Cinta Yang Kedua

Cinta Yang Kedua
33.Menanti kedatangan nya.


__ADS_3

Dimas"????".


"Ami sayang... kok jauh-jauh sih tidur nya, sini sayang.... ". Dimas mengalih kan. (Hampir saja.... Rania.... pesona mu buat ku candu sayang.. l love you).


",Bi... tadi salah sebut ya..?". Dinda masih kepo.


"Ya enggak lah mi... ".Dimas hanya memeluk nya.


"Kirain....". Ucapan nya terputus.


"Jangan mikir yang aneh-aneh ami sayang...". Dimas mengecup kening nya.


Sementara itu Rania dan buk ida baru masuk kamar masing-masing untuk beristirahat.


Rania dan Adinda adalah dua wanita yang memiliki karakter yang berbeda,


seperti apa perbedaan yang dimiliki kedua nya hanya Dimas yang tau.


Meski bagitu Dimas tidak menjadikan mereka bahan perbandingan, namun Dimas hanya lah manusia biasa, jika dalam urusan nafkah lahir ia bisa adil sesuai kebutuhan masing-masing dari istrinya.


Akan tetapi soal perasaan sangat sulit untuk adil, sejati nya Allah yang maha membolak balik kan hati hambanya.


*


*


Usia kandungan Rania sudah memasuki 9 bulan, saat ini Rania sedang menantikan hari kelahiran anak nya.


Dimas pun menjadi suami siaga, dengan izin dari Dinda, ia akan menemani Rania setiap malam dirumah nya.


"Sayang... hati-hati...". Dimas membantu Rania keluar dari kamar mandi.


"Mules bang...". Ujar nya.


"Mau lahiran...?". Tanya Dimas.


"Ngak tau...".


"Yaudah ayuk... kita ke klinik dokter dulu".


"Nanti mulesnya bo'o ngan seperti kemaren". Jawab nya.


"Gak papa kita chek aja dulu".


Dimas membawa Rania ke klinik dokter, setelah dichek ternyata memang hanya mules biasa.


"Pak buk... mules ini hanya mules biasa, seperti nya baby didalam perut bu Rania sedang mencari posisi jalan untuk keluar."


"Kan... abang gak percaya sih...". Ujar Rania.


"Kan kita siap siaga sayang, takut terjadi apa-apa." Jawab nya.


"Jika bu Rania mengeluarkan cairan bening atau bercak darah, maka bu Rania harus segera dibawa ke klinik secepatnya, jadi bu Rania boleh pulang dulu". Saran dokter.


Mereka berdua pun kembali kerumah.


"Bang, Lihat deh perut adek....". Rania membuka baju bagian perut nya yang membuncit.


"Lasak banget anak abi di dalam...". Dimas pun membelai perut Rania.


"Apa..? ". Dimas pura-pura berkomunimasi dengan baby diperut Rania.

__ADS_1


"Apa an sih bang....?". Rania melihat Dimas berbicara dengan perut nya.


"Dedek bayi mau ketemu abi katanya...". Kata Dimas menatap dengan mata yang menggoda.


"Yaudah kan besok kalau udah lahir bakal ketemu...". Rania tak paham maksud Dimas.


"Sayang.... kamu ya... dedek bayi tu mau ngucapin salam dari dalam". Jelas Dimas.


Rania:" ?????". dirinya tak mengerti.


"Gimana caranya..???".


"Caranya....". Dimas memulai pemanasan sebelum permainan sepak bola nya.


"Umpp.... Bilang dong kalau mau maen sepak bola... ayo.. siapa takut". Tantang Rania.


Permainan pun dimulai, mau gimana pun perut buncit Rania membuat nya kalah, permainan dipimpin Dimas.


*


*


"Sayang... abang harus keluar kota untuk dua hari, harus bertemu para investor pembangunan universitas yayasan kita". Izin nya.


"Pasti penting banget ya bang...".


"Iya sayang... kamu gak papa kan ditemani ibu dan buk ida disini..?". Dimas sudah membawa ibu mertua nya dirumah Rania.


"Hemm... iya bang, gak papa kok, prediksi kelahiran baby kita masih ada 4 hari lagi kok".


"Baik lah sayang... kamu harus selalu kabarin abang ya...". Dimas pun pamit untuk pergi keluar kota.


