
"Selamat bu Rania, baby boy..." Dokter pun membersih kan bayi laki-laki yang menangis itu.
"Alhamdulillah...". Rasa syukur nya akan kabar gembira itu.
"Sayang... ". Dimas terharu akan kelahiran bayi laki-laki nya, ia pun memberi kecupan pada sang istri.
Dimas mengadzani anak nya...
Terdengar suara merdu Dimas bersenandung adzan ditelinga mungil putranya.
Sungguh pemandangan yang tak pernah dibayangkan oleh Rania.
Jangan kan memiliki Dimas yang pernah menolak dirinya dimasa lalu, terlebih saat ini Rania malah melahirkan anak dari seorang Dimas yang dulu sangat ia dambakan.
"(Terimakasih ya Allah... Sungguh nikmat Mu tiada terduga ya Rahman ya Rahim.. Jadikan keluarga kecil ku ini keluarga yang Engkau ridhoi ya Allah.. )". Mata nya berbinar dengan bisikan doa dalam hati nya.
Malam itu Adinda pun sudah ada di klinik, hatinya berdebar melihat bayi mungil yang tampan dalam gendongan nya.
Fatimah pun sangat antusias melihat kehadiran adik laki-laki nya.
"Selamat Rania... semoga anak anak kita menjadi anak-anak Yang sholeh dan sholehah, Aamiin...". Dinda mendoakan anak-anak mereka.
"Aamiin ya rabbal'alamin... makasih kak..". Rania mengulas senyum dibibir nya.
Dimas pun datang membawa sepiring nasi dan lauk pauk nya, ia pun menyuap kan nasi untuk Rania.
"Aku bisa sendiri bang...". Pinta Rania yang tak ingin membuat Dinda tak nyaman.
"Gak papa sayang biar abang aja, seharus nya abang gak ninggalin kamu kemarin..". Sesal Dimas, ia ingin memperhati kan istri nya.
Dinda yang mendengar Dimas berkata seperti itu paham akan sifat suami nya, meski ada sedikit rasa getir dihatinya ia berusaha tampak biasa saja.
Dulu ketika ia melahir kan Fatimah, Dimas juga memperlaku kan diri nya seperti ratu, memang sudah karakter Dimas seperti itu.
Keesokan hari nya kondisi Rania dan bayi nya sudah stabil dokter memperboleh kan mereka pulang.
Rania di bawa pulang kerumah nya....
Siang itu kediaman Rania sudah dipenuhi oleh tamu yang datang untuk menjenguk Rania dan putra nya.
Abah dan umi Dimas dan kelurga dari dinda pun turut menjenguk.
"Tampan sekali cucu kakek...". Abah melihat cucu nya digendongan umi Dimas.
"Siapa nama putra mu Dim?". Tanya umi.
Dimas yang mendengar menoleh ke abah."Masih difikir kan bah..".
"Rania.. terimakasih kamu sudah memberi kami cucu laki-laki yang sehat dan tampan, ini buat kamu". Umi memberi hadiah untuk Rania, sebuah kotak perhiasan.
Rania pun membuka kotak itu terlihat satu set perhiasan yang indah.
"Banyak sekali mi..?".
"Ini tidak seberapa nak, maaf kan kami yang dahulu pernah bersikap dingin pada mu". Umi meminta maaf karna saat dulu terbawa suasana ketika Dinda sakit parah.
Rania tersenyum untuk mertua nya, rasa getir muncul dihatinya mengingat masa itu.
Abah dan umi Dinda hanya bersikap biasa didepan besan, meski ada rasa cemburu dihati mereka melihat kebahagiaan sang besan.
Sore hari nya para ustadz dan ustadzah datang berkunjung kerumah Rania.
***
Hari ke 7 kelahiran putra nya Dimas mengadakan syukuran dan aqiqah sekaligus memberi nama untuk putra nya.
"Terimakasih untuk semua yang hadir disini, saya dan istri saya ingin memberi nama pada putra kami, nama nya adalah... Khafi yang artinya seorang pemenang.
Nama panjang nya..
__ADS_1
"Khafi Radian Putra"
Kami selipkan nama kedua orang tua nya, Rania dan Adimas putra,
Semoga nama yang kami berikan ini menjadi keberkahan bagi sang empu nya".
"Aamiin....". Semua hadirin meng Aamiin kan doa dari Dimas.
Acara berjalan dengan khitmad di aula pondok pesantren milik Dimas.
*
*
*
Sudah lebih 1 bulan usia baby khafi, Dimas pun membagi waktu untuk kedua keluarganya.
Mungkin dua malam dirumah Rania dan satu malam dirumah Dinda.
Walau pun ada ibu mertua nya dirumah Rania Dimas tetap bertanggung jawab membantu Rania menjaga putra mereka dan merawat Rania pasca melahirkan.
"Hemm.... wajah nya berseri banget ya bang..". Rania menggoda Dimas saat mereka sedang berdua dikamar mandi.
Pasal nya Dimas selalu telaten memandikan Rania selama Rania belum lepas masa nifas nya.
"Hemm... mulai... kan..". Jawab Dimas.
