
Tak terasa sudah enam bulan berlalu, Rania sudah akrab dengan lingkungan ponpes. Dan saat ini Rania sudah kembali menjadi wanita yang ceria.
Dengan pakaian syar'i berwarna merah maroon, Rania berjalan dari rumah nya menuju kelas nya pagi ini.
Ia pun dikejutkan oleh panggilan Fatima.
"Ounti Rania... ". Sapa Fatima
"Halo Fatima sayang...".Rania melambai kan tangan nya dan melanjutkan langkah nya menuju kelas.
Tak ada yang tau apa yang akan terjadi dimasa depan, yakin lah bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya.
Tepat sebulan yang lalu, Rania telah menerima surat cerai dari pengadilan.
Pasalnya saat itu Rania sedang ada dikampung.
Rania bertemu ibu dan adiknya dikampung, meski kecewa tetapi ibu nya tak pernah membuat Rania semakin sedih.
Saat itulah surat cerai itu dikirim ke alamat rumah Rania dikampung nya.
Rania sudah ikhlas akan takdir yang ia terima, selama ia tinggal diponpes ia menemukan keluarga barunya,
Ya, Adinda menganggap nya bagian dari keluarga mereka. Selama diponpes Rania selalu dikelilingi oleh orang-orang baik, sehingga ia dapat melupakan duka nya dengan perlahan.
Disana Rania juga mendapat kan bimbingan Islam tentang Alquran dan As-sunah, sehingga membuat Rania menjadi wanita yang baik akhlaknya.
***
Malam itu, Adinda melihat suaminya Dimas sibuk dengan buku-buku dimeja nya.
"Bi, kamu gak capek sayang... istirahat dong, jaga kesehatan kamu". Sapa Adinda.
"Mi,... kamu belum tidur..? Iya nih, masih nanggung kerjaan nya". Jawab Dimas.
"Belum bisa tidur bi, ada yang mau Dinda sampaikan ke kamu bi". Ucap Adinda.
"Apa itu sayang...?". Dimas menarik Adinda ke pangkuannya.
"Gimana kalau kamu nikah lagi bi..?". Ucapan Adinda.
"Sayang.... kamu ngomong apa sih...?". Jawab Dimas kaget dengan ucapan Adinda.
"Aku ingin memiliki banyak anak bi, tapi aku sudah tidak sempurna untuk memberi mu anak lagi, itu lah sebabnya aku ingin kamu menikah lagi." Jelas Adinda.
"Adinda... kita kan sudah punya banyak anak sayang, lihat lah para santri kita? mereka anak-anak kita juga kan?". Jelas Dimas dengan lembut.
"Iya, aku tau bi, tapi aku ingin anak dari kamu, meskipun itu dari wanita lain". Jawab Adinda lagi.
"Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan sayang? Kita sudah memiliki Fatimah sayang..". Dimas tak menduga Adinda akan mengatakan ide itu.
"Aku tau bi, ada Fatimah,..
Kamu tahu kan bi, kalau di agama kita laki-laki di perbolehkan memiliki istri lebih dari satu..?". lanjut Adinda lagi.
"Asal kan mampu berbuat Adil sayang..
Aku gak yakin bisa Adil Dinda..". Jelas Dimas lagi.
"Aku yakin sayang, dengan ilmu dan kemampuan kamu, kamu bisa Adil bi.. ". Jawab Adinda lagi.
"Untuk berbuat Adil itu tidak mudah Dinda sayang..., aku gak mau sampai diantara istriku ada yang teraniaya oleh ketidak adilanku, udah ya... kita gak usah bahas ini lagi." Ucap Dimas.
__ADS_1
"Tapi bi.... ". Adinda tak dapat meneruskan kata-katanya.
*
*
*
Hari ini hari libur, banyak kunjungan orang tua dari para santri ke ponpes.
Kebetulan Jamal Abah nya Dimas datang berkunjung ke ponpes.
"Ayo masuk Abah, umi...
Abah sama Umi kok ngabarin dulu mau datang, biar di masakin makanan kesukaan Aba sama Umi".Sambut Adinda.
"Iya, Aba ada urusan sama Dimas Din...". Jawab Abah.
"Oiya, gimana Din? apa Dimas setuju untuk menikah lagi?". Tanya Abah lagi.
Dinda menggeleng kan kepala.
"Belum bah... Ia tidak setuju bah". Jawab Adinda.
"Baik lah, biar Abah yang bicara sama Dimas". Ucap Abah.
"Sebentar bah, Dinda panggil bang Dimas dulu.". Dinda pergi ketaman belakang mencari Dimas.
