
Dimas menatap Rania dan ada sesuatu yang berdesir dihatinya.
Tiba-tiba muncul bayang an wajah Adinda di ingatan nya, ia pun mengalih kan pandangan nya dari wajah cantik Rania.
Meski Rania adalah wanita yang halal baginya, tetapi perasaan bersalah terhadap Adinda membuat Dimas tak bisa berlama-lama memandang wanita lain selain Adinda.
"Maafkan aku sayang... ".Bisik Dimas dibenak nya.
***
Keesokan harinya....
"Dik, Rania.... ". Dimas membangun kan isteri muda nya.
"Hemm.... "Rania masih belum sadar.
"Bangun dik, ayo kita sholat subuh berjamaah". Ajak Dimas.
Rania pun membuka matanya, seketika ia tersadar akan panggilan dari suaminya." Astaghfirullahal'azim.. Maaf bang...".
"Yaudah,ayo bangun.. Ambil air wuduk dulu.... abang tunggu". Ucap Dimas.
Rania pun buru-buru berdiri dan saat akan berjalan keseimbangan nya goyah, karena alam sadar nya belum sepenuhnya berkumpul ia pun hampir jatuh dari bangun nya.
Dimas yang masih berdiri ditepi ranjang pun refleks menangkap tubuh Rania yang hampir jatuh.
Seketika mereka saling pandang dan...
"Maaf bang... Rania oyong..". Ucap Rania sambil melepas kan diri dari pelukan Dimas.
"Ya, hati-hati dik, jangan terburu-buru..". Dimas pun menyiap kan sejadah untuk mereka.
Tak lama Rania pun selesai berwudu, Dimas dan Rania sholat berjamaah.
Ini sholat pertama bagi Rania berjamaah dengan suaminya.
Karena ia belum pernah sholat berjamaah bersama Doni, mantan suaminya dulu.
Setelah mengucapkan salam, Rania pun salam tangan Dimas dan mencium tangannya.
Dimas menahan tangan istrinya,
"Dik, mau kah kamu bersabar untuk hubungan kita?". Tanya Dimas.
"Maksud abang..?". Rania bertanya dengan ragu.
"Tentang kewajiban ku sebagai suami, mau kah kamu bersabar sampai kita menghilang kan rasa canggung ini?". Dimas balik bertanya lagi.
Rania tersenyum... "Bang, tidak mengapa kalau kita berteman dulu, biar lebih akrab dan saling mengenal satu sama lain, kan selama ini kita menjaga hubungan kita yang bukan mahram.
Tentu akan terasa canggung untuk kita berdua apa lagi kalau nanti kita berkumpul dengan kak Dinda. Jadi... aku siap untuk menunggu bang". Jelas Rania dengan bijak, sehingga menenang kan hati Dimas dari rasa bersalah.
"Terimakasih dik... Semoga Allah memudah kan ibadah rumah tangga kita sampai ke jannah nya".Ucap Dimas kembali.
Sebenarnya saat ini jantung mereka berdua berdebar tak menentu, hanya saja rasa canggung menjadi tameng untuk keduanya.
*
Selesai sarapan pagi, Dimas berpamitan kepada Ibu Rania dan Adiknya Rendra untuk membawa Rania tinggal bersama nya.
Mereka pun sampai dikediaman Jamal untuk menjemput Adinda dan Fatima terlebih dahulu.
"Assalamualaikum... ". Ucap Dimas memasuki rumah ayah nya dan disusul salam dari Rania dibelakang Dimas.
"Abi....". Fatima pun berlari ke pelukan Dimas.
"Eh...anak abi yang cantik dan sholeha... ". Dimas pun memeluk anak nya dan menciumnya.
__ADS_1
"(Ceria sekali wajah suami ku, apakah mereka sudah...????)". Adinda bersisik di hati kecil nya.
"Sayang... ". Dimas mengusap lembut pucuk kepala Adinda yang duduk di sopa.
"Iya sayang... udah pada makan belum... Rania...". Dinda pun berdiri menyambut madunya.
"Ayo... kita kenalan sama keluarga bang Dimas yang baru datang pagi ini".
Ajak Adinda.
Rania pun mengikuti langkah Adinda menuju ke ruang keluarga.
Disana ada beberapa sanak saudara dari Dimas.
"Assalamualaikum... kenalin paman dan bibi ini Rania, istri nya bang Dimas." Dinda mengenal kan Rania ke keluarga besar Dimas.
Sontak para saudara pun menjawab salam. Rania pun memberi salam kepada mereka, dan mendapat senyuman dari semua orang yang ada disitu.
Tiba-tiba datang seseorang yang Rania kenal...
"Mana sih kakak ipar baru ku....?". Suara Nanda membelah kecanggungan mereka yang ada diruangan itu.
Rania pun menoleh ke asal suara dan...
Nanda pun tampak terkejut melihat Rania, ia ingat betul dengan wajah Rania. Kala itu Hayati pernah memberi tahu Nanda kalau Rania kakak kelas mereka yang mengirim surat untuk Dimas.
"Ini kak Rania kan...?". Tebak Nanda.
"Iya... ". Rania tersenyum manis.
"Duh... makin cantik aja kak Rania". Puji Nanda.
" Emang kamu udah kenal sama Rania Nan..?". Tanya Dinda heran.
"Kenal dong kak... wong kak Rania ini kakak kelas Nanda disekolah... Dari SD sampe SMA lagi...". Nanda ceplas ceplos.