Hari ini Rania mengapung dengan tenang di dalam kolam renang pribadi nya.


"Rania... jangan lama-lama berendam nya, nanti masuk angin..". Ibu menegur nya.


"Iya buk... sebentar lagi".


Rania pun naik untuk berganti baju, rasa dingin membuat nya lapar.


Usai menyantap makanan yang dimasak oleh buk ida yang sekarang merangkap menjadi asisten rumah tangga nya, Rania pun beristirahat.


Rasa lelah karena berenang membuat nya tertidur pulas, akan tetapi sore hari tiba-tiba perut nya terasa mules.


"Buk... perut ku mules lagi....". Rania meringis menahan rasa mules nya.


"Apa udah ngeluarin tanda ndok?".


"Gak ada basah buk, flek juga gak ada". Jawab nya.


"Kamu kecapean itu... bawa duduk kalo mules, buat posisi senyaman nya."


Kata ibu.


Rania mengelus perut nya berulang, rasa mules pun hilang. Akan tetapi rasa mulas itu akan kembali setelah beberapa menit kemudian.


Mulas diperut nya semakin sering sehingga Dinda yang sudah dikabari oleh Rania memaksa membawa nya ke klinik dokter kandungan Rania.


Ternyata benar, setelah dichek sudah pembukaan dua. Rania pun memberitahu Dimas akan kondisi nya.


Ibu yang akan menemani Rania diklinik malam ini, karena Adinda harus kembali ke pondok menjaga Fatimah.

__ADS_1


Keesokan hari nya Rania dichek kembali oleh dokter, sayang nya jalan keluar bayi masih pembukaan 4, tetapi Rania sudah banyak mengeluarkan air ketuban nya.


Sehingga saat ini rasa sakit lah yang ia rasa kan.


Rasa sakit karena kontraksi membuat nya tak mampu menahan air mata nya, Dimas yang melihat kondisi Rania lewat panggilan video call pun ikut menangis.


Wajah pucat istrinya, membuat nya bergegas untuk pulang dari luar kota.


Dimas tak bisa menunda lagi...


"Sabar sayang... abang udah dibandara, kamu yang kuat ya dek..".


Rania tak menjawab...


Dokter pun kembali mengechek kondisi kandungan Rania, dengan USG dokter melihat bahwa posisi bayi sudah berada diposisi yang tepat.


Entah apa yang membuat bayi tak mau lahir.


"Jika dalam waktu 3 jam lagi bayi tidak lahir, sebaik nya bu Rania dibawa kerumah sakit terdekat untuk melakukan operasi Caesar buk". Jelas dokter.


"Kami ikut yang terbaik saja dok, yang penting ibu dan bayi nya selamat". Ibu pasrah akan keadaan, yang bisa ia lakukan hanya berdoa untuk keselamatan putri dan cucu nya.


Selang tiga jam rasa sakit semakin kuat, kontraksi yang kuat membuat Rania menangis tak tertahan kan.


Rania sudah mengejan untuk mendorong bayi keluar, tapi si jabang bayi sendiri seperti enggan untuk keluar.


Selang beberapa waktu kemudian Dimas pun sampai di klinik...


"Assalamualaikum sayang....". Dimas mengelus wajah sang istri dan mengelus perut nya.


"Sayang.. ini abi nak, jangan buat Ami sakit ya... yok keluar bertemu abi dan ami...". Usap Dimas diperut Rania.


Tak berapa lama Rania kembali dilanda rasa sakit yang hebat..


"Aduh... Mau keluar... bang mau keluar". Ucap nya disela rasa sakit nya.


Dokter pun datang dan melihat..


"Kepala bayi nya sudah kelihatan bu.. yuk bantu ngejan ya bu.."


Dokter menginstruksi Rania untuk mengejan dengan benar, beberapa kali dicoba.


"Aku udah gak kuat dok...". Rania putus asa.


"Ayok bu..


Rania... semangat Rania bayi nya sudah mau keluar...". Dokter memanggil nama Rania agar Rania tetap terjaga.


"Heeks ..


heekks...


hekkkksskkk.....


Terdengar suara tangisan bayi menangis....


"Alhamdulillah...."


Ucapan rasa syukur dari semua orang diruang persalinan.


"Selamat bu... bayi nya.......

__ADS_1


__ADS_2