"Iya kan cuma adek sendiri yang puasa". Rania hanya ingin menggoda suaminya.
"Kamu kira abang gak rindu ingin bercinta dengan mu? wanita yang baru melahir kan itu terlihat sangat menggoda sayang...
Abang berusaha menahan godaan itu, karena abang harus merawat kamu sampai kamu selesai masa nifas terlebih dahulu".
Rania hanya terdiam, ia pun memeluk suaminya," abang, makasih atas semua kasih sayang mu untuk ku".
Dimas pun membalas pelukan itu...
Terdengar suara salam seorang wanita dari luar.
"Walaikumsalam....". Dimas pun membuka pintu, pasal nya ibu mertua nya sudh kembali ke kampung dan buk ida izin karena sakit.
"Maaf mau cari siapa..?". kata Dimas.
"Saya Ana anak buk ida, beliau meminta saya mengganti kan pekerjaan nya disini selama beliau sakit." Jelas Ana.
"Oo.. ya silahkan masuk". Jawab Dimas.
Rania pun keluar dari kamar usai memakai baju.
"Siapa bang..". Tanya nya.
"Ini Ana dek.. anak buk ida, sementara akan menggantikan buk ida disini sampai buk ida sembuh". Dimas pun masuk ke kamar untuk melihat putra nya.
Rania pun menjelas kan pekerjaan Ana dirumah nya.
Malam itu Dimas menginab dirumah Rania," Bang... lihat deh khafi senyum-senyum sendiri bobo nya".
"Mimpi indah sayang abi...". Dimas membelai pipi mungil putra nya.
Selang beberapa waktu kemudian Rania sudah tertidur duluan.
Dimas pun keluar kamar untuk mengambil air didapur.
Alangkah terkejut nya Dimas melihat Ana keluar dari kolam berenang memakai pakaian seksi, mungkin kah Ana sengaja menggoda Dimas dengan pakai an seksi nya.
"Astaghfirullahal'azim... Ana...". Dimas memaling kan wajah nya.
Dimas pun pergi meninggal kan dapur.
__ADS_1
(Apakah dia sengaja.. ini tidak bisa dibiarkan...) Pikir nya.
Esok hari nya Dimas langsung pergi usai memandikan Rania.
"Mungkin abang sarapan dipondok dek".
"Tumben abang..?". Balas nya.
"iya, nanti ada rapat penting dek". Dimas pun berlalu pergi.
"Ana... kamu buat sarapan apa pagi ini..?". Rania pun menuju dapur nya.
"Ini kak buat sop jagung dan sayuran lain buat kakak yang menyusui". Jawab Ana.
"Sedap nih... Ayo kita sarapan..". Ajak nya.
Terdengar suara baby khafi menangis dikamar.
"Kak, biar Ana yang gendong khafi kesini". Tawar Ana.
"Oh, makasih..". Rania sedang menyantap sarapan nya.
"Wah... baby khafi ganteng bangett... jadi pingin punya anak kayak khafi". Bisik Ana pada khafi digendongan nya.
"(Ganteng lah, abi nya aja ganteng.. selain banyak duit penyayang lagi, gak papa kan kalau nambah istri lagi)" Pikiran Ana membayang kan Dimas.
Sejuta rencana dalam pikiran nya,ia berencana akan menakluk kan Dimas.
Orang ke tiga mulai beraksi...
Beberapa hari kemudian..
Malam itu Dimas akan menginap dirumah Rania lagi.
Waktu itu Rania membuat teh untuk Dimas yang sedang berkutat dengan berkas-berkas nya diruang keluarga.
Ketika Rania mengambil cemilan di lemari es, Ana memasuk kan sesuatu ke dalam teh yang dibuat Rania untuk Dimas.
"Eh Ana...". Sapa Rania ketika menoleh.
"Iya kak.. cari apa kak..?". Ana pun membalas menyapa nya.
"Ini cari cemilan buat abang, Oh iya buk ida apa belum sembuh Na?".
"Tadi Ana telpon masih sedikit pusing kak, karena tekanan darah rendah nya belum normal." Jelas Ana.
Rania pun membawa nampan itu ke depan, dan Ana pun masuk kekamar nya untuk menanti kan Rania tidur di kamar nya.
"Abang, minum teh nya...". Rania meletak kan teh nya dimeja.
"Hem.. abang hari ini udah 3 kali minum teh dek, tadi ada tamu terus pas rapat, pulang ke rumah Dinda juga minum teh". Jelas Dimas.
"Yaudah...kita kongsi aja". Ajak Rania.
"Dek udah 40 hari belum?". Tanya Dimas.
"Sabar abang... besok adek udah selesai masa nifas nya, besok mandi nifas nya ajarin ya...". Pinta Rania.
"Hemm... iya.. besok ya..". Senyum Dimas membuat Rania pun tersipu.
Rania pun menyesap teh nya dan memakan camilan nya.
Dimas pun ikut menyesap secangkir teh yang sudah dibuat kan Rania.
Tiba-tiba.....
Hai gaes...
Jangan lupa vote nya ya gaes..
__ADS_1
plisss❤️