
"Alhamdulillah... akhirnya aku lulus, sungguh perjuangan yang panjang, terimakasih ya Allah". Rania bergumam sendiri dan tak terasa air mata yang tertahan akhirnya menetes membasahi pipinya.
"Selamat ya Ran... perjuangan mu tidak sia-sia". Sarah menemani hari wisudah Rania, Sara sudah seperti saudara bagi Rania.
Dan tiba-tiba....
"Rania...".Terdengar suara lembut seorang pria dari sana menyebut namanya.
Rania dan Sarah menoleh ke asal suara itu dan ternyata Doni berdiri disana dengan membawa sebaket bunga mawar putih.
"Bang Doni...".Rania bahagia karena dihari wisudanya bisa melihat wajah yang ia rindukan, Doni sudah lama sekali ia merindukan Doni yang biasanya selalu memberi nya perhatian.
"Aku datang Ran.... untuk memenuhi janji ku padamu".Doni jalan mendekati Rania."Hai, Ra... makasih ya udah nemani Rania".Ucap Doni ke sara.
"Santai aja kali Don... Gua udah anggap Rania kayak ade gue sendiri." jawab Sarah.
trutttt truttt truttt.... Ada panggilan ditelepon Rania, ternyata itu telpon dari orang tua nya dikampung.
"Assalamualaikum bu... ".Rania memberi salam untuk ibunya ditelepon.
"Walaikumsalam... Ran... ayah Ran.. ayah mu sakit keras nak, cepatlah kamu pulang nak, bapak ingin bertemu dengan mu."Terdengar Suara tangisan ibu Rania.
Rania yang mendengar kabar itu dihari wisudah nya, Diam Terpaku dan hidung nya mulai terasa masam, karena air mata mulai tak terbendung lagi. Rania menangis terisak-isak.
"Ada apa Ran...". Sarah memegang bahu Rania.
"Ayah ku Rah...Ayahku sakit keras...". Rania kembali terisak.
"Ran.. Rania... kalau begitu ayo kita pulang ke kampung kamu Ran.. Biar aku antar."Doni menawarkan bantuan ke Rania.
"Abang beneran mau nganterin aku..?"
Rania menatap Doni.
"Iya Ran.. ayo...".Doni meyakinkan.
"Yaudah Ran.. ayo kita berangkat." Sarah pun ingin ikut bersama Rania.
Mereka pun berangkat ke kampung Rania, bersama Doni dan Sarah. Dari kota ke desa tempat tinggal Rania menempuh perjalanan dua jam.
Setelah dua jam akhirnya mereka sampai, dan Rania langsung turun dari mobil dan berlari masuk kerumahnya.
"Assalamualaikum.... Ayah.. ibu...". Rania mencari keberadaan orang tua nya di kamar.
"Ran... Ayah mu sakit nak...". Ibu Rania memeluk Rania. Mereka berpelukan saling melepas Rindu karena selama Rania tinggal dikota, cuma beberapa kali saja Rania pulang ke desa nya.
"Ayah...".Rania menangis sambil mencium tangan ayahnya.
__ADS_1
"Kamu pulang nak...".Ayah terlihat pucat dan kondisi nya.sangat lemah.
"Iya ayah... Rania pulang, Rania bawa Toga dan gelar sarjana untuk ayah dan ibu. Ayah cepat sembuh, biar lihat Rania sukses, dan membanggakan ayah sama ibu." Rania menangis, pasalnya harapan ingin membuat orang tuanya bangga, malah menjadi tangis air mata.
"Ayah bangga sama kamu nak, kamu gigih dalam perjuangan mu..". Ayah merasa sedikit sesak didadanya.
Tiba-tiba Doni dan Sarah masuk kerumah dan bergabung dikamar melihat ayah Rania yang sedang sakit.
"Permisi buk pak... Saya Doni, temannya Rania, bapak sakit apa buk..?
"Bapak kena serangan jantung nak Doni, dan sedikit sesak". Ibu Rania menjawab.
"Sudah dibawa berobat buk..?". Sarah pun buka suara.
"Sudah nak... dibawa ke puskesmas, kata dokter bapak memang terkena serangan jantung.
Rania masih menangis disamping ayahnya."Ayah kita ke klinik dokter saja ya yah, biar ayah bisa dirawat disana.
"Kita gak ada biaya ndok...".Ibu Rania merasa sedih karena kekurangan biaya untuk berobat.
"Gak usah fikirkan biaya bu, Rania ada tabungan kok".Rania meyakinkan orang tua nya.
"Ran... ayah gak mau dibawa ke klinik dokter, waktu ayah sudah tidak banyak lagi, ayah punya keinginan Ran..."
