawa Rania kerumah baru nya, selama dua bulan ini Dimas membuat rumah secara diam-diam untuk Rania, jaraknya hanya setengah kilo meter dari Ponpesnya, letak rumah itu masuk kedalam dari simpang jalan raya.


Selama ini Dimas hanya memendam perasaan nya untuk Rania, ia terlihat biasa saja di depan Adinda dan kelurga nya, karena tak ingin membuat Dinda terbawa api cemburu nya sendiri sehingga membuat kondisinya drop kembali...


Hari itu pun tiba, Dimas ingin memboyong Rania dan ibu nya untuk pindah kerumah baru mereka.


"Sayang.....". Sapanya dikamar pagi itu.


"Ya .....??"......


Hay Gaes...


Maaf baru bisa up ya..


super full job inih😂

__ADS_1


TQ udah setia baca nya❤️


__ADS_2