Dimas sedang mencabut rumput di kebun kecil nya.
"Bi, ada abah sama umi didepan, katanya abah mau bicara sama kamu bi". Adinda memberi tahu Dimas.
"Oh, abah datang... aku cuci tangan dulu". Jawab Dimas.
"Abah, mau bicara katanya, mau bicara apa bah?". Tanya Dimas.
"Abah ingin kamu menikah lagi...". Perintah Abah.
"Abah.... Maksudnya apa bah?". Dimas heran.
"Abah,umi dan Adinda sudah bicara soal ini, kamu nikah lagi untuk menambah keturunan." Jelas Abah.
"Kenapa harus menikah lagi bah? Ini akan menyakiti Adinda...". Jawab Dimas.
"Tidak bang... Aku sudah pikir kan ini sejak lama, aku yang ingin kamu menikah lagi bi...!". Jelas Adinda.
Mereka pun sedikit berdebat antara Dimas, Adinda, abah dan umi.
Akhirnya Dimas kalah, ia menuruti keinginan mereka.
Masalah jodoh, Adinda sendiri yang akan memilih.
Karena sebenarnya Adinda sudah menemukan siapa wanita yang cocok menjadi madunya.
Ya.... Dia Rania. meski Adinda belum tau apakah Rania setuju atau tidak menjadi madunya.
***
Tiga hari kemudian Adinda menemukan waktu yang pas untuk bahas masalah ini ke Rania.
Saat itu Adinda berkunjung ke rumah dinas Rania, mereka duduk berdua diruang tamu.
__ADS_1
"Dik, ada yang mau kakak bicarakan sama kamu."Adinda memulai.
"Apa itu kak... tumben serius amat". Jawab Rania.
"Rania... maukah kamu menikah dengan suami ku?". Dinda langsung ke point utama nya.
"Apa? a, apa maksud kakak... jangan bercanda kak.... gak lucu". Rania benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Aku serius dik...aku rasa kamu lah wanita yang tepat menjadi madu ku". Jawab Adinda.
"Kak... gak lucu deh... jangan canda kek ginian.... akh...". Rania masih belum percaya.
"Rania aku serius.....". Singkat Adinda.
"Kenapa harus aku kak..? kan masih banyak wanita lain disana, kenapa harus aku?". Ucap Rania.
"Karna kamu lah wanita yang selama ini sudah kami kenal dengan baik, dan sudah menjadi bagian dari keluarga kami". Jelas Adinda.
"Kak....". Rania menatap mata Adinda dengan kecut.
Dibalik cadar nya, Adinda juga menatap Rania dan masih tetap meyakin kan Rania.
Rania merasa bingung dengan tawaran ini, meski pun Dimas adalah cinta pertama nya, tetapi Rania tak pernah berharap menjadi yang kedua.
Apalagi hubungan nya dengan Adinda sangat dekat sudah seperti kakak dan adik. Mana mungkin dia tega membuat Adinda sedih.
"Maaf kak.... aku gak bisa". Jawab Rania.
"Rania.... aku mohon... pikir kan dulu ya, aku sungguh tidak ingin wanita lain yang menjadi madu ku, aku yakin hanya kamu yang tepat Ran..." Adinda memohon.
Rania menunduk dan menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.
"Bang Dimas sendiri? Apakah dia setuju dengan ini kak?". Tanya Rania lagi.
"Bang Dimas mau menikah dengan wanita pilihan ku". Jawab Adinda.
"Tapi aku takut kak... kalau aku... aku akan menyakiti kakak..". Kilah Rania.
"Aku yakin Ran... kamu bukan orang seperti itu, percaya lah Ran, kita bisa berbagi bersama, Tolong bantu aku." Adinda meyakin kan Rania.
Rania diam... entah apa yang ia pikir kan, sampai akhirnya ia bicara.
"Kalau begitu, aku ingin kakak yang berbicara dengan ibu ku di kampung kalau beliau mengijin kan, aku bersedia...". Jawab Rania.
"Terimakasih dik... terimakasih". Adinda pun memeluk Rania.
Ia sangat yakin kalau Rania adalah wanita yang tepat menjadi madu nya.
Adinda pun merundingkan tentang Rania ke Dimas dan keluarganya.
Meski ditentang oleh keluarga Adinda sendiri, Adinda tetap mantap untuk menjadikan Rania sebagai madunya.
***
Beberapa hari kemudian.....
Mereka pun sudah berkumpul dirumah Rania dikampung, Ada abah, umi Dimas dan Adinda...juga Rania dan ibunya....
Dan.....
Hai gaes... aku update lagi nih...
__ADS_1
lagi semangat 😍💪