"Ayah mau apa yah... Rania pasti akan kabulkan sebisa mungkin yah...". Rania kembali terisak.
"Ayah ingin melihat anak ayah menikah."Ayah ingin melihat Rania menikah, karna adik Rania masih sekolah diPesantren. Rania lah harapan satu-satunya.
"Maaf pak... Saya Doni, sudah lama ingin melamar Rania, kalau diijinkan saya bersedia menikahi Rania sekarang juga." Doni menawarkan diri untuk dinikah kan sama Rania.
"Bang Doni...".Rania menoleh ke Doni.
"Kamu ingat janji kita dua tahun yang lalu kan Ran..? Aku sudah sangat tidak sabar menantikan hari dimana aku akan melamar kamu...". Doni pun berlutut dihadapan Rania dan mengeluarkan sebuah cincin permata dari sakunya.
"Rania, bersediakah kamu menikah dengan ku..?". Doni melamar Rania didepan kedua orang tua nya.
Rania terpaku akan sikap Doni yang melamarnya secara romantis dan dramatis di situasi yang berbeda.
"Ran... kalau kamu sudah mengenal Nak Doni dengan baik... terimalah dia menjadi pendamping mu". Ayah menasihati Rania.
"Bang... aku mau menikah dengan mu...tapi.. bagai mana dengan ke dua orang tua mu..?". Rania merasa ragu.
"Aku sudah menyiapkan semuanya Ran... kamu tak perlu mengkhawatirkan soal itu." Doni memang sudah yakin akan keputusan nya, meski pun belum mendapat restu mama papa nya.
Mereka pun mempersiapkan acara akad nikah yang sederhana. Hanya dihadiri tetangga dekat dan sanak saudara dekat Rania.
Ayah Rania dibaringkan dikasur kecil diruang tamu, dan penghulu pun sudah datang, sementara itu dua orang saksi adalah tetangga dekat Rania.
__ADS_1
Doni merasa sedikit gugup akan pernikahan dadakan ini, dan tiba-tiba Rania muncul dengan balutan kebaya putih dan kerudung putihnya dengan riasan yang sederhana, walau sederhana Rania tampak sangat cantik dan menawan.
Doni menoleh ke arah datang nya Rania, dan.... "Masha Allah... cantiknya calon isteri ku". Memuji Rania dihati kecilnya.
Akad nikah pun dimulai, dalam sekali Ucapan, Rania dan Doni pun SAH menjadi suami istri.
"Alhamdulillah...".Ayah Rania bersyukur dapat melihat anak perempuan satu-satunya menikah dihapannya. Dan tampa ada yang memperhatikan disaat itu lah ayah Rania menghembuskan nafas terakhirnya.
Rania dan Doni mendekati ayah untuk meminta restu.
"Ayah, ayah... ".Rania memegang tangan ayahnya, tapi ayahnya tidak berkedip apa lagi menjawab panggilannya.
"Buk.. ayah buk.. ayah....". Rania menjerit, suasana haru pernikahan berubah menjadi tangisan duka.
Innalilahi wa innailaihi roji'un...
Ayah Rania meninggal dihari pernikahan putri semata wayangnya.
***
Pulang dari pemakaman Rania pingsan karena kelelahan dan banyak menangis.
Doni pun membaringkan Rania dikamarnya.
"Kasihan kamu sayang, aku tidak menyangka kamu yang aku kenal wanita yang kuat bisa serapuh ini." Doni membelai kepala isterinya.
"Buk, abang yang dikamar kak Rania itu siapa buk?". Rendra adik Rania yang baru pulang dari pondok pesantren menanyakan siapa Doni kepada ibunya.
"Mulai sekarang dia abang ipar mu nak, namanya Bang Doni, kakak mu menikah dengan bang Doni sebelum ayah meninggal, semua sesuai permintaan ayah mu nak."Ibu menjelaskan semuanya.
Doni pun keluar dari kamar Rania.
"Nak Doni, ini Rendra adiknya Rania, baru pulang dari pondok pesantren." Ibu mengenalkan.
Rendra pun bersalaman dengan Doni.
"Bang, tolong jaga kakak ku baik-baik ya..?".
"Iya dek... abang janji, Abang akan menjaga kakak mu baik-baik dan membahagia kan nya.
Malam pun semakin larut, setelah acara tahlilan suasana rumah menjadi sepi, Rania yang sudah sadar masih duduk dikamarnya.
Sedangkan Sarah bersama ibunya Rania duduk didapur.
Doni pun menemui Rania dikamarnya...
Terus ikutin update novel
__ADS_1
Cinta yang kedua ya gaes,
jangan lupa tinggalkan jejak ya buat penulis 😍