"Oo.. pantesan... sok akrab dia nya". Dinda mengejek Nanda.
"hahaha.... ". Nanda membalas dengan ketawa.
Nanda pun pergi mencari keberadaan Dimas. Ternyata Dimas ke dapur bersama Fatimah.
"Bang......". Teriak Nanda mengaget kan Dimas.
"Apa... Nan... kecilin dong suaranya". Jawab Dimas.
"Cie..... yang udah punya dua istri... senang nya dalam hati, kamu beristri dua..". Ejek Nanda.
"Nanda.... apa an sih dek... ada yang denger loh jadi gak enak kan..". Stop Dimas.
"Bang... kok Abang nikahin Rania sih.. dulu abang nolak cintanya..". Nanda membuka kenangan silam.
"Maksud kamu apa dek..?". Dimas heran dengan ucapan Nanda.
"Ya elah... abang... lupa?". Selah Nanda.
"Lupa gimana sih dek?". Dimas penasaran.
"Bang.... cepet banget pikun nya...
Kak Rania itu kan cewe yang 5 tahun lalu ngirim surat cinta untuk kakak... kalau gak salah dulu kakak tolak tu cintanya". Jelas Nanda.
Dimas terdiam, mengingat masa dulu..
"Subhanallah.... Kakak baru ingat dek.. dulu Rania juga ya namanya?". Dimas mengingat masa silam.
"Ih... abang gimana sih.. kan abang dulu balas suratnya kek gini, (Adek Rania yang dicintai oleh Allah..), Ingat gak bang..?". Nanda mengingat kan penggalan isi surat Dimas.
__ADS_1
"MasyaAllah.... Abang baru ingat dek". Jawab Dimas.
"Memang ya bang... Kalau jodoh itu gak kemana". Nanda mengeleng kan kepalanya sambil menatap abang nya yang tampan.
Dimas terpaku, ia tidak menyangka kalau Rania adalah Gadis remaja yang cintanya ia tolak beberapa tahun yang lalu. Memang benar, perihal Jodoh, rezeki dan maut adalah rahasia Allah.
Ia tidak menyangka kalau takdir akan membawanya berjodoh dengan Rania.
***
Sore itu Dimas membawa kedua istrinya pulang ke rumah mereka di ponpes.
Dimobil Adinda duduk didepan disebelah kursi pengemudi, dan Dimas yang menyetir mobil nya. Sedangkan Rania duduk dibelakang bersama Fatimah.
Sesampainya dirumah ponpes...
Adzan magrib sudah berkumandang dimasjid ponpes yang letaknya ditepi jalan besar. Mesjid itu terbuka untuk umum, bukan hanya untuk para santri atau pun ustad dan ustazah.
"Kamu mau solat dimesjid Ran...?". Tanya Dinda.
"Enggak kak... aku mau pulang kerumah...". Rumah Rania disebelah.
"Kamu tinggal disini aja Ran, disini ada 3 kamar kok." Dinda mengajak Rania tinggal sayu rumah.
"Tapi kak.... ". Rania ragu.
""Dik, kami sudah sepakat sama bang Dimas kalau kamu akan tinggal dirumah ini bersama kami". Jelas Adinda.
"Hem.... iya kak... kalau itu sudah diputuskan, aku nurut... hehehe". Rania tidak mengira akan satu rumah dengan madu nya.
Betapa akan lebih canggung nya mereka disana. Tentu mereka akan menjaga perasaan Adinda.
Rania pun masuk ke kamar barunya, ternyata disana sudah disedia kan semua yang ia butuh kan. Termasuk pakaian-pakaian baru, ternyata sudah di persiapkan oleh Dinda untuk Rania.
Selesai mengisi ceramah singkat di masjid, Dimas pun lanjut dengan sholat isya berjamaah bersama para santri dan ustad guru-guru disana.
Usai sholat isya Dimas pun balik kerumah nya.
"Assalamualaikum....". Dimas masuk kerumah. Seperti biasa Adinda sudah menyiap kan makan malam dimeja makan.
Dinda dibantu oleh Rania, Dimas pun melihat kehadiran Rania sontak kembali teringat akan kisah surat cinta dahulu dan kembali sadar kalau Rania sudah menjadi istrinya.
Mereka pun makan bersama, tak banyak kata disana, semua biasa saja.
Selesai makan Dimas pun masuk ke ruang kerja nya, ia disibuk kan dengan laptop dan buku-buku yang ada dimeja.
Tak terasa waktu sudah menunjuk pukul 22:30 menit, Dimas merasa lelah. Ia pun masuk ke kamar nya bersama Adinda.
"Bang... kamu tidur disini..?". Tanya Adinda.
"Iya sayang... kenapa?". Jawab Dimas datar.
"Kamu kan masih jadi pengantin baru bi... tidur dikamar Rania aja bi..". Usul Dinda.
"Sayang... malam ini biar aku disini ya..? Aku kangen sama kamu?". Dimas berbaring memeluk Dinda.
"Kenapa bang... apa kamu sudah...?". Tanya Dinda terhenti.
"Sudah apa sayang..?, Tak semudah itu untuk ku menyentuh wanita lain, meski pun ia adalah istri ku juga sayang... butuh waktu untuk menghilang kan kecanggungan antara kami". Jelas Dimas.
Malam itu pun Dimas menghabis kan malam yang hangat bersama Adinda.
Sementara itu dikamar Rania....
Auto semangat gaes.....😍
buat up dua Bab...💪
__ADS_1
ini semua buat kalian pembacaku❤️